Polmas Sebagai Paradigma Baru polri

Belakang ini konsep “community policing” sedang ramai dibicarakan. “Community policing” merupakan satu bentuk polisi sipil, untuk menciptakan dan menjaga keamanan serta ketertiban dalam masyarakat.

Ini dapat dilakukan dengan sejumlah tindakan, seperti (1) polisi bersama-sama dengan masyarakat untuk mencari jalan ke luar atau menyelesaikan masalah sosial (terutama masalah keamanan) yang tejadi dalam masyarakat, (2) polisi senantiasa berupaya untuk mengurangi rasa ketakutan masyarakat akan adanya gangguan kriminalitas (crime prevention), (3) polisi senantiasa berupaya meningkatkan kualitas hidup masyarakat.

Konsep community policing dalam penyelenggaraan Kepolisian Republik Indonesia (Polri), disesuaikan dengan karakteristik dan kebutuhan masyarakat kita, serta dengan cara dan nama Indonesia. Namun, tanpa mengesampingkan penggunaan istilkah yang berbeda bagi kepentingan akademis se\cara formal oleh jajaran polri, maka modal tersebut diberi nama : Perpolisian Masyarakat, selanjutnya secara konseptual dan operasional disebut “Polmas”.

Polmas dalam penyelenggaraan tugas Polriu merupakan filosofi. Selain itu, sebagai kebijakan dan strategi organisasional yang mendorong terciptanya suatu kemitraan baru antara masyarakat dan polisi. Penerapannya selalu menjalin hubungan antara Polisi dan warga komuniti sesuai peran dan fungsinya masing-masing. Hubungan itu, dibangun melalui komunikasi. Di mana polisi dapat mernggunakan kata hati dan pikirannya untuk memahami berbagai masalah sosial yang terjadi. Selain itu, juga keberadaan Polmas membahas masalah yang bersifat lokal dan adat istiadat setempat.

Polmas sebagai paradigma baru ini, upaya mewujudkan jati diri, profesionalisme, dan modernisasi Polri sebagai pengayom, pelindung, dan pelayan masyarakat. Maka polisi harus berada dekat masyarakat dan membaur bersamanya. Inilah paradigma yang dikenal sebagai community policing itu.

Menurut Prof. Satjipto Rahardjo (2005), perpolisian dengaqn paradigma baru memuat sesuatu yang kompleks, seperti nilai, sikap, dan perilaku yang menciptakan Sindrom merawat (care). Keadaan ini, satu karakteristik polisi sipil yang cenderung caring the people ketimbang the use of force. Konsep itu, diantaranya dapat dilihat seperti : kepolisian dengan pendekatan yang lebih manusiawi (humane policing). Sebagai penegak hukum polisi melakukan upaya untuk menghindari penyimpangan dan penyalahgunaan kewenangan yang justru pro kriminal (decriminalizing), mengubah pihak lain, sebagai paling utama untuk dilayani dan menomorduakan kepentingan sendiri (turning to others not to the police).

Selain itu, polisi mencoba belajar memperbaiki hubungan sosial, sehingga dapat mengendalikan kecenderungan pelanggaran hukum dalam masyarakat secara lebih baik (exercise more social control on their [people] own), melakukan pendekatan pada level yang lebih rendah dan tak terpusat, sehingga pengendalian masyarakat dapat berlangsung secara efektif (decentralized mode of social control), melibatkan masyarakat untuk meningkatkan rasa memiliki dan kepedulian masyarakat (people immediately involved).

Polisi membangun jejaring dalam masyarakat melalui hubungan kekeluargaan dan persahabatan yang erat antara anggota masyarakat (to draw upon network of family friends), polisi seharusnya menggeser pola sikap dan penampilan yang militeristik, ke pendekatan komunikasi dari hati ke hati dengan seluruh komunitas (the police moving away from militaristic configuration, engage in serious heart to heart communication with the entire community).

Dengan peran yang fleksibel ini, maka keberadaan konsep Polmas sebagai community policing dapat berjalan dengan baik. Peran seperti inilah yang senantiasa harus disadari jajaran polisi. Sebab, tanpa kesadaran ini misalnya polisi hanya menempatkan diri sebagai penegak hukum semata, maka akan membuat jarak dengan masyarakat.

Tugas polisi yang mencakup perlindungan, pengayoman, dan pelayanan, selain tugasnya sebagai alat negara penegak hukum membuka format yang lebih luas ke arah pemberdayaan masyarakat. Terutama dalam rangka tiga tugas kepolisian tadi, mengacu pada UU No.2 Tahun 2002 yaitu : keamanan dan pembelaan masyarakat, perlindungan – pelayanan – pengayoman pada masyarakat, serta penegakan supremasi hukum.

Dalam operasi Polmas pada lingkup wilayah yang kecil (Kelurahan atau RW), polisi tetap menitik beratkan pada orientasi masyarakat yang dilayaninya. Dengan kata lain, polisi cocok dengan masyarakat. Dengan demikian, polisi dan masyarakat dapat membaur jadi satu.

Dengan adanya Polmas sebagai paradigma baru dalam pelayanan publik Polri ini, merupakan kenyataan  bahwa sumber daya manusia (SDM) kepolisian terbatas. Sehiungga tidak mungkin mengamankan masyarakat secara soliter atau “seorang diri”. Jumlah aparat kepolisian saat ini, perbandingannya belum ideal untuk mengemban tugas sebagai pengayom, pelindung, pelayanan  masyarakat. Maka polisi membutuhkan peran serta masyarakat dalam menjaga keamanan dan ketertiban.

Sebagai syarat utama paradigma baru ini, yaitu terjalinnya kedekatan hubungan antara polisi dengan masyarakat. Tepatnya terjalinnya kemitraan yang harmonis. Terutama dalam menyelesaikan berbagai masalah yang terjadi. Khususnya dalam keamnan dan rasa aman warga masyarakat. Disini, kedua unsur Polmas itu, harus bekerja sama sebagai mitra untuk mengidentifikasi, menentukan skala prioritas, dan memecahkan masalah-masalh yang sedang dihadapi. Misalnya tindak kejahatan, narkoba, ketidaktertiban sosial dan fisik, ketakutan akan tindak kejahatan, serta persoalan masyarakat lainnya.

Secara keseluruhan, tujuannya untuk meningkatkan kualitas hidup dimana sistem Polmas ini diterapkan. Maka, keberadaan Polmas menuntut adanya komitmen dari keseluruhan jajaran kepolisian dan filosofinya. Keberadaan konsep Polmas ini, telah pula dijalankan di jajaran Polda. Ini dapat dilihat dengan adanya slogan berupa pesan moral. Di antara pesan moral itu, yaitu (1) Polisi yang merangkul, bukan memukul (2) Polisi yang mengajak, bukan membentuk (3) Polisi yang mendidik bukan menghardik.

Pesan moral ini, telah terpampang dengan disain yang menarik pada baliho-baliho kecil. Ditempatkan mulai di Mapolda Jabarr, sampai ke polres dan polsek. Sehingga, keberadaannya dapat terus mengingatkan semua jajaran polisi. Dengan inti pesan moral itu, yaitu polisi sebagai mitra masyarakat.

Meskipun menjalankan konsep Polmas sebagai community policing membutuhkan waktu, namun bagaimanapun keberadaan Polmas ini, harus terus digulirkan. Hal itu, sebagai upaya untuk mewujudkan citra polisi dengan paradigma baru, yaitu sebagai polisi sipil yang professional.

Keberadaan Polmas ini, tujuannya untuk mencegah dan mengurangi kriminalitas, serta ketidak tertiban. Hal ini, dengan mengkaji kataristik persoalan yang ada dalam masyarakat. Kemudian menerapkan solusi yang tepat bagi penanggulangannya. Dengan tercapainya tujuan itu, maka secara otomatis kualitas kehidupan masyarakat akan bertambah baik.

Ada sejumlah indikasi awal, jika penerapan Polmas berhasil diterapkan, seperti (1) adanya perubahan struktur dan manajemen internal organisasi Polri, (2) implementasi dilakukan di dalam ruang lingkup wilayah yang kecil dan terbatas, (3) terciptanya hubungan dan komunikasi dari hati ke hati antara aparat dengan masyarakat (4) petugas mampu memahami berbagai gejala yang ada dalam masyarakat dan mampu mendeteksi kemungkinan terjadinya kejahatan (5) petugas mampu merencanakan aktivitas, program, tindakan bersama masyarakat mencegah dan mengatasi kejahatan, serta sesuatu yang merugikan masyarakat.

Selanjutnya, (6) terciptanya dan terpeliharanya keteraturan sosial dan rasa aman bagi masyarakat, (7) petugas mampu mengevaluasi apa yang telah dilakukan dalam mengantisipasi dampak yang ditimbulkan dan memahami gejala sejenis yang mungkin muncul di masa datang atau di kelompok masyarakat lainnya (8) petugas mampu memberikan penerangan atau penyuluhan jika diminta masyarakat dalam berbagai sosial yang mereka hadapi (9) petugas tak melakukan sesuatu yang menyebabkan kehilangan kepercayaan masyarakat, (10) petugas mendapat dukungan dan kepercayaan masyarakat dalam melaksanakan tugasnya pada berbagai forum kemitraan, (11) kehadiran dan perforrma petugas mampu meningkatkan produktivitas masyarakat.

Keberadaan Polmas ini, sejalan dengan pesan Kapolda Jabar, yang menempatkan kemitraan masyarakat pada lini terdepan dengan arah kebijakannya, yaitu “bangun kemitraan dan tingkatkan kerjasama dengan semua pihak, untuk lebih emmantabkan dukungan positif terhadap penyelenggaraan supremasi hukum agar tercapai misi Polri yaitu Polri yang dicintai masyarakat……….#OP050907B#

AKBP Hery Subiansauri, S.H., M.H., M.Si., wadirlantas Polda Jabar yang kini sedang menempuh pendidikan S-3 di Fak. Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisip) Universitas Padjadjaran, Bandung. (PR)

Comments
2 Responses to “Polmas Sebagai Paradigma Baru polri”
  1. syara mengatakan:

    izin gabung pak .
    saya salah satu mahasiswa Fak-Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (fisip) Universitas Langlangbuana, jurusan D-III KEPOLISIAN .
    nama saya : SYARA NURHALIMATUSADIAH
    saya sedang mengerjakan tugas antropoligi sosial dengan tema “POLISI PELINDUNG MASYARAKAT. melaluli konsep pendekatan sosial”
    saya pun dalam keseharian mendapatkan mata kuliah “POLISI SIPIL dan POLMAS” tapi itu saja tidak cukup untuk menambah referensi yang terkait dengan mata kuliah tersebut.
    blog bapak sangat membantu dalam menyelesaikan tugas UAS saya.
    terima kasih , atas informasi yang ada dalam blog ini.
    wassalam .

  2. ujianto mugo raharjo mengatakan:

    Ijin gabung juga pak….
    Sungguh kami punya semangat, sungguh kami ingin agar POLMAS membumi.. karena kami yakin betul bahwa POLMAS kelak akan menjadi ideologi baru tentang bagaimana menciptakan rasa aman nyaman dan tentram..manakala dipahamkan secara benar kepada masyarakat. Alhamdulillah meski tertatih tatih kami dapat melakukan konsolidasi POLMAS dan FKPM… ke hampir semua desa di/se Kecamatan Petarukan Kabupaten Pemalang Jawa tengah…
    emangat semangat …. salam hormat … ( ujianto .. ketua Komisi C DPRD kab. PEMALANG.. ).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 34 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: