Migrasi, Eksploitasi, dan Perdagangan Manusia

Beberapa waktu lalu, publik dunia dibanjiri berita pengananiayaan Nirmala Bonat (19), buruh migran asal Indonesia yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga (PRT) di negeri jiran Malaysia. Kasus ini terbilang menghentakkan dunia karena pengananiayaan dilakukan dengan teramat biadab, sangat tidak manusiawi, dan primitif seperti yang terjadi di masa perbudakan saja. Tetapi itulah faktanya, kasus penganiayaan dan dehumanisasi ini memang benar-benar terjadi di depan mata kepala kita sendiri.

Lainnya, kasus Mauwanatul (17) di tahun 2001. berat badannya 50 kilogram ketika petama kali menginjakkan kakinya di Singapura pada tahun 2000 untuk menjadi PRT. Pada bulan Desember 2001, ketika ia ditemukan oleh polisi, beratnya hanya tinggal 36 kilogram dan ditubuhnya terlihat tak kurang dari 200 luka.

Seperti kebanyakan PRT di Singapura, Mauwanatul tidak memperoleh jaminan standar upah minimum, dituntut untuk bekerja tiada henti, dan tidak secara otomatis berhak memperoleh satu hari libur setiap minggu. Majikannya juga tidak memberi makanan yang cukup sehingga ia hanya menelan mi instan untuk makan siang dan malamnya. Kelaparanlah yang memicu serangan yang kemudian mengakhiri hidupnya. Karena dituduh mencuri sisa bubu yang tidak dimakan oleh bayi perempuan majikannya, ia ditendang begitu keras sampai perutnya pecah. Beberapa hari kemudian ia ditemukan terbaring kesakitan dalam kaus yang berlumuran muntah. Pada waktu polisi datang, ia sudah tidak dapat diselamatkan lagi.

Migrasi bukan fenomena baru di Indonesia. Pada masa penjajahan dan kemudian masa pemerintahan Orde Baru, transmigraasi ditetapkan sebagai kebijakan pemerintah dan dijankan di bawah pengawasan Departemen Transmigrasi. Mulai awal 1980-an, pemerintah memperluas program transmigrasi ini dengan memasukkan program ekspor tenaga kerja secara besar-besaran ke negara-negara lain seperti Arab Saudi, negara-negara Timur Tengah, malaysia, Singapura, Hongkong, Brunei, Taiwan, dan Jepang. Dewasa ini, Arab Saudi dan Malaysia menjadi negara pemakai terbesar buuh migran Indonesia, masing-masing mempekerjakan 38,1% dan 37,7% burun migran dalam kurun waktu 1994-1999.

Permintaan yang tinggi terhadap TKI yang terbilang murah ini, serta tingginya angka pengangguran, membuat pemerintah menetapkan kebijakan untuk meningkatkan pasokan buruh migran. Pendapatan buruh migran juga menjadi faktor penting dalam perekonomian Indonesia. Laporan Bank Indonesia (2003) mengestimasi jumlah resmi pengiriman uang oleh buruh migran mencapai lebih dari USD 1 miliar sejak tahun 1999.

Sayangnya, para buruh migran juga sering tidak memperoleh keuntungan sebagaimana layaknya. Itu terjadi karena eksploitasi yang kita tahu, tidak hanya terjadi menimpa buruh di negara tujuan saja. Namun dalam setiap tahapan/proses migrasi mulai dari perekrutan, pemberangkatan, transit, tujuan, hingga kembalinya ke tanah air.

Dalam tahap perekrutan misalnya, buruh migran dapat ditipu pengenaan biaya yang tinggi, sifat pekerjaan atau kompensasi yang diberikan dan dokumen yang dipalsukan. Banyak buruh tidak diberikan kontrak untuk mereka baca, tanda tangani, atau pelajari dengan keluaarga mereka pada saat direkrut.

Selain itu, banyak kasus yang melibatkan para perekrut dalam sejumlah praktik illegal seperti pemberian dokumen palsu, penjeratan utang, serta penyekapan. Ironisnya, para burruh juga kesulitan untuk membedakan antara agen perekrut resmi dan tidak resmi atau mengetahui apakah mereka akan mejadi korban praktik-praktik illegal atau tidak.

Setelah perekrutan, buruh migran yang umumnya tinggal di penampungan atau pusat pelatihan PJTKI ini, tak kunjung lepas dari tindakan eksploitasi berupa; pungutan liar, penggelembungan harga jasa, penjeratan utang, pemalsuan dokumen, penyekapan illegal, penganiayaan atau kekerasan fisik, dan lainnya. Di negara tujuan, buruh migran makin rentan terhadap tindak kekerasan dan eksploitasi majikan maupun aparat pemerintah setempat. Pelanggaran hak-hak tenaga kerja , kekerasan fisik, psikis, dan seksual, penahanan dan pemenjaraan. Status tidak resmi dari banyak buruh membuat mereka lebih rentan terhadap eksploitasi dan kecil kemungkinannya mereka mencari bantuan karena mereka takut akan dideportasi atau dipenjarakan.

Selain itu buruh migran perempuan Indonesia juga menghadapi risiko diperdagangkan untuk eksploitasi seksual. Perempuan yang direkrut untuk menjadi PRT terkadang dipaksa untuk terjun ke dunia prostitusi di negara tujuan. Walaupun pihak perekrut di Indonesia mungkin sudah lama mengetahui penipuan ini, ada juga kasus di mana agen di negara tujuan menentukan buruh mana yang akan menjadi PRT dan yang akan dikirim ke rumah bordil.

Kurangnya perhatian terhadap perlindungan buruh migran serta adanya anggapan bahwa eksploitasi yang dialami buruh migran hanya merupakan kasus atau risiko kerja yang lazim dan dapat menimpa siapa saja dari sebuah proses migrasi, menyebabkan kejadian-kejadian serupa kerap terjadi terhadap buruh migran. Serta penaganan hukum terhadap kegiatan ini hanya sebatas pada misalnya Undang-undang Pidana tentang tindakan kekerasan. Padahal menurut konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk melawan organisasi kejahatan lintas batas yang tertuang dalam Protokol PBB untuk mencegah, memberantas dan menghukum perdagangan manusia, khususnya perempuan dan anak (2000), kasus yang dialami Nirmala Bonat atau Mauwanatul dan buruh-buruh migran yang mengalami tindak eksploitasi laionnya dapat dikategorikan sebagai perdagangan manusia (Trafficking in Person)……..#OP170704A#

Keri Lasmi Sugiarti, Program Officer Counter Trafficking Project ICMC Indonesia (PR)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

  • Arkeologi

  • Trader

  • Energi Alternatif

  • Bencana Global 2050

  • Flying

  • Kereta Api

  • Konstruksi – Arsitektur

%d blogger menyukai ini: