Perempuan di Negara Demokratis AS

Amerika Serikat dijuluki sebagai “Pendekar Demokrasi” tetapi praktek perjalanan sejarahnya ternyata sangat bertentangan dengan pemahaman demokrasi yang kita pahami sekarang ini. Sejak tahun 1840 Amerika Serikat (AS) muncul sebagai negara demokrasi imperialis. Dan baru 90 tahun (1775-1865) kemudian perbudakan negro diabolisikan. Menyusul empat tahun berikutnya hanya perempuan di negara bagian Wyoming diberi hak pilih pada tahun 1869.

Berarti,bersamaan dengan pembebasan perbudakan Negro, perempuan di salah satu negara bagian AS diberi hak pilihnya. Menyusul pada 1920 meluas hingga 34 negara bagian, perempuan diberi hak pilih. Usia hak pilih perempuan berbeda dengan pria. Perempuan dinilai dewasa sesudah usia 21 tahun. Sedangkan pria lebih awal 18 tahun. Diskriminasi usia hak pilih yang demikian itu menjadikan perempuan sulit berkiprah di gelanggang politik.

Demikian halnya dengan upah tenaga kerja di mana upah antara perempuan dan laki-laki dibedakan 30%. Walaupun sama-sama guru besar, profesor perempuan berupah kerja di bawah profesor berjenis kelamin pria 30%. Mengapa?

Secara historis AS dibangun oleh emigran Protestan yang disebut British Stock. Karena menggantikan bangsa Indian yang dimusnahkan. Revolusinya terjadi pada 19 April 1775, membebaskan dirinya dari Kerajaan Anglikan Inggris. Crane Brinton, dalam History of Civilization menyebutnya sebagai Protestan Revolution. Penamaan ini terjadi karena selain para pelaku revolusi mayoritas adalah penganut Protestan, juga akibat kesamaan tanggal revolusinya yaitu 19 April dengan Hari Bangkit Protestan di Jerman di bawah Martin Luther. Dari revolusinya ini, tumbanglah kekuasaan Kerajaan Anglikan Inggris. Walaupun Inggris merupakan Anglikan Inggris. Walaupun Inggris merupakan Kerajaan Protestan juga, bangkitnya AS dilandasi tekad menegakkan demokrasi ala Amerika.

Ternyata dalam prakteknya, demokrasi ala Amerika Serikat sangat aneh. Selain AS menjalankan praktik diskriminasi warna kulit, juga diskriminasi perempuan di bidang upah kerja dan usia hak pilinya. Pemerintah demokrasi yang aneh kedengarannya. Tetapi negaranya demokrasi imperialis. Semula AS menentang pengembangan penjajahan Eropa. Tetapi dalam sejarah dikenal adanya Monroe Doctrine ( 2 Desember 1823) yang isinya menentang upaya negara imperialis Eropa yang akan mengembangkan jajahannya di benua Amerika. Dinyatakan, Amerika hanya untuk bangsa Amerika.

Tetapi gerakan anti imperialisme tersebut hanya bertahan 17 tahun dari 1823 hingga 1840. Berikutnya, mulailah AS menjadikan dirinya sebagai negara imperialis. Di bawah Presiden Martin van Buren (1837-1840) AS menyatakan Manifest Destiny yang kurang lebih berarti, AS ditakdirkan untuk menjadi negara imperialis.

Perubahan politik menjadi imperialis ini dikuatkan oleh teori maritim Alferd T. Mahan dalam bukunya The Influence of Sea Power Upon History 1660-1783. disini dituturkan tentang majunya negara-negara Eropa karena kuat maritimnya. Buku ini diterbitkan pada 1890. diikuti dengan penerbitan berikutnya, 1897, The Interest of America in Sea Power.

AS mengawali kegiatan imperialismenya dengan menyerang wilayah kunci laut yang dikuasai Kerajaan Katolik Spanyol. Antara lain dengan mencaplok kepulauan Karibia. Di bawah Presiden Franklin Pierce (1853-1857) Jepang dipaksa membuka negaranya untuk AS (1854). Juga memaksa Jepang agar memberikan freedom of religion to foreigners, kebebasan beragama bagi pendatang. Presiden Grover Cleveland (1885-1889) memaksa kerajaan Katolik Spanyol (1888) menyerahkan Filipina, PuertoRico, Guam. Kemudian Hawaii dianeksasi dan dijadikan negara bagian ke-50 (1898). Mengapa merebut tanah jajahan Kerajaan Katolik Spanyol?

Pilihan AS menjadi negara imperialis, diakibatkan adanya perubahan peta politik kerajaan-kerajaan Katolik di Eropa mulai melemah. Kekaisaran Italia di bawah Victor Emanuel (1870) berhasil meperkecil negara Vatikan hingga menjadi City State yang luasnya 0,4 km2. satu-satunya negara yang terkecil di dunia. Andai kata Napoleon III dari Perancis tidak melindunginya, maka Negara Gereja Vatikan tidak akan ada lagi. Dan lagi Kerajaan Anglikan Inggris sebagai Kerajaan Protestan semakin menguat dengan berhasil mengambil alih Terusan Suez dari Perancis (1870). Sebaliknya Perancis sebagai negara Katolik semakin kehilangan potensi kelautannya. Kunci laut hubungan Eropa, Timur Tengah dengan India dan Asia jatuh ke tangan Inggris.

Peristiwa sejarah di atas sekitar 1870, merupakan awal melemahnya kerajaan-kerajaan Katolik di Eropa. Diikuti dengan rontoknya kekuasaan Paus. Kondisi ini dimanfaatkan oleh kerajaan dan negara Protestan untuk bangkit. Dengan demikian, 1870 merupakan berakhirnya imperialis Katolik atau imperialisme kuno. Sebaliknya mulai berjaya imperialis Protestan atau imperialisme modern dan kapitalismenya. Di Amerika Serikat semakin kuat gerakan fundamentalis Protestan mengharapkan No Chatolik untuk Amerika Serikat.

Cacat bagi demokrasi AS adalah perbudakan Negro, dan karenanya perlu diakhiri. Sekitar 400 tahun kemudian Negro Amerika baru terbebaskan oleh kemauan politik Presiden Abraham Lincoln (1861-1865) dengan mengadakan abolisi perbudakan Negro. Upaya ini mendapatkan perlawanan Amerika Selatan yang banyak menggunakan tenaga budak. Dampaknya tidak dapat dihindari lagi, perang saudara atau perang perbudakan terjadi selama lima tahun (1861-1865). Pembebasan perbudakan ini harus ditebus dengan terbunuhnya Presiden Abraham Lincoln. Diskriminasi warna kulit tetap berlangsung.

Dampak lain dari perang perbudakan di atas ini, menjadikan perempuan dari Wyoming memperoleh hak pilihnya. Hal ini terjadi setelah adanya tuntutan dari Dorothe Dix seorang guru perempuan dari Masachusetts. Perjuangan hak pilih perempuan sebenarnya diawali sejak 1848 yang menuntut agar diakui – all men and women are created equel – segenap pria dan perempuan diciptakan sama.

Perjuangan ini baru berhasil pada 1869, legislatif dari Wyoming memberikan hak pilih kepada perempuan. Menyusul pada tahun 1914 sekitar 150 tahun setelah awal revolusinya, 12 negara bagian dari 50 negara bagian, perempuan memperoleh hak pilihnya. Pada tahun 1920 sejumlah 34 negara bagian memberikan hak pilih bagi perempuan. Hasilnya masih terjadi diskriminasi gender dalam masalah usia hak pilihnya. Perempuan baru diakui dewasa memilih bila berusia 21 tahun. Sebaliknya pria sudah dinilai dewasa pada saat berusia 18 tahun. Dengan demikian mungkinkah perempuan dapat dipilih sebagai presiden. Jawabnya pasti tidak.

Sejak dari George Washinton (1788-1796) dua kali diangkat sebagai presiden, hingga George W. Bush presiden sekarang, tidak seorang perempuan pun jadi presiden Amerika Serikat. Kedudukan perempuan dalam politik sebagai subordinat. Misalnya M. Albright dapat saja menduduki jabatan menteri luar negeri. Namun tidaklah mungkin perempuan menjadi pesiden. Menagapa?

Stogdill’s handbook of Leadership, pada bab Women and Leadership menyatakan beberapa kelemahan perempuan AS yang tidak mungkin menduduki kursi kepresidenan. Antara lain, pertama, women lack career orientation – perempuan kurang berorientasi pada karier. Kedua, women lack leadership potensial – perempuan kurang memiliki potensi kepemimpinan. Ketiga, women are emotionally less stable – perempuan memiliki emosi yang tidak stabil.

Ketiga hal diatas merupakan faktor terpenting dalam masalah leadership atau kepemimpinan. Bagaimana mungkin seorang pemimpin tanpa orientasi karier. Kepemimpinan perlu disertai dengan penguasaan suatu kedudukan yang memiliki perbedaan otoritas dan fasilitasnya. Dengan kedudukan, akan dapat membela kepentingan dirinya, organisasinya, parpolnya, dan nasib pengikutnya. Pemimpin selalu dihadapkan kepada sesuatu yang serba baru. Pemimpin harus mampu mengambil inisiatif. Bagaimana mungkin bila emosinya tidak stabil. Padahal menurut Daniel Goleman, emotional Intellegence, Kecerdasaan Emosional sangat menentukan keberhasilan kepemimpinan seseorang.

Secara kodrati, menurut Stogdill’s Hnadbook of Leadership perempuan memiliki kelemahan lainnya, yanh menjadi kendala kepemimpinannya, yaitu : (1) Less aggressive – perempuan tidak berminat menyerang; (2) Dependent – selalu menggantungkan diri; (3) She did not hide her emotions – tidak mampu menyembunyikan emosinya; (4) Easily influenced – mudah dipengaruhi; (5) Enjoyed art and literature but not math and science – lebih menggemari seni dan sastra dan tidak menyenangi matematika dan ilmu; (6) Passive – pasif; (7) Not competitive – tidak siap kompetitif; (8) Home Oriented – berorientasi kepada rumah tangganya; (9) Cried easily – mudah berurai air mata; (10) Almost never acted as leader – hampir tidak pernah mampu menampakkan dan bertindak sebagai pemimpin.

Dari kesepuluh kelemahan perempuan di atas, betapa beratnya beban psikologis perempuan bila menjadi pemimpin utama. Padahal negara tidak pernah sunyi dari gempuran pihak lawan. Kelemahan perempuan akan menampakkan sifat (11) palying dumb – membisu seribu bahasa sebagai jawabannya terhadap gempuran.

Selanjutnya Stogdill’s Handbook of Leadership menambahkan keterangan dari hasil surveinya tentang kelemahan perempuan bila menjadi peminpin. Antara lain, (12) Lack of confidence – kurang percaya diri; (13) Unable to separaate feelings from ideas – tidak dapat memisahkan antara rasa dengan idealitas; (14) Talkactive – banyak bicara; (15) Strong in need for security – selalu sangat membutuhkan perlindungan; (16) Submissive – suka menyerah.

Karenanya perempuan dipandang lebih berbahaya lagi bila menduduki kepemimpinan yang tinggi. Menurut penelitian Staines, Tavris, Jayaratne, perempuan dihinggapi penyakit Queen Bee Syndrome, sindrrom Ratu Lebah. Artinya memandang perempuan yang dibawahnya, dinilai sangat negatif. Dengan kata lain, perempuan berkedudukan tinggi akan menjadi pengganjal perempuan lain yang akan melakukan prromosi kedudukannya. Karenanya pula, tidak mungkin akan jadi negarawan yang baik.

Michael Haralambos dan Martin Holborn dalam Sociology, Themes and Perspectives, mengangkat dampak dari adanya ketidaksetaraan gender yang melahirkan reaksi keras dari perempuan. Tak heran, perempuan mulai membentuk gerakan feminist radikal, feminist liberal, feminist Marxist, dan socialist Feminism. Gerakan ini menyadarkan bahwa AS merupakan patriachal society, masyarakat yang didominasi oleh pria. Perempuan dieksploitasi oleh kaum pria.

The Leeds Revolutionary Feminist Group yang lebih menyimpang eaksinya, menganjurkan kaum perempuan bila ingin bebas dari penindasan masyarakat pria untuk menjadi lesbian. Hanya dengan melesbiankan dirinya perempuan akan jadi feminist murni. Hanya dengan demikian itu pulalah mereka akan merdeka sepenuhnya dari kaum pria. Subhanallah, betapa sedihnya nasib perempuan di bawah dominasi demokrasi politik kaum pria di negara kapitalis Amerika Serikat……….#OP170704B#

Ahmad Mansur Suryanegara, Sejarawan Unpad (PR)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

  • Arkeologi

  • Trader

  • Energi Alternatif

  • Bencana Global 2050

  • Flying

  • Kereta Api

  • Konstruksi – Arsitektur

%d blogger menyukai ini: