Membumikan Ketahanan Budaya Pancasila

Kebesaran dan kekayaan kebudayaan yang telah tumbuh dan berkembang di seluruh persada Nusantara sejak berabad-abad, dilandasi ajaran-ajaran agama dan budaya bangsa-bangsa maju telah menjadi inspirasi idiil.

Hal itu menjadi warisan kekuatan dasar pengembangan kebudayaan Indonesia yang Bhinneka Tunggal Ika yang bertumpu atas pandangan hidup yang tersimpul dalam dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia yaitu Pancasila. Pancasila adalah dinamika sistem nilai atau kebudayaan yang luhur yang berfungsi juga sebagai pemersatu sebagai bangsa. Akhir-akhir ini, sistem nilai atau budaya yang terkandung dalam Pancasila itu seperti tertutup abu tebal, tidak tampak warna asalnya. Muncul tawuran, kerusuhan, penyalahgunaan narkoba, kekerasan, penyiksaan bahkan pembunuhan yang sadis, TKI ilegal, penebangan hutan liar dan korrupsi yang sulit berhenti dan susah diberantas.

Semua itu merupakan indikator menurunnya karakter bangsa atau ketahanan budaya bangsa Indonesia lemah. Keadaan ini tidak boleh dibiarkan melalui suatu gerakan reforrmasi total yaitu eforrmasi budaya. Reformasi membumikan atau mengaktualkan budaya Pancasila dalam gerakan membumikan ketahanan budaya Pancasila yang sangat mendasar yang dewasa ini terabaikan bahkan mulai tertinggalkan.

Sistem nilai atau budaya Pancasila yang dapat diukur antara lain, (1) Hidup beragama, beriman, bermoral dalam bentuk hidup bersih lahir batin, sehat jiwa raga, disiplin terhadap undang-undang, peraturan dan konvensi yang berlaku, jujur, punya rsa malu, tanpa niat korupsi dan berpandangan ke depan yang baik, Budaya ini merupakan syarat atau etika setiap orang sebagai warga negara yang bertanggung jawab (civics responsibility), sebagai aktualisasi sila Ketuhanan Yang Maha Esa.

(2) Semangat juang, berusaha dan bekerja yang ulet dan keras yang dilandasi ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) untuk mengembangkan diri dan kemandirian. Budaya ini merupakan perwujudan, hormat-menghormati antar sesama manusia dengan berbahasa Indonesia yang baik dan benar, sopan dan santun. Aktualisasi sila Kemanusiaan yang adil dan beradab.

Disamping itu, ini merupakan semangat kebersamaan dan kesatuan dalam berkeluarga, bersekolah, bermasyarakat, dan bernegara untuk kehidupan yang lebih baik dimasa depan. Aktualisasi sila Persatuan Indonesia.

Juga, sebagasi wujud semangat bermusyawarah untuk mencapai mufakat dan bersaing yang dilandasi pikiran jernih dan akal sehat, ilmu pengetahuan dan teknologi. Aktualisasi sila Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan dan perwakilan.

(3) Hidup menampilkan kreatif pribadi terpuji sesuai dengan minat dan kemampuan masing-masing yang menumbuhkembangkan rasa adil yang bernilai estetika dalam kebersamaan. Aktualisasi sila Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Keutuhan dan keharmonisan dinamika sistem nilai atau budaya tersebut di atas segera dibumikan atau diaktualkan dalam kehidupan sehari-hari, sehingga menjadi gerakan membumikan ketahanan budaya Pancasila.

Selama ini, terkesan bahwa pengetahuan sebagai kekuatan politik (knowledge as a political power) supaya segera disempurnakan menjadi pendekatan budaya sebagai kekuatan potilik utama (culture as a main political power) dalam pembangunan nasional di segala bidang.

Prosesnya dalam bentuk dialog atau pendidikan sepanjang hayat, secara horisontal, vertikal dan diagonal sampai kegaris bawah dengan cara keteladanan dan persuasif.

Pertama, gerakan moral sebagai warga negara yang bertanggung jawab (civics responsibility) dengan menampilkan hidup bersih, sehat, disiplin, sederhana, terhindar dari kebohongan dan KKN. Wibawa presiden, wakil presiden, para menteri dan segnap aparat pemerintaha, DPR, dan DPD, ulama, tokoh masyarakat, tokoh pemuda, dan orang tua dari pusat samapai kedaerah supaya menampilkan keteladanan, anutan yang patut digugu dan ditiru oleh segenap rakyat dan generasi muda Indonesia di manapun mereka berada.

Kedua, profesionalisme. Gerakan pelaksanaan butir 2, 3, dan 4 secara demokratis, dalam bentuk semangat berjuang, belajar dan bekerja yang sehat, ulet dan kuat yang dilandasi ilmu pengetahuan, teknologi dan seni apapun sedehananya sebagai dasar untuk mengembangkan dii secara mandiri khususnya mandiri secara ekonomi yang menjadi tanggungjawab sosial ekonomi setiap orang (social economic responsibility).

Ketiga, gerakan kreatif terpuji bagi setiap individu sesuai dengan kemampuan dan minat masing-masing yang menampilkan insan-insan terbaik atas tanggungjawab pribadi (personal esponsibility) yang adil dan bernilai seni atau estetika/indah dalam kebersamaan. Penyimpangan segera dicegah dan ditindak secara bertahap yaitu teguran, peringatan dan sanksi hukum yang berlaku tanpa pandang bulu.

Adanya tanda-tanda kesalahan, segera tegur dan betulkan. Misalnya, anak melempar kulit atau bungkus permen di halaman. Tegur saja supaya mengambil kembali dan memasukkannya ke keranjang sampah. Orang bicara kasar dan tidak sopan segera beritahu dan betulkan. Sopir angkot salah parkir atau belok semaunya tegur dulu. Kesalahan kedua, peringati beri tanda dan tandai SIM-nya dan kesalahan ketiga kali tilang saja atau denda sesuai dengan kedtentuan berlaku. Tanda-tanda adanya korupsi segera cegah dan dengan hukum yang berlaku bila ternyata korupsi tindak tanpa pandangbulu. Demikian juga dalam aspek-aspek kehidupan lainnya.

Kita perlu saling memotivasi untuk belajar dan bekerja yang berbudaya. Berusaha saling mendorong semua orang untuk belajar dan bekerja secara normatif sesuai dengan kemampuan dan latar belakang yang dimiliki sehingga setiap orang memperoleh pendidikan yang layak dan dapat bekerja dengan memperoleh pendapatan yang memadai secara demokratis dan kooperatif demi mencapai kesejahteraan lahir dan batin.

Mendorong setiap orang untuk menampilkan pribadi sesuai dengan kreativitas dan kemampuan masing-masing yang terbaik, bernilai seni atau indah sehingga dirasakan adil. Gerakan ini di bawah komando keteladanan presiden atau wakil presiden di semua bidang, teknisnya di Dephan, Depnakertrans dan Depdiknas, atau lembaga lintas bidang, misalnya untuk pendidikan bela negara yang sunguh-sungguh terprogram atau sishankamrata.

Semoga gerakan membumikan ketahan budaya Pancasila menjadi fondasi hidup aman, damai, adil dan sejahtera, mulai pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Wakil Presiden Jusuf Kalla, dengan mendapat rida dan naungan Allah SWT. Amin. #OP010605B#

Prof. Dr. H. Engkoswara,Guru Besar UPI/Ketua Umum Formoppi

Comments
2 Responses to “Membumikan Ketahanan Budaya Pancasila”
  1. sugiarno mengatakan:

    Maklum, mereka masih bangga sebagai bangsa Indonesia, belum menjadi Bangsa Manusia Indonesia …

  2. Singal mengatakan:

    Jurang makin lebar..pemerintah harus menimbunnya agar jurangnya hilang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

  • Arkeologi

  • Trader

  • Energi Alternatif

  • Bencana Global 2050

  • Flying

  • Kereta Api

  • Konstruksi – Arsitektur

%d blogger menyukai ini: