Posisi Indonesia Lebih Kuat di Ambalat

Setelah sempat mereda, konflik di perairan Blok Ambalat, laut Sulawesi, Kaltim kembali memanas ketika pada hari Jumat (8/4-05) pukul 6.55 WITA terjadi insiden “serempetan” atau “senggolan” antara kapal perang Malaysia, KD (Kapal Diraja) Rencong dengan kapal perang TNI-AL,KRI Tedung Naga-sahkan sampai tiga kali.

Walaupun kejadian ini cukup istimewa, namun baru diilis media elektronik pada hari Sabtu (9/4) dan dimuat koran-koran pada edisi Minggu (10/4). Hal ini boleh jadi karena tidak ada wartawan yang meliput langsung di lokasi kejadian. Mungkin dengan pertimbangan eskalasi sudah mulai menurrun, banayk wartawan yanag sudah kembali ke kantor pusatnya masing-masing. Dengan demikian, keterangan tentang insiden itu hanay diperoleh dari para pejabat TNI-AL. Padahal sebelumnya, wartawan hampir selalu mengikuti patroli, pastilah berita itu akan segera tersebar.

Bagaimanapun insiden tersebut memberi sinyal bahwa Malaysia tidak akan dengan mudah mengakui kedaulatan Republik Indonesia di perairan Blok Ambalat yang kaya minyak. Dengan segala upaya, kapal-kapal Malaysia-baik kapal perang maupun kapal polisi laut (marine police) – selalu berusaha mendekati ponton yang menjadi pendukung teknis pembangunan mercusuar di Karang Unarang, yang menjadi titik sentral selama terjadinya konflik antara Indonesia dan Malaysia itu terus berusaha mendekati Karang Unarang.

Karang Unarang sendiri adalah nama karang yang tidak muncul ke permukaan air laut sehingga akan sangat membahayakan pelayaran, baik sipil maupun militer. Tititk tertinggi sekitar 1,5 meter di bawah permukaan air laut, jika air sedang surut. Sedangkan bila sedang pasang, karang itu tenggelam sekitar 4-5 meter di bawah permukaan air laut. Jadi, tidak kelihatan oleh para nakhoda. Untuk itulah, pemerintah Indonesia lewat Departemen Perhubungan membangun mercusuar di Karang Unarang untuk mencegah terjadinya kapal kandas, sekaligus menjadi lambang kedaulatan RI di wilayah perairan itu.

Namun belakangan, ketika koflik di Blok Ambalat mencuat, mercusuar yang masih dibangun di Karang Unarang itu menjadi pusat perhatian. Karang Unarang menjadi tempat untuk unjuk kekuatan, terutama bagi kapal-kapal perang Malaysia yang terus berusaha mendekati lokasi tersebut. Mereka berani mendekat sampai 30 meter, sekaligus membuat manuver-manuver sehingga ombak yang tercipta bisa mengganggu para pekerja Indonesia yang tengah berjuang keras untuk membangun mercusuar disana. Bahkan pernah tejadi, para tentara Malaysia dengan senjata di tangan, sampai “berani” menginjakkan kaki di ponton yang digunakan pekerja Indonesia selama pembangunan mercusuar. Tidak cukup sampai di situ, mereka pun sempat menggertak, menganiaya, dan “menjemur” para pekerja kita di ponton tersebut….#OP130405A#

Imam JP

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

  • Arkeologi

  • Trader

  • Energi Alternatif

  • Bencana Global 2050

  • Flying

  • Kereta Api

  • Konstruksi – Arsitektur

%d blogger menyukai ini: