Bandung, Yogya, Apalah Artinya?

Dalam “Kelambu dan Sprei” (PR,30/5/05), Ajip Rosidi gundah mengapa kontribusi kesenimanan dan kecedekiawan Bandung seperti setetes airr yang terserap tandas ke tanah kering? Pelukis muda Bandung berhenti pada Tisna Sanjaya, juga tari selepas Tjitji Somantri habis begitu saja, tidak ada guru besar yang sunguh-sungguh “besar” dalam perhelatan nasional.

Tulisan ini tidak ingin memperbesar perdebatan di sekitar data dan fakta seberapa banyak seniman dan cedikiawan Bandung beserta karyanya bisa disejajarkan dengan sejawatnya di Yogyakarta, Surabaya, Semarang, atau Jakarta. Sebelum membandingkan kesenimanan dan kecedikiawanan beserta karyanya antar ibukota provinsi, ada beberapa persoalan yang sebaiknya kita tengok terlebih dulu.

Pertama, untuk membandingkan Bandung dengan kota lain harus ditentukan terlebih dahulu standarisasi yang sama apakah itu manusia, genre kesenian, kebudayaan yang melingkupi, politik urban, ekonomi seniman, dst……

Kedua, alangkah baiknya jika karya seni dan kecendekiawanan, apakah itu berbentuk lukisan, pentas teater, penerbitan buku sastra, pun advokasi/gerakan pemihakan, mengawal perkembangan kota yang makin modern…..

Ketiga, tekait dengan poin kedua, kekecewaan terhadap miskinnya Bandung dengan seniman –cendekiawan beserta karya seni dan inteleknya (masih perlu diperdebatkan) tidak serta merta bisa disikapi dengan kekecewaan….#OP060605B#

Stevanus Subagijo

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

  • Arkeologi

  • Trader

  • Energi Alternatif

  • Bencana Global 2050

  • Flying

  • Kereta Api

  • Konstruksi – Arsitektur

%d blogger menyukai ini: