Einstein, Manusia Biasa

Seabad Teori Relativitas
Dalam paruh kedua, dasawarsa 1960-an, ada koran kampus yang memangpangkan gambar Einstein. Itu gambar Einstein di usia senjanya. Rambutnya putih ubanan, gondrong, dan awut-awutan.

Tulisan (caption) dibawah gambar itu berbunyi: “It’s not the hair that counts, but what’s underneath..”(Yang penting bukan rambutnya, tapi yang dibawahnya..)

Dibawah rambut awut-awutan itu memang ada otak yang sangat encer. Tak ada orang yang meragukan kegeniusan Einstein sebagai ilmuwan. Disamping teori relativitas yang merupakan karya keilmuannya yang monumental dan revolusioner, ada pula temuan-temuan Einstein yang penting, seperti efek fotoemisi, radiasi terangsang, dan kondesat Bose-Einstein.

Einstein bukan tipe ilmuwan yang suka nimbrung dengan ilmuwan-ilmuwan lainnya, mengerumuni pograma penelitian Lakatosian yang progesif. Ia menggarap ranah pemikiran yang tidak dipikirkan ilmuwan-ilmuwan lain. Di bidang telaahnya, ia mencarri dan menemukan jalannya sendiri, tanpa saingan. Pemikiran asli.

Selain sebagai ilmuwan genius, Einstein juga dikenal sebagai humanis sejati. Ia membenci disiplin militeristik yang dipaksakan secara otoriter. Ia anti terhadap diskriminasi rasial. Ia anti perang dan cinta damai. Ia memiliki keberanian moral seperti yang ditunjukkannya dengan menetang Akademi Ilmu Pengetahuan Pusia dan Bavaria. Keberaniannya itu ditunjukkan dengan cara mengecam Sekretaris Liga Bangsa-Bangsa dari Jerman, dengan Manifestonya ketika meninggalkan Jerman, dan dengan suratnya kepada Presiden Franklin D Roosevelt yang memperingatkan betapa berbahayanya kalau para ilmuwannya Hitler di Peenemunde berhasil membuat bom atom lebih dulu.

Meskipun Einstein bukan pemeluk agama yang mursyid dalam beribadah, ia menunjukkan sikap keberagamaan yang kuat. Ia “dekat” dengan Tuhan dan sepanjang hidupnya bergumul sangat keras untuk mengetahui pikiran Tuhan. Ia bahkan berani memberi predikat kepada Tuhannya dan predikat itu bukan stereotip, tetapi asli, muncul dari lubuk keyakinannya sendiri: “Raffiniert ist der Herr Got, aber boshaft ist Er nicht” (Gusti Allah itu cerdik, tetapi tidak licik). Ada yang mengatakan bahwa dalam seruannya itu Einstein memakai kata bosatig, bukan boshaft. Mana yang benar, entahlah, tetapi kedua kata artinya sama, yakni ‘licik’ atau ‘tak jujur’.

Ada baiknya untuk diketahui bahwa di balik citranya sebagai ilmuwan cemerlang dan humanis tulen itu, Einsten adalah manusia biasa. Ia merasakan susah dan senang, frustasi dan eforia, dan tak luput dari cacat dan kekurangan. Bila jengkel, ia mengumpat.

Bila sedang kasmaran, ia sangat romatis. Jika dikecewakan, tak segan-segan ia memutus hubungan silaturahmi. Ia juga bukan suami yang sempurna. Ia bercerai dan kemudian kawin lagi.

Ia memang genius, tetapi tak berarti bahwa gagasan-gagasannya yang hebat datang sendiri kepadanya dengan mudah. Seperti dikatakan Thomas Alva Edison: “Genius is ten percent inspiration and ninety percent perspiration” (Genius ialah 10% bakat dan 90% keringat). Untuk Einstein barangkali proporsinya bukan (10:90), tetapi kira-kira (35:65)-anlah. Inspirasinya tidak mengalir terus-menerus dengan derasnya, tetapi harus dibarengi dengan usaha yang keras.

Teori relativitas Umum digarapnya dengan bekerja keras selama lebih dari 10 tahun. Pernah dalam frustasinya menghadapi persoalan matematis, ia minta tolong sahabatnya, Marcel Grossmann, dengan mengiba memelas :”Grossmann, Du musst mir helfen, sonst werd’ich veruckt!” (Grossmann, kamu harus menolongku; kalau tidak, aku akan jadi gila!)……#OP070705#

L. Wilardjo, Guru Besar Emeritus Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga (Kompas)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

  • Arkeologi

  • Trader

  • Energi Alternatif

  • Bencana Global 2050

  • Flying

  • Kereta Api

  • Konstruksi – Arsitektur

%d blogger menyukai ini: