G-8, Argentina, dan Kita

Edinburgh, tempat pertemuan para pemimpin negara G-8 pada 6-7 Juli (2005) ini, sejak beberapa hari terakhir disemuti ratusan ribu pengunjuk rasa dari berbagai penjuru dunia. Mereka menyuarakan penghapusan utang negaa berkembang sebagai bagian dari upaya penghapusan kemiskinan, penerapan sistem perdagangan yang lebih adil, serta penerapan langkah-langkah signifikan untuk mengatasi pemanasan global.

Meski menolak Protokol Kyoto yang menjanjikan pebaikan iklim global, Presiden Amerika Serikat George W Bush dikabarkan mendukung usulan Perdana Menteri Inggris Tony Blair untuk menghapus 100 persen utang negara-negara miskin Afrika (Kompas, 5/7/2005).

Sebenarnya, menurut Bank Dunia, separuh dari jumlah penduduk Indonesia terbilang miskin karena berpenghasilan kurang dari dua dollar AS per hari. Lebih dari itu, Laporan Keuangan Pemerintah Republik Indonesia per 31 Desember 2004 mencacat selisih kewajiban finansial dan aset sebesar minus Rp. 515 triliun. Rasio utang Indonesia terhadap total aset juga terbilang sampai besarr, yaitu 161 persen (Kompas 9/5/2005).

Sayangnya pemerintah kita terkesan belum memiliki sense of crisis. Beda dengan apa yang dilakukan Pemerintah Argentina. Awal Maret lalu, dengan raut wajah berseri, Presiden Nestor Kichner mengumumkan kepada seluruh rakyat Argentina tentang keberhasilan pemerintahannya mengurangi utang luar negeri. Dari segi jumlah pengurangan utang Argentina ini, terbesar sepanjang sejarah, berupa restruktuisasi utang sebesar 130 miliar Dollar AS. Dari jumlah tersebut, hanya sepetiga yang harus dibayar Argentina. Itupun dalam tempo 40 tahun.

Utang publik Argentina, yang tadinya berjumlah 190 miliar dollar AS (akhir Desember 2004), kini tinggal 125 miliar dollar AS. Sementara beban utang tuun dari 10 miliar dollar AS menjadi 3,2 miliar Dollar AS dari penghasilan ekspor.

Pemerintah Kirchner memiliki posisi yang jelas dalam berunding dengan lembaga-lembaga keuangan internasional, yaitu menyelaraskan estrukturisasi utang dengan pertumbuhan ekonomi. Hal yang berbeda dengan apa yang dilakukan sepanjang tahun 1990-an, ketika restrukturisasi diberlakukan bagi total jumlah utang yang sama serta beban pembayarannya yang melejitkan jumlah utang baru.

Yang juga menarik, buti-butir perundingan yang alot dan mengundang konflik utamanya bukan berkaitan dengan usulan jumlah pengurangan nilai surat utang (bonds), melainkan pada persyaratan (conditionalities)IMF dalam rencana pembangunan ekonomi Argentina. Strateginya, ketika sebuah negara berada dalam konflik nyaris bangkrut, “paket pertolongan” IMF seharusnya dipakai untuk membayar para investor. Hal ini mengacu pada pendapat mantan Menteri Keuangan AS Paul O’Neil bahwa pengurangan utang harus ditanggung bersama oleh kedua belah pihak, pemerintah dan investor.

Tak heran bahwa “model Argentina” kini ramai dibicarakan. New York Times, misalnya, mensinyalir bahwa “Argentina’s example may encourage other developing countries to act similary” (4/3/2005). Restrukturisasi utang Argentina, memperlihatkan bahwa dalam kasus kesulitan anggaran, kemauan politik serta keuletan berunding sebuah bangsa menjadi semakin penting….#OP060705A)

Ivan A Hadar, Direktur Eksekutif INFID (International NGO Forum on Indonesian Development) (Kompas)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

  • Arkeologi

  • Trader

  • Energi Alternatif

  • Bencana Global 2050

  • Flying

  • Kereta Api

  • Konstruksi – Arsitektur

%d blogger menyukai ini: