Praliterasi,Literasi, dan Posliterasi

Suatu ketika seorang Indonesia berbincang dengan cendekiawan dunia, Seyyed Hosein Nasr. Dia menceritakan kompleksitas peradaban Indonesia. Kehidupan masyarakatnya merentang mulai dari zaman batu hingga ke era cyberspace.

Dia pun melukiskan, di daerah pedalaman, banyak suku terasing yang masih menggunakan kapak batu untuk membuat perahu. Sementara di kota, orang membuat perahu menggunakan teknologi canggih dan berskala industri massal, dan bahkan telah bersentuhan dengan cyberspace. Mendengar itu, Nasr berkata bahwa seandainya di Indonesia muncul seorang pemimpin yang bisa mengelolanya, Indonesia akan jadi negara yang hebat dan besar.

Masyarakat Indonesia bisa dipilah dalam tiga kategori besar, yakni praliterasi, literasi, dan posliterasi. Masyarakat praliterasi mewakili sebagian besar masyarakat negeri ini. Mereka hidup dalam tradisi lisan dan sulit mengakses media (buku, TV, internet, dll.). kalaupun mudah, mereka tidak bisa mencernanya dengan baik. Kendala utama tentu saja pendidikan.

Masyarakat literasi yang mewakili masyarakat terdidik. Walaupun memiliki akses terhdap buku, tidak berarti tradisi baca-tulis tumbuh subur di kalangan ini. Terakhir, masyarakat posliterasi yang mewakili segmentasi penduduk di kota-kota besar, terutama mereka yang memiliki akses ke teknologi informasi dan audiovisual seperti internet, TV kabel, multimedia, sarana telekomunikasi bergerak, dan sebagainya.

Deden Himawan, anggota Forum Studi Kebudayaan (FSK) ITB, bersama tim Swa Dharma Consulting (SDC), ikut membangun masyarakat Peundeuy-Garut, yang terkatagorikan sebagai masyarakat praliterasi. Sebagian besar penduduknya tidak tamat SD. Peundeuy adalah kecamatan termiskin dengan derajat kesehatan dan pendidikan terburuk di Jabar. Mayoritas anak mudanya memiliki tiga profesi resmi, yaitu TKW/TKI, tukang ojek yang gemar kebut-kebutan, dan preman di kota-kota besar.

Deden terjun dan menghayati susahnya menjadi penduduk desa. Dia mendapati kemampuan baca anak kelas II, IV, VI SD serta kelas I dan II SMP sama adanya. Mereka begitu lambat membaca dan menyerap sebuah bacaan, sekalipun hanya koran olah raga. Namun, mereka menonjol dalam kecerdasan ruang dan pengenalan alam, terutama hutan…..#OP181206B#

Alfathri Adlin, anggota FSK ITB, Editor Nonfiksi Jalasutra (Kompas)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

  • Arkeologi

  • Trader

  • Energi Alternatif

  • Bencana Global 2050

  • Flying

  • Kereta Api

  • Konstruksi – Arsitektur

%d blogger menyukai ini: