Mengabaikan Lingkungan, Mengundang Bencana

Tata lingkungan hidup yang disusun oleh daratan dapat dipelajari secara geologi. Gejolak udara yang erat kaitannya dengan masalah meteorologi dan tata keairan di darat dan lautan, perlu dikenal secara hidrologi. Tumbuhan dan hewan di mana pun juga perlu dipelajari berdasar ilmu botani dan zoologi, sedangkan hadirnya manusia perlu juga dipelajari berdasar kaidah ilmu sosial (sosiologi), ekonomi untuk mengetahui nilai komersialnya, dan antropologi untuk mempelajari perilaku adati manusia dalam memanfaatkan tata lingkungan. Berbagai unsur lingkungan ini dapat diorganisasi untuk membentuk peraturan perundang-undangan yang mudah dimengerti dan dipatuhi masyarakat.

Peraturan perundang-undangan seperti dimaksudkan diatas amat diperlukan masyarakat dalam melaksanakan kegiatan kerja sehari-hari, termasuk jasa angkutan penumpang dan barang baik di darat, laut, maupun di udara. Aman dan nyamannya suatu perjalanan, pelayaran, dan penerbangan, sepenuhnya juga bergantung pada tata lingkungan baik yang statis maupun yang dinamis. Oleh karena itu, peraturan perundang-undangan juga harus mengacu pada unsur tata lingkungan dengan berbagai macam sarana yang akan diatur sesuai hajat hidup masyarakat karena kemungkinan besar terjadinya musibah, umumnya disebabkan oleh faktor unsur masyarakat yang tidak atau kurang memedulikan tata lingkungan.

Alam memang tidak statis, tetapi selalu dinamis menyesuaikan diri untuk kembali kepada keseimbangan alaminya. Namun keseimbangan ini dapat kembali pada keseimbangan yang stabil (mantap), labil (tidak mantap), atau keseimbangan yang indeferen yaitu keseimbangan tidak kembali pada keadaan semula. Keseimbangan labil, apalagi yang indeferen amat berbahaya jika melanda jaringan jalan raya, kereta api, jalur laut dan atau udara mudah dan cepat berubah sesuai dengan ruang dan waktu, hingga jika terjadi musibah sulit menemukan penyebabnya.

Musibah angkutan umum di darat, umumnya melanda kendaraan bermotor atau kereta api. Sebagian besar disebabkan oleh kondisi pengemudinya, seperti kekurangsegaran fisiknya, atau kurang peka dalam mengenal kondisi jalur jalannya. Memang jalur jalan tidak selamanya dapat direkayasa secara teknik dengan sempurna, namum berbagai rambu pengendali dapat ikut membantunya. Demikian pula dengan kualitas dan kuantitas jalur jalan yang sudah berubah karena pengaruh tata lingkungan akibat pengaruh musim atau perilaku budaya manusia, dapat ikut berperan terjadinya musibah.

Pada tahun 1975 sebagai ahli geologi yang mulai mempelajari tata lingkungan, penulis diundang untuk ikut mempelajari kondisi jalur jalan kereta api Surabaya-Semarang, untuk memperlancar dan mempercepat laju keretaapi yang melintas. Berdasar kenyataan di lapangan banyak perubahan tata lingkungan yang sangat mempengaruhi kestabilan jalur jalan kereta api, antara lain pada saat jalur jalan tersebut dibangun, disepanjang jalur jalan kereta api masih lebat dengan tumbuhan, hutan, atau lainnya.

Akan tetapi, keadaannya pada tahun 1975 sudah berubah dan diusahakan penduduk menjadi tanah pertanian, tambak, ladang, atau lainnya. Akibatnya badan pematang jalur jalan keretaapipun ikut mengalami perubahan bentuk yang tidak mustahil ikut mengurangi daya dukungnya. Penampakan lainnya yaitu bantalan rel banyak yang sudah tidak dalam kedudukan yang benar, dan demikian pula tiang telepon sepanjang

Jalur jalan kereta api sudah tidak tegak dan umumnya miring kearah luar, dan ini menunjukkan bahwa jalur jalan kereta api sudah dalam keadaan indiferen dan tidak mustahil dapat menimbulkan musibah.

Laut yang agragasinya tidak sepadat di darat, mudah sekali bergejolak jika terpengaruh angin atau arus. Pengaruh ini juga bergantung pada matra waktu dan ruang, dan terjadinyapun sulit diduga. Tata lingkungan di laut akibat angin dan arus, dan juga pengaruh daratan dan profil dasar laut perlu juga diperhatikan, untuk keamanan dan kenyamanan berlayar. Sebab, ketidaktepatan dalam pendeteksian gejala dan atau gejolak yang terjadi atau akan terjadi di laut tidak dapat dengan cepat dilakukan, apalagi jika peralatan kapal tidak memadai dan perlu sekali dimaklumi bahwa musibah di laut tidak dapat serta merta diberikan pertolongan dan tempat berlindungpun tidak mudah ditemukan.

Oleh karena itu, peta laut dan udara yang dapat digunakan untuk keamanan dan kenyamanan berlayar perlu disertai dengan pengetahuan dan pengalaman. Keberanian maupun keyakinan akan keselamatan berlayar, tidaklah cukup. Laut Jawa cukup luas dan berbagai gejala dan gejolak lautan tidak jarang terjadi dan semuanya ini menjadi tantangan para nakhoda kapal. Penulis pun sudah beberapa kali melayari Laut Jawa baik dengan perahu layar ataupun kapal motor baik malam hariu maupun siang hari. Menurut pengamatan penulis gelombang Laut Jawa memang ada saat-saat mengerikan, namun ada pula saatnya nyaman dan romantis dilayari jika pelayaran tidak jauh dari pantai.

Musibah dapat saja terjadi jika sewaktu-waktu terjadi tiupan angin kencang dan menimbulkan gelombang dan semuanya ini sulit dihindari karena kecepatan kapal motor atau perahu layar relatif amat lamban. Disinilah ketrampilan nakhoda dan anak bual kapal (ABK) diperlukan untuk mengendalikannya. Belum lagi jika penumpang kapal jadi panik hingga mengganggu kosentrasi pengendalian kapal yang sedang diombang-ambingkan gelombang lautan.

Pelawatan di darat, laut, maupun udara, memang aman, nyaman, dan mengasyikkan sepanjang manusia memahami sifat dan gejala yang terjadi di dalam tata lingkungannya…..#OP010207B#

H. Soewarno Darsoprajitno, ahli geologi, pemeduli tata alam dan perilaku budaya manusia, pengajar pada Universitas Ars Internasional Bandung. (PR)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

  • Arkeologi

  • Trader

  • Energi Alternatif

  • Bencana Global 2050

  • Flying

  • Kereta Api

  • Konstruksi – Arsitektur

%d blogger menyukai ini: