Gempa Bumi Lagi !

31331_10150191926255055_197765520054_12368801_7946591_n.gif

Gempa bumi lagi ! Gempa bumi lagi! Hampir tidak ada tempat yang aman di bumi Indonesia dari guncangan gempa, kecuali Pulau Kalimantan. Tetapi, kesadaran bahwa kita hidup di atas permukaan bumi yang rapuh, seharusnya membuat kita selalu waspada. Kondisi psikologis inilah yang harus tetap dipertahankan, karena kewaspadaan akan membuat kita bisa selamat.

Gempa yang mengguncang bumi (earthquake) sebenarnya lebih terasa sebagai gempa yang mengguncang hati, heartquake! Bagaimana tidak mengguncang hati, jika kita kembali terhenyak dengan korban jiwa yang kembali terengut ketika guncangan itu meruntuhkan tembok, atap dan dinding rumah dan kemudian menimpa para penghuni di dalamnya?

Gempa bumi di Sumatra Barat tanggal 6 Maret 2007 berkekuatan 5,9 hingga 6,3 Mw yang kemudian disusul di Singkil Aceh Selatan keesokan harinya, merupakan gempa bumi yang sudah sering melanda kawasan di sepanjang Bukit Barisan, Pulau Sumatra. Itulah daerah-daerah rawan yang berada pada suatu robekan yang memanjang dari Teluk Semangko di Lampung Selatan hingga Banda Aceh di utara yang dikenal sebagai sesar/patahan Sumatra, atau sebagian geologiwan masih menyebutnya sesar Semangko.

Dari poster “Sumatra Rawan Gempa Bumi!” yang diterbitkan oleh California Institute of Technology (Caltech) dan Pusat Geoteknologi LIPI, di sepanjang sesar Sumatra ini tercatat kejadian-kejadian gempa bumi yang merusak, misalnya di Liwa Lampung pada 1933 (besaran 7,5), dan terulang pada 1994 (7,0). Di Kerinci pada 1909 (7,6) dan 1995 (7,0). Di Bukittinggi dan Padangpanjang yang persis terulang lagi sekarang, pernah diguncang gempa dahsyat pada 1926 (6,7) dan 1943 (7,3). Di Sorik Marapi pada 1892 (7,7) dan di sekitar Danau Toba pada 1916 dan 1921 (6,8).

Pegunungan Bukit Barisan dan lembah-lembah di antaranya, termasuk danau-danaunya yang indah mulai dari Danau Ranau di Bengkulu, Danau Kerinci di Jambi, Danau Singkarak di Sumatera Barat dan Danau Toba di Sumatera Utara, adalah jalur pusat-pusat gempa bumi. Pegunungan itu merupakan ekspresi dari tabrakan dua lempeng bumi, yaitu lempeng Samudra India-Australia dengan lempeng Benua Eurasia. Lempeng samudra yang relatif aktif bergerak mendesak Pulau Sumatra ke arah Utara, tertunjam di bawah pulau Sumatra, dalam posisi miring dan tidak frontal terhadap pantai barat Sumatra.

Di bawah laut, tempat penunjaman lempeng ini membentuk suatu palung laut. Palung ini memanjang mulai dari Laut Andaman di Utara Aceh, menerus sepanjang lepas pantai barat Sumatra, berbelok ke laut selatan Jawa dan menerus ke arah timur di selatan Kepulauan Sunda Kecil, dan melengkung ke laut Banda. Palung laut dengan kedalaman hingga mencapai 6.000 meter dari muka laut ini merupakan tempat kontak antara dua lempeng yang bertabarakan tersebut.

Secara geologis, banyak literatur yang menamakan palung ini Palung Sumatra untuk keberadaannya di wilayah lepas pantai Sumatra, atau palung Jawa untuk yang berada di selatan Jawa, atau bahkan jika keduanya digabungkan menjadi dinamakan Palung Sunda. Literatur paling akhir oleh Profesor Kerry Sieh dari Caltech menyebutkannya “Sunda Megathrust”, Tunjaman Besar Sunda.

Ketika kekuatan dorongan lempeng yang mendesak “Sunda Megathrust” berhasil melampaui kekuatan batuan pulau Sumatra, dan kemudian pecah, beberapa blok pecahan bergeser secara lateral. Blok-blok yang tergeser itu secara bersama-sama dalam kejadian yang berbeda-beda selama sejarah terbentuknya Pulau Sumatra, membentuk patahan dan robekan panjang yang dinamakan Sesar Sumatra itu. Saat pecah di zona patahan itulah, guncangan yang ditimbulkannya dari pusatnya jauh di bawah muka bumi menjalar ke permukaan sebagai gempa bumi. Maka jadilah earthquake yang menimbulkan heartquake.

Ketika berkunjung ke Sungaipenuh di Kerinci tahun 1999, penulis mendapatkan informasi yang sangat menarik dari beberapa orang saksi yang merasakan bencana hebat akibat gempa bumi 1995. di sebuah desa yang bernama Siulakmukai  yang terletak di lembah Kerinci, seorang bapak bernama pak Merasutan masih sanggup menerawang kejadian yang menimpa desanya pada malam hari, tanggal 7 Oktober 1995.

Ia merasakan suhu udara yang meningkat. Banyak penduduk yang merasa kegerahan di daerah pegunungan yang selalu dingin itu. Selain itu, Pak Merasutan merasakan banyak nyamuk yang mendenging-denging dan anjing menggonggong tidak seperti biasanya. Saat itu, Pak Merasutan masih mengingatnya kira-kira sebelum tengah malam. Satu jam kemudian, guncangan gempa meluluh lantakkan desanya!

Tanah-tanah terbelah. Beberapa sumur penduduk mengering tapi di sumur lain malah airnya meluap. Di batas desa, air hangat keluar ke permukaan. Tentu saja desa yang dianggap modern dengan dinding tembok batu bata dan semen banyak yang roboh rata dengan tanah. Mereka seakan-akan lupa teknologi yang telah diperkenalkan leluhur mereka, yaitu rumah panjang dari kayu tanpa paku yang tetap ajeg kokoh di antara puing-puing rumah tembok.

Menurut arsitek yang tergabung dalam tim, rumah-rumah tradisional di sepanjang Bukit Barisan justru telah dirancang sedemikian rupa sehingga ramah terhadap gempa bumi. Tiang-tiangnya yang dihubungkan dengan palang-palang diikat seperti engsel yang bebas bergeser pada jarak tertentu. Jadi ketika guncangan gempa datang, rumah ikut berayun mengikuti guncangan gempa bumi, tetapi tidak sampai runtuh.

Inilah kearifan yang seharusnya dipertahankan dan tidak terbujuk promosi pabrik semen untuk menggunakan rumah-rumah berdinding tembok tanpa tiang-tiang yang kuat dan terikat kuat satu dengan lainnya. Gempa di Sumatra Barat akhir-akhir ini pastilah melanda perkampungan dengan rumah-rumah tembok ini. Besar kemungkinan rumah-rumah gadang khas Minang akan tetap berdiri dengan anggunnya karena mereka dibangun dengan prinsip-prinsip yang ramah terhadap guncangan gempa bumi.

Begitu pula di Tatar Sunda. Ketika, penulis mengunjungi gempa di Pacewt, Bandung selatan tahun 2005 kami mendapat suatu pemandangan yang kontras. Di sebuah kampung di Pacet, rumah-rumah panggung tradisional Sunda yang bertiang kayu dan berdinding bilik, masih tetap berdiri tanpa rusak sedikitpun di samping rumah “modern”: bertembok yang hancur berantakan. Penghuni rumah yang mempunyai dua jeins bangunan itu mungkin baru menyadari bahwa rumah panggungnya yang dianggap tertinggal dan kampungan, justru tersenyum ketika guncangan gempa bumi mengguncang hati para penghuninya….#OP120307A#

Budi Brahmatyo, staf dosen di KK Geologi Terapan FTTB-ITB, anggota KRCB.(PR)

Comments
One Response to “Gempa Bumi Lagi !”
  1. ade mengatakan:

    KURANG LENGKAP!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

  • Arkeologi

  • Trader

  • Energi Alternatif

  • Bencana Global 2050

  • Flying

  • Kereta Api

  • Konstruksi – Arsitektur

%d blogger menyukai ini: