Bencana, Kemandirian dan Asuransi

Tanggal 3 Maret 2007 ini, kembali kita dikagetkan dengan bencana longsor Manggarai di Nusa Tenggara timur, menyusul tanggal 6 Maret 2007 bencana gempa di Solok Sumatra Barat. Berbagai kejadian bencana yang beruntun selama ini menunjukkan bahwa Indonesia adalah negara yang sangat rawan bencana.

Bencana adalah gangguan terhadap kehidupan masyarakat yang diakibatkan oleh faktor alami dan faktor bukan alami yang menyebabkan kehancuran lingkungan hidup, kerugian harta benda, perasaan trauma, dan korban jiwa manusia. Bencana karena faktor alami diantaranya gempa bumi, tsunami, letusan gunung berapi, dan badai. Sebagian orang mengklasifikasikan banjir, longsor dan kekeringan adalah bencana oleh faktor alami.

Namun sebagaian lagi karena faktor bukan alami, antara lain akibat tan penggundulan hutan, alih fungsi kawasan lindung menjadi kawasan budidaya, dan alih fungsi kawasan lahan basah menjadi kawasan permukiman. Bencana lain oleh faktor bukan pencemaran limbah industri, kegagalan teknologi, dan konflik yang berkembang menjadi kerusuhan sosial atau peperangan.

Di saat kejadian bencana, semua pihak ikut sedih dan prihatin dan banyak sekali bantuan berdatangan. Di saat seperti itu yang muncul adalah solidaritas kemanusiaan yang melampaui batas-batas perbedaan bangsa, suku, ras, agama, dan institusi.

Akan tetapi di dalam suasana penderitaan dan bantu membantu ini tidak kurang pula terlontar tudingan bantuan yang diselewengkan dan dikorupsi. Bantuan kebencanaan ini selalu menjadi masalah, mulai saat tanggap darurat sampai saat rehabilitasi pasca bencana. Pada hakekatnya setiap orang yang terkena bencana berhak terpenuhi kebutuhan dasarnya atas bantuan kemanusiaan. Namun disisi lain muncul fenomena yang tidak kita sangka sebelumnya, yaitu lunturnya budaya mandiri dan meningkatkan budaya tangan tengadah minta bantuan.

Penanganan bencana yang paling baik adalah berbasis kemandirian masyarakat, yaitu menyiapkan masyarakat di daerah rawan bencana untuk selalu siap siaga dan mampu menolong diri sendiri, terutama sebelum bantuan yang lebih besar dan sangat diperlukan datang dari luar. Menyiapkan kapasitas masyarakat yang bermukim di daerah rawan bencana jauh lebih baik dari pada memasang peralatan-peralatan canggih anti bencana yang belum tentu berfungsi, dan bukan pula menanti-nanti bantuan yang belum tentu sesuai dengan kebutuhan.

Menyiapkan masyarakat antara lain dengan memberi kemampuan teknis sederhana, yaitu membaca situasi bentang alam desa sendiri, mendeteksi lokasi-lokasi rawan bencana, membaca gejala-gejala alam, ketrampilan pertolongan pertama, perkuatan kelembagaan kebencanaan desa. Selain itu prinsip utama menyiapkan masyarakat adalah meningkatkan kemampuan pemenuhan terhadap lima aset kehidupan berkelanjutan. Yaitu, aset modal masing-masing warga, aset kearifan yang dimiliki masyarakat, aset persediaan sumber daya alam, aset infrastruktur pedesaan, dan aset sumber-sumber keuangan pedesaan.

Banyak yang telah menggagas bahwa sangat mungkin asuransi mampu meringankan beban penderitaan akibat bencana. Tak kurang dari Hotbonar Sinaga mantan Ketua Dewan Asuransi Indonesia yang saat ini menjabat Dirut PT Jamsostek, mengatakan bahwa asuransi sebagai salah satu pengelola risiko, tak perlu disangsikan dapat berkontribusi dalam setiap tahap manajemen bencana. Dalam menajemen kebencanaan di kenal tahap tanggap darurat ketika bencana terjadi, tahap rehabilitasi-rekonstruksi pasca bencana, tahap mitigasi untuk mengurangi resiko, dan tahap siap siaga untuk tindak menghadapi bencana.

Pada tahap tanggap darurat dan tahap rehabilitasi-rekonstruksi, perusahaan asuransi berpotensi berkontribusi sesuai klaim terkait kerugian akibat bencana. Di lain kesempatan, pada tahap mitigasi dan tahap siap siaga, perusahaan asuransi berpotensi berpartisipasi memberikan pendidikan kepada masyarakat mengenai cara-cara memperkecil kerugian akibat bencana.

Ketika negara kita dikenal sangat rawan bencana, ketika kemampuan pemerintah juga dalam keadaan yang sangat terbatas, maka gagasan asuransi bencana ini tentunya merupakan ide sangat baik yang perlu ditanggapi positif  dan negatifnya. Kita maklumi bahwa hingga kini masih banyak pendapat yang saling berbeda dalam menganggapi perihal asuransi. Di satu pihak mengatakan bahwa asuransi adalah semacam judi, untung-untungan, bahkan ada yang mengatakan menjurus kepada penipuan dan kejahatan.

Banyak pula yang meragukan kemampuan perusahaan asuransi, manakala skala bencana yang terjadi amat besar, misalnya seperti gempa dan tsunami Aceh, atau sebuah bendungan besar jebol (walau mungkin saja terjadi, namun ini tentunya tidak kita harapakan). Sebaliknya pihak lain berpendapat bahwa untuk mengatasi anggapan bahwa asuransi adalah judi, untung-untungan dan penipuan, dapat dicari solusi sistem asuransi yang sesuai dengan budaya Indonesia, yaitu sistem asuransi tolong-menolong dan transparan, atau istilah populernya adalah asuransi syariat atau tafakul. Bahkan Ketua Umum Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI), Frans Sahusilawane, mengatakan sangat optimis bahwa ancaman bencana bisa menjadi tantangan dan peluang besar perusahaan asuransi untuk berkembang dan berkontribusi meringankan beban masyarakat dan pemerintah.

Menurut rencana, Pemda Provinsi Jawa Barat bekerjasama dengan AAUI bermaksud menyelenggarakan diskusi tentang “Manajemen Resiko Bencana Alam di Jawa barat”, di Hyatt Regency Hotel Bandung, pada tanggal 22 Maret 2007 yang akan datang. Inti semina akan mengupas masalah bencana, kemandirian dan kemampuan asuransi. Akan tampil antara lain Ir. Lex Laksamana, prof. M.T. Zen, dan tim ahli asuransi. Diskusi ini tentunya akan cukup menarik, tetapi sebenarnya yang paling penting adalah tindak nyata prak bagaimana meminimalkan resiko bencana seperti Jawa Barat ini, bukan hanya berupa wacana saja…..#OP120307B#

Sobirin, anggota Dewan Pemerhati Kehutanan dan Lingkungan Tatar Sunda (DPKLTS). (PR)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

  • Arkeologi

  • Trader

  • Energi Alternatif

  • Bencana Global 2050

  • Flying

  • Kereta Api

  • Konstruksi – Arsitektur

%d blogger menyukai ini: