Gelombang Ekonomi Kreatif

Denyut ekonomi kreatif mulai dikumandangkan oleh Presiden SBY saat memberikan kata sambutan pada pembukaan Pekan Produk Budaya Indonesia yang berlangsung tanggal 11-15 Juli 2007 di Jakarta. Ekonomi kreatif, menurut Presiden bersumber dari ide, seni, dan teknologi yang dikelola untuk menciptakan kemakmuran (PR, 12/7-2007).

Dunia sudah memasuki peradaban keempat dengan sebutan era kreatif yang menempatkan kreativitas dan inovasi sebagai motor penggerak pertumbuhan ekonomi. Seiring dengan pandangan futuris Alvin Tofler dalam Futurer Shock (1970) bahwa peradaban manusia terdiri dari tiga gelombang; era pertanian, era industri, dan era informasi, Presiden berpendapat bahwa gelombang peradaban keempat ini adalah era kreatif sebagai kelanjutan dari gelombang ekonomi informasi.

Presiden mengamati bahwa ekonomi kreatif di dunia banyak memberikan kontribusi bagi perekonomian negara-negara yang mengembangkannya. Melihat potensi yang begitu besar ini. Presiden secara khusus menyampaikan empat imbauan untuk bersama-sama bangsa Indonesia mengembangkan (1) ekonomi kreatif dengan memadukanide, seni, dan teknologi, (2) keunggulan produk ekonomi yang berbasiskan seni budaya, dan kerajinan, (3) ekonomi warisan, dan (4) ekonomi kepariwisataanyang berbasis keindahan alam. Sudah saatnya Indonesia bangkit dan mempersiapkan diri untuk menyambut gelombang ekonomi kreatif dengan orientasi pada kreativitas, kekayaan dan warisan budaya dan lingkungan.

Salah satu persiapan menghadapi ekonomi kreatif itu adalah digelarnya Seminar Pemetaan Industri Kreatif di ITB hasil kerja sama antara Forum Grafika Digital FSRD ITB, Universitas Bina Nusantara, dan British Council pad tanggal 18 Juli yang lalu (PR, 19/7-2007). Salah satu kesan yang mendalam dalam seminar ini adalah bahwa Indonesia merupakan pemain baru dalam ekonomi kreatif dan kegiatan kreatif di kota Bandung masih berjalan sendiri-sendiri dan belum mendapat perhatian yang memadai dari pemerintah kota.

Konsep ekonomi kreatif masih baru bagi masyarakat Indonesia. Istilah untuk peradaban gelombang keempat bukan saja di monopoli oleh ekonomi kreatif, tetapi sering disebut sebagai ekonomi budaya, ekonomi seni, ekonomi desain, ekonomi pengetahuan, dan ekonomi konseptual. Walaupun semuanya mempunyai kesamaan pandangan bahwa kreativitas dan inovasi individu serta kekayaan budaya menjadi inti peningkatan produktivitas ekonomi dan daya saing, timbul beragan pertanyaan, anatara lain tentang asal usul ekonomi kreatif, industri apa saja yang tercakup di dalamnya, dan hambatan apa saja bagi bangsa Indonesia untuk berkembang dalam era kreatif ini.

Ekonomi kreatif dapat didefinisikan sebagai sistem kegiatan manusia yang berkaitan dengan produksi, distribusi, pertukaran serta konsumsi barang dan jasa yang bernilai kultural, atistik, dan hiburan. Ekonomi kreatif bersumber pada kegiatan  ekonomi dari industri kreatif. Secara umum, industri kreatif dalam Wikipedia didefinisikan sebagai industri yang berfokus pada kreasi dan eksploitasi karya kepemilikan intelektual seperti seni, film, permainan, atau desain fashion, dan termasuk layanan kreatif antar perusahaan seperti iklan.

Pemerintah Inggris melalui Kementrian Budaya, Media, dan Olah raga memberikan lingkup industri kreatif sebagai kegiatan yang berrsumber dari kreativitas, keahlian, dan talenta individu yang berpeluang meningkatkan kesejahteraan dan lapangan pekerjaan melalui penciptaan dan komersialisasi kekayaan intelektual. Kementrian ini menetapkan bahwa industri kreatif terdiri dari 13 sektor usaha, yakni periklanan, arsitektur, seni murni dan barang antik, kerajinan, desain, fashion, film dan video, hiburan interaktif dan permainan komputer, musik, seni pertunjukan, penerbitan, perangkat lunak dan animasi, serta televisi dan radio.

Mengapa perhatian terhadap ekonomi kreatif semakin tinggi? Alasan pertama adalah besarnya nilai ekonomi kreatif dan pertumbuhannya. Menteri Perdagangan Mari Pangestu menilai sektor ekonomi kreatif di dunia saat ini tumbuh dengan pesat seperti tecermin dari nilai ekonomi kreatif global yang diperkirakan dengan tingkat pertumbuhan lima persen per tahun akan berkembang dari 2,2 triliun dolar AS pada Januari 2000 menjadi 6,1 triliun dolar AS tahun 2020.

John Howkins dalam The Creative Economy (2001) menemukan kehadiran gelombang ekonomi kreatif setelah menyadari untuk pertama kalinya pada tahun 1996 karya hak cipta Amerika Serikat mempunyai nilai penjualan ekspor sebesar 60,18 miliar dolar (sekitar Rp.600 triliun) yang jauh melampaui ekspor sektor-sektor lainnya seperti otomotif, pertanian, dan pesawat. Howkins berargumentasi bahwa ekonomi baru sudah muncul seputar industri kreatif yang dikendalikan oleh hukum kekayaan intelektual seperti paten, hak cipta, merek, royalti, dan desain.

Masukan utama ekonomi kreatif adalah gagasan yang diolah menjadi produk atau jasa yang bernilai ekonomi. Nilai ekonomi dari suatu produk atau jasa di era kreatif bukan lagi ditentukan oleh bahan bakunya atau sistem produksi seperti era industri, tetapi pada pemanfaatan kreativitas dan inovasi. Harga secangkir kopi sebagai komiditas tidak lebih dari Rp.5.000,00 di warung kopi. Harga kopi ini nakan berlipat ganda pada saat diberi sentuhan seni dan inovasi seperti yang disajikan oleh Starbucks.

Daniel H. Pink dalam A Whole New Mind (2005) menjelaskan bahwa ekonomi bergerak dari era informasi ke era konseptual atau desain. Dia menggambarkan bahwa ekonomi saat ini yang ditandai dengan ketimpangan produksi (over supply), sumber luar (outsourcing) ke negara-negara Asia, dan otomasi sistem produksi, perusahaan perlu memperhatikan aset kreatif atau kognitif seperti desain, empati, permainan, dan makna untuk dapat meingkatkan nilai ekonomi yang lebih tinggi. Industri tidak dapat lagi bersaing dalam pasar global semata-mata berdasarkan harga atau mutu produk saja, tetapi bersaing berbasiskan inovasi, kreativitas, dan imajinasi.

Organisasi Pendidikan, Sains, dan Budaya Persatuan Bangsa-Bangsa (UNESCO) juga memberikan mandat kepada para negara anggotanya untuk mengambangkan ekonomi kreatif dalam rangka mencapai Sasaran Pembangunan Milenium. Ekonomi Kreatif dapat membantu penciptaan lapangan kerja, pengentasan kemiskinan, pelestarian keanekaragaman budaya, dan pembangunan manusia. Sektor yang termasuk industri kreatif menurut UNESCO mencakup warisan budaya, sastra, musik, pertunjukan, seni visual, sinema dan fotografi, radio dan televisi, kegiatan sosial budaya, olah raga dan permainan, serta lingkungan dan alam.

Indonesia masih jauh ketinggalan dibandingkan dengan negara-negara tetangganya dalam mengembangkan industri kreatif. Tetangga terdekat Singapura, misalnya, telah menugaskan Kementrian Informasi, Komunikasi, dan Seni untuk mengembangkan ekonomi kreatif dalam rangka membangun daya saing Singapura melalui pemanduan seni, bisnis, dan teknologi. Visi pengembangan industrei kreatif adalah menjadi kluster kreatif yang menggentarkan dan berkelanjutan untuk menunjang ekonomi kreatif Singapura.

Indikator pencapaian visi ini adalah kontribusi kluster kreatif 3,2% di tahun 2007 berlipat dua menjadi 6% di tahun 2012. Tiga cetak biru strategi pengembangan industri kreatif dalam mewujudkan visi ini adalah Kota Renaisans (kota global multitelenta dan inovatif dalam bidang seni dan budaya), Singapura Desain (pusat Asia dalam keunggulan desain sebagai pemicu utama peningkatan daya saing dan kreativitas nasional), dan Media 21 (ekosistem media yang berakar di Singapura dengan jangkauan global). Pemerintah Singapura dan Ekspo Kegiatan Kreatif.

Bagaimana dengan Indonesia?

Peluang tetap ada karena semua daerah atau kota di Indonesia mempunyai keanekaragaman seni, budaya, dan warisan budaya. Tetapi masalahnya adalah tidak semua daerah mampu mengubahnya menjadi industri yang membuka lapangan kerja, melakukan ekspor karya kreatif, dan mendorong pertumbuhan ekonomi. Perkembangan industri kreatif seperti di Jakarta, Bali,  Yogyakarta, dan Bandung lebih banyak karena reaksi pelaku terhadap permintaan belum ada sentuhan perencanaan jangka panjang. Karena kreativitas dan inovasi lebih berharga dari sumber ekonomi lainnya, pemerintah (regulator) dan perusahaan (operator) memerlukan paradigma baru dalam kebijakan dan manajemen yang lebih cocok dengan kondisi ekonomi kreatif.

Kepemimpinan adalah masalah yang utama. Kementrian mana yang menjadi lokomotif pengembangan ekonomi kreatif? Pemerintah Inggris menugaskan Kementrian Budaya, Media, dan Olah Raga. Saat ini Menteri Perdagangan dan Menteri Perindustrian baru berbicara tentang pentingnya ekonomi kreatif. Belum ada mandat khusus yang diberikan pemerintah kepada suatu lembaga atau kementrian dengan kewenangan penuh dalam menetapkan kebijakan pengembangan ekonomi kreatif yang mampu bersaing dengan negara-negara Asia lainnya.

Selain berkoordinasi dengan kementrian lain seperti Pendidikan Nasional, Kebudayaan dan pariwisata, dan Tenaga Kerja, Lembaga ini juga berfungsi mendorong pemerintah kota di Indonesia untuk turut mengembangkan ekonomi kreatif sesuai dengan potensinya masing-masing.

Masalah perlindungan juga perlu dicarikan solusinya. Alasan perlindungan kekayaan intelektual adalah memberikan insentif kepada para pengarang dan penemu untuk menciptakan karya intelektual dan menyediakannya kepada publik. Perlindungan bukan hanya kepada individu, tetapi juga domain publik dan kolektif. Setiap pemerintah kota seharusnya aktif melakukan inventarisasi dan perlindungan warisan budaya dan kearifan lokal.

Rantai nilai ekonomi kreatif juga memerlukan kebijakan agar tidak hanya menjadi tukang jahit, tetapi menjadi desainer atau seniman dengan ketrampilan artisitik yang diakui profesinya. Perusahaan harus mampu mengelola pekerja sebagai artis atau seniman sekaligus sebagai profesi. Pemerintah daerah perlu mengakui profesi ini di dalam tatanan struktur ketenagakerjaan. Masyarakat kreatif diupayakan tidak terlena pada nostalgia warisan budaya masa lalu, tetapi turut melestarikan dan menjadikan warisan budaya sebagai sumber inspirasi untuk dapat menciptakan karya yang bernilai ekonomi.

Konsumen industri kreatif belum banyak yang dapat menghargai nilai dari karya kreatif terutama desain. Pemerintah perlu melakukan sosialisai yang lebih luas untuk mendidik pelanggan. Inisiatif ini termasuk menumbuhkan sahabat-sahabat budaya dan seni (para dermawan dan kolektor) dan membantu akses ke pasar global.

Masalah kebijakan pengembangan prasarana dan sarana ekonomi kreatif berbeda dari era industri yang dapat dilakukan dalam rentang waktu yang singkat. Hampir semua sarana dan prasarana seperti akses terhadap pendidikan, teknologi, perpustakaan, perizinan, statistik, dan hasil riset, kontes, pelatihan, modal, informasi tentang standar teknis dan kesehatan, bantuan teknis, pajak, regulasi persaingan, dan lain-lain harus dibangun dari nol dalam rentang waktu yang panjang.

Stastitik industri kreatif tidak mungkin diperoleh tanpa ada standararisasi definisi, sistem klasifikasi umum, prosedur pengumpulan data, metode analisis, dan penyebaran informasi. Statistik diperlukan untuk melakukan kaji banding, perumusan kebijakan, dan analisis peluang investasi. Tugas yang lebih penting lagi adalah bagaimana memahami perkembangan organisasi dan pekerjaan kreatif dan apa yang perlu dilakukan untuk mendorong ekonomi kreatif yang mandiri dan berkontribusi.

Kalau konsep ekonomi kreatif diyakini mendorong persaingan ekonomi global di masa depan, apakah tantangan untuk mewujudkan Bandung sebagai ikon industri kreatif nasional mau dan mampu dijawab Pemerintah Kota Bandung dan komunitasnya?……..#OP010807A#

Dr. Togar M. Simatupang, dosen Sekolah Bisnis dan Manajemen ITB. (PR)

Comments
One Response to “Gelombang Ekonomi Kreatif”
  1. azzahra mengatakan:

    kita sebenarnya harus mengalakkan ekonomi kreatif untuk masyarakat dan lingkungan sekitar kita.karena pemerintah juga sudah mulai mencanangkan kebijakan yang mendukung berkembangnya perekonomian berbasis kreatifitas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

  • Arkeologi

  • Trader

  • Energi Alternatif

  • Bencana Global 2050

  • Flying

  • Kereta Api

  • Konstruksi – Arsitektur

%d blogger menyukai ini: