Menangkap Semangat Juang “Agustusan”

Bangsa Indonesia di seluruh tanah air akan merayakan penyambutan hari kemerdekaan yang telah menginjak usia 62 tahun. Seperti biasa, perayaan akan terlihat gegap gempita dengan beragam acara yang menghibur, mendidik, dan mengingatkan kembali pada pengalaman kolektif bangsa atas keberanian serta ketulusan para pejuang kemerdekaan tempo dulu.

Keberanian dan ketulusan para pejuang, jadi modal untuk membebaskan bangsa dari kolonialisasi Belanda. Alhasil, dengan modal tersebut bangsa ini pada tanggal 17 Agustus 1945 bebas dari segala bentuk penjajahan, penindasan, dan pengeksploitasian yang berlangsung sekitar 3,5 abad. Pejuang 45 telah berhasil membangun kemandirian bangsa, tepatnya pada tahun 1945, hingga mengatmosfer dalam wujud kegembiraan tak terkira, lalu berteriak, “Merdeka, merdeka, merdeka !”

Itulah kegembiraan yang terlihat pada raut muka para pejuang di film-film perjuangan yang dulu kala di tahun 1990-an masih kerap diputar ulang ketika bulan Agustus tiba. Untuk konteks kekinian, tidaklah heran jika bendera, umbul-umbul, tugu, benteng, dan pekarangan di rumah terhias warna Merah-Putih. Apalagi ketika hari menginjak tanggal 17 Agustus; boleh jadi gegap gempita agustusan akan meramaikan suasana. Lita pun seolah lupa bahwa roda bangsa ini kian berkarat.

Tanpa mampu menangkap intisari peringatan hari kemerdekaan “untuk menciptakan dan membangun kemandirian bangsa” roda bangsa pun tak akan bergelinding. Kendati bangsa ini telah merdeka selama 62 tahun, jika nihil dari semangat juang, tentunya negara-bangsa tidak dapat bertransformasi ke arah lebih baik. Mentalitas bangsa kita juga seakan tidak mandiri, tidak kreatif, dan tidak inovatif; ini bisa dilihat dari menengadahkan tangan (ngutang) kita ke bangsa luar (terutama IMF).

Lantas, bagaimana seharusnya arah kegiatan perayaan hari kemerdekaan agar lebih berarti dan bisa mengeluarkan bangsa dari keterpurukan? Yang pasti, semangat “agustusan” semestinya diinternalisasi dan dijabarkan pada dunia riil masyarakat/rakyat, untuk menyibakkan “tabir-tabir” krisis memulti di tubuh Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) ini.

Prosesi “agustusan” adalah satu perangkat yang tepat dan akurat untuk membenahi mentalitas tidak kreatif, tidak inovatif, dan tidak mandiri bangsa kita. Sebab, ketika bangsa dipenuhi orang seperti itu, jangan harap kemajuan akan menghampiri kita. Bahkan, ketika generasi muda bangsa ini tidak dapat menangkap semangat juang perayaan 17 Agustus (baca: agustusan), misalnya, ke depan nasib bangsa tidak bakal beranjak lebih baik.

Malahan, bakal terus-terusan terserang “virus” ketidaksejahteraan yang akan berujung pada merebaknya bangsa pesakitan akibat penjajahan laten yang dilakukan bangsa luar. Maka, logis sekali kalau Haji Wakhudin dalam rubrik Kolom bertajuk “Gara-gara” (PR/4/8/2006), merasa resah sembari mengatakan bahwa dengan keteguhan hati dan tekad baja, kita dapat memperteguh jati diri hingga mampu mengusir kolonialis.

Dalam posisi perlawanan seperti ini, menurutnya, dibutuhkan ksatria yang gagah berani sebagai perpaduan dari kekuatan akal pikiran (Gatotkaca), fisik (Bima), dan gerak lincah (Arjuna) dalam tataran praktis sosial. Biasanya, kesatria gagah berani yang diidam-idamkan Haji Wakhudin tersebut pasti dimiliki setiap kaum muda bangsa ini. Sebab, fungsi tubuh, jiwa serta pikiran pemuda berada pada posisi “siap pakai” dan bisa digunakan semaksimal mungkin untuk membawa keluar bangsa dari impitan “batu besar” degradasi ekonomi, sosial, politik, dan budaya.

Oleh karenanya, program kerja organisasi kepemudaan di NKRI mesti fokus memoles generasi muda, dengan keteguhan dan ketulusan hati. Alhasil, dapat mentransformasi pemuda menjadi para pemegang kebijakan yang jujur dan berani menyaurakan aspirasi “wong cilik” di masa mendatang. Tak arif rasanya kalau pemuda hanya bisa meneruskan “estafet penjajahan” generasi tua dengan meminjam utang kembali, umpamanya, ketika ia memegang kendali di lembaga eksekutif kelak.

Kalau bukan di pundak pemuda, tampuk kepemimpinan masa depan terletak; lantas, di pundak siapa lagi? Denganb demikian, pribadi pemuda juga semestinya menggambarkan kedigdayaan seorang kesatria gagah berani yang berkesadaran tinggi hingga piawai menghadapi arus “mengutip istilah Bung Karno” neokolonialisme bangsa luar. Dengan inilah, perayaan hari kemerdekaan mestinya jadi momen tepat untuk membangun kemandirian, keteguhan jiwa, dan ketulusan hati demi terciptanya kemerdekaan bangsa.

Bukankah, kemandirian, keteguhan jiwa, dan ketulusan hati para pejuang kemerdekaan tahun 45-an adalah modal pertama untuk melawan penjajahan dan penindasan bangsa luar? Lantas, apa salahnya kalau kita pun meneladani pribadi para pejuang yang bersemangat betul memperjuangkan kemerdekaan bangsa dari impitan penjajahan kolonialis di bulan Agustus ini?

Kendati jatah peringatan Hari Sumpah Pemuda bertepatan dengan tanggal 28 oktober, hal itu tidak bijaksana rasanya kalau dijasikan alasan untuk mengabsenkan diri dari peran sosial. Sebab, inti dari peringatan hari-hari besar bersejarah adalah untuk menginternalisasi dan mentransformasikan semangat perjuangan mendiang para pahlawan dalam melawan kesemena-menaan. Bukan sekadar kegiatan rutinitas yang tak membekas, bahkan kering kerontang dari nilai-nilai transformatif.

Misalnya, ketika peringatan mendekati hari “H”, prosesi “agustusan” kerap diisi perlbagai aktivitas yang agak menghambur-hamburrkan atau konsumtif. Malahan, banyak pemuda kita meminta sumbangan untuk membiayai kegiatan tersebut dengan menengadahkan tangan di jalan-jalan raya. Bukan tidak boleh meminta uang di jalanan, namun ketika pemakaiannya tidak produktif, hal itu hanya akan mengakibatkan perayaan hari kemerdekaan terasa sesaat. Setelah bulan Agustus berlalu, kitapun kembali menjalani kehidupan yang sedemikian karut-marut dengan pelbagai krisis multidimensional.

Kondisi di atas merupakan imbas dari beberapa persoalan yang belum bisa tertanggulangi para pemimpin di Indonesia. Pertama, rendahnya mutu pendidikan bangsa yang mengakibatkan pemuda tidak mampu berimprovisasi ketika memperingati hari kemerdekaan. Maka mereka pun terjebak pada perayaan rutinitas tanpa mampu mengambil semangat juang tokoh-tokoh tempo dulu yang ikut andil membawa Indonesia menghirup udara kemerdekaannya.

Kedua, banyaknya pemuda yang menganggur akibat minimnya lapangan kerja yang sesuai dengan life skill dan potensi yang dimiliki, karena belum tuntasnya persoalan pengangguran di Indonesia. Ketiga, kurangnya ruang aspirasi para pemuda untuk berunjuk kebolehan dalam hal seni, sehingga bulan Agustus kerap dijadikan ajang pelampiasan keterpendaman itu. Keempat, para pemuda dari kalangan terdidik seakan tidak pernah menyentuh ranah kaum alit, lebih intensif melakukan pendekatan politik praktis-pragmatis pada kaum “elite” yang birokratis.

Dalam khazanah Sunda, mungkin pernah mendengar bahkan mengenal istilah teu langkung nu dikopeah, semuanya terserah yang memakai peci atau kopeah (baca:pemimpin). Artinya, ketika pemimpin ingin dihargai dan dihormati rakyat, keadilan dan kesejahteraan tidak hanya wacana an sich, namun mesti dijabarkan para pemuda yang berada di lembaga legislatif dan eksekutif. Tentu saja, ketaatan dan rrasa menghormati bakal tercipta andai saja mereka memiliki keteguhan jiwa dan ketulusan hati sebagai modal pertama memimpin rakyat.

Alhasil, relasi sosial politik antara pemimpin dan rakyat akan terasa lebih demokratis, tidak otoriter, dan mementingkan rakyat kecil (baca: kaum alit). Dari sinilah, pribahasa teu langkung nu di kopeah akan kembali dikenal masyarakat dan r”roh” maknanya akan terasa. Namun, ketika segala kebijakan cenderung merugikan rakyat papa, dari arah lain akan muncul orang-orang yang membela hak-hak mereka sekuat tenaga.

Mengapa demikian? Sebab, maknaq historis dari perayaan 17 Agustus adalah mengenang dan meneladani keberanian para pejuang ketika merebut Indonesia dari tangan kolonialisme. Dan model perjuangan sekarang inipun tidak hanya dengan adu fisik, melainkan memperjuangakan hak-hak sosial, ekonomi, dan budaya rakyat hingga dapat diraih kembali. Pertanyaannya, bisakah para pemuda menangkap semangat juang 17 Agustus? Semoga saja kita mampu, kawan!……#OP150807B#

Sukron Abdilah, pemerhati masalah sosial dan budaya, pegiat Tepas Institute. (PR)

Comments
2 Responses to “Menangkap Semangat Juang “Agustusan””
  1. Cani mengatakan:

    Zow blh bgi2

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

  • Arkeologi

  • Trader

  • Energi Alternatif

  • Bencana Global 2050

  • Flying

  • Kereta Api

  • Konstruksi – Arsitektur

%d blogger menyukai ini: