N-250, Merananya Ikon Harteknas

Harteknas (Hari Kebangkitan Teknologi Nasional) yang diperingati setiap tanggal 10 Agustus tidak bisa lepas dari eksistensi Kota bandung. Pasalnya, kota ini telah menjadi kawah candradimuka bagi ikon Hateknas yang berupa prototipe pesawat N-250 rakitan PT DI. Ikon yang bernama Gatotkaca itu pada tanggal 10 Agustus 1995 menjelajahi dirgantara Kota Bandung selama satu jam dalam misi terbang perdana (first flight) menyambut 50 tahun Indonesia Merdeka.

Hingga tahun ini, sudah dua belas kali pemerintah memperingati Harteknas secara elitis. Namun, makna dan gregetnya belum merasuk di kalangan rakyat luas. Bahkan, spiritnya pun boleh dikatakan jauh panggang dari api alias masih jauh dari persoalan aktual rakyat. Itulah sebabnya banyak pihak yang berpendapat bahwa kata kebangkitan dalam Harteknas mengandung ironisme yang sangat dalam. Ironisme itu selain menyangkut “kandasnya” strategi transformasi teknologi Habibie, juga menyangkut tentang pilihan teknologi yang “salah wesel” sehingga untuk beberapa waktu telah mengabaikan teknologi tepat guna yang berbasis kerakyatan.

Kandasnya strategi Habibie melahirkan dampak yang sangat tragis bagi SDM teknologi, terutama yang bekerja di wahana transformasi teknologi, baik yang berada di lingkungan BUMN industri strategis maupun lembaga ristek lainnya. Betapa menyesakkan dada ketika bangsa ini disuguhi fakta bahwa SDM teknologi hingga saat ini banyak yang menganggur. Bahkan, SDM teknologi yang turut merancang pesawat N-250 pada saat ini sebagian besar telah tercabut dari akar profesinya. Tragisnya lagi setelah terjadi PHK massal, banyak di antara mereka yang terpaksa menjadi pedagang kaki lima dan tukang ojek karena keahliannya yang sangat spesifik tidak lagi terserap oleh pasar tenaga kerja dan juga faktor usia.

Aktivitas BUMN padat teknologi yang telah diskenariokan sebagai wahana tinggal landas ternyata telah memakan anak kandungnya sendiri. Hal itu terjadi karena salah urus manajemen serta suburnya bermacam modus korupsi. Restrukturisasi BUMN merupakan salah satu jalan untuk menyehatkan perusahaan, namun kenyataan di lapangan telah menunjukkan bahwa langkah restrukturisasi justru mengubur berbagai praktik korupsi dan mismanagement.

Untuk itulah pentingnya dibentuk suatu komisi nasional yang independen untuk menangani masalah restrukturisasi usaha agar uang negara tidak musnah begitu saja, tetapi harus dipertanggungjawabkan penggunaannya. Secara filosofis pengembangan teknologi dalam konteks nilai tambah minus korupsi harus diimplementasikan secara real dan semesta pada seluruh lapisan rakyat Indonesia. Itulah tugas pemerintah untuk merekomendasikan strategi industrialisasi dan transformasi teknologi di masa yang akan datang.

Mengingat industri strategis telah berusia lebih dari 30 tahun, seharusnya sudah mencapai tahapan korporasi yang matang serta memiliki ketahanan finansial yang didukung oleh portofolio kompentensi SDM yang terspesialisasi dengan baik. Namun, kondisinya saat ini justru masih jauh dari harapan. Industri strategis yang berjumlah 13 buah berada dalam payung BUMN sebagian besar telah mengalami krisis manajemen dan keuangan yang berkepanjangan sehingga harus direstrukturisasi berulang-ulang.

Baik restrukturisasi  manajemen maupun SDM-nya. Portofolio investasi N-250 yang berupa alat produksi, sarana laboratorium, serta persediaan material dalam jumlah yang sangat besar, semua sudah dimakan usia sehingga banyak yang menjadi besi tua. Persediaan meterial untuk N-250 yang gila-gilaan sehingga menyebabkan dead stock antara lain terlihat dari penyediaan wiring system atau perkabelan yang mencapai stock untuk seribu pesawat terbang.

Ada baiknya membuka kembali lembaran sejarah di mana B.J. Habibie sejak awal telah merancang sebuah industri pesawat terbang dengan fasilitas produksi dan laboratorium yang digerakkan oleh postur SDM hingga 15 ribu orang dengan berbagai spesialisasi. Dengan postur sejumlah itu, proses rancang bangun dan eksperimental pesawat terbang beserta derivatif produknya bisa dilakukan secara baik. Bahkan, B.J. Habibie optimis bahwa PT.DI di waktu mendatang mampu menyerapo sekitar 60 ribu karyawan tetap. Pada saat B.J. Habibie melepaskan kendalinya terehadap PT. DI jumlah karyawan yang ditinggal mencapai 15 ribu orang.

Ketika PT DI di ambang kebangkrutan akibat mismanagement dan maraknya modus korupsi, lagi-lagi pemerintah harus bertindak sebagai “Sinterklas” dengan mengucurkan dana talangan kepada PT DI untuk program restrukturisasi SDM sebesarr 62,9 juta dolar AS. Ironisnya, program restrukturisasi yang dijalankan sarat dengan penyelewengan. Akibatnya, hak-hak normatif karyawan yang ter-PHK tidak terpenuhi sesuai dengan undang-undang sehingga menimbulkan gejolak ketenagakerjaan yang berkepanjangan hingga saat ini.

Kondisi manajemen PT DI hingga saat ini masih terpuruk. Walaupun sebagian besar utang-utang perusahaan sudah diputihkan tetap saja kondisinya sangat sulit dan mati langkah. Situasi yang sangat sulit tersebut juga jelas tergambar pada kondisi perusahaan pada saat ini. Dimana program-program pengembangan pesawat N-250 dan lainnya dalam keadaan merana. Malah tiga buah prototipe pesawat N-250 yang menjadi ikon Harteknas sejak first flight hingga pada saat ini kondisinya menjadi besi tua.

Lebih dari sepuluh tahun, ikon tersebut nongkrong terus tidak mampu terbang karena alasan teknis dan non teknis. Alasan teknis yang sangat dominan adalah terlalu banyaknya komponen subtitusi yang terkandung sehingga tidak sesuai dengan kaidah desain dan tahapan sertifikasi. Alasan non teknisnya adalah kewajiban dan utang-utang kepada vendor yang belum diselesaikan sehingga prototipe N-250 tersandera untuk terbang dan gagal melakukan tahapan sertifikasi. Padahal, program tersebut telah menelan dana yang sangat besar, yakni sekitar Rp. 2,5 triliun.

Di lain pihak jika program N-250 ini akan dilanjutkan tanpa adanya konsolidasi SDM, justru akan memakan dana yang lebih besar serta resiko kerugian yang tinggi. Selain itu, pangsa pasarnya sudah kedaluwarsa. Karena menurut hitung-hitungan ekonomi feasibility pada awalnya, captive market  atau pasar yang siap untuk menyerap N-250 pada saat itu sebanyak 400 pesawat terbang. Sebagai gambaran untuk mengelaborasi kegagalan proyek N-250 di atas haruslah dimulai dengan pertanyaan,”Berapa besar vendor items (komponen impor) yang diperlukan untuk merekayasa sebuah desain pesawat baru sejenis N-250?”

Dari total vendor items, 65% di antaranya dipasok dari USA. Sisanya diintegrasikan dari Jerman, Italia, Inggris dll. Sementara local content atau komponen lokal yang dapat diserap hanyalah kurang dari 2%. Dari sisi component sourcing saja sudah terlihat bahwa PT DI semata-mata hanyalah tempat perakitan, belum menjadi sebuah industri. Efeknya terlalu banyak uang negara yang dibelanjakan untuk membeli vendor items di atas. Target untuk break event point atau titik impas yang harus dicapai harus terjual sebanyak 245 pesawat terbang.

Hitung-hitung feasibility tersebut pada waktu itu dibuat hanya untuk konsumsi politik sehingga kalau diproyeksikan dengan keadaan saat ini menjadi sangat tidak rasional. Sejarah tranformasi teknologi tinggi (hi-tech) di Indonesia yang melandasi Harteknas tahun-tahun terakhir ini diwarnai dengan kebingungan mau diapakan prototipe N-250. untunglah mahkamah sejarah cukup arif dan rakyat masih berlapang dada sehingga memberikan tempat yang layak bagi sang ikon Harteknas untuk mendiami museum…..#OP100807B#

Totok Siswantara, pengkaji transformasi teknologi dan industri. (PR)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

  • Arkeologi

  • Trader

  • Energi Alternatif

  • Bencana Global 2050

  • Flying

  • Kereta Api

  • Konstruksi – Arsitektur

%d blogger menyukai ini: