Menggapai Visi Jawa Barat 2025

Undang-undang No. 17/2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Tahun 2005-2025 mengamanatkan kepada pemerintah provinsi dan kabupaten/kota untuk menyusun RPJP (Rencana Pembangunan Jangka Panjang) Daerah Tahun 2005-2025. RPJP Daerah itulah yang harus dijadikan pedoman dalam penyusunan RPJM (Rencana Pembangunan Jangka Menengah) Daerah yang memuat Visi, Misi, dan Program Kepala Daerah.

Bapeda (Badan Perencanaan Daerah) Provinsi Jawa barat telah menyusun rancangan RPJP Daerah Provinsi Jawa barat 2005-2025. unutk menyempurnakan rancangan itu, Bapeda menyelenggarakan diskusi (Selasa 14/8-07) yang melibatkan institusi dan tokoh-tokoh agama, pendidikan, dan kebudayaan. Penulis, terlibat dalam diskusi pada kelompok yang menyoroti rancangan tersebut dari aspek kebudayaan.

Penulis mengemukakan beberapa hal, antara lain tentang Visi Jawa Barat 2025, pelaksanaan pembangunan berwawasan kebudayaan serta pentingnya pendidikan kebudayaan serta pentingnya pendidikan kebudayaan daerah (dalam konteks Jawa barat berarti Kebudayaan Sunda) di sekolah-sekolah. Secara ringkas, pemikiran-pemikiran tentang hal tersebut penulis kemukakan kembali dalam tulisan singkat ini.

Visi adalah harapan ideal yang ingin dijangkau. Dengan demikian, tentu boleh-boleh saja visi itu bersifat utopis. Sekalipun begitu, satu visi tentu harus juga bersifat realistis. Perumusan tentang harapan ideal pada kurun waktu tertentu, harus bertolak dari kondisi objektif saat ini serta dayaguna yang kita miliki dalam usaha mencapai harapan ideal itu. Visi janganlah hanya diposisikan “sekadar” sebagai pernyataan politis semata-mata, sehingga menjadi bombatis dan terkesan arogan.

Kita perlu bercermin kepada perumusan Visi Jawa barat 2010 (Dengan Iman dan Taqwa Jawa Barat Menjadi Provinsi Termaju dan Mitra Terdepan Ibu Kota Negara Tahun 2010). Kurun waktu untuk mewujudkan visi itu hanya tinggal dua tahun lebih beberapa bulan, sedangkan kita masih berada pada kondisi yang memprihatinkan. Mendekati dead line yang semakin dekat, kemiskinan dan pengangguran bukannya berkurang melainkan cenderung bertambah. Di tahun 2007 sekarang ini, penduduk miskin mencapai 29,05% dari jumlah populasi 40.737.594 jiwa. Penganggur mencapai angka 1.898.945 orang atau 10,95% dari jumlah angkatan kerja 17.340.593 orang.

Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang pada 2010 diharapkan dapat mencapai angka 80 sebagai persyaratan untuk meraih predikat “provinsi termaju”’ sekarang ini baru 70,05. berdasarkan perhitungan kondisi objektif saat ini, IPM 80 baru mungkin akan tercapai 2018. artinya, 2010 nanti, Jawa Barat tidak akan mampu mencapai visi yang dicanangkannya.

Oleh karena itu, rumusan visi Jawa Barat 2025 tentu tidak boleh mengulangi “kekeliruan” sebagaimana dilakukan dalam merumuskan Visi Jawa Barat 2010. perlu dicari rumusan yang tidak bombastis dan bersifat arogan, namun mampu memotivasi aparatur pemerintah daerah serta seluruh komponen masyarakat Jawa Barat untuk mengoptimalkan kinerja dan peran sertanya. Visi Jawa barat 2025 tidak perlu dirumuskan dalam kalimat yang bersifat “menganggap enteng” atau bahkan “menantang lawan” sebagaimana rumusan Visi Jawa barat 2010. Visi itu bernada begitu yakin bahwa Jawa Barat akan menjadi “pemenang” dalam pertarungan kemajuan dengan provinsi-provinsi lain yang menjadi “pesaingnya”. Namun, hasil akhir yang akan dipweroleh malah mengisyaratkan sebaliknya.

Dalam kurun 2005-2025 itu, terdapat pula periode lima tahunan dalam sistem kepemimpinan di provinsi Jawa Barat. Mekanisme lima tahunan dalam pemilihan Gubernur Jawa Barat akan menghasilkan gubenur-gubernur dengan periode kepemimpinan 2008-2013, 2013-2018, 2018-2023, dan seterusnya. Tidaklah terlalu sulit bagi gubernur terpilih pada setiap periode, untuk menyusun program kerja lima tahunnya dengan mengacu kepada RPJPD yang berkurun waktu 2005-2025, namun tentu akan sangat bermanfaat untuk mengukur keberhasilan kinerja gubernur-gubernur terpilih pada akhir masa jabatannya, apabila dalam RPJP Daerah Jawa Barat 2005-2025 ditetapkan pula secara eksplisit target yang harus dicapai pada kurun waktu lima tahun kepemimpinan masing-masing.

Sulit untuk mengingkari pendapat bahwa pembangunan yang dilakukan dalam era reformasi sekarang ini telah menyimpang dari harapan. Pembangunan sektor demi sektor tidak mengarah kepada tujuannya yang paling hakiki, yaitu demi kepentingan rakyat. Pembangunan industri tidak mampu menyerap tenaga kerja, pembangunan pertanian hanya membuat para pelaku UKM kian terpinggirkan. Bahkan, pembangunan demokrasi yang berada di baris terdepan dari prosesi pembangunan, hanyalah menghasilkan demonstran-demontran bayaran yang sama sekali tak mengerti apa-apa ketika mereka turun ke jalan. Segala aspek kehidupan nyaris kehilangan etika. Masyarakat cenderung barbar. Mumpung belum terlalu jauh tersesat, pembenahan perlu segera dilakukan. Pembangunan peerlu dikembalikan kepada prinsip dasar yang diamanatkan para founding fathers, yaitu pembangunan yang bercirikan “nation and character building”, yang harus menempatkan secara seimbang dan saling menunjang antara pembangunan fisik dengan pembangunan nonfisik. Pembangunan seyogyanya diarahkan pada upaya pembentukan “masyarakat yang berbudaya” suatu wujud masyarakat yang terdiri dari dari para anggota masyarakat yang berbudaya, yaitu manusia-manusia yang mengetahui, memahami, menghayati, dan pada gilirannya diharapkan mengamalkan nilai-nilai budaya bangsa.

Hanya bentuk masyarakat berbudayalah yang akan memiliki komponen-komponen masyarakat berbudaya dan senatiasa menempatkan kepentingan diri dan komunitasnya dalam bingkai kepentingan bangsa serta selalu memperhitungkan aspek etika dan moral dalam setiap gerak langkah kehidupannya, baik dalam lingkup komunitasnya maupun dalam hubungan kemasyarakatan yang lebih luas.

Pembangunan yang berorientasi pada angka-angka pertumbuhan yang bersifat fisik semata, kecenderungannya amat kuat dalam membentuk masyarakat materialistis, adalah ekses pembangunan yang harus dicegah. Gejala semakin kuatnya pembentukan masyarakat yang merupakan kumpulan dari “binatang-binatang bisnis” (business animals) harrus segera dihentikan. Perwujudan Masyarakat Berbudaya harus dijadikan tujuan pembangunan. Membangun masyarakat berbudaya tidaklah harus diartikan bahwa pembangunan sektor kebudayaan perlu “dipanglimakan”. Masyarakat Berbudaya akan terwujud apabila kebudayaan menjadi acuan dalam proses pembangunan di setiap sektor.

Pembangunan berwawasan kebudayaan harus menjadi paradigma baru dalam pelaksanaan pembangunan. Selain itu, figura dari salah satu lukisan yang bernama pembangunan yang seluruh geraknya mengacu kepada figura yang bernama kebudayaan itu. Politik dibangun dengan wawasan kebudayaan, sehingga melahirkan politisi-politisi yang berbudaya, yang penalarannya bersikap nasional, serta perilakunya senantiasa menjauhkan diri dari sikap “tujuan menghalalkan cara”. Ekonomi dibangun dengan wawasan kebudayaan akan melahirkan pelaku-pelaku usaha yang berbudaya, yang penalaran, dan perilakunya senantiasa memperhitungkan kepentingan pelaku bisnis lainnya, serta kepentingan rakyat pada umumnya.

Dalam konteks pembangunan, rakyat masih tetap emmosisikan dirinya sebagai objek dan pemerintah (daerah) sebagai subjek. Prinsip dasar otonomi daerah yang sejatinya, diniatlan unbtuk mengedepankan peran masyarakat dan mengurangi peran pemerintah dalam berbagai aspek kehidupan sama sekali tak terwujud. Otonomi daerah hanya menggeser paradigma “kepentingan nasional” menjadi “kepentingan daerah” yang upaya pencapaiannya kerapkali dilakukan secara jorjoran, sehingga tak jarang menggelitik NKRI. Masih diperlukan waktu lama untuk menumbuhkan pemahaman bahwa dalam pelaksanaan pembangunan, rakyat dan pemerintah berposisi sama sebagai subjek. Kesadarannya mesti tumbuh dari kedua belah pihak, aparatur pemerintah dan masyarakat.

Sejalan dengan itu, upaya untuk menerapkan pemahaman pembangunan berwawasan kebudayaan pun, perlu dilakukan terhadap kedua belah pihak. Kepada aparatur pemerintah daerah bisa dilakukan dalam diklat yang sudah terselenggara secara sistemik. Kepada masyarakat dilakukan melalui diskusi-diskusi, terutama melalui proses pendidikan di sekolah-sekolah sejak tingkat dasar. Bagi Jawa Barat, tentu bisa dipahami  jika pendidikan kebudayaan di sekolah-sekolah itu akan sangat didominasi kebudayan Sunda. Dalam penerapannya, pendidikan itu tidaklah bertujuan agar anak didik berorientasi ke keagungan masa lalu dengan segala “keluhungan” dan “kearifannya”, malinkan untuk menjadikannya sebagai landasan untuk melesat ke masa depan.

Terhdap nilai-nilai budaya lama, baik yang bersdifat sastra maupun adat istiadat yang kita p[ercayai mengandung keluhungan dan kearifan pada zamannya, tentu perlu kita lakukan revitalisasi terlebih dahulu sebelum diterapkan di masa kini. Mungkin dalam bentuk reinterpretasi dan reorientasi, agar kita tidak salah menafsirkan serta mengimplementasikannya dalam kehidupan keseharian. Kearifan “someah hade ka semah”, misalnya, cenderung menjadi salah dalam penerapannya karena kita tidak melakukan reintepretasi terlebih dahulu. Kita masih tetap berkutat dengan interpretasi dalam konteks kearifan di masa lalu, yang kontraproduktif dengan kepentingan masa kini dan masa depan….#OP250807B#

Yayat Hendayana, wartawan senior dan pengamat kebudayaan. (PR)

Comments
One Response to “Menggapai Visi Jawa Barat 2025”
  1. R. Yogi Yulyanto mengatakan:

    Leres kitu kang yayat, sapagodos sareng simkuring. Dina ngarumuskeun visi misi teu bisa kuma aing, tapi dumasar tina analisa empirik tur kajian ilmiah “reality of life” permasalahan oge potensi nu aya di masyarakat. Sabab visi misi baris jadi “blueprint” pikeun nyusun strategi pembangunan miwah program kerja anu “measurement”. Mun RPJP Provinsi Jawa Barat wae geus teu jelas, kuma nasib urang lembur nu aya di kabupaten? hapunten nu kasuhun ka para inohong. Prak geura buktikeun yen jabatan, pangkat, harta banda teh eta mutlak amanah ti Allah SWT.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

  • Arkeologi

  • Trader

  • Energi Alternatif

  • Bencana Global 2050

  • Flying

  • Kereta Api

  • Konstruksi – Arsitektur

%d blogger menyukai ini: