“Ibuku Guru Kami”

Hidup memang bukan hanya untuk makan. Namun, jika asal makan pun, asal perut kenyang, khususnya untuk balita, dampaknya bisa luar biasa. Kalau dalam jumlahnya sangat besar dan tidak segea ditangani dengan baik dan tuntas, bisa menjadi ancaman hilangnya generasi penerus (lost generation).

Betapa tidak, balita kekurangan gizi atau lebih parahnya bergizi buruk, tidak saja berdampak bertubuh kate (pendek dan kecil) dan sebagainya, dalam jangka panjang mengakibatkan penurunan skor tes IQ, sehingga bisa memerosotkan prestasi akademik di sekolah.

Terlebih bila gizi buruk menimpa pada masa golden period (0-3 tahun), otak tidak dapat berkembang sebagaimana anak yang sehat dan sifatnya permanen. Padahal otak merupakan salah satu organ vital untuk dapat menjadi manusia yang berkualitas.

Kurang gizi pada usia 0-24 bulan, menurut sebuah hasil penelitian dapat menyebabkan gangguan tumbuh-kembang otak permanen, karena pada masa itu terjadi pertambahan jumlah dan perkembangan sel otak. Karena pada saat lahir, sel otak manusia baru terbentuk 60% dan beratnya kira-kira 25%.

Kasus gizi buruk serta turunannya di negeri ini, selayaknya patut menjadi perhatian. Mencuatnya kasus tersebut di media masssa akhir-akhir ini hanyalah fenomena gunung es, jumlah yang sebenarnya di masyarakat lebih banyak lagi. Departemen Kesehatan pada tahun 2003 saja memperkirakan, balita kurang gizi mencapai 27,5% (5 juta), tingkat gizi kurang 19,2% (3,5 juta), dan bergizi buruk 8,3% (1,5 juta). Jumlah itu diduga bertambah lagi. Paling tidak, jika dilihat dari laju perekonomian yang belum menggembirakan, sehingga kesempatan usaha belum berkembang dan kesempatan bekerja yang belum sebanding dengan pencari kerja.

Namun, membesarkan balita ternyata tidak cukup dengan hanya memberikan makanan bergizi. Seorang balita agar kelak menjadi manusia berkualitas, butuh ransangan terhadap otaknya agar berfungsi optimal.

Ternyata, upaya orang tua dan para pengasuh di Indonesia memberi rangsangan terhadap balitanya, masih perlu ditingkatkan. Hal itu terlihat dari sebuah hasil penelitian para ahli, 30,8% anak berumur 0-13 bulan di Indonesia mengalami keterlambatan perkembangan motorik kasarnya. Anak-anak di Indonesia mulai berjalan umumnya pada usia 14,02 bulan, di Riau 14,4-15,3 bulan, sementara di Amerika Serikat di usia 11,4-12,4 bulan dan di Eropa 12,4-13,6 bulan.

Betapa pentingnya memberi rangsangan terhadap anak usia dini terungkap pula dari penelitian lain. Disebutkan, perkembangan intelektual anak sejak lahir hingga usia 4 tahun sama banyaknya dengan perkembangan intelektual anak usia 4 tahun hingga 18 tahun. Perkembangan intelektual anak usia 4 tahun hingga 8 tahun lebih banyak dari pada usia 8 tahun hingga 18 tahun.

Jika dikaitkan dengan ambisi Pemprov Jaba yang bertekad meningkatkan IPM (Indeks Pembangunan Manusia), pendidikan usia dini (PAUD) menjadi sangat strategis.

Pemprov Jabar dalam menggenjot IPM di bidang pendidikan, menggelar program “wajar dikdas 9 tahun” (wajib belajar pendidikan dasar sembilan tahun). Melalui program tersebut, setiap anak usia SD hingga SMP harus masuk sekolah. Yntuk merangsang hal tersebut, pemerintah pusat meluncurkan program BOS (biaya operasional sekolah), sehingga beban keuangan para orang tua untuk membiayai anaknya sekolah menjadi berkurang. Pemprov jabar meluncurkan “Kartu Bagus” bagi pelajar SMP untuk membeli peralatan sekolah.

Langkah tersebut dalam jangka pendek sudah mulai terlihat hasilnya. Dari angka partisipasi kasar (APK) maupun angka partisipasi murni (APM) peserta wajar dikdas 9 tahun cenderung meningkat. Meski begitu, langkah itu saja tidak cukup. Pendidikan anak usia dini (pendidikan sebelum SD/pra sekolah) harus mulai digalakkan.

Yuliana dalam disertasinya “Pengaruh Penyuluhan Gizi dan Stimulasi Psikososial terhadap Pertumbuhan dan Perkembangan Anak Usia Prasekolah” di IPB menyebutkan ada korelasi yang positif antara PAUD dan kualitas anak. Dalam disertasi itu disebutkan, cukup banyak alasan mengapa pendidikan sejak dini berperan besar dalam pengembangan SDM dan pembentukan manusia seutuhnya. Mulai dari rendahnya rata-rata nilai ebtanas murni (NEM) SD-SMP, tingginya angka mengulang pada kelas SD awal sampai dengan rendahnya peringkat human development index (HDI). Pada tahun 2005, Indonesia termasuk urutan HDI ke-111 dari 176 negara. Karena dari penelitian neurologi dan kajian pendidikan anak usia dini, cukup memberikan bukti betapa pentingnya stimulasi sejak usia dini dalam mengoptimalkan seluruh potensi anak guna mewujudkan generasi mendatang yang berkualitas dan mampu bersaing dalam pecaturan dunia yang mengglobal.

Namun, jika menengok angka anak usia dini di Jabar yang telah menikmati PAUD, kata Kepala Dinas Pendidikan Jabar, Dr. Dadang Dally, sangat memprihatinkan. Berdasarkan data tahun 2007, dai 4,55 juta anak usia dini (0-6 tahun) yang telah mengikuti PAUD, baru 651.020 anak (14,28%). Dari data ini, ibarat kita membangun rumah, fondasinya kurang kokoh. Sehingga jika ada yang menuding sangat tinggi intervensi terhadap dunia pendidikan dasar dan menengah di Jabar, bisa dimaklumi. Otak anak didik di daerah ini yang mendapat rangsangan relatif kecil, bahkan lebih kecil dari angka nasional. Tingkat nasional, PAUD pada tahun 2001 mencapai 27% dari 19 juta anak usia dini.

Menyadari pentingnya pendidikan anak usia dini, Pemprov jabar melalui Dinas Pendidikan menggalakkan PAUD pada tahun 2007. malahan peluncuran program ini akan dilaksanakan gubernur. Namun, persoalan PAUD, bukan hanya, karena sebagian warga belum mengetahui program ini. Namin, apakah sebagian besar warga yang mempunyai balita memiliki cukup dana untuk mengikutsertakan anaknya prasekolah. Biaya pendidikan di taman kanak-kanak, kindergaten atau kelompok bewrmain umumnya cukup tinggi, jauh lebih tinggi dari biaya pendidikan dasar maupun menengah. Terlebih sebagian besar balita berada di pedesaan, yang umumnya kemampuan ekonomi orangtuanya lebih rendah dari masyarakat perkotaan. Di sisi lain, tidak ada dana khusus membantu orang tua, seperti BOS atau “Kartu Bagus”.

Oleh karena itu, Dinas Pendidikan Jabar akan memberdayakan jalurr pendidikan nonformal berbentuk kelompok bermain (KB), taman penitipan anak (TPA) dan jalur informal seperti posyandu. Namun dari dua pilihan ini, kata Kepala Subdin PLS Disdik Jabar, Drs. H. Husen R. Hasan, M.Pd. tampaknya yang akan menjadi ujung tombak yaitu PAUD jalur informal, karena biaya yang dibutuhkan rrelatif kecil.

Dengan dewmikian, Posyandu di Jabar yang jumlahnya mencapai 70.000 yang pada era Orde Baru merupakan lembaga terdepan pelayanan kesehatan dan gizi balita, perannya akan ditingkatkan, memberi pelatihan PAUD kepada ibu. Bukan hal mustahil satu saat akan bermunculan di setiap daerah istilah “ibuku guru kami”. Istilah yang digunakan Yulianti dalam disertasinya itu, merupakan kelompok belajarr di rumah. Para gurunya tidak harus yang telah melewati jenjang pendidikan keguruan, tapi orang tua yang telah mendapat pelatihan dari petugas PAUD. Namun, program “ibuku guru kami” hanya bisa terlaksana bila mendapat dukungan dari pihak-pihak yang peduli terhadap ibu dan anak…………#OP290307B#

Endi Sungkono, wartawan “PR”. (PR)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

  • Arkeologi

  • Trader

  • Energi Alternatif

  • Bencana Global 2050

  • Flying

  • Kereta Api

  • Konstruksi – Arsitektur

%d blogger menyukai ini: