Kiprah Muslimah di Negeri Paman Sam

Ada anggapan agama Islam di Amerika Serikat (AS) hanya untuk orang-orang imigran kulit hitam. Islam identik dengan orang kulit hitam. Islam identik dengan kalangan tertindas. Apakah anggapan ini masih berlaku sekarang ini? Sama sekali tidak. Semakin banyak orang kulit putih dan orang Hispanik memeluk Islam sebagai agamanya di negeri paman sam sekarang ini. Sebagian besar di antaranya adalah kaum Hawa. Lantas, bisakah kemudian dikatakan bahwa AS sekarang ini sedang menuju menjadi sebuah negara dengan perkembangan kaum Muslim paling pesat di dunia?

Bisa jadi. Pasalnya kalau melihat-lihat perkiraan kasar, AS dewasa ini telah menjadi negara non-muslim yang memiliki penduduk Muslim paling besar di planet bumi ini. Diperkirakan jumlah kaum Muslim di AS akan semakin bertambah di masa depan. Lalu, berapa sih persisnya jumlah penduduk Muslim yang ada di AS dewasa ini?

Kalau angka pasti dan resmi yang didasarkan sensus penduduk, jelas akan sulit didapat. Pasalnya, sensus kependudukan di AS tidsak pernah menanyakan soal agama yang dianut seseorang. Yang jelas, the American Religious Identity menyebutkan, jumlah kaum Muslim – yang semula 1,1 juta jiwa – telah mengalami peningkatan berlipat ganda antara tahun 1990-2001.

Menurut hitung-hitungan yang dilakukan the council of American-Islamic Relations, ditaksir dewasa ini terdapat sekitar 6-7 juta kaum Muslim di AS. Taksiran ini berdasarkan pada jumlah masjid yang ada di seluruh AS.

Sementara itu, Ihsan Bagby, pakar kajian Islam di Universitas Kentucky, yang melakukan survei atas sejumlah masjid di AS, berpendapat di AS sekarang ini yakni sekitar 5-6 juta jiwa. Kalau jumlah ini benar, kini terdapat lebih banyak warga AS yang memeluk Islam dibandingkan dengan warga AS yang menjadi jemaat gereja episkopal yang jumlahnya Cuma 2-3 juta jiwa.

Imigrasi, menurut Ihsan Bagby, berkontribusi besar terhadap pertumbuhan Islam di AS. Salah satu surat kabar paling berwibawa dan paling berpengaruh di AS, the New York Times bulan Februari 2005 lalu menulis, untuk petama kali dalam sejarah terdapat lebih banyak orang Afrika – sebagian besar adalah kaum Muslim – yang menjejakkan kakinya di bumi AS dibandingkan selama masa perdagangan budak di masa silam.

Pertikaian internasional menjadi faktor kunci bagi pola imigrasi. Menurut statistik pemerintah AS, lebih dari 229.000 pengungsi Muslim dari 77 negara masuk ke AS dari rentang tahun 1990 hingga bulan September 2004. mereka antara lain berasal dari negeri-negeri yang sedang dilanda pertikaian.

Menurut Donna Gehrke White, wartawan koran Miami Herald, yang banyak meliput masalah-masalah keagamaan dan juga penulis buku bertajuk The Face Behind The Veil, sekarang ini dihitung-hitung, ada sekitar 3 juta Muslimah di AS.

Donna menyebutkan, ditilik dari kacamata historis-sosiologis, terdapat generasi baru Muslimah di AS sekarang ini. Mereka ini adalah anak-anak perempuan dari kaum pendatang. Sebagian besar mereka dilahirkan di AS atau datang ke AS saat mereka bayi atau anak-anak. Banyak dari generasi baru ini yang telah berkeluarga. Generasi baru ini termasuk juga anak-anak perempuan yang orangtuanya menjadi mualaf. Sebagian di antaranya lahir dari ayah non Amerika dan ibu Amerika yang kemudian (sang ibu) menjadi mualaf.

Dalam beberapa kasus, kedua orang tua awalnya bukan Muslim dan keduanya menjadi mualaf. Generasi baru Muslimah ini menunjukkan perilaku yang beragam. Sebagian di antarranya memutuskan menggunakan pakaian tertutup yang sebelumnya tidak dilakukan oleh ibu mereka. Namun, ada juga yang jsutru menjadi orang pertama di keluarganya yang malah tidak menggunakan jilbab. Banyak juga yang keberatan dengan sejumlah larangan yang diberlakukan oleh orang tua mereka, seperti larangan untuk berpacaran.

Yang tampak memiliki kesamaan di antara Muslimah AS adalah kecenderungan mereka menjadi makin terdidik. Banyak Muslimah AS yang memiliki jabatan profesional. Mereka juga cenderung menjadi lebih saleh, rutin melaksanakan salat, melaksanakan saum Ramadan serta ibadah-ibadah suci Islam lainnya.

Secara garis besar, kaum Muslimah di negeri paman sam dapat dibagi ke dalam empat kelompok.

Pertama, kelompok tradisionals baru (the new traditionalists). Mereka ini Muslimah yang mengenakan kerudung atau jilbab. Dalam beberapa kasus, meeka adalah Muslimah yang baru mengenakan jilbab setelah beberapa generasi di keluarga mereka tidak melakukannya. Mereka ini termasuk antara lain para wanita karier dan para ibu rumah tangga purnawaktu.

Kedua, kelompok pembaur (the blenders). Mereka adalah Muslimah yang tidak menggunakan kerudung atau jilbab. Selintas, mereka kelihatan seperti bukan Muslimah, namun sesungguhnya mereka adalah Muslimah. Kebanyakkan dari mereka adalah kaum imigran, generasi kedua Amerika serta wanita karier.

Ketiga, kelompok mualaf (the converts). Lumayan mencengangkan, makin banyak wanita AS, dari semua ras dan kelompok etnis, yang memeluk Islam. Islam menjadi agama baru mereka. Mereka ini termasuk kelompok yang paling bersemangat dalam mengenakan pakaian Muslimah.

Keempat, kelompok tertindas (the presecuted). Banyak wanita Muslim datang ke AS untuk menghindari kekerasan dan penindasan. Beberapa di antaranya adalah mereka yang lari untuk melepaskan diri dari perbudakan dan eksploitasi. Mereka memohon suaka politik sehingga bisa menetap di AS dan tidak mungkin dikembalikan lagi ke negeri asalnya di mana mereka mungkin saja terancam keselamatan jiwanya.

Kelima, kelompok pengubah (the changers). Kelompok Muslimah ini kerap menjadi perhatian publik AS. Mereka berada di lini paling depan dalam berbagai lapangan kehidupan – politik, agama, hukum, pendidikan, serta hak-hak asasi manusia. Beberapa di antaranya menjalankan usaha publik atau membentuk kelompok kemanusiaan serta lembaga-lembaga sosial nirlaba yang membantu para Muslimah lain yang menjadi korban penindasan dan penistaan. Sebagian di antaranya berjuang lewat aktivitas masjid menuntut persamaan hak kaum wanita.

Seperti juga wanita AS lainnya, banyak Muslimah AS bekerja di luar rumah untuk ikut membantu penghasilan keluarga. Merreka di antaranya adalah para wanita karier yang bekerja dalam bidang hukum, asuransi, teknologi informasi dan pimpinan lembaga-lembaga nirlaba. Sebagian di antaranya memilih memulai usaha mereka serta menjalankan organisasi-organisasi nirlaba mereka.

Meski begitu, tidak sedikit inu Muslimah muda AS lebih memilih tinggal di rumah bersama anak-anak mereka, paling tidak sebelum anak-anak mereka cukup usia untuk masuk sekolah. Beberapa ibu Muslimah memilih untuk mendidik anak-anak mereka lewat program sekolah rumahan (home schooling). Para ibu ini ingin mewujudkan kariernya, namun nanti setelah anak-anak mereka besar. Pokok pehatian mereka adalah memiliki sebuah keluarga yang berkecukupan dengan anak-anak yang dibesarkan dengan baik. Mereka cenderung menikah lebih dini (beberapa memilih menikah sebelum usia 20 tahun) dan memiliki anak-anak pada usia 20-an. Lalu, setelah anak-anak mereka masuk sekolah, para Muslimah AS akan meneruskan pendidikan mereka ke jenjang yang lebih tinggi atau memilih bekerja.

Dalam kancah politik, Muslimah AS – seperti juga kaum wanita AS lainnya – cenderung memberikan suaranya ke Partai Demokrat yang liberal ketimbang ke Partai Republik yang konservatif. Muslimah AS juga lebih aktif melakukan partisipasi politik. Catatan dari the Muslim – American Political Action Commitee menunjukkan, dalam pemilu, kaum Muslimah AS memberikan suara lebih banyak dibandingkan dengan kaum prianya, yakni 53 persen berbanding 47 persen. Hasilnya, Muslimah AS tampil lebih depan di pentas politik, menempati mulai dari jabatan di dewan perwakilan di negara bagian hingga ke jabatan di kawasan-kawasan pelosok di AS….#OP300307B#

Djoko Subinarto, pengajar di Universitas ARS Internasional, Bandung. (PR)

Comments
One Response to “Kiprah Muslimah di Negeri Paman Sam”
  1. Agus Suhanto mengatakan:

    hmmm saya suka tulisan ini🙂,
    kenalan dulu ya… o
    Agus Suhanto

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

  • Arkeologi

  • Trader

  • Energi Alternatif

  • Bencana Global 2050

  • Flying

  • Kereta Api

  • Konstruksi – Arsitektur

%d blogger menyukai ini: