Akar Rumput Usaha Kecil, Mikro, dan Menengah

Ketika pertumbuhan bahan ekonomi Indonesia semakin membaik, ternyata ada masalah yang mengganggu yakni pengangguran yang demikian tinggi. Idealnya, setiap pertumbuhan 1% akan menyerap tenaga kerja sekitar 400.000 orang. Ternyata angka tersebut tidak pernah terbukti, dan rumus tadi indah dan tetap tinggal dalam lipatan “teks book”.

Pertumbuhan ekonomi satu persen di negeri ini hanya mampu menyerap tenaga kerja sekitar 500.000 orang. Karena itu, semakin panjanglah deretan pengangguran di negeri ini. Padahal, penurunan angka pengangguran sangat berarti bagi proses pembangunan. Para penganggur tentu saja merupakan kelompok yang tidak produktif dan menggerogoti potensi mereka yang produktif. Dalam hitungan ekonomi, tingkat ketergantungan penganggur dibebankan kepada mereka yang bekerja (produktif). Tingkat ketergantungan inilah yang semakin timpang (tidak ideal) terjadi di negeri tercinta, orang bijak mengatakan arbeid a delt dey mensch pekerjaan dapat mempertinggi derajat manusia. Ledigheid is des deveis oorcussen, manusia tanpa kesibukan akan menjadi santapan setan. Rendahnya penyerapan tenaga kerja belakang ini diketahui bahwa sektor riil ternyata tidak bergerak sama sekali. Walaupun hal ini dibantah oleh Wapres jusuf kalla, kenyataan di lapangan semua orang mengetahuinya. Pertumbuhan ekonomi yng meningkat selama ini lebih disebabkan kontribusi sektor keuangan dan perbankan. Sektor riil semakin banyak bermasalah, terutama yang input produksinya bahan baku impor. Ketika negeri masih dilanda musibah dan resesi yang berkepanjangan, keberhasilan mendongkrak sektor riil juga sangat ditentukan oleh daya beli masyarakat (effective demand). Menyadari kondisi yang tidak menguntungkan itu, pemerintah segara mengambil berbagai kebijakan untuk mendorong tumbuhnya sektor riil. Sektor yang banyak digeluti oleh bangsa ini memang belum tersentuh secara maksimal, kalau tidak ingin dikatakan hanya setengah hati. Terakhir beberapa waktu yang lalu, diambilah konsensus antara pemerintah, Bank Indonesia, perbankan, dan lingkungan dunia usaha. Sejumlah ketentuan perbankan yang selama ini dinilai menghambat fungsi intermediasi. Mulai April 2007 akan diapresiasikan secara lebih bijak. Para kreditor yang macet oleh karena kondisi ekonomi makro, bukan oleh karena mental pengusahanya, akan diperhitungkan lebih lanjut. Dengan kata lain, masalah-masalh eksternal menjadi perhatian utama yang diperhitungkan secara arif.

Kredit kepada sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) akan berubah paradigmanya. Kemampuan kredit ditingkatkan dari Rp 500 juta mejadi Rp 200 miliar. Ini merupakan suatu tantangan bagi UMKM sendiri. Apakah mampu memanfaatkan peluang yang diberikan pemerintah tersebut. Kalau seandainya kelemahan UMKM selama ini terletak pada aspek permodalan, peningkatan volume kredit merupakan suatu terobosan. Akan tetapi, apabila “jalan di tempat” UMKM selama ini disebabkan aspek pengetahuan bisnis, akses pasar, dan mental pengusaha, peningkatan volume kredit tersebut tidak ada artinya. Ketika kondisi jalan di tempat UMKM, dia sudah mampu memberikan kontribusi 53,3% terhadap produk domestik bruto (PDB) pada tahun 2006. Tahun itu juga UMKM mempunyai populasi 48,9 juta unit usaha, atau sekitar 99,98% dari total seluruh unit usaha di Indonesia. Sementara kontribusi UMKM terhadap ekspor non migas tahun 2006 mencapai Rp 122,2 triliun atau sekitar 20,1% dari jumlah ekspor non migas di Indonesia.

Sebenarnya, bila kita amati lebih jauh, kebijakan pemerintah untuk peningkatan UMKM apakah agar ia menjadi besar. Artinya, UMKM berubah skalanya menjadi perusahaan besar. Apabila ini yang jadi latar belakang, bisa keliru karena mengubah skala UMKM menjadi besar, berarti menabrak filosofi UMKM itu sendiri. Perusahaan-perusahaan besar selalu menggunakan prinsip-prinsip ekonomi, yakni efisien dan efektif. Yang benar adalah bagaimana mengubah UMKM dari posisi yang lemah di segala aspek menjadi kuat sehingga UMKM tetap menjadi UMKM, tetapi ia jauh lebih mampu bertahan menghadapi berbagai situasi yang terjadi. Roh (semangat) yang tidak diabaikan dan melekat secara intern pada diri UMKM adalah roh kebersamaan, roh kerakyatan, roh gotong royong, roh yang menjunjung tinggi kearifan lokal, roh yang mengangkat nilai-nilai budaya setempat, dan lainnya. Hal ini sangat bertentangan dengan perusahaan skala besar yang lebih mengedepankan prinsip-prinsip ekonomi.

Perhatian pemerintah dengan memberi volume kredit yang lebih besar pada UMKM adalah refleksi empati pemerintah terhadap masalah sosial. Max F. Milikan pernah mengomentari mengapa negarawan atau politisi sekarang harus memerhatikan masalah keadilan sosial. Pertama, suasana moral masa kini yang mengharuskan seorang politikus peka terhadap opini masayarakat, yaitu menjadikan masalah keadilan sebagai salah satu hal pokok yang harus diperhatikan. Kedua, adalah yang bersifat pragmatis. Pandangan ini ditujukan untuk masalah sosial dan keadilan yang sebenarnya, bukan simbolis yang dipakai untuk melukiskan kebijakan nasional. Pandangan ini melihat apabila pembangunan nasional hanya dinikmati oleh suatu kelompok, bisa menimbulkan ketegangan di masyarakat dan pada gilirannya akan menghambat proses pembangunan itu sendiri.

Alan Myne Strout menasihatkan kepada kita semua bahwa target pembangunan yang secara “emosional” mengejar pemerataan secara membabi buta, justru akan membutuhkan dana investasi yang besar. Kondisi ini bisa memerangkap suatu negara pada ketergantungan bantuan luar negeri ketika kekuatan dalam negeri masih rapuh. Kebijakan ekonomi tidak hanya dilihat dari ekonomi an-sich. Untuk itu, ia harus memahami pengertian politik, moralitas, dan etika politik yang tinggi. Apabila sebuah kebijakan yang diambil mengalami kegagalan, bukan mustahil dapat mengakibatkan suatu “tragedi nasional” yang besar, gelap, dan sulit dilupakan. Semoga perhatian pemerintah terhdap UMKM yang memberikan volume kredit lebih besar merupakan angin segar bagi proses pembangunan di negeri ini………..#OP020407B#

Soeroso Dasar, peneliti senior Pusat Penelitian Kependudukan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Lembaga Penelitian Universitas Padjadjaran.  (PR)

Comments
One Response to “Akar Rumput Usaha Kecil, Mikro, dan Menengah”
  1. molinbangunan mengatakan:

    mau pasang iklan gratis tampa daptar
    http://iklanbaris-gratis.org

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

  • Arkeologi

  • Trader

  • Energi Alternatif

  • Bencana Global 2050

  • Flying

  • Kereta Api

  • Konstruksi – Arsitektur

%d blogger menyukai ini: