Nasionalisme Nagabonar

Penyelenggara negara sibuk beradu satu sama lain dengan  mengatasnamakan rakyat. Proyek-proyek besar yang menguntungkan segelintir orang dinomorsatukan, sementara negeri ini terus dijual dalam investasi asing.

Tidak banyak film Indonesia terutama setelah tahun 2000-an yang mengangkat isu-isu kebangsaan. Film “Nagabonar (Jadi) 2” yang diproduksi tahun 2007 oleh PT Demi Gisela Citra dan PT Bumi Prasidi Biepsi, mengingatkan saya pada wacana kebangsaan yang pada tanggal 20 Mei ini akan kita peringati bersama. Film ini begitu khas menggambarkan keterlibatan rakyat kecil dalam suatu pencapaian kemerdekaan Indonesia, namun sebenarnya tak pernah benar-benar tuntas merdeka.

Kemerdekaan seharusnya juga milik kehidupan rakyat sehari-hari, karena suatu bangsa berdiri di atas tanah milik rakyat, yang diselenggarakan oleh pemerintah dalam suatu negara, untuk kepentingan rakyat. Tetapi melalui film ini kita dapat merefleksikan benarkah kemerdekaan milik rakyat sehari-hari? Andai rakyat sebenarnya belum merdeka, milik siapakah Indonesia setelah merdeka? Bagaimana wacana kebangsaan bangsa Indonesia dibentuk dalam film ini?

Wacana kebangsaan menurut Anderson dalam Choi (2006), adalah suatu komunitas anggitan yang mengikat anggotanya dengan perasaan identitas dan rasa kepemilikan. Ketika sejarah nasional yang terbentuk dalam surat kabar, karya sastra, dan media seperti film di konsumsi dengan larat belakang tempat yang berbeda, pembacanya akan merasakan sesuatu kebersamaan yang ditandai dalam batas-batas nasional sebaik perasaan berbagi sejarah dan takdir yang menyatukan.

“Nagabonar (Jadi) 2” mengartikan wacana kebangsaan pada kepedulian terhadap bangsa, yang menurut dia sudah dibangun dengan pengorbanan tokoh-tokoh bangsa, seperti yang disebut dalam penggambaran Monumen Soekarno-Hatta serta Soedirman. Menurut “Nagabonar (Jadi) 2” saat ini, banyak orang melupakan orang-orang yang telah membentuk bangsa ini. Dengan penggambaran seperti itulah, saya melihat sesuatu yang paradoks lahir dari wacana film ini. Di satu sisi “Nagabonar (Jadi) 2” ingin menghadirkan sudut pandang rakyat kecil dengan seorang tokoh dari kalangan bawah tang tidak mengenyam pendidikan formal.

Tokoh ini memperjuangkan wacana kebangsaan yang merakyat. Tapi di sisi lain, “Nagabonar (Jadi) 2” menunjukkan keterrsedotan rakyat pada narasi besar sejarah kebangsaan yang diorasikan oleh kalangan terdidik, dalam suatu mitos kepahlawanan yang dibangunnya. Memang film inipun mengakui bahwa tak semua yang dikuburkan dalam makam pahlawan adalah benar-benar pahlawan. Pahlawan hanyalah konstruksi orang-orang yang berkuasa.

Saya teringat pada kritik Chatterje (1993) bahwa wacana kebangsaan juga berasal dari kalangan kolonial. Wacana kebangsaan disebarkan oleh pendiri bangsa, pemimpin-pemimpin perjuangan, yang mengadopsi dari negara-negaa penjajah. Gerakan kebangsaan adalah gerakan politik yang secara keseluruhannya menurut Chatejje adalah prroduk sejarah Eropa. Ketika bangsa-bangsa yang baru merdeka dari penjajahan ini berdiri, termasuk Indonesia, para penyelenggaranya mengadopsi praktik-praktik ekonomi dan politik yang secara institusional di bawah konsep pembangunan dan modernisasi ala kolonial.

Suatu kenyataan harus diakui, Nagabonar sebagai representasi rakyat kecil memangmiris. Ia harusnya merayakan kemerdekaan Indonesia sebagai bagian dari perjuangan rakyat dan pemimpin-pemimpin bangsa. Tetapi, perayaan itu sebenarnya masih menyimpan keterbelengguan yang membuatnya sedih. Rakyat tak pernah dibela. Orang-orang miskin dipinggirkan di laur tembok-tembok kemewahan para elit, sementara penyelenggara negara sibuk beradu satu sama lain dengan mengatasnamakan rakyat. Proyek-proyek besar yang menguntungkan segelintir orang dinomorsatukan, sementara negeri ini terus dijual dalam investasi asing.

Keberpihakan Nagabonar pada rakyat memang agenda besar film ini. Penyerahan hidup Nagabonar pada wacana kebangsaan dari kalangan elit, diartikulasikan sebaik-baiknya dengan bersikap mengabdi pada kepentingan rakyat. Hal itupun tampak pada usaha untuk terus menegosiasikan kepentingan mereka dengan kritik-kritik pedasnya terhadap para penyelenggara negara maupun pada generasi muda yang beruntung punya akses pendidikan dan ekonomi yang lebih baik, tapi tidak berakar pada identitas kerakyatan Indonesia. Mengapa yang dipikirkan anak-anak muda yang gemilang aksesnya itu suatu yang besar, yang terlihat mewah?

Tokoh Bonaga, sebagai salah satu representasi generasi sekarang yang beruntung, dalam bangunan wacana kebangsaan ini memang tidak selalu ditempatkan dalam posisi yang salah. Ia digambarkan sebagai anak muda yang semangat, cerdas, berbakti pada orangtua, dan taat beragama, meskipun dalam beberapa hal dan ini penting, memperlihatkan sesuatu praktik ideologi yang berbeda. Identitas keindonesiaan Bonaga yang hidup di era kontemporer digambarkan dengan tetap memegang moral umum untuk ukuran zaman kontemporer dibanding tiga teman-temannya.

Begitu juga Umar sebagai representasi generasi muda kelas bawah. Umar digambarkan sebagai sosok yang ulet, terus bertahan hidup, dan punya pengabdian sosial terhadap lingkungannya. Tetapi, kurun waktu membuat adanya keberjarakan emosi antara mereka dan peristiwa pembentukan negara ini. Perbedaan rentang waktu menjadikan hegemoni wacana kebangsaan berbeda. Bonaga mengalami hidupnya di masa pembangunan. Mengisi kemerdekaan dengan pembangunan adalah suatu istilah indoktinasi di sekolah di era Orde Baru.

Pembangunan di Indonesia dan di banyak negara yang pernah terjajah lain adalah praktik modernisasi yang dikonsepkan oleh negara-negara Barat. Pembangunan dalam konsep morednisasi adlah pembangunan fisik atau materi. Bukan karena konsep ini merupakan konsep Soeharto, tetapi konsep modernisasi di Barat berlandaskan pada rasionalitas sejak masa Enlightment dan inilah yang diadopsi mentah-mentah oleh bangsa-bangsa yang baru merdeka dari penjajahan.

Orientasi pembangunan fisik inilah yang melatarbelakangi kehidupan Bonaga yang ia internalisasi dari cara pandang masyarakat, nagara, lewat sistem pendidikan salah satunya. Bonaga yang mempunyai ijazah pendidikan hingga tingkat S-2 dalam film tersebut kemudian tampil dengan praktik ideologi yang kapitalis, ijazah formal dan gelar itu menjadi lebih penting, daripada makna manusia terdidik itu sendiri.

Inilah sosok Bonaga yang menyebabkannya berbeda dengan kekokohan karakter Nagabonar. Meskipun Nagabonar tak mengenyam pendidikan, tetapi pergulatan kehidupan di masa prakemedekaan dalam situasi kemiskinan mendidiknya menjadi manusia yang mempunyai akar kuat. Memang Bonaga masih muda dan proses perjalanan hidupnya masih panjang. Justru itulah yang dikatakan dalam film ini, proses karkterisasi generasi muda bangsa ini belum selesai, belum menjadi satu kekuatan penyangga bangsa, selama masih berorientasi pada pembangunan diri secara materi.

Dalam sudut pandang Nagabonar, materi membuat manusia melupakan apa makna kemerdekaan. Dalam suatu adegan yang sangat simbolis dan menggetarkan, Nagabonar menangisi patung Soedirman, sebagai sosok yang ia idealkan di masa hidupnya, tetapi kini patung itu harus dibuat menghormat pada kendaraan-kendaraan yang lewat di bawahnya, jalanan utama Jakarta, yang sibuk, dan menyiratkan ketidakpedulian.

“Jenderaaaaaaaaal…siapa yang kau hormati siang dan malam itu? Apa karena mereka yang lalu lalang di depanmu memakai roda empat, Jenderal? Bah, tidak semua dari mereka pantas kau hormati, Jenderal. Turunkan tanganmu! Jenderaaaaallll…turunkan tanganmu! Bukan kau yang harus menghormati mereka! Tapi bangsa ini yang harus menghormatimu!”

Pertaruhan dua ideologi dalam wacana kebangsaan yang diangkat oleh film ini, pada akhirrnya dimenangkan oleh arrtikulasi ideologi yang dibawa Nagabonar, yaitu suatu wacana kebangsaan yang merakyat, setalh Bonaga, sebagai representasi generasi muda, membatalkan investasi proyek pasanggrahan di tanah perkebunan rakyat. Itulah pandangan yang dibawa film “Nagabonar (Jadi) 2” ini. Baginya kemerdekaan itu baru benar-benar penuh, dengan tanpa investasi yang biasanya memengaruhi gerak langkah.

“Nagabonar (Jadi) 2” melihat investasi adalah penjajahan baru, karena menciptakan ketergantungan. Terlepas dari tingginya idealisme film ini, tetapi generasi baru bangsa ini memang layak diberi mimpi. Bukan semata memberikan mimpi-mimpi materialistis, tetapi mimpi berstandar tinggi yang diciptakan oleh bangsa ini sendiri, yaitu generasi berkarakterr kuat, martabat yang tinggi, karena itulah inti kemerdekaan menurut wacana kebangsaan dalam film ini.

Bagaimana saya melihat film ini berusaha melihat sejarah, sebagai bagian dari masa kini dan masa depan dari perspektif rakyat kecil. Saya melihat film ini juga ingin mengatakan bahwa orasi sejarah itu penting. Sejarah tidak hanya ceita masa lalu, atau dongeng, tetapi menjadi akar identitas, tempat berpijak dalam menentukan arah masa depan. Terlepas dari milik siapakah sejarah yang diimajinasikan dalam film ini. Saya melihat “Nagabonar (Jadi) 2” menitipkan sesuatu pada generasi berikutnya, yang kelak berkesempatan menyelenggarakan Negara. Indonesia sudah terlanju ada.

Soekarno, Hatta Soedirman, dan banyak pendiri Indonesia lainnya tetap harus dihormati sebagai orang yang telah bersusah payah memikirkan negeri ini. Bentuk penghormatan itu adalah tak lain dan harus memikirrkan rakyat. Kepada rakyatlah Indonesia ini dikembalikan……#OP190507A#

Dina Amalia Susamto, alumnus Jurrusan Sastra Jerman Unpad Bandung, kini mahasiswa Pascasarjana univesitas Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Cultural Studies. Sekarang sedang giat di kelompok diskusi Cak Tarno Institut, Kober, Depok. (PR)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

  • Arkeologi

  • Trader

  • Energi Alternatif

  • Bencana Global 2050

  • Flying

  • Kereta Api

  • Konstruksi – Arsitektur

%d blogger menyukai ini: