Membangkitkan Daya Hidup Bangsa

Angka kemiskinan dari tahun ke tahun merangkak naik jumlahnya. Masalah klasik itu terus mengenangi bumi nusantara yang sempat diberi label sebagai tetesan surga. Sayangnya, kesejahteraan dan ketentraman di surga tidak serta merta berwujud nyata. Mungkin, hanya baru sebatas keindahan dan kekayaan sumber daya alam yang bertetesan sehungga banyak wisatawan mancanegara berdecak kagum.

Untuk konteks kekinian kita sangat memerlukan daya hidup agar optimistis tak serta merta tenggelam dan mati guna mengbangkitkan bangsa dari keterpurukan. Apalagi ketika Hari Kebangkitan Nasional berada di hadapan dan hanya menunggu hitungan hari saja. Boleh jadi merefleksikan segala macam sikap, tindakan, dan buah pikiran (berbentuk kebijakan yang dikeluarkan) adalah keniscayaan yang tak nisbi.

Mengevaluasi secara cermat, akurat, dan terencana terhadap kebijakan-kebijakan untuk kepentingan masa depan rakyat, tentunya aktualisasi dari hasrat biofilia (mencintai kehidupan) yang ada dalam diri. Lantas, masalah bangsa kita memiliki hasrat mencintai kehidupan? Yakni daya dorong untuk bangkit dari pelbagai keterpurukan serta mampu memawasi segala tindakan yang salah dan merugikan publik.

Ya, betul. Sebab, dengan hasrat mencintai kehidupan yang tertancap kuat di dalam diri, sebetulnya setiap kejadian akan menjadi perantara perubahan ke arah yang konstruktif. Kita akan terus merenungi dan berusaha menjabarkan hasil permenungan hingga mewujud dalam bentuk tindakan/kebijakan pro-kerakyatan. Hal tersebut dimaksudkan agar bangsa bisa keluar dari aneka macam kesulitan yang mengimpit.

Tatkala hidup bangsa kita dihujani kecentang-perenangan aneka bencana, umpamanya, hal itu akan dijadikan alat penyadaran untuk bersama-sama menyelesaikannya. Menanggulanginya juga tidak hanya sebatas berdoa di tempat ibadah saja. Berusahapun pada posisi demikian selalu dipraktikkan. Sebab, tanpa ada usaha sungguh-sungguh, nasib kita tidak akan pernah beranjak.

Doa dan usaha adalah dua aktivitas yang tak terpisahkan bagi manusia beragama, tatkala hendak keluar dari jerat-jerat bencana alam dan bencana kemanusiaan. Belajar pada kisah perjuangan seorang bayi yang sedang belajar berjalan pada posisi demikian layak disimak, direnungkan, diinternalisasi, dan diaktualisasikan dalam hidup keseharian.

Seorang bayi mungil umpamanya. Tentu saja tidak mungkin bisa berjalan tanpa berusaha menjejakkan kakinya di tanah. Belajar berjalan meskipun harus terus terjatuh, seorang bayi pantang menyerah. Jatuh-bangun, jatuh bangun kembali, dan terus-terusan jatuh bangun. Ia terus berusaha menggerakkan kedua kakinya. Kalaupun ia terjatuh, seorang ibu di tatar Sunda akan segera mengucapkan “jampe-jampe harapat geura gede geura lumpat”. Kurang lebih artinya cepat besar kalau ingin bisa berlari.

Anak itu pun sudah pasti akan meredakan tangisannya dan kembali memulai aktivitas berjalan tanpa bosan-bosan; kini iapun sudah mulai bisa berlari-lari kecil. Itulah hasil akhir yang menggembirakan dari aktivitas berusaha dan kekuatan doa seorang ibu untuk kepanjangan umur anaknya (geura geude).

Karenanya, meskipun bangsa ini terus dihantui teror bencana alam (natural disasters) dan bencana kemanusiaan (seperti kemiskinan), tidak menjadi alasan untuk menenggelamkan semangat hidup. Tanpa usaha keras pendakian yang melelahkan kita tidak akan pernah sampai kepuncak gunung. Begitu juga dengan nasib bangsa kita. Tanpa melakukan doa dan usaha, tak akan pernah bersemangat untuk bangun kembali dari keterpurukan akibat bencana alam dan bencana kemanusiaan.

Ud’uni astajib lakum (berdoalah kepada-Ku niscaya akan kukabulkan), mengindikasikan bahwa setiap perrmohonan kita kepada Allah akan terkabul. Tentunya jika ada usaha sungguh-sungguh. Sebab, bangsa yang karut-marut di ranah sosial, ekonomi, politik, budaya, lingkungan, dan lain-lain tidak dapat menggeliatkan diri hanya dengan menengadahkan tangan atau berdoa. Sangat membutuhkan kesejalanan antara doa dan usaha. Itulah hakikat inti dari daya hidup bangsa yang meruang dan mewaktu.

W. S. Rendra (2001) mengatakan bahwa ciri dasar manusia adalah berdaya hidup. Sebelum ada daya ekonomi, daya sosial, daya filsafat, daya seni, daya politik, dan perlbagai daya lainnya, daya yang utama dan pertama adalah daya hidup. Tanpa daya hidup, daya-daya lainnya menjadi lesu, beku, dan sirna. Ya, menurut saya daya hidup sama posisinya dengan stamina kebudayaan yang mencerminkan tegarnya suatu bangsa.

Soal kemiskinan yang mendera saat ini, misalnya, bukan diakibatkan kita bangsa malas. Buktinya, bisa kita saksikan kiri-kanan. Banyak betul warga yang banting tulang mnencari nafkah hidup. Di kampung saya, masih ada warga yang setiap pagi hari pergi ke sawah. Di kota besar juga masih ada warga yang berprofesi sebagaiu tukang ojek, pedagang kaki lima, tukang becak, supir angkot, dan sebagainya.

Bukankah mereka juga sebagian dari warga masyarakat yang berdaya hidup? Lantas, kenapa kita harus mengklaim bahwa kesengsaraan merupakan imbas dari kemalasan? Saya rasa, pola pikir naif ini mesti diluluhlantakkan. Prasangka penuh kecurigaan semacam ini tak layak terus disandang. Kita tidak berdaya hidup kiranya jika dijibuni prasangka yang tidak dapat menyelesaikan masalah. Malah memperumit dan akan memecah belah keutuhan relasi dalam berbangsa, bernegara, dan bermasyarakat.

Dalam konteks tersebut kita memerlukan kehadiran pejuang sosial. Seorang manusia yang mampu menghapus penjajahan dan perbudakan yang dilakukan bangsa sendiri yang mengeluarkan kebijakan teu inget ka kaum cacah kulicah. Inilah yang mengakibatkan bertebarannya kemiskinan. Tidaklah heran bila Pramoedya Ananta Toer sempat menulis dalam novel sejarahnya bertajuk “Jalan Raya Pos, Jalan Deandels” sbb: “Indonesia adalah negeri budak. Budak di antara bangsa dan budak bagi bangsa-bangsa lain.

Berita yang menghebohkan di daerah Malang juga, di mana seorang ibu dan 4 anaknya tewas minum racun potasium akibat tak kuat menanggung beban persoalan ekonomi, bukti nyata dari penindasan struktural. Kasus bunuh diri itu mengindikasikan masyarakat kita telah menanggalkan solidaritas sosial dan bukti dari ketidakpedulian pemerintah terhadap rakyat miskin. Kasus tersebut bukan diakibatkan mereka malas bekerja. Kondisilah yang mengakibatkannya tidak dapat memompa daya hidup.

Maka eksistensi pejuang/pekerja sosial pada konteks itu mesti digusur pada mampunya mengentaskan ke berbagaian persoalan yang melilit rakyat hingga dapat membebaskan diri dari pelbagai kunkungan yang membuat kita nyinyir. Apalagi jika kondisi ekonomi kian degradatif, birokrasi yang dijibuni perilaku korup, dan bencana banyak diderita warga pelosok. Dapat dipastikan jika pejuang sosial sangat mutlak keberadaannya.

Oleh karena itu, memompa daya hidup agar dapat keluar dari aneka ragam persoalan yang memilukan ialah keniscayaan. ingatkah kita dengan firman Tuhan :”Innamaal-usri yusro”’ dibalik kesulitan terhampar segala kemudahan? Ya, dimana aya kahayang, didinya aya sarebu jalan. Bahkan bisa-bisa jalan untuk keluar dari kemelut kesulitan jumlahnya lebih dari seribu. Wallahua’lam…….#OP190507B#

Sukron Abdilah, pemerhati masalah sosial-budaya, serta Pegiat Tepas Institute. (PR)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

  • Arkeologi

  • Trader

  • Energi Alternatif

  • Bencana Global 2050

  • Flying

  • Kereta Api

  • Konstruksi – Arsitektur

%d blogger menyukai ini: