Visi Indonesia 2030

Apa yang akan terjadi pada tahun 2030? Menurut Yayasan Indonesia Forum, pada tahun itu, “income per capita” Indonesia mencapai 18.000 dolar AS per tahun. Dengan jumlah penduduk 285 juta orang, Indonesia akan menjadi kekuatan ekonomi dunia kelima setelah Cina, Amerika Serikat, uni Eropa dan India.

Tidak semua setuju, pakar politik Universitas Indonesia (UI), Dr. Arbi Sanit menyatakan “khayalan belaka”. Salahuddin Wahid, mantan calon wakil presiden menyebutkan “tidak masuk akal”. Sukardi Rinakit dari Sugeng Sarijadi Syndicate menulis Visi 2030 akan terlaksana “kalau pada tahun 2020 kita menjadi bagian Negara Eropa Utara dan Amerika Serikat”. Menurut dia, Visi 2030 hanya “kiat pengusaha mengail ikan di Istana”.

Kwik kian Gie menulis: “Mereka yang menyusun bukan orang yang mempunyai visi. Sebagian pedagang yang lainnya lulusan universitas dan teknokrat yang miskin falsafah”. Katanya dengan sinis:”Lebih baik onani dari pada mimpi”. Tidak hanya pakar yang memberi komentar negatif. Sutardji Calzoum Bachri “Presiden penyair Indonesia” menyebut :Visi 2030 sebagai “mimpi yang kelewat batas”.

Sementara Gus Pur – di acara Republik Benar Benar Mimpi (BBM) mengatakan : “Paling hanya beda tipis kalau tidak tercapai 2030, yah akan tercapai 3030”, Gus pur adalah salah satu figur acara dagelan politik yang lumayan “mencerdaskan” di Metro TV.

Tidak semua pesimistis. Pengamat Ekonomi Djisman Simanjuntak, Ekonom Universitas Gadjah Mada (UGM), Sri Hadiningsih, Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Bun Bunan Hutapea, Mantan Perwira Tinggi TNI Letjen Pur. Sayidiman Suryohadiprodjo, Ketua Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Mahfuddzidiq dan Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) Soetrisno Bachir, percaya bahwa Visi Indonesia 2030 akan tercapai dengan beberapa syarat.

Mengapa “Indonesia Forum” perlu membuat Visi 2030? Padahal mungkin sebagian dari kita sudah tidak bisa menikmati?

Visi itu memang dimaksudkan untuk generasi penerus, agar mereka menikmati Indonesia yang lebih baik kelak. Angka 18.000 dolar bukan angka yang mutlak, akan tetapi sekadar target, bisa lebih bisa juga kurang. Angka itu dinyatakan untuk membangkitkan optimisme bahwa ada harapan di masa depan. Tanpa sikap optimistis itu tidak akan pernah lahir semangat untuk bekerja keras menuju “bangsa maju” yang di cita-citakan di tengah keterpurukan bangsa sekarang.

Sebaliknya, kita jangan terjerumus dalam pesimisme yang berlarut. Tahun 1959, ketika Lee Kwan Yew mengajak bangsa Singapura bangkit dan bekerja keras agar pada tahun 1980 bisa menyamai bangsa Eropa, tidak ada seorang pun yang percaya, karena waktu itu gross national product (GNP) per capita Singapura hanya 400 dolar AS. Faktanya, tatkala Lee mengundurkan diri 31 tahun kemudian (1990), GNP per capita Singapura meningkat 60 kali lipat atau 6000%.

Visi indonesia awalnya digagas di Manado bulan Juli 2006 dalam Kongres XVI Ikatan Sarjana Ekonomi (ISEI), beberapa saat setelah CT (Chairul Tanjung) terpilih sebagai Ketua Yayasan IndonesiaForum yang baru. Pembicaraan awal bahkan hanya dilakukan di sebuah restoran sea food antara CT, Raden Pardede dan saya. Gagasan ini kemudian lebih mengemuka ketika UBS (United Bank of Switzerland), Januari lalu menerbitkan laporan setebal 300 halaman, “Essential 2007”. Disusun oleh 1000 ekonom, analis dan peneliti, yang menyebutkan bahwa pada tahun 2025, Indonesia akan menjadi kekuatan ekonomi terbesar setelah Cina, Amerika Serikat, uni Eropa, India, Jepang, dan Brasilia.

Data inilah yang kemudian menginspirasi tim perumus dipimpin Dr. Raden Pardede ketika menyusun kerangka dasar “Visi Indonesia 2030”. Kelompok itu terdiri dari wakil pengusaha, ekonom, dan birokrat, di antaranya Bambang P.S Brojonegoro dan M. Chantib Basri (Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia). Ainun Na’im (UGM), Suahasil Nazara (Institut Pertanian Bogor), John Prasetyo, TP Rachmat dan Darwin Silalahi (kalangan bisnis) serta Anny Ratnawati (birokrat). Dengan demikian, tidak benar kalau dikatakan di belakang Visi Indonesia 2030 adalah Anthony Salim atau konglomerat lain.

Visi ini juga bukan gagasan Susilo Bambang yudhoyono (SBY). Mengapa peluncurannya harus di istana dan dihadiri oleh jajaran menteri dan para pimpinan lembaga tinggi negara? Karena periode terpenting dari Visi 2030 adalah 2005-2010, yang kebetulan menjadi tanggungjawab pemerintah sekarang.

Menyimak pro dan kontra Visi Indonesia 2030 secara sederhana bisa dilihat sebagai dua kelompok yang berbeda cara pandangnya. Pihak pertama, mereka yang pesimistis bahwa visi itu akan terlaksana melihat kondisi riil yang sama sekali tidak mendukung prediksi yang dikemukakan. Sementara “Indonesia Forum” melihatnya lewat pemikiran out of the box, sehingga dengan rasa optimisme yakin bahwa angka 18.000 dolar AS bukan hal yang mustahil.

Catatan persyaratannya memang panjang: reformasi perpajakan, reformasi birokrasi, reformasi sistem hukum, good governance dan ditunjang komitmen semua pihak. Akhirnya paling penting di atas semua itu adalah adanya pemimpin yang memiliki “a vision and strong leadership”.

Seperti dikatakan Maxwell: “The pessimist complains about the wind, the optimist expects it to change. The leader adjusts the sails (Yang pesimis merisaukan badai yang kencang. Yang optimis mengharapkan badai segera berlalu. Pemimpin mengatur arah layar agar tetap melaju………#OP140507A#

Ishadi S.K., pengurus Yayasan Indonesia Forum. (PR)

Comments
One Response to “Visi Indonesia 2030”
  1. dasmandjamaluddin mengatakan:

    DUA JAM BERTEMU SAYIDIMAN SURYOHADIPROJO

    Oleh Dasman Djamaluddin

    Bertemu dengan pejuang yang ikut mendirikan republik ini bukanlah perkerjaan yang sia-sia. Orang boleh aja menjuluki mereka “pasukan tanpa laskar.” Orang boleh saja menjuluki pasukan “gaek-gaek.” Tetapi jangan duliu berbicara fisik.Lihatlah semangat mereka. Usia boleh tua, karena sudah 83 tahun, tetapi soal semangat, soal masih mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia, ituah yang pertama saya rekam ketika dua jam bersama Sayidiman Suryohadiprojo, hari Kamis, 18 Oktober 2010 pagi di rumahnya Jl.Kartanegara, Kebayoran Baru.

    Tak tersirat rasa lelah di wajahnya. Guratan guratan wajah boleh saja tidak bisa disembunyikan, tetapi tubuh meski kurus, masih tegap sebagai seorang pejuang. Lahir di Bojonegoro (Jawa Timur) tahun 1927. Lulusan Akademi Militer RI di Yogyakarta tahun 1948. Sebagai amggota TNI-AD, ia telah aktif dalam perang kemerdekaan dan sesudah itu, juga dalam masalah-masalah keamanan dalam negeri, seperti Darul Islam, PRRI-PERMESTA dan Gestapu PKI. Ia mulai kariernya sebagai Komandan Peleton di Divisi Siliwangi dan selanjutnya meningkat menjadi Komandan Kompi dan Komandan Bataliyon. Setelah itu menjadi Komandan Resimen Taruna di Akademi Militer Nasional, sebelum menjadi Perwira staf di Markas Besar Angkatan Darat. Pada tahun 1968, ia diangkat sebagai Panglima Kodam XIVHasanuddin di Sulawesi Selatan. Tahun 1974, Gubernur Lembaga Pertahanan Nasional sebelum diangkat menjadi Duta Besar RI di Jepang tahun 1979.

    Sayidiman dikenal pula sebagai penulis, Banyak buku militer yang ditulisnya. Ada rasa kecewa yang diungkapkannya ketika pembicaraan sudah berlangsung agak lama. Dia sangat memprihatinkan bahwa Pancasila belum menjadi kenyataan di bumi Indonesia. Pancasila yang digali oleh Bung Karno, pun pada saat-saat terakhir pun gagal diwujudkan oleh Proklamator kita itu. “Pada saat itu kita gagal mensejahterakan rakyat. Bangsa kita di akhir pemerintahan Soekarno miskin sekali,” ujarnya lirih. “Bukankah tujuan didirikan negara ini untuk mensejahterakan rakyat secara keseluruhan, bukan hanya untuk segelintir orang atau golongan?,” tanyanya.

    Begitu pula di masa Soeharto. Awalnya memang Orde Baru ingin menegakkan Pancasila dengan konsekuen. Pun di akhir pemerintahan Soeharto, Pancasila seakan-akan disamakan dengan budaya kapitalisme, Materialisme, Individualisme dan pragmatisme, untung rugi. “Ini tidak cocok dengan budaya bangsa Indonesia yang asli, yang penuh dengan hidup bergotong royong dan sikap hidup berdasarkan prinsip,” tegasnya. “Ini sangat terlihat dari Amandemen UUD 1945 di masa Reformasi. Saya menganggap ini bukan lagi UUD 1945. Oleh karena itu kembalikan jati diri bangsa agar bangsa ini memiiliki jati dirinya yang khas. Evaluasi UUD 1945 yang di amandemen itu,” seru Sayidiman.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

  • Arkeologi

  • Trader

  • Energi Alternatif

  • Bencana Global 2050

  • Flying

  • Kereta Api

  • Konstruksi – Arsitektur

%d blogger menyukai ini: