Indikator Peningkatan IPM Jawa Barat

Dalam beberapa hari terakhir diberitakan “PR” (9/5/07) parameter makro berupa IPM hanya meningkat 0,71 poin atau menurun dibandingkan 2005 (0,99). IPM Jabar pada tahun 2006 hanya 70,05 dari target 75,60, ini harus menjadi perhatian karena menjadi target IPM 80 pada tahun 2010 hanya mempunyai waktu 3 tahun lagi.

Hal tersebut disebabkan antara lain masa kerja 2006 diawali pada tahun 2005, bersamaan dengan kebijakan pemerintah menaikkan harga BBM. Hal ini berimbas pada semakin minimnya daya beli masyarakat pada tahun 2006 sehingga Indeks Daya Beli yang ditargetkan 74,2 hanya terealisasi 59,42, hanya Indeks Kesehatan yang realisasinya (70,13) melebihi target (69,8), sedangkan Indeks Pendidikan dari target 81,5 terealisasi 80,6.

Indikator makro pembangunan Jaba lainnya yaitu LPE (Laju Pertumbuhan Ekonomi) periode tahun 2004-2006 mengalami kenaikan yang signifikan, bahkan jika diperhatikan berdasarkan skenario target yang telah ditetapkan, menunjukkan bahwa realisasi telah melampaui target. LPE Jawa Barat pada tahun 2004 sebenarnya 5.06%, kemudian pada tahun 2005 sebesar 5,31% dan menjadi 6,02% pada tahun 2006 (dari target 4,75% berdasarkan Propeda Provinsi Jawa Barat). Sedangkan IPM dari target 70,60 hanya terealisasi 70,05. padahal secara teoritis, pertumbuhan ekonomi dipengaruhi secara positif oleh IPM atau sebaliknya IPM berpengaruh secara positif terhadap petumbuhan ekonomi. Hasil estimasi diketahui apabila pembangunan manusia naik 1 poin akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi 0,738. hal tersebut bertentangan dengan kondisi di Jawa Barat saat ini, dengan Laju Pertumbuhan Ekonomi meningkat, sedangkan IPM turun. Hal tersebut diduga dipicu oleh kenaikan angka konsumen di masyarakat yang diakibatkan karena meningkatnya harga BBM.

Namun demikian, walaupun pencapaian IPM Jabar 2006 turun, kita tidak terlalu pesimis karena apabila kita lihat perkembangan jumlah investasi pada tahun terakhir sangat menggembirakan, di mana kondisi sekarang ini peningkatan investasi relatif sulit. Jumlah investasi Jawa Barat berdasarkan Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) selama periode tahun 2004-2006 terus mengalami pertumbuhan, dari Rp 40,52 tiliun pada tahun 2004 menjadi Rp 61,44 triliun pada tahun 2005, dan Rp 75,64 triliun pada tahun 2006.

Gambaran ini menunjukkan terjadinya kecenderungan peningkatan investasi di Jawa Barat sebagai dampak membaiknya iklim investasi, jumlah investasi yang terus berkembang mengindikasikan tingkat kepercayaan yang cukup tinggi dari masyarakat untuk menanamkan modalnya di Jawa Barat. Investasi tersebut memiliki peran yang cukup besar dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi selama periode tahun 2004-2006, secara khusus realisasi investasi berupa PMA/PMDN juga mengalami peningkatan, pada tahun 2004 sebesar Rp 14,146 triliun, tahun 2005 sebesar Rp 18,371 triliun, dan pada tahun 2006 sebesar Rp 21,968 triliun (dari angka persetujuan Rp 27,426 triliun).

Kenaikan jumlah investasi tersebut akan menyebabkan sektor produktif bergerak, yang efeknya akan meningkatkan lapangan kerja, yang diharapkan akan meningkatkan Indeks Daya Beli yang muaranya adalah meningkatkan IPM. Ada beberapa faktor yang dapat memengaruhi sektor produktif bergerak.

  1. Penataan wilayah, yaitu dengan:
    • Me-review kesesuaian industri dengan ekosistem daerah.
    • Me-review Rencana Tata Ruang Wilayah.
    1. Kualitas Sumber Daya Manusia, yaitu dengan :
      • Me-review kualifikasi Sumber Daya Manusia.
      • Me-review jabatan (job analysis)
      1. Pemerintah, dengan me-review tupoksi (tugas pokok dan fungsi) yang berkaitan dengan kelembagaan yang menangani ekonomi.
      2. Sosial Budaya, yaitu dengan :
        • Menerapkan pembangunan sosial budaya menjadi soko guru pembangunan.
        • Ketersisihan masyarakat dan budaya lokal harus menjadi agenda penting bagi pembangunan daerah.
        • Pentingnya sistem budaya kuat dalam tatanan masyarakat.
        1. Perekonomian, yaitu dengan :
          • Me-review perda yang mengatur tentang perekonomian yaitu perda yang Ramah Investor dan Ramah Lingkungan.
          • Me-review produk unggulan daerah.
          • Mengidentifikasi proyek padat karya.
          1. Keuangan daerah, yaitu dengan :
            • Meningkatkan PAD (Pendapatan Asli Daerah).
            • Meningkatkan efisiensi dan efektivitas pengelolaan pendapatan daerah.
            • Meningkatkan partisipasi swasta dalam pembangunan daerah.

            Berdasarkan hal tersebut di atas, seiring dengan bergeraknya sektor tentu saja harus diimbangi dengan;

            1. Membuat regulasi yang adil, ramah investor, dan ramah lingkungan.
            2. Stabilitas politik dan ekonomi di setiap daerah harus ditingkatkan agar transfer teknologi dan pengetahuan melalui investasi baik PMA/PMDN dan perdagangan daerah maupun internasional semakin meningkat.
            3. Ditunjang oleh masyarakat yang memiliki nilai-nilai kesundaan misalnya someah hade ka semah, silih asah silih asuh, dll.

            Hal tersebut diharapkan akan meningkatkan daya saing sehingga penulis merasa walaupun tahun 2006 IPM di Jabar relatif turun, tetapi dengan melihat indikator makro pembangunan yang lain terutama peningkatan jumlah investasi, maka tahun berikutnya diharapkan IPM akan meningkat. Untuk mencapai sasaran IPM yang lebih rasional perlu ditunjang oleh komitmen dan kemauan yang kuat dari para pemeran pembangunan di daerah. Sebab, sekalipun political will pemerintah telah cukup kuat untuk memberikan perhatian pada dimensi pembangunan manusia, namun hal tersebut harus benar-benar dicerminkan dalam perencanaan program-program pembangunan di daerah secara konkret. Hal ini harus menjadi kepedulian seluruh stake holder baik dari unsur pemerintah, politisi, dunia pendidikan, sektor swasta, dan masyarakat sendiri. Semoga!………….#OP140507B#

            Dr. Erni R. Ernawan, dosen tetap Kopertis Wilayah IV Jabar dan Sekretaris Lembaga Penelitian Unpas. (PR)

            Comments
            One Response to “Indikator Peningkatan IPM Jawa Barat”
            1. dedi mengatakan:

              tulisan ini terlalu nganggap enteng akan keberadaan Jawa Barat, harus diperhatikan populasi penduduk Jawa barat yang campur aduk, bukan sunda lagi, orang sunda sudah musnah dari Jawa Barat. Yang ada batak, Jawa (kowek) padang , cina, mana sunda ? Jangan mimpi bahwa dengan IPM kurang dari 70 bakal berhasil , preeeeet,
              Ingat Bandung sudah heurin ku Jawa dan batak !!!!!!!

            Tinggalkan Balasan

            Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

            Logo WordPress.com

            You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

            Gambar Twitter

            You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

            Foto Facebook

            You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

            Foto Google+

            You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

            Connecting to %s

            • Arkeologi

            • Trader

            • Energi Alternatif

            • Bencana Global 2050

            • Flying

            • Kereta Api

            • Konstruksi – Arsitektur

            %d blogger menyukai ini: