Rosihan Anwar dan Sejarah

Mei 2007, tiga wartawan senior Indonesia merayakan ulang tahunnya (Rosihan Anwar 85 tahun, Herawati Diah, 90 tahun, dan S.K. Trimurti 95 tahun). Rosihan dan Herawati mendapat penghargaan Life Time Achievement Award dari PWI (Persatuan Wartawan Indonesia). Sedangkan mulai tahun ini AJI (Aliansi Jurnalis Independen) akan memberikan S.K. Trimurti Award bagi wartawan yang berprestasi.

Tulisan ini menyoroti sisi lain dari Rosihan Anwar, bukan sebagai wartawan melainkan sebagai penulis yang berjasa mempopulerkan sejarah di tengah masyarakat. Djalaluddin Rachmat mengagumi Rosihan Anwar sejak dari masa mahasiswa. Misi wartawan, menurut dosen Fakultas Komunikasi Unpad ini adalah “mencerahkan pemikiran, bukan mengeruhkannya; menunjuki jalan bukan menyesatkannya; menentang kezaliman bukan membenarkannya; membebaskan rakyat bukan membelenggunya”.

Dan Rosihan melakukan hal itu sebagai panggilan hidupnya. Dari sudut sejarah, nama Rosihan tidak terlepas dari “brand mark” “in memoriam” yang ditulisnya di berbagai surat kabar sejak 31 tahun yang lalu. Begitu ada tokoh yang meninggal maka keesokan harinya sudah ada tulisan kilat berkat kolumnis kelahiran Kubang Dua, Solok, Sumatera Barat. Pada saat terjadi kematian, Rosihan telah menghadirkan kehidupan. Ketika menghirup secangkir kopi seraya membalik koran, masyarakat sekaligus mencicipi sepotong sejarah.

Dalam buku “In Memoriam, Mengenang yang Wafat” yang diterbitkan tahun 2002 terdapat 77 tulisan. Saya kira jumlah artikel Rosihan mengenai obituari pada hari ini sudah mencapai seratus buah. Di dalam buku “In Memoriam”, urutan artikel tersebut diawali dengan tiga tokoh bangsa yakni Soekarno, Hatta dan Sjahrir. Kemudian diikuti oleh istri ketiga orang tersebut. Namun, Rosihan tidak menulis tentang figur keempat yaitu Amir Sjarifuddin –mantan perdana menteri yang dieksekusi mati tanpa proses peradilan- yang dilahirrkan tepat seratus tahun yang lalu.

Salah satu gagasan Amir yang sempat diperdebatkan adalah tentang tentara masyarakat. Menurut hemat saya, Rosihan Anwar adalah sejarawan masyarakat. Koran yang dipimpinnya, Pedoman, dua kali dibredel pada era Orde Lama dan Orde Baru. Walau lama sekali menjadi “WTS” (wartawan tanpa surat kabar), Rosihan tetap menulis di mana-mana di seluruh Indonesia. Ia menjadi guru bagi para watawan dalam pelatihan yang dilakukan secara berkala oleh PWI.

Rosihan banyak mendapat buku kiriman atau yang dibelinya sendiri ketika berkunjung ke luar negeri. Buku-buku tentang berbagai aspek sejarah itu terutama yang berbahasa Belanda diulasnya terutama pada surat kabar daerah. Ia menampilkan informasi dan perspektif baru mengenai suatu persoalan historis. Kehadirannya sebagai jurnalis sejak masa revolusi, menyebabkan ia bisa bercerita dan menulis tentang apa dan siapa saja yang terlibat dalam perjuangan merebut dan mempertahankan kemerdekaan serta periode sesudahnya.

Dalam tulisannya sering ditemukan inside story dari berbagai peristiwa. Misalnya tentang upaya Presiden Soekarno mengangkat Brigjen Jusuf sebagai waperdam (wakil Perdana Menteri) ke-4 yang ditentang oleh Jenderal Jani sehingga melahirkan apa yang disebutnya sebagai “mosi tidak percaya” tentara terhadap Bung Karno bulan Agustus 1965. pada gilirannya, ini menyebabkan “Presiden susah tidur”.

Reportase terbaiknya menurut saya adalah laporan pandangan mata tentang peristiwa 27 Juli 1996 yang dimuat pada sebuah surat kabar, tetapi ditulis ulang dengan  jauh lebih lengkap pada buku “Sejarah Kecil (Petite Histoire) Indonesia” (2004). Tulisan itu perlu dibaca oleh anggota Komnas HAM yang baru seusai pilkada DKI nanti karena mungkin bisa dijadikan sebagai novum atau temuan baru. Dalang pelanggaran HAM berat dalam kasus “Kudatuli” itu disebutnya dengan gamblang. Ia mendengar sendiri pembicaraan yang berlangsung lewat walky talky di sebuah posko aparat keamanan di Jalan Diponegoro.

Tulisan Rosihan Anwar layak dijadikan referensi kecuali mengenai beberapa hal yang perlu dicek ulang. Menjadikan Sjahrir sebagai idola, tentunya ia menulis yang bagus-bagus saja tentang kawan-kawannya dari kelompok sosialis. Rosihan mempunyai pengalaman buruk dengan kader PKI. Peris Perdede meminjam buku-bukunya dan tidak pernah dikembalikan. Francisca Fanggidaej (kini 82 tahun, tinggal di negeri Belanda) menggugat Rosihan ke pengadilan atas tuduhan pencemaran nama baik.

Terhadap Soekarno, Rosihan mendua karena ia membedakan Soekarno Muda (yang dikaguminya) dan Soekarno Tua (yang dikritiknya0. tahun 2001 Rosihan Anwar diangkat sebagai anggota kehormatan MSI (Masyarakat Sejarawan Indonesia) karena dipandang sebagai sebagai tokoh non sejarawan yang telah berjasa dalam penulisan sejarah Indonesia terutama dalam memasyarakatkan. Sejarah sesungguhnya tidak sekadar bahan pelajaran di sekolah (yang membosankan dan seenaknya dilarang).

Tulisan-tulisan Rosihan tentang tokoh bukan basa-basi bahkan ia tidak segan mengkritik yang sering disampaikan secara bercemooh. Bagi saya, cemooh itu -yang membuat kultur Minang dinamis- menjadi kekuatan tulisan Rosihan. Sesuatu yang memerahkan kuping, tetapi membuat kolom itu enak dibaca. Menjadikan berbagai karangan Rosihan seperti rendang. Makin lama dimasak, diolah kembali, dihidangkan ulang, makin sedap. Ondeh lamak bana……….#OP210507B#

DR. Asvi Warman Adam, pengurus Pusat Masyarakat Sejarawan Indonesia. (PR)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

  • Arkeologi

  • Trader

  • Energi Alternatif

  • Bencana Global 2050

  • Flying

  • Kereta Api

  • Konstruksi – Arsitektur

%d blogger menyukai ini: