Bandung Zaman Belanda

Kalau kota ini masih bisa membangun dua tiga mal di perkotaan, itu sama artinya, kalau ada itikad baik, juga dapat membangun dua tiga taman kota yang sesungguhnya. Masa kalah sama penjajah?

Sesungguhnya, untuk apa penjajah Belanda di Bandung repot-repot membangun taman-taman kota dengan baik? Sejak 1917, ketika dibentuk Komite Bagi Perlindungan Alam Bandung, Pemerintah Kolonial itu telah merancang Kota Bandung sebagai kota taman. Bahkan mereka berambisi menjadikan Bandung ini sebagai kota yang idedal di daerah tropika.

Pada 1929 dibuatlah rencana besar pembangunan kota, yang sekarang disebut Plan Karsten. Dalam rencana itu disebutkan bahwa standar taman kota Bandung adalah 6,7 m2/orang. Empat tahun sebelum merdeka, jauh sebelum Malaysia menetapkan standar kebutuhan taman 1,9 m2 per orang dan Jepang minimal 5 m2 per orang. Thomas Nix sudah merencanakan bahwa kebutuhan taman untuk Bandung adalah 3,5 m2/orang.

Berapa luas sesungguhnya standar luas dari taman yang harus dibangun di sebuah kota? Ada yang berpendapat 7-11,5 m2 per orang, ada juga yang berdasar pada luas dan jarak jangkauan dari tempat tinggal. Ada taman kecil yang luasnya kurang dari 2 ha yang dapat ditempuh dengan berjalan kaki dari lingkungan rumah. Taman menengah luasnya 20 ha yang terletak 1,5 km dari perumahan dan taman besar yang luasnya minimal 60 ha dengan jarak 8 km dari perumahan.

Pemerintah kolonial pengisap kekayaan bumi nusantara itu nyatanya masih membangun taman-taman kota Bandung dengan kesungguhan hati sehingga taman-taman kota berdiri di berbagai tempat, dari ukurannya yang luas hingga yang kecil-kecil. Tidak kurang dari 58 ha lahan dibangun menjadi taman-taman kota, yang sampai saat ini masih dapat dibanggakan, kecuali yang sudah dengan sengaja dialih fungsikan dengan restu pemerintah era kemerdekaan.

Apa yang terjadi setelah negeri ini merdeka? Dalam dokumen tertulis sudah ada. Taman kota mendapat perhatian dalam berbagai dokumen, seperti dapat dibaca dalam Master Plan 1971-1991, Rencana Induk Kota Bandung 1985-2005, Rencana Umum Tata Ruang Kota, atau Rencana Detail Tata Ruang Kota 1996-2003, atau dokumen lainnya. Sayangnya rencana itu sekedar tertulis dalam perencanaan menjadi dokumen semata karena tak ada kesungguhan untuk mewujudkannya.

Taman kota, disadari atau tidak, telah membentuk dan membangun citra Kota Bandung. Pencitraan yang baik tentang sebuah kota, sesungguhnya tentang lingkungan perkotaan yang nyaman. Taman-taman kota menjadi penting karena dapat berperan sebagai sarana pengembangan budaya kota, pendidikan, dan menjadi pusat-pusat kegiatan kemasyarakatan.

Pohon-pohon dalam taman kota juga memberikan manfaat keindahan, penangkal angin, dan penyaring cahaya matahari. Jalanan yang dinaungi pohon, suhunya 20 derajat C lebih rendah daripada jalan aspal yang tidak dinaungi pohon. Namun sayang, ada kecenderungan dari warga kota Bandung, justu menebangi pohon pinggir jalan ketika memperbaharui rumahnya ketika berbagai factory outlet (FO) dan mal diresmikan sehingga lingkungannya benar-benar menjadi di bakar matahari.

Lihat saja kampus, supermarket, apartemen di Jln. Setiabudi, mal di Jln.Merdeka, di Jln. Gatot Subroto, Jln. Naripan, Jln. Kopo, Jln. Pelajar Pejuang, Jln. Ibrahim Aji, atau FO di Jln. Sukajadi, di Jln. Martadinata, Jln. Cihampelas, pom bensin di Jln. Lembong, dan banyak lagi, adalah beberapa contoh bagaimana orang Bandung kini tidak paham akan manfaat pohon.

Pada era kemerdekaan, ketika ibu kota Kabupaten Bandung pindah ke Soreang, kita bisa saksikan, adakah taman kota yang dibangun anak negeri di zaman reformasi ini di Ibukota kabupaten yang sesuai dengan standar yang dibuat Thomas Nix, prakemerdekaan, misalnya?

Melihat ketidakmampuan anak negeri membangun taman-taman kota, seorang pewawancara di radio Mara beberapa waktu yang lalu menanyai narasumbernya,”Apakah menyesal merdeka?” itu pertanyaan berbahaya sekaligus menggambarkan, bagaimana perasaan jengkelnya karena justru bangsa sendiri tak mampu membuat, bahkan memelihara taman yang sudah dibangun penjajah.

Pembangunan mal-mal di batas kota, pabrik, jalan tol, dan pusat perkantoran pemerintah telah menaikkan suhu di kawasan itu karena pembangunannya tidak diimbangi dengan membuat taman, hutan kota, membuat situ, jalur hijau, menanami bahu jalan, menghijaukan sempadan sungai, dan kawasan terbuka lainnya. Akibatnya, terjadilah pulau-pulau panas yang semakin meluas di hampir seluruh kawasan.

Kita tahu bahwa dalam tubuh manusia terdapat organ hypothalamus yang mengatur mekanisme suhu tubuh agar tetap pada kisaran 37 derajat C. Tingginya suhu telah menyebabkan hypothalamus bekerja lebih keras dan merangsang pori-pori kulit membesar sehingga peredaran darah menjadi cepat, dan keringat akan deras ke luar, atau timbulnya reaksi tubuh yang berguna untuk mengurangi panas tubuh yang berlebih.

Bila hypothalamus sudah bekerja maksimal, tetapi suhu lingkungan tetap panas, akan terjadi gejala-gejala: gelisah, lelah, letih, lesu, sakit kepala, mual-mual, dan ingin muntah. Kemudian gejalanya meningkat menjadi mengigau, tidak sadar, dan bahkan bisa meninggal karena otak diserang panas yang berlebihan. Bisa juga berupa gejala jenuh, gelisah, sakit kepala, nafsu makan rendah, gampang tersinggung, imsonia, atau terjadi serangan jantung karena jantung bekerja lebih keras untuk memompa darah ke seluruh tubuh untuk menurunkan suhu tubuh yang berlebih tadi.

Kalau selama ini warga Kota Bandung terkenal karena kreativitasnya, karena gagasannya, sangat mungkin itu karena tumbuh di lingkungannya yang nyaman. Lalu, bagaimanan dengan lingkungan kota Bandung dengan kenaikan suhu udaranya yang terus meningkat? Inilah hal yang harus mendapat perhatian agar generasi muda Bandung tidak semakin menurun prestasinya, tidak menurunkan kesehatan mentalnya, tidak muncul sifat-sifat beringasnya, yang belakang ini sudah terlihat dengan munculnya geng-geng ABG yang meresahkan warga kota.

Frances Kuo dari Landscape and human Health Laboratory University of Illinois. Kuo menyimpulkan,”Tanpa akses kererumputan dan pepohonan, manusia adalah makhluk yang sangat berbeda. Mereka yang tinggal di gedung-gedung dekat areal hijau, memiliki rasa kemasyarakatan yang lebih kuat dan lebih baik dalam mengatasi tekanan dan kesulitan hidup. “Frances Kuo yang mengadakan penelitian dampak ruang hijau bagi kesehatan warga kota di USA setelah mengadakan penelitian pada anak usia 5-18 tahun di 98 apartemen di berbagai negara bagian, Kuo sampai pada kesimpulan,”Anak-anak dengan gangguan konsentrasi memperlihatkan berkurangnya gejala-gejala gangguan saat mereka menghabiskan waktunya di lingkungan alami. Setelah bermain di ruang terbuka hijau, anak-anak itu dapat berkosentrasi dan menyelesaikan tugas-tugas serta dapat mengikuti perintah dengan baik. Hasil penelitian lainnya adalah, semakin hijau lingkungan sekitar, semakin rendah kriminalitas terhadap manusia dan property.”

“Pepohonan dan rerumputan”, begitu tulis Kuo, “dapat mempengaruhi kesehatan mental warga kota karena memberikan tempat yang ramah dan nyaman untuk berkumpul.”

Ini terjadi di USA tahun 2003, saat diadakan konferensi para Wali Kota se Amerika Serikat. Mereka menandatangani resolusi hutan kota untuk meningkatkan dan pertumbuhan pepohonan dan hutan perkotaan. Dua tahun kemudian, di San Fransisco, 50 pemimpin kota dari seluruh dunia menandatangani deklarasi kota hijau. Salah satu resolusinya adalah,”2015 di kota-kota itu telah dibangun taman-taman kota dan lahan terbuka hijau setiap setengah km dari rumah penduduk.

Taman-taman kota menjadi berarti bagi warganya bila taman kota itu dapat digunakan untuk berbagai kegiatan dan kepentingan, dapat digunakan oleh masyarakat umum dari berbagai latar belakang sosial, ekonomi, dan budaya serta nyaman bagi berbagai kondisi manusia, serta memiliki pertautan antara manusia, ruang, dunia luas, dan konteks sosial. Oleh karena itu taman-taman kota dapat berfungsi sebagai tempat interaksi warga kota, dapat menjaga dan meningkatkan kualitas modal sosial warga kota.

Modal sosial itu merupakan kekuatan yang dapat menggerakkan warga kota yang merupakan bagian dari organisasi sosial, berupa hubungan sosial dan rasa saling percaya yang menfasilitasi koordinasi dan kerja sama untuk kepentingan bersama. Modal sosial ini dapat mempengaruhi peningkatan perekonomian sampai terciptanya masyarakat madani yang kuat. Modal sosial mempunyai peranan yang penting dalam penciptaan pemerintahan kota yang responsive dan efisien, yang ditandai dengan adanya masyarakat madani yang kuat dan dinamis.

Mengakhiri tulisan ini, bahwa pohon yang sering dinilai tidak ekonomis di perkotaan justru menjadi daya tarik yang luar biasa. Ini contohnya: apa yang diceritakan wisatawan sepulang dari Jln. Cihampelas? “Ada pohon besar yang rindang begitu memasuki pelataran C-Walk,” Lainnya? “Sama saja, seragam bergaya dunia.” Begitupun saat turis mengunjungi USA, mereka tertarik dengan adanya hutan kota di tengah Kota New York yang dinamai Central Park. Demikian juga Paris yang berhasil mengembalikan kota itu menjadi kota taman.

Bandung yang terkenal sebagai kota taman pada masa prakemerdekaan dapat ditata kembali dan dikembalikan menjadi kota yang ramah bagi warganya. Mengapa? Kalau kota ini masih bisa membangun dua tiga mal di perkotaan, itu sama artinya, kalau ada itikad baik, juga dapat membangun dua tiga taman kota yang sesungguhnya. Masa kalah sama penjajah?…………….#OP090607A#

T. Bachtiar, anggota Masyarakat Geografi Indonesia dan Kelompok Riset Cekungan Bandung. (PR)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

  • Arkeologi

  • Trader

  • Energi Alternatif

  • Bencana Global 2050

  • Flying

  • Kereta Api

  • Konstruksi – Arsitektur

%d blogger menyukai ini: