Menumbuhkan Kewirausahaan di kampus

Diakui atau tidak, saat ini dunia pendidikan tinggi di Indonesia mengalami kondisi yang memprihatinkan. Bagaimana tidak, sebagai wadah pencetak generasi unggul penerus cita-cita luhur para pendiri republik ini, dunia pendidikan tinggi kita seakan-akan semakin jauh dari jangkauan masyarakat. Tidak hanya biayanya yang makin melambung, tetapi kualitas lulusan yang dihasilkan pun masih jauh dari standar kebutuhan dunia kerja Indonesia.

Umumnya perkuliahan di perguruan tinggi tidak berbeda jauh dengan proses belajar mengajar di sekolah. Mahasiswa masih dikondisikan untuk menghafal teori-teori daripada pengoptimalan daya pikir. Secara tidak langsung mahasiswa yang nantinya menjadi seorang sarjana akan menjadi sarjana yang “pintar” menghafal, namun lemah dalam hal analisis dan mentalitasnya.

Budaya mengejar nilai tinggi masih menjadi fokus utama mahasiswa tanpa menyadari arti pendidikan dan kualitas diri yang sesungguhnya. Akibatnya, setiap tahun makin banyak sarjana yang menganggur setelah lulus. Lulusan perguruan tinggi tidak siap menghadapi kehidupan nyata yang demikian keras dan penuh tantangan.

Seorang mahasiswa yang ketika masa kuliahnya, kegiatan sehari-harinya hanya mengikuti kuliah, ketika dia lulus dan menjadi seorang sarjana cenderung akan kebingungan dan tidak bisa melakukan apa-apa ketika menghadapi tantangan di dunia kerja. Dalam dunia yang lebih dibutuhkan adalah daya analisis dalam memecahkan problema yang ada yang dilakukan secara kreatif, inovatif, dan implementatif tidak sekadar menghafal mati sebuah Materi.

Penyelenggara pendidikan tinggi seharusnya mampu mengubah pola pembinaan, baik terhadap mahasiswa maupun para pendidik yang ada di lingkungannya. Mahasiswa tidak cukup hanya dibekali dengan materi-materi yang dipersiapkan untuk mencari pekerjaan. Kita harus menyadari bersama bahwa kuliah merupakan masa yang penting bagi mahasiswa dalam mempersiapkan diri menghadapi kehidupan bermasyarakat yang nantinya akan memikul tanggung jawab dan lepas dari tanggungan orangtuanya.

Merupakan hal yang positif sekali jika mahasiswa mulai dididik untuk mengubah mindset setelah lulus dari sekadar mencari pekerjaan menjadi siap membuka lapangan kerja sendiri. Perguruan tinggi seyogyanya membekali mahasiswanya dengan entrepreneurship sejak mahasiswa pertamakali menapakkan kaki di kampus melalui kelompok-kelompok bisnis. Kelak ketika dia lulus akan menjadi entepreneur-entrepreneur muda yang mampu membuka lapangan pekerjaan baru bagi penganggur-penganggur yang semakin tinggi.

Selama ini, hidup kita lebih banyak didominasi oleh keputusan-keputusan yang dipengaruhi oleh hal-hal yang bersifat Materi semata tanpa memahami akibat yang ditimbulkan. Saat ini, mencari ilmu “entah itu kuliah S-1, S-2, atau S-3, tidak jauh dari tujuan utama untuk meningkatkan taraf hidup. Jika kita berbicara pada tujuan pencapaian taraf hidup, menjadi entrepreneur adalah sebuah pilihan yang tepat. Menjadi entrepreneur merupakan jalan yang paling tepat untuk menjadi kaya.

Seorang Bill Gates menjadi orang terkaya di dunia yang nilai kekayaannya mencapai 71% total APBN Indonesia, karena dia memilih menjadi entrepreneur di bidang peranti lunak komputer. Hampir semua orang yang “sejahtera” di dunia ini memperolehnya ketika mereka sudah menekuni bisnis dan menjadi seorang entrepreneur.

Menjadi seorang entrepreneur berarti memiliki kebebasan waktu dan tidak terikat dengan ketentuan waktu tertentu. Ketika kita bekerja pada sebuah perusahaan, kita diikat waktu dari jam 9 pagi sampai jam 5 sore, tidak bisa semuanya.

Berbeda dengan entrepreneur, kita cukup fleksibel dengan waktu. Dapat kita bayangkan jika waktu itu sendiri yang dapat kita atur, bukan waktu yang mengatur kita, banyak hal yang bisa direncanakan dan dikerjakan sehingga mampu meningkatkan penghasilan kita.

Dengan menjadi seorang entrepreneur, kita bebas mengekspresikan diri. Ide-ide yang kita pikirkan dapat dengan mudah kita wujudkan mengingat tidak ada yang harus dimintai persetujuan terlebih dahulu agar ide tersebut direalisasikan. Bukan hanya ide, impian yang selama ini kita pendam akan dengan mudah terwujud. Dalam entrepreneurship, tidak ada satu impian pun yang tidak dapat diwujudkan menjadi kenyataan. Tidak ada khayalan yang hanya sekedar khayalan, tetapi semua menjadi benar-benar nyata.

Empat tahun seseorang dididik, diajarkan, dan dilatih untuk bisa menjadi seorang sarjana. Atribut sosial kesarjanaan selalu identik dengan status sosial. Ketika orang menjadi sarjana, ia sudah masuk di kelas menengah. Status sosial inilah yang mestinya disikapi secara cerdas oleh para mahasiswa kita saat ini. Jika tujuan utama kuliah adalah mencari kerja, yang ia dapatkan pun adalah kekecewaan. Barisan pengangguran yang setiap tahunnya cenderung meningkat, memberi pelajaran berharga pada kita semua betapa kuliah saja ternyata tidak mampu menjawab masalah pengangguran. Kondisi ini mesti disikapi secara cerdas oleh para penyelenggara pendidikan tinggi, orang tua, serta calon sarjana kita jika hendak lulus kuliah, sambil mencari solusi cerdas sebagai jalan keluarnya…..#OP270807B#

Dr.Ir. Bob Foster M.M.,Rektor Universitas Informatika dan Bisnis Indonesia (Unibi) serta seorang “entrepreneur” sukses di bidang pendidikan. (PR)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

  • Arkeologi

  • Trader

  • Energi Alternatif

  • Bencana Global 2050

  • Flying

  • Kereta Api

  • Konstruksi – Arsitektur

%d blogger menyukai ini: