Menyiapkan Perkampungan Asia-Afrika

Sebuah gagasan besar mengemuka lewat harian ini, Selasa (14/8-07) tentang Perkampungan Asia-Afrika. Bukan gagasan baru memang, bahkan cenderung usang, tetapi tetap menarik untuk dikomentari. Menarik, sebab wacana ini menjadi alternatif orientasi di luar Eropa dan Amerika. Setidfaknya ada kesadaran untuk berpaling kepada budaya yang lebih dekat dengan kultur Timur, yakni Asia-Afrika.

Setiap rezim di Jabar tampaknya menjadikan isu ini sebagai “dagangan” yang diharapkan akan diminati publik dan tentu saja para investor. Gagasan yang diusung ulang via Kadisbudpar Provinsi Jabar kali ini, sudah sedikit lebih maju, sudah ada rencana kerjasama yang dijalin, lokasi, dan luas area yang diperlukan. Disebutkan bahwa program itu akan melibatkan Pemkot Bandung, Pemprrov Jabar, dan Deplu. Lokasi dipastikan di kota atau kabupaten Bandung sebagai pemilik sah sejarah Konferensi Asia Afrika (KAA), dan luas area yang akan digunakan adalah 150 hektare.

Mungkinkah gagasan itu diwujudkan?

Banyak hal yang belum tuntas di tengah kita, termasuk sejarah KAA. Bagi kebanyakan orang, tak terkecuali warga Bandung, pengetahuan tentang sejarah KAA masih terbatas, apalagi hal ihwal terkait negara-negara Asia-Afrika. Misalnya tentang pendapat sebuah partai besar pada 1955 yang menyebutkan KAA hanya sebagai “Konferensi Apa-Apaan?” Artinya, peristiwa KAA itu ternyata tidak sepenuhnya diterima atau diinginkan oleh warga bangsa kita.

Ada kelompok besar dan berpengaruh saat itu yang antipati sedemikian rupa. Oleh karena itu, bisa dipahami kalau gagasan KAA seakan timbul tenggelam. Kalau tidak ada tokoh seperti Ruslan Abdulgani, mungkin prestasi terpenting dalam sejarah diplomasi Indonesia itu sudah dilupakan orang.

Sampai saat ini, belum ada upaya yang sungguh-sungguh untuk menyosialisasi warisan KAA itu kepada generasi muda. Museum KAA telah bersolek sedemikian rupa, tetapi berapakah anak muda Bandung yang mau datang ke tempat itu setiap harinya? Program friends of museum yang dicanangkan Deplu tampaknya belum menyentuh mereka. Bagaimana agar museum ini melekat di hati anak-anak Bandung? Menjadikan museum KAA agar diminati warga Bandung, tampaknya menjadi agenda terdekat yang terpenting. Kalau anak Bandung saja enggan datang ke museum itu, bagaimana dengan anak-anak muda di luar Bandung? Bagaimana dengan anak muda dari Asia-Afrrika?

Inilkah tantangan bagi pemkot, pemprov dan Deplu, apakah mampu menjadikan museum ini sebagai rujukan utama sejarah KAA, atau pusat informasi paling kompeten mengenai Asia-Afrika, pertama-tama, bagi warga Bandung sendiri lalu bagi warga Indonesia, dan seterusnya. Maka, secara perlahan museum ini akan menjelma sebagai museum dengan standar internasional.

Kemudian seberapa baik kita mengenal negara-negara anggota KAA itu, agama, adat istiadat, kesenian, ekonomi, dan politik mereka? Segala sesuatu memang harus dimulai dari hal terkecil yang paling mungkin diwujudkan. Untuk memulai langkah kecil itu, sejarawan Bambang Purwanto (2005) memberikan usul menarik. Menurut dia, pihak-pihak berwenang harus mendekatkan dulu negara-negara peserta KAA kepada bangsa Indonesia, diawali dari yang terdekat, seperti negara anggota ASEAN, negara Asia yang lain, lalu negara dari Afrika, semuanya secara bertahap.

Warga diperkenalkan kepada 28 negara peserta KAA 1955, lalu bertahap ke negara anggota KAA yang lain yang sekarang berjumlah lebih dari 100. karena hal ini belum pernah dilakukan secara sistemik, tentu akan menjadi pekerjaan berat karena harus memulai dari nol. Mungkin kerja seperti inilah yang antara lain dapat diadviskan Bandung Art and Culture Council (BACC) kepada pemkot. Pemkot Bandung tentu akan menjadi pihak yang paling sibuk karena ia menjadi sahibulbait dari rencana ini. Pemkot tidak boleh hanya menjadi obyek proyek dari provinsi dan pusat, melainkan harus menjadi subyek utama, sedangkan provinsi dan pusat menjadi fasilitator.

Demikian halnya kalangan perguruan tinggi, seyogianya mulai didorong untuk membuka kajian mengenai Afrika, seperti sastra Afrika, melengkapi kajian sastra beberapa negara Asia yang sudah ada. Hal ini akan semakin membuka akses anak muda untuk mengenal lebih dekat tentang Asia-Afrika. Bagaimanapun, tanpa dukungan pihak akademisi, wacana besar PAA sulit mendapatkan legitimasi.

Setelah negara-negara anggota KAA itu diperkenalkan satu per satu dengan beberapa media, Pemkot bandung bisa mulai menjalin kemitraan dengan kota-kota (sister city) yang selevel, bukan dengan ibu kota negara. Kemitraan dengan India dan Cina umpamanya, bukan dengan Ibukota negara. Kemitraan dengan India dan Cina umpamanya, bukan dengan New Delhi dan Beijing, tetapi dengan kota yang mirip dengan kondisi Bandung, sehingga ada kerja sama konkret yang bisa dijalin antar walikota. Kerja sama ini penting untuk dibangun dengan kota selevel di semua negara anggota KAA.

Satu hal yang tidak boleh dilupakan ialah agar warga Bandung ikut terlibat dalam kerja sama ini, jangan seperti yang sudah-sudah, hanya berhenti pada pertemuan antar wali kota dan pembangunan prasasti.

Setelah pemkot bisa “gaul” di kancah internasional, lalu warganya terlibat dalam pergaulan yang dibangun itu, barulah gagasan PAA realistis dicanangkan. Dengan adanya pemkot dan warga yang mengerti dan berpengalaman dengan tata krama pergaulan masyarakat internasional itu, memahami apa, siapa, bagaimana saudara-saudara dari Asia-Afrika itu, keduanya dapat menjadi pelaku utama dari PAA. Dengan demikian, layaklah Bandung untuk menjadi Ibu kota Asia-Afrika.

Peringatan 50 tahun KAA pada 2005 harus menjadi pelajaran penting bagi pemkot, betapa riweuh paciweuh-nya (sibuk) mengatur tamu asing. Di tengah hajatan maha penting itu, Alun-alun Bandung sebagai ikon kota justru sedang dibongkar habis. Hal ini menunjukkan adanya misinformatioan yang fatal tentang agenda pusat dan pemkot. Dalam bahasa lain bisa disebutkan pemkot kurang dilibatkan sehingga tidak bisa menyesuaikan waktu pembongkaran alun-alun dengan jadwal penting berskala internasional itu.

Yang paling tragis, acara sebesar itu seolah tidak berkesan memdalam di hati warga Bandung karena mereka hampir tidak punya akses untuk menyaksikan perhelatan itu. Jangankan warga, wartawan foto pun sulit mengambil gambar yang baik karena alasan protokoler. Kunjungan napak tilas ke Bandung menjadi tidak santai, tidak ada perjalanan naik kereta api, tidak ada jamuan di Gedung Pakuan, dan lain-lain.

Padahal, pada 1955, di tengah kecamuk pemberontakan DI/TII, sejumlah tamu negara menyempatkan diri jalan-jalan ke Pasar baru, salah Jumat di Masjid Agung, berbaur bersama warga Bandung. Tidak salah kalau warga Bandung sangat nineung (mengenal) dengan  KAA 1955, karena mereka merasa terlibat. Secara resmi mereka tergabung dalam panitia lokal. Setiap warga merasa wajib ikut mengamankan hajatan itu. Secara fisik warga Bandung saat itu belum siap menerima tamu internasional, namun secara mental mereka siap. Nah, kesilapan mental warga itulah yang harus diupayakan oleh semua pihak dalam rangka mewujudkan semua pihak dalam rangka mewujudkan PAA, sebab kesiapan fisik pasti akan menyusul.

Apakah warga Bandung saat ini siap menerima kebhinekaan adat istiadat saudara-saudara dari Asia-Afrika? Persoalan ini sangat serius ditanyakan sejak awal karena akan menyangkut martabat Kota Bandung di mata dunia. Apakah warga bandung siap menerima keberagaman rras, budaya, agama, dan kepercayaan warga Asia-Afrika? Masalah hospitality committee yang menjadi kakaren (penentu) KAA 1955 misalnya, sampai sekarang belum tuntas kita sikapi, apakah dibenarkan karena bagian dari diplomasi atau ditolak karena norma agama.

Kasus kehadiran Miss Universe Riyo Mori menjadi contoh yang mutakhir. Di satu sisi, berbagai lembaga termasuk Disbudpar mendukung kehadiran Mori untuk promosi wisata skala internasional, tetapi sejumlah warga Bandung yang lain menolaknya. Celakanya, penolakan itulah yang terekspos keluar Bandung. Orang Jepang pendukung Mori tentu akan punya penilaian khusus atas kasus ini, setidaknya mereka mempertanyakan slogan someah hade ka semah (besar dengan benar) yang diunggulkan pemkot.

Jadi, sangat perlu untuk ditanyakan lebih dahulu kepada warga Bandung, apakah mereka merasa perlu ada suatu perkampungan Asia-Afrika di kota ini? Jangan sampai usaha mulia itu sia-sia karena perbedaan sikap antar warga Bandung sendiri. Karena sekali diputuskan “ya” harusdijalankan dengan konsekuen. PAA akan berbeda dengan Taman Mini Indonesia Indah (TMII). TMII hanya menyatukan perbedaan antar warga Indonesia, sedangkan di dalam PAA menggabungkan keragaman antar warga Asia-Afrika.

Di dalamnya ada aturan standar dan etika internasional yang sejauh ini baru dipelajari oleh mahasiswa di jurusan Hubungan Internasional. Janganlah dulu membayangkan gelontoran dana untuk pembebasan lahan atau pembangunan infrastruktur, sebab pembangunan PAA niscaya bukan seperti mendirikan sejenis mal tematik. Hal-hal di laur itu yang bersifat non teknis justru yang harus diutamakan. Misalnya, bagaimana agar warga Bandung bisa segera memahami standar dan etika pergaulan internasional itu? Tanpa kesilapan itu, gagasan PAA selamanya terbatas hanya menjadi keinginan dan harapan segelintir pejabat.

Menjadi kota internasional memang tidaklah mudah, apalagi jika warga kotanya sendiri belum siap atau malah merasa tidak perlu. Marilah kita benahi kota tercinta ini mulai dari hal yang paling mendasar dan realistis dulu, umpamanya menyelesaikan problem sampah. Setelah kota bersih, pejalan kaki bisa berjalan tenang tanpa diserobot pengendara bermotor, dan lalu lintas aman tanpa gangguan peluru nyasarr, sambil duduk sore hari di taman kota yang hijau segar, barulah kita angan-angankan terwujudnya suatu perkampungan internasional itu.perkampungan Asia-Afrika. Semoga……….#OP010907B#

Iip D. Yahya, penulis picture book “Asia Africa: The Post, Present, The Future” (Deplu,2005). (PR)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

  • Arkeologi

  • Trader

  • Energi Alternatif

  • Bencana Global 2050

  • Flying

  • Kereta Api

  • Konstruksi – Arsitektur

%d blogger menyukai ini: