Masjid yang Memberdayakan

Dalam beberapa hari mendatang, Dewan Masjid Indonesia (DMI) Jabar akan melaksanakan musyawarah wilayah (muswil) IV. Banyak tantangan yang dihadapi muswil DMI ini, terutama dalam menjawab peranan dan fungsi masjid dalam pembangunan Jawa Barat.

Seperti diketahui , jumlah penduduk Jawa Barat diperkirakan mencapai 38,7 juta jiwa. Sekitar 90 persen adalah umat Islam. Harus juga kita akui bahwa rendahnya indeks pembangunan manusia (IPM) Jawa Barat adalah cermin dari rendahnya kualitas umat Islam. Indeks ekonomi, indeks pendidikan, indeks kesehatan, dan indeks kesalehan sosial dianggap masih belum mencerminkan angka kemajuan yang berarti.

Inilah yang menjadi asbabun nuzul pemerintah Provinsi Jawa Barat menancapkan visi,”Dengan iman dan takwa, Jawa Barat menjadi provinsi termaju di Indonesia dan mitra terdepan ibu kota negara tahun 2010” dan menargetkan kenaikan IPM menjadi 80. sebuah visi yang sejatinya tidak lain adalah upaya untuk menggenjot ketertinggalan tadi.

Di titik ini pula DMI Jawa Barat sebagai “KONI-nya kemasjidan” memiliki posisi dan fungsi strategis untuk ikut ambil bagian dalam proses percepatan peningkatan IPM itu. DMI sebagai bagian dari aset umat dan ormas Islam dihadapkan pada tantangan sekaligus peluang untuk memberdayakan umat khususnya lagi masyarakat kemasjidan sesuai dengan peran yang diembannya.

Sinergi ini menjadi sangat kentara kalau kita berhadapan dengan visi DMI Provinsi Jawa Barat yakni,” Mewujudkan DMI di Jawa Barat mampu memberdayakan masjid dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat.” Begitu pula dengan misinya yang meliputi : 1) Pembinaan lembaga jaringan masjid, 2) Peningkatan SDM yang berkualitas, 3) Peningkatan komunikasi ukhuwah islamiyah, 4) Penggalangan sumber dana dan sarana, 5) Pengembangan masjid pemberdayaan umat.

Diperkirakan angka masjid dan masala di Provinsi Jawa Barat berjumlah 159.223 buah. Jumlah yang fantastik ini apabila dikelola dengan seksama akan menjadi modal sosial yang signifikan dalam upaya membangun masyarakat Jawa Barat yang berkeadaban dengan IPM sebagaimana yang kita harapkan. Sebuah modal sosial yang apabila mendapatkan perhatian selayaknya dari semua elemen masyarakat dan Ormas akan menjadi sebuah energi yang dasyat dalam upaya mendorong Jawa barat menjadi provinsi yang maju.

Apabila kita mafhum bahwa jumlah masjid yang besar itu tidak terkosentrasi hanya di satu wilayah saja, tetapi berdiaspora (tersebar) bahkan sampai pelosok terpencil sekalipun. Masjid yang dalam praktiknya dapat dipastikan rata-rata memiliki kepengurusan yang lengkap, majelis taklim, fasilitas, jaringan pemuda, dan kegiatan keagamanan lainnya.

Masjid-masjid yang tersebar itu mengikatkan diri dalam sebuah wadah yang kita namakan dengan DKM (Dewan Kemakmuran Masjid) yang visinya tidak lain adalah melaksanakan fungsi masjid dalam memberdayakan jemaah masjid bagi terwujudnya kesejahteraan lahir dan batin dengan misinya yang utama meliputi tiga aspek penting:

  1. Idaratul masajid, pengelolaan administrasi dan organisasi masjid.
  2. Imarotal masjid, pengelola prrogram masjid.
  3. Ri’ayatul masajid, pengelola bangunan dan pemeliharaan masjid.

Masjid-masjid itu, baik yang masuk dalam kategori masjid wilayah (masjid jami/desa,masjid besar/kecamatan, dan masjid agung/kabupaten-kota), masjid perkantoran, masjid di pusat-pusat perbelanjaan,masjid yang berada di lingkungan pendidikan, masjid kompleks perumahan, masjid perorangan, dan masjid pariwisata.

Pengalaman di DMI sewaktu menyelenggarakan DMI Award (sekarang bernama Musabaqah Masjid Pemberdayaan Umat) melakukan verifikasi ke berbagai masjid yang ada di Jawa Barat, kita temukan model-model masjid yang ketika dikelola dengan saksama benar-benar membawa perubahan (transformasi) bagi kehidupan masyarakat sekitar.

Di Ciamis ada sebuah masjid yang dengan kreatif para pengelolanya mengumpulkan beras ketika musim panen dan tatkala musim kering tiba masyarakat tidak perlu cemas karena mereka sudah memiliki tabungan di masjid. Ada juga masjid dengan penggalian keuangannya yang mencengangkan,mereka mampu melakukan “bedah rumah”. Di satu kawasan masjid bisa memberikan penghidupan kepada masjid tetangganya yang belum mampu. Dan masih banyak contoh lainnya yang intinya memberikan gambaran kepada kita betapa masjid walaupun tanpa dibantu oleh pemerintah sekalipun ketika dikelola dengan optimal ternyata dapat menyejahterakan masyarakatnya.

Tentu saja peluang itu pada saat yang besamaan harus kita akui beriringan juga dengan tantangan (masalah) yang selama ini membelit civitas kemasjidan yang minimal dapat kita identifikasikan sebagai berikut :

1)      Keterbatasan perrsepsi fungsi tentang masjid. Disini masjid kerap kali dipersepsikan secara parsial, hanya sebagai tempat ibadah ritual saja.

2)      Program masjid masih banyak yang belum menyentuh hajat dan problem masyarakat luas bahkan di kota-kota besar tidak sedikit masjid yang memiliki jumlah kencleng yang tidak sedikit namun peruntukannya tidak (belum) menjawab tantangan umat dalam maknanya yang subtansial, masih bersifat insidentil dan karitatif.

3)      Kebanyakan mutu SDM para pengelola masjid kurang bagitu menggembirakan. Malah tidak sedikit anggapan yang berkembang bahwa para pengelola masjid itu hanya tepat kalau diserahkan kepada para pensiunan sementara kaum muda tidak diberi kesempatan yang optimal untuk terlibat didalamnya.

4)      Lembaga jaringan masjid yang belum terbentuk secara sempurna.

5)      Masjid kurang bisa melakukan kerja sama dengan lembaga/instansi terkait dalam upaya memberdayakan masyarakat.

Kalau kita bercermin pada kehidupan Rasullah saw., harus kita akui, sebagaimana banyak dicatat kaum sejarawan bahwa salah satu faktor keberhasilan dakwah yang dilakukan Nabi tidak lain karena optimalisasi peran dan fungsi masjid. Masjid dijadikan oleh Nabi sebagai pusat kegiatan masyarakat sehingga dalam waktu yang relatif singkat selama rentang waktu 23 tahun beliau mampu melakukan perubahan sosial yang sangat berarti.

Pengakuan seperti ini bukan hanya ditulis oleh sejarawan Muslim mampu juga dengan jujur diakui oleh kaum orientalis sebagaimana dapat kita telusuri misalnya dalam karya Annamarie Schimmel (Dan Muhammad adalah Utusan Allah). Karen Amstrong (Muhammad), Montgomery Watt ( Muhammad at Mecca dan Muhammad at Medina), Top Andrea (Muhammad, the Man and His Faith), William Muir (The Life of Mohamet), Theodore Noldeke (Gescichte des Qorans), A Sprenger (Das Leben and die Lehre des Mohammad), Ignaz Goldziher (Muhammeddanische Studien), Maurice Gaudefrroy – Demombynes (Mahomet).

Nabi tidak sekedar menjadikan masjid sebagai tempat untuk melakukan ibadah ritual saja (mahdah), tetapi juga di Masjid Nabi saw, merumuskan strategi budaya, ekonomi, dan politik untuk menata kehidupan masyarakat. Masjid Nabawi yang ada di Madinah lahir dengan peranannya yang beraneka ragam. Para sejarawan sebagaimana dikutip Quraish Shihab (1996) menulis sepuluh peranan masjid Nabawi :

1)      Tempat salat,

2)      Tempat konsultasi dan komunikasi (masalah sosial, ekonomi, dan budaya),

3)      Tempat pendidikan,

4)      Tampat santunan sosial,

5)      Tempat latihan militer dan persiapan alat-alatnya.

6)      Tempat pengobatan para korban perang,

7)      Tempat perdamaian dan pengadilan sengketa,

8)      Aula dan tempat penerima tamu,

9)      Tempat menawan tahanan

10)  Tempat penerangan atau pembelaan agama.

Quraish Shihab juga mencatat tiga alasan utama di balik peranannya yang luas masjid-masjid di masa silam itu, yakni, pertama, keadaan masyarakat yang masih sangat berpegang teguh kepada nilai, norma, dan agama. Kedua, kemampuan pembina-pembina masjid menghubungkan kondisi sosial dan kebutuhan masyarakat dengan uaraian dan kegiatan masjid. Ketiga, manifestasi pemerintahan terlaksana di dalam masjid,  baik bagi pribadi-pribadi pemimpin pemerintahan yang menjadi imam/khatib maupun di dalam ruangan-ruangan masjid yang dijadikan tempat-tempat kegiatan pemerintahan dan syura (musyawarah).

Inilah sejatinya masjid ideal yang telah dicontohkan oleh baginda Nabi sebagai refleksi dari masjid yang dijangkarkan di atas fondasi ketakwaan. Sesungguhnya masjid yang didirikan atas dasar takwa (Masjid Quba), sejak hari pertama adalah lebih patut kamu bersembahyang di dalamnya (Q.S. al-Taubah 9:108).

Dan bukanlah memakmurkan masjid dengan mendorongnya ke arah terwujudnya masjid-masjid sebagaimana yang dietas oleh Nabi adalah kewajiban setiap kaum beriman. Otentisitas keberimanan seseorang salah satu indikatornya adalah ketersediaannya untuk memakmurkan masjid baik di sisi idarah, riayah atau imarahnya.

Hanyalah orang-orang yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan salat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang mendapat petunjuk (Q.S. al-Taubah 9:18).

Jika tidak demikian, khawatir masjid yang ada hanyalah “tempat wisata” untuk memanjakan pesona mata saja, kemegahan yang tidak memberdayakan. Sebuah potret yang dahulu dirisaukan sang Nabi “Masjid-masjid dibangun megah, tetapi sepi dari pelaksanaan petunjuk Allah”. (HR. Baihaqi)………….#OP040907A#

H.R. Maulany, S.H.,Ketua Umum PW Dewan Masjid Indonesia Provinsi Jawa Barat. (PR)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

  • Arkeologi

  • Trader

  • Energi Alternatif

  • Bencana Global 2050

  • Flying

  • Kereta Api

  • Konstruksi – Arsitektur

%d blogger menyukai ini: