Spiritualitas Sunda di Situs Sindangbarang

Iringan kecapi mengalun di tengah malam, mendampingi alunan pantun yang dinyanyikan oleh Abah Ucup di atas panggung. Malam itu, saya merasakan suasana yang berbeda, yang sangat khas. Mengamati budaya bagaikan menagkap sonoritas alam.

Berada di situs budaya Sindangbarang, Taman Sari, Kabupaten Bogor, memberikan pengalaman berharga bagi saya tentang negosiasi budaya lokal terhadap kehidupan metropolitan yang sehari-hari saya hadapi di Jakarta. Sebagai pendatang di tatar Sunda, merasakan suasana yang khas seperti ini membuat saya bepikir tentang bagaimanan proses terbentuknya memori kolektif Sunda melalui budaya.

Keberjarakan saya terhadap budaya Sunda saat ini memberikan ruang berpikir cukup luas untuk mempertanyakan banyak hal, salah satunya adalah pembentukan memori dan sejarah. Sindangbarang yang berada di sisi timur laut Gunung Salak merupakan sebuah situs budaya yang berupaya merevitalisasi tradisi Sunda di Bogor. Berbagai bukti arkeologis di Sindangbarang yang telah dilaporkan dalam penelitian pendahuluan tim FIB UI yang dipimpin Dr. Agus Aris Munandar sejak tahun lalu menguatkan dugaan Sindangbarang sebagai tempat pemujaan kuno (Situs Sindangbarang Bukti KegiatanKeagamaan Masyarakat Kerajaan Sunda : Laporan Hasil Penelitian Awal oleh Agus Arismunandar,2007).

Memori masyarakat setempat dan juga berbagai sumber sejarah Sunda Kuna dari naskah-naskah lama dan pantun mengungkapkan juga bahwa Sindangbarang adalah tanah suci keagamaan (Aris Munandar, 2006). Hingga hari ini kita bisa menemukan beragam tempat peribadatan baik dari masa yang lebih kini seperti klenteng, gereja, dan masjid maupun dari zaman kuno berupa punden berundak, menhir, bale kambang, batu temu gelang, dan batu kursi di daerah timur laut kaki Gunung Salak tersebut.

Dengan ditemukannya berbagai situs dan artefak tersebut, upaya revitalisasi budaya Sunda Bogor di Sindangbarang tampaknya tidak salah pilih. Upaya yang dilakukan oleh Bapak A. Mikami Sumawijaya sebagai salah satu tokoh masyarakat Sindangbarang sekaligus pengasuh Padepokan Giri Sunda Pura tersebut, merupakan salah satu cara untuk mempertahankan dan melestarikan nilai-nilai tadisi Sunda. Melalui penyelenggaraan upacara adat Sunda untuk menyambut panen raya (Seren taun) dan pembangunan kampung budaya Sunda di Sindangbarang, upaya-upaya tersebut semoga akan segera menampakkan hasil nyata.

Fenomena revitalisasi tradisi tersebut menarik untuk diamati. Wacana tradisi semakin tergerus oleh zaman modern abad ke-20 yang positivistik dan didominasi oleh kekuatan mesin, teknologi, dan modal. Munculnya wacana globalisasi sebagai raksasa hasil rekayasa modernisme semakin meminggirkan wacana tradisi ke tempat terpencil dan tak perlu didengarkan hingga tak terdengar lagi.

Represi terhadap wacana tradisi ini ternyata justru menjadi kontraproduktif bagi beberapa tokoh masyarakat yang telah memijakkan kedua kakinya pada tradisi sekaligus modernisasi. Di tanah Jawa sendiri, paling tidak kita mengenal Sultan Hamengkubuwono IX sebagai sosok modern yang dengan rigid memegang tradisi Kraton Yogyakarta yang juga kental diliputi mistik (Budi Susanto J, Imajinasi Penguasa dan Identitas Postkolonial, 2000:25-26). Sementara di Sindangbarang, tokoh Mikami Sumawijaya mungkin bisa dimasukkan dalam kategori tersebut.

Pada akhirnya, ketegangan antara wacana tradisi dan modernisme bagi tokoh Mikami Sumawijaya menghasilkan rruang wacana baru, yaitu keberantaraan tradisi dan modern yang kemudian terus-menerus digeluti dengan cara mewujudkan kampung budaya yang mengetengahkan nilai-nilai tradisi dan dikelola secara modern dengan memanfaatkan sarana-sarana dunia modern. Permaknaan terhadap tradisi menjadi sesuatu yang bersifat negosiatif dimana tradisi menjadi teks terbuka yang perlu dan bisa diinterpretasikan dan pada akhirnya bisa diciptakan kembali. Upaya untuk menemukan kembali, menginterpretasi, dan menciptakan kembali tradisi itulah yang menjadi ruh dari revitalisasi situs budaya Sindangbarang.

Penciptaan kembali tradisi dengan berbagai tujuan dan landasannya, merupakan sebuah aktivitas yang tidak bisa dikatakan bebas nilai. Konteks ruang dan waktu selalu memengaruhi penciptaan tradisi tersebut. Konteks globalisasi saat ini mau tidak mau pasti memengaruhi proses penciptaan tradisi tersebut. Globalisasi tampil dalam representasi kegiatan pariwisata. Pembentukan Kampung tersebut merupakan aset pariwisata yang akan mampu menyedot perhatian wisatawan (Sarasehan Budayawan Sunda Bogorr di Sindangbarang, Juni 2007).

Hingga hari ini,pariwisata merupakan salah satu aspek budaya penting yang mendatangkan devisa bagi negara. Apakah kampung budaya ini akan mampu bersaing dengan lokasi-lokasi tujuan wisata yang lain di Bogor, Jawa Barat, dan Indonesia? Kemampuan berkompetisi dengan situs-situs pariwisata lain tersebut pad akhirnya harus membuat pengelola mengatur strategi untuk memasarkan budaya tesebut kepada publik.

Tempat wacana tradisi dalam konteks dunia global ini cukup unik. Di tengah situasi dunia yang semakin runtuh batas-batasnya, wacana tradisi justru dapat menjadi alternatif bagi begitu banyak manusia kosmopolit yang berupaya mencari nilai menjadi manusia. Sepanjang abad ke-20 telah terjadi begitu banyak tragedi kemanusiaan yang membuat banyak manusia mempertanyakan kembali apa nilai menjadi manusia (Naisbitt dan Aburdene, 2000). Banyak orang mencari pegangan ke dua bidang agama atau ilmu, religi atau sains.

Dalam bidang agama, manusia abad ke-21 kini semakin tertarik pada pentingnya spiritualitas sebagai inti dari kemanusiaan. Gerakan kembali ke spiritualitas ini juga menjadi bagian dari religiositas masyarakat urban (Seminar Religiositas Masyarakat Kota di FIB UI, Mei 2005). Dalam konteks global, gerakan seperti ini dimulai di tahun 70-an di Eropa, disebut sebagai gerakan perennialisme, yang semakin diminati oleh banyak kaum muda urban (Sukidi,2001).

Saya melihat disinilah nilai penting Sindangbarang. Sejak lama, Sindangbarang telah dikenal sebagai tanah suci keagamaan. Berbagai tempat peribadatan dan pemeluk agama dapat kita temukan di sana dan menjadi bagian dari keseharian masyarakat, Sindangbarang dapat dikatakan sebagai situs budaya yang merepresentasikan ruang spiritualitas tersebut. Sebagai tanah suci keagamaan, ia merupakan situs budaya yang bisa jadi bernilai penting dan signifikan dalam semangat perennial.

Potensi Sindangbarang sebagai salah satu bagian ziarah spiritual perlu lebih disosialisasikan. Usulan Munawar Holil, peneliti filologi Sunda dari FIB UI, dalam Sarasehan Budayawan Sunda Bogo untuk menginventarisasi berbagai bentuk tadisi lisan di daerah tersebut perlu ditindaklanjuti dalam rangka mendokumentasikan pemahaman-pemahaman spiritualitas dalam tradisi Sunda.

Gerakan kembali ke spiritualitas yang termaktub disini tentunya menimbulkan kecurigaan dari kelompok gerakan keagamaan yang cenderung legalitas-formal, yang mengutamakan berbagai ketentuan peribadatan secara rigid dan pemurnian gerakan keagamaan. Ketegangan seperti ini tidak terhindarkan karena kedua gerakan tersebut tampaknya berada pada kutub yang berbeda. Kekhawatiran pada fenomena agama tradisi yang cenderung animis cukup beralasan jika dilihat melalui sudut pandang keagamaan yang legalistis-formal tersebut.

Gerakan global untuk kembali ke spiritulitas hadir dengan cara meruntuhkan batas-batas formal agama, yang secara apik dipopulerkan oleh Sukidi (2001) dengan istilah wisata spiritual lintas agama. Dalam konteks gerakan global keagamaan, penciptaan kembali tradisi Sunda berikut berbagai perangkat sistem kemasyarakatan dan religinya bisa menjadi sumber kekayaan pengetahuan spiritual bagi para wisatawan spiritualis untuk menemukan pengalaman baru dalam bertuhan.

Pada dasarnya, kehawatiran atas lunturnya semangat beragama justru tidak beralasan dan berbagai prasangka terhadap proses penciptaan kembali tradisi Sunda tersebut perlu ditempatkan pada proporsinya. Tradisi spiritualis yang tidak fanatik pada satu kecenderungan keberagamaan tertentu merupakan tipikal cara beragama masa depan yang lebih mengutamakan kebijakan dan kebajikan dibanding kebijakan legalisme agama (Hidayat dan Nafis, 2003).

Dalam hemat saya, situs Sidangbarang perlu disosialisasikan secara strategis sebagai situs wisata spiritual. Ini bukan berarti mengkomersialisasikan spiritualitas Sunda Kuna di Sindangbarang, tetapi suatu bentuk perwujudan aktivisme manusia untuk menjadi subyek yang menciptakan visi harmoni budaya. Hal ini penting dilakukan oleh pihak-pihak yang peduli bukan untuk alasan komersil tetapi ini upaya untuk menemukan sendiri nilai-nilai manusia dalam tradisi yang telah menghidupinya, yang seharusnya menjadi bagian dari jatidirinya.

Sebagai penutup, menciptakan tradisi diperlukan untuk membangun konsep diri individu maupun masyarakat yang menghidupi dan dihidupi oleh tradisi. Dalam konteks Sindangbarang, orang-orang yang hidup didalamnya maupun yang akan menjadi bagian darinya, keduanya perlu menciptakan tradisi itu untuk membangun identitas individu dan kebangsaan yang membuat orang-orang yang berada di dalamnya tumbuh besaer dan mengakar di tengah dunia yang mengglobal.

Jika kemampuan menangkap sonoritas budaya yang saya sebutkan sebelumnya dikaitkan dengan pembentukan jati diri, maka semua upaya saya memahami konteks penciptaan kampung budaya Sindangbarang ini sesungguhnya merupakan bagian dari proses pembentukan jati diri tesebut sebagai sosok individu bagian dari generasi muda urban yang mencoba menelusuri dan bereksperimentasi dengan budaya Sunda yang telah lama hidup dalam masyarakat Indonesia……………….#OP040907B#

Rosida Erowati, pemerhati dan peminat film dan budaya lokal yang juga bergiat di Paguyuban Guar Sunda Simpay di FIB Universitas Indonesia (UI), Depok. (PR)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

  • Arkeologi

  • Trader

  • Energi Alternatif

  • Bencana Global 2050

  • Flying

  • Kereta Api

  • Konstruksi – Arsitektur

%d blogger menyukai ini: