Saya Istri Prajurit TNI

Pemberitaan tentang sepak terjang berbagai aktivitas dalam tubuh Tentara Nasional Indonesia (TNI) dari seluruh matra beberapa waktu yang lalu memang sempat ramai menghiasi seluruh media massa yang ada di Indonesia, mulai dari yang posisif sampai yang negatif  yang dilakukan oleh institusi atau pribadi. Namun sayang yang mendominasi muncul dan disajikan dalam media adalah berita negatif.mulai dari kasus perampokan yang melibatkan oknum TNI, tetang konflik antar personel TNI dan Polisi, penggantian komandan dalam institusi TNI yang dikaitkan dengan adanya kasus dan sebagainya.

Entah karena dalam tubuh TNI memang akhir-akhir ini banyak terjadi hal yang negatif atau memang banyak media yang masih menganut paham bad news, is good news!. Yang terheboh diberitakan adalah kasus penembakan di Pasuruan beberapa waktu lalu yang emlukai beberapa orang, bahkan menewaskan empat orang warga setempat.

Hitam putih, dalam berbagai aspek krehidupan bukankah suatu hukum alam yang tidak bisa dihindari? Tak terkecuali dalam tubuh TNI. Tidak semua anggota TNI itu bersih, namun tidak semua anggota TNI juga kotor. Tidak semua anggota TNI adalah malaikat, namun juga bukan berarti semua anggota TNI adalah setan. tNI juga manusia yang tidak luput dari kesalahan dan kekhilafan seperti layaknya orang sipil, pejabat, anggota DPR dan anggota LSM.

Saya adalah seorang istri prajurit TNI yang sudah satu tahun terakhir ini ditinggalkan suami karena harus berjuang melaksanakan satuan di suatu daerah di timurr Indonesia yang masih rawan konflik. Jiwa dan raga adalah taruhannya karena itu adalah sebuah tanggung jawab. Terbatasnya intensitas komunikasi dengan keluarga, terutama dengan saya selaku istri yang baru dinikahi 5 bulan sebelum keberangkatannya bertugas, karena tidak adanya sinyal telekomunikasi tidaklah menjadi satu hal yang mematahkan semangatnya untuk tetap berjuang demi Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Bukan saya tidak berempati pada mnasyarakat mana pun di bumi Indonesia ini yang pernah menjadi korban penembakan ataupun kekerasan oleh prajurit TNI, bukan pula saya membenarkan apa yang dilakukan oleh rekan-rekan kerja suami saya tersebut, namun sedikit kecewa pada beberapa media yang bertubi-tubi memberitakan berbagai hal negatif tersebut dengan kurang berimbang (balance). Nara sumber dan topik dalam pemberitaanpun porsinya lebih banyak diangkat tentang penderitaan orang-orang yang menjadi korban sehingga dalam pemberitaan saya melihat media terlalu memojokkan prajurit TNI, terutama pelaku.

Kenapa media juga tidak mengupas secara tuntas mengapa anggota TNI melakukan hal tersebut? Kenapa anggota TNI banyak menjadi backing usaha-usaha haram ataupun banyak yang melakukan usaha haram? Bagaimana bisa terjadi penyalahgunaan senjata? Adakah faktor lain yang memengaruhi, baik secara psikologis yang penuh dengan tekanan, tingkat ekonomi dan kesejahteraan yang kurang memadai, ataupun faktor sosial yang memengaruhi? Agar anggota TNI tidak selalu jadi tokoh antagonis seram yang perlu ditakuti oleh masyarakat apalagi gadis-gadis yang mungkin berniat untuk menjadi anggota Persit Kartika Chandra Kirana.

Bukankah dalam dunia jurnalistik terdapat senuah landasan penyajian berita yang dikemukakan oleh Errol Jonathans yaitu rumus A+B+C=C yang artinya accuraccy (keakuratan) + balance (keseimbangan) + clarity (kejelasan) yang akan menghasilkan sebuah berita yang kredibel (Jonathans, dkk. Dalam buku Politik dan Radio, 2000:74). Dalam teori komunikasi juga terdapat sebuah teori yang diungkapkan oelh Maxwell Mc.Combs dan Donal L. Shaw, yaitu teori agenda setting. Dalam teori tersebut mengungkapkan jika media memberikan tekanan atau penonjolan pada suatu peristiwa, media massa itu akan memengaruhi khayalak untuk menganggapnya penting (Effendy, 2000: 287). Jadi bukan satu keanehan jika anggota TNI tetap menjadi momok di masuarakat apalagi bagi masyarakat awam karena media sering menonjolkan hal negatif secara tajam tentang TNI.

Saya juga sedikit ingin mengungkapkan rasa kecewa pada masyarakat, baik awam maupun yang terpelajar yang berkedok politikus ataupun kritikus, yang selalu menyimpulkan secara dini sesuatu dengan berbekal informasi minim dan pengetahuan seadanya. Kata orang Sunda mah nyanyahoanan, menyikapi berbagai isu yang ada dalam tubuh TNI. Di tempat saya tinggal saja, yang kebetulan dekat dengan sebuah batalyon infanteri masih banyak masyarakat awam yang menganggap bahwa tentara itu menakutkan, suka semena-mena, nggak suka bayar ongkos angkot dan identik dengan kekerasan.

Padahal, para prajurit TNI tersebut sudah berusaha danmelakukan reformasi internal untukmemperbaiki semua kesalahan yang dilakaukan di masa lalu namun masyarakat tetap saja melekatkan citra negatif tersebut dalam seragam TNI. Apalabi di kalangan politikus dan kritikus, tidak sedikit yang ngasal asal tenar. Katanya orang berpendidikan, tapi mereka seenaknya berkomentar tanpa aturan dan tidak mempehitungkan dampaknya.

Prajurit TNI mana pun tentu tak ingin diekspose ke media layaknya para selebritis dalam infotainment. Andaipun ada, mungkin itu hanya kebetulan anggota TNI tersebut menikah atau menjadi menantu selebritis. Atau mungkin seperti para politikus yang selalu berkoar-koar dalam setiap bincang-bincang di media ataupun yang dengan sengaja mengungkapkan pernyataan kontroversial agar disorot media. Karena itu memang sudah risiko pekerjaan mereka dan saya pun tahu dengan pasti berbagai risiko tersebut karena dalam pengajuan ketika akan menikah dahulu, saya telah menandatangani berbagai kesepakatan di depan para pejabat TNI sampai pada tingkat panglima daerah militer (pangdam). Salah satu butir-butir kesepakatannya tersebut adalah menjelaskan berbagai risiko yang ada.

Bukan popularitas atau semata-mata tanda jasa yang ingin didapatkan, namun saya yakin seluruh anggota TNI dari pangkat prajurit dua samapi jendral-jendral yang berbintang pun ingin meminta kepada semua pihak, termasuk masyarakat, media, dan pemerintah untuk membantu menyukseskan reformasi internal dalam tubuh TNI untuk berubah, tapi juga dukungan maksimal dan solusi sosial ekonomi agar suami saya dan suami-suami ibu Persit lainnya bisa makin semangat dan makin profesional memperjuangakan segala sesuatu yang bisa mengancam keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Alangkah akan menjadi lebih baik lagi jika setiap elemen yang ada dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia ini, tak hanya dalam tubuh TNI, untuk sama-sama mengintrospeksi diri dan melakukan reformasi internal masing-masing. Bukankah semua elemen dan waga Negara Kesatuan Republik Indonesia ini juga manusia biasa? Selamat Hari Ulang Tahun ke-62 bagi Tentara Nasional Indonesia! Kalian bukan sekadar pahlawan kebanggaan keluarga, namun kalian juga adalah prajurit kebangaan bangsa…………………..#OP051007B#

Zahrotul Badriyah, mahasiswa Fikom Unpad Kampus Bandung dan anggota Persit Kartika Chandra Kirana Ranting 4 Cabang XII Menarhanud-1 PD Jaya. (PR)

Comments
One Response to “Saya Istri Prajurit TNI”
  1. wiwin mengatakan:

    ijin……….
    sy bangga py pcr anggota TNI AD

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

  • Arkeologi

  • Trader

  • Energi Alternatif

  • Bencana Global 2050

  • Flying

  • Kereta Api

  • Konstruksi – Arsitektur

%d blogger menyukai ini: