Perkuat “Corporate Social Responsibility” PTN

Berubahnya status sejumlah perguruan tinggi negeri (PTN) menjadi korporat dalam bentuk badan hukum pendidikan milik negara (BHPMN), tentunya CSR (corporate social responsibility) harus sudah mulai menjadi skala priorritas agar PTN lebih membumi di tengah publik atau masyarakat. Orientasi perguruan tinggi selama ini mencakup pendidikan / pengajaran, penelitian dan pengabdian masyarakat. Memang dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat PTN sudah melakukan kegiatan CSR, hanya masih menjadi bagian kecil dari sejumlah projek yang dilakukan.

CSR adalah tentang nilai standar yang dilakukan berkaitan dengan beroperasinya korporat. CSR diartikan sebagai komitmen usaha untuk berrtindak secara etis, beroperasi secara legal, dan berkontribusi untuk peningkatan kualitas hidup karyawan dan keluarganya, komunitas lokal dan masyarakat secara lebih luas (Sankat, Clemen K, dalam Budimanta, dkk, 2004 : 72).

Merujuk kepada definisi CSR di atas berarti PTN selain meningkatkan kualitas hidup komunitas lokal (publik eksternal), juga karyawan (pubik internal), di PTN namanya civitas academica, setidaknya terdiri dari karyawan administrasi (tata usaha) dan karyawan dosen (staf pengajar) dan mahasiswa (peserta didik).

CSR bagi PTN untuk karyawan administrasi dan dosen, tentunya agar bisa memberikan kesejahteraan yang layak. Sebagai analogi, dulu sebuah perusahaan pers harus memberikan saham sebanyak 20% kepada karyawan sehingga karyawan sebuah harian ekonomi cukup kondang di Jakarta dengan saham itu membentuk koperasi untuk menyejahterakan anggota.

Bagi PTN yang kini mengambil uang masyarakat melalui penerimaan jalurr non reguler (bukan SPMB), seperti munculnya kelas-kelas khusus mulai program diploma 3, S-1, dan S-2, bahkan S-3, tentunya CSR itu berupa uang kembali ke masyarakat dalam bentuk laboratorium yang memadai, perpustakaan yang komprehensif, dan honor dosen yang layak.

Belum lama ini (26-29 April 2007) diselenggarakan sebuah pameran CSR Indonesia di JCC Senayan Jakarta. Pameran itu mengungkap berbagai fenomena tentang kepedulian korporat kepada masyarakat, melalui foto, selebaran, dan persentasi yang aktraktif dari setiap stan yang ada di sana.

Melalui pameran terlihat ternyata program CSR sudah mulai diimplementasikan secara aktif oleh sejumlah perguruan tinggi, seperti yang dilakukan Universitas Gadjah Mada (UGM), melalui berbagai kegiatan pengabdian kepada masyarakat.

Bila persepsi selama ini PTN ibarat sebuah menara gading, maka CSR dapat dipandang sebagai peresmian dalam membangun nilai-nilai luhur dan solidaritas bersama tanpa dibatasi sekat-sekat geografis, membedakan tingkatan ekonomi, dan lapisan sosial budaya. Dengan perkataan lain, program CSR adalah ibarat oase dalam ruang universal yang mempertemukan dua atau lebih korrporat yang kompetensinya semakin semakin kuat untuk menjadi pemenang pasar.

PTN memang tidak seperti korporat yang memandang masyarakat terutama yang tinggal di lokasi operasional dan produksi korporat, dalam hal ini korporat bertanggungjawab untuk menjamin kesehatan lingkungan dan kualitas hidup masyarakat, dan dan tanggungjawab ini semakin besar pada korporat yang menjadikan masyarakat sekaligus pasar produknya. Jadi bagi PTN CSR bagi masyarakat tentunya lebih kepada pengembangan pengetahuan dan ketrampilan sumber daya manusia (SDM) dalam bentuk konsultasi dan pelatihan.

Program CSR bagi PTN tidak bisa lagi menerapkan paradigma lama, hanya sekadar pengumpulan nilai KUM untuk kenaukan pangkat, atau menghabiskan dana agar tidak terjadi sisa anggaran, tetapi harus menjadi priorritas, dengan visi pendididkan untuk mengembangkan dan mencerdaskan masyarakat.

CSR bagi PTN harus melalui beberapa langkah : Pertama, analisis situasi, melihat keberadaan dan posisi PTN itu, termasuk bagaimana citra dan reputasi PTN di mata masyarakat.

Kedua, penetapan tujuan yang nantinya bisa diukur sampai titik tujuan program CSR bagi PTN itu. Ketiga, target publiknya siapa karena masyarakat terdiri dari berbagai publik. Jadi CSR untuk publik-publik yang nantinya mencapai masyarakat secara luas.

Keempat, pemilihan media (baik media massa maupun non massa), harus tepat sesuai dengan target publik tadi. Kelima, pengukuran hasil, setiap kegiatan CSR bagi PTN harus diukur keberhasilannya.

Kegiatan CSR di Indonesia ada yang mengacu kepada undang-undang atau dilakukan secara sukarela tidak terikat undang-undang, tetapi dianggap penting oleh korporat. CSR lainnya adalah membebaskan sebagian mahasiswa yang tidak dan belum registrasi, di Unpad sendiri mahasiswa yang registrasi mencapai 18 miliar rupiah.

Memang masih perlu pengembangan lebih banyak Unpad melakukan CSR tersebut, misalnya bagaimana CSR Unit Pelayanan Teknis (UPT) Kesehatan Unpad di Jatinangor yang hakikatnya sepi pasien atau masyarakat belum tahu itu sebagai pelayanan umum bagi masyarakat. Dalam upaya social marketing UPT kesehatan masyarakat di Jatinangor ini perlu dikemas dahulu dalam prrogram CSR agar masyarakat lebih mengenal dan natinya tercipta rasa memiliki masyarakat terhadap UPT.

Unpad sebagai warga negara yang baik tentunya harus berkontribusi terhadap masyarakatn yang memerlukan tanggungjawab sosial. Begitu pun Lembaga Pengabdian pada Masyarakat (LPM) perlu lebih mengembangkan salah satu program CSR, tidak hanya terjebak dengan kegiatan projek sesaat saja sehingga CSR Unpad lebih bunyi.

Masalah CSR ini, ternyata pemerintah melalui peraturan pemerintah untuk mewajibkan setiap perusahaan, terutama perusahaan yang bersentuhan dengan sumber daya alam, seperti pertambangan, untuk melakukan CSR, kewajiban ini bisa berdampak positif terhadap masyarakat tetapi negatif kepada investorr, jangan-jangan dengan wajibnya CSR bisa pindah ke negara lain.

Sebagai contoh, CSR yang dilakukan Universitas Padjadjaran melatih guru-guru sekolah bagaimanan mengajar para siswa mereka dalam bentuk kiat masuk perguruan tinggi. Memang kegiatan CSR itu ada yang filantrropi (keihlasan) atau promosi, tergantung niat korporat, termasuk CSR bagi pergurruan tinggi. Melalui optimalisasi salah satu orientasi perguruan tinggi yakni pengabdian masyarakat, selain berorientasi pendidikan/pengajaran dan penelitian.

Dalam wacana singkat ini, penulis berharap hadirnya program CSR bagi PTN yang kaut dan tangguh berbasis visi pendidikan yang jelas dan terasa kontribusinya bagi publik atau masyarakat. Ini pun perlu dukungan semua civitas academica tentang pentingnya kepedulian terhadap masyarakat lain yang memerlukannya. Semoga………#OP081007B#

Lukiati Komala, Ketua Jurusan Ilmu Humas Fikom Unpad dan Dosen Magister Public Relations (Kelas Khusus) Pascasarjana Fikom Unpad dan Kelas Reguler Unpad. (PR)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

  • Arkeologi

  • Trader

  • Energi Alternatif

  • Bencana Global 2050

  • Flying

  • Kereta Api

  • Konstruksi – Arsitektur

%d blogger menyukai ini: