Kontradiksi Cita-cita MDGs

Rabu, 17 Oktober 2007, dunia memperingati Hari Anti Pemiskinan Sedunia dengan mengusung tema “Bangkit dan Suarakan”. Menurut para pelakunya, hal itu berarti seruan dunia melawan pemiskinan dan menyuarakan dukungan bagi pencapaian tujuan pembangunan milenium (“millennium development goals”/MDGs)

Kampanye antikemiskinan yang telah berlangsung selama tiga tahun terakhir dirancang dalam suatu gerakan internasional bernama Global Call Against to Poverty (GCAP)- Seruan Global untuk Memerangi Kemiskinan.

GCAP adalah aliansi dunia yang berkomitmen untuk mendesak pemimpin negara-negara di dunia untuk menepati janjinya menghapuskan kemiskinan seperti tertuang dalam Millennium Declaration. Pada awalnya, kampanye hanya melibatkan beberapa negaa, kemudian berkembang sangat cepat menjadi kampanye yang dilakukan lebih dari 100 negarra dan berhasil memobilisasi lebih dari 23 juta orang di tahun 2006.

Berdasarkan www.stoppemiskinan2015.org di Indonesia sendiri, 45 ribu orang telah bergabung dan menyatakan dukungannya serta tercatatat oleh MURI sebagai rekor kampanye dengan peserta terbanyak selama 24 jam.

Tujuan dan pesan utama kampanye tersebut adalah menagih pemerintah atas pemenuhan janji pembangunan yakni kesejahteraan rakyat yang merata, paralel dengan MDGs-melalui aksi nyata yang bewrpihak terhadap orang miskin dan rentan, merealisasikan solidaritas sosial masyarakat terhadap orang miskin, dan memperluas konstituen yang mendukung pemenuhan komitmen MDGs.

Millennium Development Goals adalah sebuah inisiatif pembangunan yang dibentuk tahun 2000 oleh perwakilan-perwakilan dari 189 negara dengan menandatangani deklarasi yang disebut sebagai Millennium Declaration. Negara yang menandatangani tidak hanya negara kaya, melainkan juga negara-negara berkembang dan bahkan negara miskin.

Millennium Declaration ini mengandung 8 poin yang harus dicapai sebelum tahun 2015. Kedelapan tujuan tersebut, yakni penghapusan kemiskinan (eradicate extreme poverty and hunger), pendidikan untuk semua (achieve universal primary education), persamaan gender (promote gender equality and empower women), perlawanan terhadap penyakit (combat HIV-AIDS, malaria, and other diseases), penurunan angka kematian anak (reduce child mortality), peningkatan kesehatan ibu (improve maternal health), pelestarian lingkungan hidup (ensure enviromental sustainability), dan kerjasama global (develop a global partnership for development).

Sejak ditetapkan awal milenium, target MDGs belum berhasil menurunkan kematian 500.000 perempuan akibat melahirkan setiap tahunnya di negeri-negeri miskin. MDGs juga dibuat kalang kabut menghadapi 827 juta orang yang akan hidup dalam kemiskinan ekstrem pada 10 tahun mendatang; 50 negara yang sudah semakin miskin; serta 65 negeri yang berisiko menyusul miskin 35 tahun lagi (The Human Development Report: 2005). Indonesia, bersama Bangladesh, Laos, Mongolia, Myanmar, Pakistan, Papua Nugini, dan Filipina pun dinyatakan paling gagal dalam pencapaian MDGs oleh Asian Development Bank (ADB), tahun 2006 lalu.

Sekilas MDGs memang tampak begitu menjanjikan; seakan-akan kemiskinan di negeri-negeri dunia ketiga adalah penyakit bawaan yang harus diobati oleh resep-resep dari pemerintah negeri-negeri adidaya (pemilik hak veto PBB) dan institusi-institusi finansial internasional (IFIs). Atas dasar itulah, MDGs dideklarasikan dan Bank Dunia (WB) serta Bank Pembangunan Asia (ADB) “bermurah hati” mendanai berbagai proyek MDGs lewat berbagai skenario utang baru maupun debt swap.

Banyak pengamat domestik kemudian mengutak-atik resep yang tepat agar MDGs dapat tercapai mulai dari menuntut komitmen, profesionalisme, dan akuntabilitas pemerintah, hingga menuntut penghapusan hutang sebagai bentuk tanggung jawab kreditor terhadap kegagalan kebijakan MDGs (press release INFID, 17 Oktober 2006). Namun perlu dipahami bahwa cita-cita MDGs sudah sejak awal berkontradiksi dengan berbagai paket kebijakan globalisasi neoliberal yang dijalankan pemerintah-pemerintah 189 negeri anggota PBB; penanda tangan MDGs.

Berbagai data perkembangan dunia sepuluh tahunterakhir menunjukkan bahwa globalisasi neoliberal malah mengglobalkan kemiskinan daripada kemakmuran. Membuat 2,5 miliarr (40%) rakyat hidup di bawah 2 USD/hari; berbagi hanya 5% dari total pendapatan dunia; sementara 54% pendapatan tersebut masuk ke hanya 10% kantung orang-orang terkaya di negeri-negeri maju. Negeri-negeri miskin harus menaggung beban dan bunga utang yang luar biasa besar, sementara pemodal-pemodal asing negeri-negeri maju menguasai sumber-sumber alamnya yang seharusnya dapat membiayai kesejahteraannya.

Pemaksaan syarat-syarat demi kemudahan investasi dan perdagangan bebas membuat sumber-sumber kekayaan alam di negeri-negeri dunia ketiga habis dimiliki oleh asing (AS, Jepang, dan Eropa) dan keuntungan masuk ke kantung-kantung asing; membuat barang-barang asing bebas masuk (impor beras, tekstil, dan barang konsumsi lainnya); subsidi pangan, pendidikan, kesehatan dicabut; perusahaan milik negara, termasuk lembaga pendidikan (universitas) dan rumah sakitnya dijual ke swasta asing. Resep semacam ini, padahal, telah membuat bangkrut (tak bisa membayar utang) sebagian negeri di Amerika Latin (seperti kasus krisis utang Argentina tahun 2001) di awal milenium.

Ketidak mampuan debitur membayar cicilan utang dan bunganya, adalah tamparan (baca:krisis) bagi negeri-negeri kreditor dan lembaga donor, yang berarti ancaman bagi kelangsungan sistem neoliberalisme yang bersandar pada mekanisme utang laur negeri. Ada dua kecurigaan yang kemudian pantas kita tujukan kepada para konseptor neoliberal tersebut; pertama,  jangan-jangan MDGs lahir sebagai respons kepanikan, akibat resep ekonomi neoliberal tidak terbukti menyejahterakan; kedua, MDGs sangat mungkin menjadi wadah cuci tangan kreditor, dengan semata-mata membebankan kegagalan MDGs sebagai “kesalahan manajemen pemerintah”, atau kurangnya political will dan good governance.

Kebijakan ekonomi makro Indonesia yang proneoliberalisme tidak memberikan syarat bagi kesuksesan MDGs. Ketika 3 tujuannya menargetkan peningkatan kesehatan, di sisi lain pelayanan kesehatan berkualitas semakin tak terjangkau orang miskin; baik karena tingginya biaya rumah sakit karena tingginya biaya rumah sakit, dokter spesialis, maupun obat-obatan. Privatisasi rumah sakit, perusahaan farmasi, dan universitas memberi sumbangan penting bagi kenaikan harga pelayanan.

Bila peningkatan pendapatan dipahami sebagai faktor penting pendukung MDGs, sangatlah sulit mengejar penyediaan penyediaan lapangan kerja bagi 40,4 juta jiwa (38% dari angkatan kerja) penganggur ditengah kehancuran industri nasional dan terengah-engahnya pengusaha kecil menengah akibat derasnya liberalisasi pengangguran perdagangan dan sulitnya modal. Dikuasainya 41 bank-bank besar nasional (menguasai menguasai sekitar 48,5% dari total aset perbankan) membuat kucuran kredit untuk UKM menjadi transaksi keuangan yang kurang menguntungkan. Sangat sulit membayangkan keberhasilan MDGs jika sebagian besar tanggung jawab sosial pemerintah, di kuasai lewat cabang-cabang produksi yang menguasai hajat hidup orang banyak, sudah dipreteli dan dikomersilkan (baca : di privatisasi ke pihak-pihak. Semakin sulit jika negeri-negeri debitur masih terus-menerus dipaksa membayar utang luar negeri. Bahkan MDGs hanyalah angan-angan, jika uang dari hasil sumber alam juga dimiliki asing.

Selama utang luar negeri dan penguasaan sumber daya alam negeri-negeri miskin oleh asing tidak digugat, MDGs hanya akan menjadi pajangan belas kasihan negeri-negeri maju kepada negeri-negeri miskin; yang tak dapat mengubah situasi kemiskinan secara struktural…….#OP171007A.

Zely Ariane, Staff Litbang Lembaga Pembebasan, Media, dan Ilmu Sosial (LPMIS), bandung. (PR)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

  • Arkeologi

  • Trader

  • Energi Alternatif

  • Bencana Global 2050

  • Flying

  • Kereta Api

  • Konstruksi – Arsitektur

%d blogger menyukai ini: