Cisumdawu, Apa Kabarmu Kini?

Jalan raya antara Bandung dan Sumedang sepanjang 45 km, merupakan segmen jalan arteri antara Anyer (Banten)-Panarukan (Jawa Timur) berjarak total 1.000 km. Dibangun pada awal abad ke-19 saat pemerintahan Hindia Belanda, dengan Gubernur Jenderal Daendels. Sejarah mencatat bahwa terdapat kejadian monumental terjadi pada projek poros antara Bandung dan Sumedang, karena terdapat segmen jalan (hanya 2 km) yang disebut Cadaspangeran. Pada segmen tersebut jika diukur dari kemampuan teknologi saat itu memiliki tingkat kesulitan tinggi sehingga durasi projek menjadi lama walaupun sudah menerapkan sistem kerja paksa, sehingga korban jiwa masyarakat Sumedang tidak bisa terhindarkan.

Kini sudah 200 tahun umur jalan raya sepanjang 1.000 km tersebut berfungsi melayani masyarakat Indonesia. Jalan tersebut telah berperan sebagai urat nadi dalam menggerakkan arus barang dan orang sehingga jalan arteri ini diposisikan sebagai jalan yang memiliki fungsi kritis. Dengan kata lain jika terjadi sesuatu pada porros ini akan berakibat sensitif terhadap sektor ekonomi rakyat.

Ruas jalan sepanjang 45 km antara Bandung-Sumedang kini bukan lagi ruas yang nyaman untuk dilalui. Waktu tempuh rata-rata sampai dengan dekade ‘80-an adalah 1 jam, dekade ‘90-an 1,5 jam, dan kini memasuki awal abad 21 sudah mencapai 2 hingga 2,5 jam pada kondisi peak hour, sebuah fenomena perjalanan yang sudah tidak lagi dinyatakan nyaman.

Dengan kata lain, bahwa tingkat pelayanan sistem transportasi jalan raya ruas Bandung – Sumedang sudah tergradasi, adapun penyebabnya antara lain.

Pertama, hingga pertengahan dekade ’90-an titik yang mengalami penyempitan terletak pada segmen Cadaspangeran, tetapi sekarang titik itu sudah mengalami pelebaran yang sangat baik sehingga arus lalu lintas menjadi lancar. Namun, kemacetan lalu lintas saat ini lebih disebabkan oleh tata guna lahan (land use) di kawasan Jatinangor yang kurang terencana sehingga banyak sistem aktivitas yang muncul di sepanjang ruas ini.

Kawasan Jatinangor yang terletak 25 km ke arah Timur Bandung merupakan kawasan pendidikan yang memiliki jumlah mahasiswa terbanyak di Jawa Barat (bahkan mungkin di Indonesia) di kawasan ini terdapat 4 buah perguruan tinggi yaitu IPDN, Ikopin, Unwim, dan Unpad, dengan puluhan ribu mahasiwa sebagai “penghuni siang”, dan sebagian penghuni tetap (kos). Akan halnya sebuah sistem aktivitas, kawasan Jatinangor telah menjelma sebagai pembangkit perjalanan (trip generation) “dari dan ke” kawasan tersebut, dan serta merta menciptakan kebutuhan turunannya (derived demand), seperti kios, rumah makan, terminal, mal, bank, SPBU, toko buku, warrtel, warnet, dan tempat hiburan, dengan demikian kawasan ini sudah berperan ganda karena selain sebagai trip generation juga sekaligus berperan sebagai penarik perjalanan (trip attraction), maka jalan raya pada segmen ini telah mengalami beban sangat berat.

Mengingat tidak seimbangnya kapasitas sistem transportasi dengan sistem aktivitas di kawasan ini, fenomena alamiah yang pasti muncul adalah kemacetan lalu lintas (traffic jam).

Kedua, kawasan Bandung metropolitan sebuah kawasan yang menjadi tujuan berbagai kepentingan karena selain statusnya sebagai pusat pemerintahan Prrovinsi Jawa Barat, juga sebagai pusat industri, jasa, niaga, wisata, dan pendidikan, maka derasnya arus barang dan orang “dari dan ke” arah Timur Bandung menjadi tak terbendung, baik yang commuter trip maupun temporary trip.

Ditambah pada saat industri-industri di kawasan Bandung telah melakukan konversi energi dari bahan bakar minyak ke batu bara, sedangkan batu bara yang berasal dari Kalimantan tersebut diangkut menuju Bandung dari pelabuhan Cirebon, dengan menggunakan ratusan tronton yang memiliki daya angkut hingga 30 ton, maka kelambatan bahkan kemacetan lalu lintas pada jalur ini sudah menjadi pengalaman buruk berkendara yang selalu dirasakan para pengguna jalan.

Ketiga, jalan tol Purbaleunyi sudah berperan penting dalam melancarkan arus lalu lintas dari Jakarta dan sekitarnya yang akan menuju Timur lewat jalur tengah, dan derasnya arus kendaraan tersebut dipastikan membebani poros jalan Bandung-Sumedang. Sehingga kinerja pelayanan jalur arteri pada segmen jalan ini sudah mencapai pada titik nadir.

Upaya menyelesaikan masalah lalu lintas pada segen Bandung-Sumedang terdapat dua pendekatan, yaitu melalui (1) perbaikan traffic management yang menjadi tanggungjawab Departemen Perhubungan, dan (2) pembangunan infrastruktur, menjadi tanggungjawab Departemen Pekerjaan Umum.

Perbaikan pelayanan transportasi melalui pendekatan traffic management adalah mengoptimalkan fasilitas yang ada dan bisa dilakukan jika masalah lalu lintas yang dihadapi masih dalam ambang batas normal dan bisa diselesaikan dengan kegiatan pembauatn marka jalan, median, pembagian lajur antara kendaran roda dua dan kendaraan besar, regulasi, rambu-rambu, zebra cross, pemberlakuan sistem buka tutup, dan lain-lain yang sifatnya short-term solution. Sedangkan pendekatan infrastruktur adalah sebuah solusi untuk menyelesaikan masalah lalu lintas yang sudah di atas ambang batas normal, meliputi pelebaran jalan, pembuatan jalan baru, flyover, underpass,atau pembangunan infrastruktur jalan komersial (tol) sehingga melalui pendekatan infrastruktur ini akan bisa menyelesaikan masalah lalu lintas yang bersifat long term solution.

Rencana pembangunan jalan bebas hambatan yang membentang dari Cileunyi, Sumedang, dan Dawuan (disngkat Cisumdawu) dengan jarak 53 km, secara kewilayahan melalui 3 kabupaten, yaitu Kabupaten Bandung, Sumedang, dan Majalengka terdiri atas 12 kecamatan dan puluhan desa, namun lintasan terpanjang berada pada Kabupaten Sumedang.

Hingga saat ini Cisumdawu hanya sebuah wacana tingkat elite sehingga publik hanya bisa berharap karena tak ada satupun investor yang berminat untuk menanam modal pada infrastruktur ini, dengan alasan bahwa ruas tersebut merupakan lintasan sepi, sehingga tingkat payback periode-nya memerlukan waktu lama.

Jika disimak berdasarkan sudut pandang pengembanganb wilayah, tol Cisumdawu niscaya mampu mendongkrak perekonomian Jabar Timur atau Ciayumajakuning. Jika ekonomi wilayah ini sudah berkembang dapat dipastikan akan membangkitkan kebutuhan terhadap penggunaan tol tersebut, jadi terdapat 2 kepentingan yang saling berkonflik, yaitu (1) kepentingan investor adalah prasarana tol hanya dapat dibangun jika wilayahnya sudah berkembang agar potensi permintaan terhadap jasa tol tinggi, (2) sementara kepentingan masyarakat atau pemerintah adalah jsutru perlunya dibangun tol terlebih dahulu agar mampu mengembangkan perekonomian wilayah.

Kepentingan yang kontradiktif  tersebut perlu kompromistik (trade off) melalui suatu sistem yang bisa menguntungkan dua kepentingan tersebut, antara lain (1) Pemprov Jabar dan Pemkab Sumedang, Bandung, dan Majalengka memberi insentif kepada investor dengan cara membebaskan pajak jalan tol, dan pajak reklame selama kurun waktu tertentu, (2) Cisumdawu harus terkoneksi dengan jalan arteri Kota Bandung agar potensi permintaan lebih tinggi dan masalah lalu lintas di sebagian Kota Bandung menjadi terselesaikan.

Padahal para investor pun harus maklum bahwa jika suatu sistem transportasi telah terbangun dan menghasilkan kinerja pelayanan yang baik, pasti akan mengundang pembangunan sistem aktivitas, dan pada gilirannya akan mampu membangkitkan lagi permintaan terhadap sistem transportasi tersebut, jadi kehawatiran akan terjadi slow yielding akan mampu ditepis.

Keberatan investor untuk membangun tol Cisumdawu selain karena mereka menganggap sebagai jalur sepi, juga karena belum terbebaskannya lahan yang akan dilaluinya, padahal urusan pembebasan lahan merupakan government domain, jadi alasan utama kurangnya minat para calon investor bukan hanya karena sedikitnya permintaan pengguna jalan tol tersebut, meinkan lebih disebabkan oleh belum dibebaskannya lahan.

Biaya pembebasan lahan ini dilakukan secara sharing antara APBN dan APBD, namun sampai sekarang gaung pembebasannya masih belum terdengar dan jika kegiatan pembebasan yang menjadi prasyarat pembangunan konstruksi sudah selesai niscaya para investor akan banyak yang berminat dengan demikian bola panas ini masih ada di pihak pemerintah.

Keterlambatan pembangunan Cisumdawu akan berdampak terhadap pembangunan Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) di Kertajati Majalengka, karena keberadaan fasilitas publik ini sangat bergantung pada adanya Cisumdawu, karrena potensi pasar pengguna jasa Bandara masih didominasi masyarakat sekitar Bandung. Metropolitan, dan jika tol Cisumdawu masih belum terbangun, dapat dipastikan eksistensi BIJB akan terancam.

Oleh karena itu, projek Cisumdawu dan BIJB merupakan projek kembar yang memiliki derajat ketergantungan yang sangat tinggi, dengan demikian penetuan prioritas pembangunan harus dikaji secara mendalam, namun hanya terdapat dua alternatif prioritas, (1) Cisumdawu harus menjadi pendahulu (predecessor), sedangkan BIJB sebagai pengikut (successor), dan tidak bisa dibalik, (2) akan lebih elegan jika dilakukan secara simultan (concurrent), maka jika salah satu alternatif ini yang diambil akan terjadi saling penguatan fungsi dan manfaat dari kedua megaprojek tersebut.

Untuk merealisasikan harapan masyarakat diperlukan keberanian dan ketegasan dari para pengambil kebijakan.

Keterlambatan Bendung Jatigede lebih beralasan karena memerlukan modal besar dan bukan infrastruktur yang komersial, tetapi Cisumdawu adalah infrastruktur komersial sehingga para pengguna jasa ini bersedia untuk membayar, sehingga cepat atau lambat biaya pembangunan projek ini pasti akan memiliki tingkat pengembalian (rate of return) yang terukur.

Jika di awal abad 19 Gubernur Jendral Deandels dan Bupati Sumedang Pangeran Kornel, mampu melakukan kejutan, apakah Gubernur Jabar dan Bupati Sumedang hasil Pilkada 2008 akan mampu bertindak hal yang sama? Masyarakat Sumedang tetap sabar menunggu……………………#OP171007B#

Zely Ariane,(putra Sumedang), dosen Teknik Industri Unpas Bandung, Sekretaris Litbang PB Paguyuban Pasundan, serta Pengurus LP3E Kadin Jabar. (PR)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

  • Arkeologi

  • Trader

  • Energi Alternatif

  • Bencana Global 2050

  • Flying

  • Kereta Api

  • Konstruksi – Arsitektur

%d blogger menyukai ini: