Spekulasi Harga Migas

Ramalan bahwa kemenangan calon presiden yang properang dalam pemilihan presiden salah satu negara adikuasa dua tahun yang lalu akan berpengaruh terhadap harga minyak bumi, telah menjadi kenyataan. Kini harga minyak dunia telah menembus angka di atas 80 dolar per barel atau lebih kurang Rp. 5000,00 per liter. Malahan, perkembangan terakhir menunjukkan harga sudah melewati 90 dolar walaupun hanya beberapa saat. Para pengamat memperkirakan bahwa harga akan terus meningkat sampai 100 dolar atau lebih per barel karena menghadapi musim dingin yang akan segera tiba.

Berdasarkan pengalaman selama ini, ketegangan di kawasan Timur Tengah selalu melambungkan harga minyak bumi dunia. Perang Irak yang ternyata berkepanjangan, menyebabkan harga minyak bumi menembus angka yang lebih tinggi dari angka krisis energi, 55 dolar per barel. Sekarang berbagai ketegangan di kawasan Timur Tengah telah mendorong harga menembus 80 dolar.

Dipandang dari sudut geopolitik, keadaan ini mudah dipahami, oleh karena bumi Timur Tengah mengandung cadangan minyak sebanyak 65% dari seluruh cadangan dunia, sehingga setiap gejolak akan besar pengaruhnya terhadap keandalan suplai.

Organisasi penghasil minyak bumi OPEC dikabarkan berniat untuk meningkatkan produksinya dan membanjiri pasar dengan minyak. Pengalaman pada masa yang lalu menunjukkan bahwa upaya semacam ini tidak efektif. Pada akhirnya spekulasi dituding sebagai penyebab. Faktor fundamental ekonomi yang sederhana seperti kelangkaan dan meningkatnya permintaan atau hukum supplay dan demand telah dieliminasi oleh faktor-faktor lain.

Semula harga minyak bumi dunis berkarakter fluktuatif. Ketegangan yang sifatnya lokal dan temporal, telah direspons dengan “jujur” oleh harga. Begitu ketegangan mereda, maka harga turun kembali. Penyesuaian harga telah berjalan sesuai dengan mekanisme pasar dengan sedikit distorsi yang dilakukan OPEC. Sering kali upaya mengoreksi pasar hanya dalam bentuk “coersion” dengan cara mengindikasikan niat untuk meningkatkan produksi.

Mungkin niat itu hanya sebatas kesepakatan dalam konferensi belaka.

Harga rata-rata minyak pada abad yang lalu terlihat fluktuatif, berkisar pada angka antara 10 sampai 20 dolar, dengan sedikit gangguan pada waktu krisis energi antara tahun 1979 sampai 1981. Memasuki abad milenium, harga tidak fluktuatif lagi. melainkan meningkat konsisten, dimulai dengan 27, kemudian 55 dolar, 70,dan akhirrnya menembus 80 dolar.

Gejolak politik di wilayah penghasil minyak seperti di Negeria dan Venezuela sudah berhenti. Sementara itu, perselisihan antara Pemerintah Rusia dan perusahaan negara miliknya sendiri, Yukos telah berakhir. Ketegangan sekarang terbatas di wilayah Timur Tengah, tetapi tidak meluas dan sifatnya temporal.

Namun demikian, harga melonjak sedemikian rupa secara terus-menerus. Tampaknya terdapat unsur yang sifatnya lebih struktural, ketimbang hanya karena ketegangan. Adalah beralsan bila timbul pertanyaan apakah harga ini dimainkan untuk memarginalkan negara-negara miskin?

Pada peristiwa kali ini telah terjadi aksi borong khususnya di pasar New York. Harga transaksi telah terbentuk pada tingkat 89,78 dolar untuk penyerahan bulan November. Memasuki bulan November, diperkirakan spekulasi akan terus meningkat dengan datangnya musim dingin. Oleh karena itu, banyak pengamat memprediksi bahwa harga minyak bumi akan menembus 100 dolar per barel, kecuali bila ada perubahan yang dratis dalam menajemen konflik di Timur Tengah.

Sejak krisis energi tahun 1979 yang lalu, dunia telah mencoba menggalakkan berbagai energi alternatif. Tetapi sampai sekarang semua energi alternatif itu belum operasional. Negara-negara yang menganggap tenaga nuklir sebagai energi alternatif dan sudah sejak awal menguasainya, mungkin tersenyum lebar saat ini karena biaya produksi tenaga ini 30 dolar untuk jumlah kalori yang sama dengan 1 barel minyak bumi.

Di sisi lain, suplai bahan baku energi jenis ini tidak mengkhawatirkan karena penggunanya terbatas dan sumbernya tersebar.

Sumber energi alternatif yang bayak diidolakan adalah biofuel yaitu bahan bakar yang berasal dari tumbuh-tumbuhan. Bahkan bakar ini bersih dan terbarukan karenanya secara teoritis, tidak mencemari udara dan tidak akan pernah habis. Sejauh ini tanaman yang menghasilkan bahan bakar tersebut adalah kelapa sawit, tebu, sagu, singkong, dan jarak pagar. Tetapi semuanya adalah bahan makanan, kecuali jarak pagar.

Penggunaan bahan pangan untuk bahan bakar sudah pasti akan memicu kenaikan komoditas pangan dunia. Beberapa waktu yang lalu misalnya, terjadi lonjakan harga minyak goreng yang diproduksi dari kelapa sawit. Aspek lainnya adalah masih menjadi pertanyaan, apakah masih secara sosial dan kultural para petani, khususnya petani Indonesia, relas untuk membakar bahan makanan?  Selanjutnya apakah mereka bersedia mengurangi lahan tanaman pangan untuk menanam pohon jarak yang bukan tanaman pangan?

Dari sudut ketahanan pangan, bagaimana posisi “lumbung hidup ?” apakah R/C (revenue/cost ratio) tanaman jarak pagar lebih tinggi dari tanaman pangan? Barangkali untuk pengisi lahan kritis mungkin tanaman jarak pagar dengan segala hasil sampingannya bisa kompetitif.

Sumber energi lain yang pada masa lalu secara mendunia giat dimasyarakatkan adalah energi laut, angin, dan matahari. Dengan berbagai alasan, sumber energi itu sampai sekarang belum efektif, walaupun dalam skala demonstrasi telah dipertontonkan di berbagai tempat. Sangat mungkin menunggu harga minyak bumi yang jauh lebih tinggi, supaya nilai keekonomianya menjadi kompetitif. Para ahli memperkirakan hal ini masih harus menunggu 10 sampai 20 tahun lagi.

Sumber energi alternatif yang realistis dan dapat diandalkan bagi Indonesia adalah batu bara, gas bumi, dan panas bumi yang cadangannya cukup. Kekayaan batu bara Indonesia diperkirakan mencapai lebih dari 40 miliar ton dan mampu berproduksi selama 300-400 tahun. Gas bumi punya cadangan sebanyak 300 trillion cubic feet (tcf) dan cukup untuk selama 100 tahun. Energi alternatif yang lain adalah panas bumi sebesar 35 ribu Mega watt, yang sampai sekarang baru disentuh kurang dari 10%.

Masalah yang dihadapi di lapangan adalah terjadinya tarrik menarik atau sampai kepada dilema antara eksploitasi cadangan energi yang cukup kaya ini dengan pengelolaan hutan yang dianggap sebagai paru-paru kota. Sebenarnya pengelolaan pertambangan terpadu mampu menjaga paru-paru dunia itu, malahan meningkatkan nilai lingkungan menjadi kehidupan yang berkesinambungan. Mineral energi yang dihasilkan pertambangan dapat dianggap sebagai by product dari pemuliaan lingkungan.

Bagaimana juga harga energi telah dibentuk oleh para pemain dunia dan tidak satu pihak pun mampu mengendalikannya. Apalagi dalam alam pasar bebas, tidak ada satu tangan pun yang boleh mendistorsi pasar. Sangat sulit untuk membayangkan bahwa harga itu akan kembali kepada keadaan pada abad yang silam. Malahan dalam jangka panjang, tampaknya harga akan terus meningkat. Oleh karena itu diperlukan kemampuan beradaptasi yang tinggi, antara lain melalui kombninasi beberapa jenis energi (energi mix).

Adaptasi bisa terjadi bila daya tarik ekonomis dikedepankan, seperti misalnya, tanpa paksaan orang akan memanfaatkan gas karena lebih kompetitif dari segi harga, kenyamanan, dan keandalan. Demikian juga penggunaan batu bara dan briket batu bara. Pemakaian minyak jarak pagar dan briket jarak mungkin kompetitif di daerah tandus. Dari hal itu semua, tindakan adaptif yang paling penting adalah kebijakan untuk meciptakan kondisi yang lebih kondusif bagi eksplorasi dan eksploitasi sumber energi terutama yang berkaitan dengan konsistensi hukum………#OP251007A#

Tahun

Harga

(SAS)

Peristiwa

1950-1970

2

Oligopoli “The Seven Sisters”
1973-1979

12-13

Perang Libia, penutupan Terusan Suez,nasionalisasi perusahaan asing
1979-1981

35-39

Revolusi Iran, Perang Iran-Irak (krisis energi)
1981-1990

12-20

Harga Normal, terkendali
1990-1991

32

Perang Teluk
1991-2001

10-22

Harga Normal, terkendali
2001

27-29

Peristiwa 11 September
2001-2003

33

Peperangan di Afganistan dan rencana perang oleh Amerika Serikat dan sekutunya thd Irak
2003

39

Perang di Irak pecah
2004-2005

50-55

Perlawanan Irak berkelanjutan
2006

60-70

Ketegangan di Irak dan beberapa tempat di Timur Tengah
2007

80-100

Ketegangan di beberapa temapt di Timur Tengah (security premium?)

Adjat Sudradjat, analis masalah geologi dan pertambangan, tinggal di Bandung. (PR)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

  • Arkeologi

  • Trader

  • Energi Alternatif

  • Bencana Global 2050

  • Flying

  • Kereta Api

  • Konstruksi – Arsitektur

%d blogger menyukai ini: