Harga Minyak dan APBN Kita

Perekonomian dunia masih tertekan setelah harga minyak mentah melonjak tajam dari 85 dolar AS per barel menjadi 90,7 dolar pe barel meskipun kembali bertengger pada level kisaran 85-86 dolar AS per barel dalam beberapa pekan. Namun, para pemehati ekonomi dunia belum dapat memastikan kapan fluktuasi harga akan mereda. Kepanikan ditandai dengan melemahnya kurs dolar AS terhadap kurs mata uang asing seperti yen dan euro. Bahkan, saham-saham unggulan di bursa saham New York turut terkoreksi pada level yang tipis.

Faktor psikologis pelaku ekonomi dunia dan masalah Timur Tengah yang selama ini terus bergejolak menjadi faktor pemicu utama sehingga menyebabkan keseimbangan ekonomi dunia sedikit goyah. Namun, dilihat dari pengalaman historinya persoalan harga minyak dunia selalu menggeliat ketika masuknya masa musim dingin di daratan Eropa khususnya bagian utara. Eskalasi volume konsumsi minyak dunia meningkat seiring dengan tingginya pemakaian minyak sebagai energi penghangat yang diperlukan untuk mengimbangi kondisi dingin yang kerap mengganggu kenyamanan hidup masyarakat Eropa.

Kekhawatiran akan menipisnya persediaan minyak semakin memuncak manakala terdengar pasukan gerilyawan Turki akan menyerang negara Irak yang dikenal sebagai salah satu negara pemasok terbesar bagi pasar minyak mentah dunia. Ekspektasi kecemasan inilah yang mendorong pembelian minyak mentah dalam volume yang besar berjalan seiring dengan semakin melesatnya tingkat harga minyak dunia. Apabila persoalan harga minyak mentah ini tidak diantisipasi maka diperkirakan perekonomian negara-negara dunia menjadi tertekan sehingga pada akhirnya akan menyulitkan perekonomian dunia untuk berkembang dan memaksa sejumlah transsaksi perdagangan dunia harus dijadwalkan kembali.

Di samping itu, dapat dipastikan negara-negara yang bukan pengekspor minyak akan merevisi kondisi fiskalnya sebab neraca perdagangan masing-masing negara akan mengalami ketidak seimbangan yang luar biasa. Hal itu disebabkan negara yang bukan ekspor minyak mentah tidak dapat menikmati keuntungan dari naiknya harga minyak di pasar internasional sehingga mereka akan menguras simpanan devisa mereka untuk membiayai belanja ekonomi negara.

Sedangkan negara-negara pengekspor minyak mentah sedikit lega dengan kenaikan harga minyak mentah tersebut karena dapat mengeruk keuntungan dari selisih harga yang besar. Meskipun demikian, mereka sendiri pun harus melakukan penyesuaian-penyesuaian fundamental mengingat tingginya penggunaan konsumsi BBM sebagai tindakan rasional bagi pemenuhan konsumsi penggunaan BBM penduduk yang populasinya cukup besar dan tingginya pemakaian BBM bagi kebutuhan produksi industri pengolahan.

Dari semua sisi dari gejolak harga minyak mentah dunia, sebenarnya yang memegang peranan penting dan strategis adalah organisasi negara-negara pengekspor minyak mentah dunia (OPEC). Hal itu sangat mendasar karena OPEC-lah satu-satunya organisasi resmi pengekspor minyak dunia yang memiliki otoritas untuk menjaga dan mengendalikan harga minyak dunia. Namun, sering upaya OPEC mengantisipasi gejolak harga minyak dunia di pasar internasional selalu terlambat.

Terdapat time lag sehingga tingkat harga minyak mentah dunia terlanjur tinggi. Sebagai organisasi bertaraf internasional OPEC memang dihadapkan pada gelombang perbedaan yang sangat tajam di antara negara-negara anggotanya. Faktor politik internasional dan arah kebijakan pemerintah masing-masing negara ikut memengaruhi keputusan-keputusan OPEC.

Hal itu pernah terjadi ketika OPEC kebingunan menetapkan harga minyak mentah dunia bersamaan dengan ancaman beberapa negara seperti Venezuela akan keluar dari OPEC hanya karena perbedaan prinsip. Kemudian OPEC harus mengubah strategi harga saat beberapa negara bukan OPEC akan meningkatkan produksinya untuk mengimbangi produksi negara-negara anggota OPEC.

Semua itu membuat OPEC menjadi organisasi bertaraf internasional cenderung tidak luwes menetapkan kebijakan-kebijakan strategisnya.

Sebagaimana dikutip beberapa media internasional, Sekjen OPEC Abdalla Salem El-Badri saja hanya bisa berujar bahwa saat ini harga minyak dunia dirasakan tidak nyaman karena gejolak harga yang datang mendadak. Selanjutnya Abdalla menegaskan stabilitas harga minyak dunia menjadi terusik karena ulah para spekulan tingkat dunia yang mencoba mencari keuntungan sesaat dan sangat pragmatis saat memanfaatkan fluktuasi nilai dolar AS dan situasi geopolitik Timur Tengah yang memanas. Hal itu jelas dapat memengaruhi iklim perdagangan dunia dan atmosfer konstalasi dunia menjadi terganggu.

Terlepas dari pendapat Abdalla, sebenarnya OPEC bisa saja dengan segera mengubah keputusannya tentang kesepakatan negara-negara OPEC yang menetapkan produksi 500 ribu barel per hari terhitung November 2007. sebab OPEC adalah organisasi yang dalam perjalanannya sangat moderat dan selalu dipimpin oleh tokoh-tokoh profesional yang berasal dari negara-negara industri perminyakan dan enegri yang cukup teruji kemampuan manajerialnya.

Namun, OPEC belum juga bergeming untuk mengantisipasi kondisi harga minyak dunia sekarang ini. OPEC hanya berdalih bahwa meroketnya harga minyak dunia saat ini bukan merupakan persoalan fundamental dan kebutuhan konsumsi minyak dunia diperkirakan sudah cukup. Inilah bukti OPEC sebagai organisasi tempat bergabungnya negara-negara pengekspor minyak dunia yang tersohor lambat mengantisipasi lonjakan harga minyak dunia.

Padahal, seharusnya OPEC sudah dapat meredam gejolak harga minyak dunia dengan menambah volume produksi negara-negara anggotanya setidaknya 800 ribu barel per hari untuk mengimbangi ekspektasi masyarakat dunia yang khawatir akan berkurangnya pasokan minyak ke masing-masing negara mereka.

Penambahan produksi minyak OPEC sebetulnya sangat tepat. Berdasarkan Laporan Bulanan OPEC edisi Oktober 2007 yang dikutip DetikFinance, permintaan minyak dunia pada kuartal IV tahun 2007 akan meningkat dengan kenaikan 1,8 juta barel per hari dan rata-rata permintaan minyak mentah dalam tiga bulan ke depan akan mencapai 87,1 juta barela per hari. Pada tahun ini saja perkembangan rata-rata permintaan minyak dunia sudah mengalami kenaikan 1,3 juta barel per hari atau secara relatif naik 15 persen.

Bertambahnya produksi minyak mentah OPEC diharapkan dapat mendinginkan kembali gejolak harga sehingga ekspektasi masyarakat dunia dapat dieliminasi pada taraf yang lebih terjaga dan spektrum perdagangan internasional kembali pada jalan yang kondusif serta konsolidasi fiskal negara-negara di dunia dengan cepat berada pada bentuk performa semula.

Stabilitas harga minyak dunia yang terpelihara sangat penting bagi kalangan dunia usaha karena hampir 15-20 persen biaya produksi yang harus dipikul mereka berasal dari pembiayaan BBM. Padahal, setiap produksi yang rasional berharap bisa menekan biaya rata-rata produksi pada target skala ekonomi yang menguntungkan.

Meskipun sejumlah pengamat dan pejabat publik di tanah air mengatakan bahwa gejolk kenaikan harga minyak dunia tidak berpengaruh yang berarti terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tahun 2007 dan 2008, namun kenaikan harga tersebut harus tetap diwaspadai.

Sebab kanaikan harga minyak dunia sebesar satu dolar AS per barel diperkirakan akan membebani APBN sekitar Rp 400 miliar. Sementara patokan harga minyak dalam APBN baik APBN tahun 2008 dan APBN Perubahan Tahun 2007 yang disepakati DPR dan pemerintah adalah sama-sama menetapkan asumsi 60 dolar AS per barel. Sedangkan harga minyak dunia diperkirakan dalam empat bulan terakhir akan berada pada kisaran 82-85 dolar AS per barel. Itupun dengan harapan tidak ada lagui faktor pemicu yang berpotensi menggoyang harga minyak dunia kembali.

Suatu hal terpenting yang perlu dilakukan oleh poemerintah adalah tetap konsisten pada kebijakan minyak dan gas di jalur yang tepat yaitu menjaga lifting (produksi) minyak mentah dan kondensat 950.000 barel per hari agar beban APBN untuk mengimpor BBM tidak terlalu besar. Apabila produksi tersebut tidak tercapai saat harga minyak dunia yang sangat tinggi seperti sekarang ini maka cukup kuat kekhawatiran kita bahwa APBN tidak cukup kuat menanggung beban subsidi yang sudah cukup besar.

Selain hal itu, pemerintah juga harus intensif mengawasi jalur distribusi agar tidak terjadi penyelundupan minyak ke luar negeri karena para produsen dan agen-agen domestik diperkirakan akan tergiur dengan harga yang tinggi di luar negeri. Pemerintah diminta agar bertindak tegas untuk menindak pihak-pihak yang melawan hukum dalam hal kebijakan perminyakan dan gas nasional.

Kebijakan energi nasional khususnya minyak dan gas memang dituntut efektif agar tidak memukul perekonomian makro terutama menyangkut kemampuan APBN tahun 2008 dan sudah tentu tidak mengurangi kemampuan potensi industri nasional dalam menggali sumber-sumber penerimaan devisa negara. Dengan demikian, diharapkan persoalan gejolak harga minyak dunia tidak menghalangi kebijakan ekonomi nasional untuk mencapai pertumbuhan ekonomi nasional yang ditargetkan 6 persen lebih pada akhir tahun 2007 dan 7-8 persen pada akhir tahun 2008. Semoga!…………#OP241007A#

Coki Ahmad Syahwier, Pengamat Ekonomi ISEI Cabang Bandung Koordinator Jawa Barat dan Dosen/Praktisi Ekonomi dan Bisnis. (PR)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

  • Arkeologi

  • Trader

  • Energi Alternatif

  • Bencana Global 2050

  • Flying

  • Kereta Api

  • Konstruksi – Arsitektur

%d blogger menyukai ini: