Gerakan Kaum Muda

Perlu adanya revitalisasi etos dan visi gerakan pemuda kekinian. Caranya, menguatkan kembali etos gerakan kepemudaan atas dasar spirit kepedulian, keprihatinan, dan kompetisi sehat dengan berlandaskan pluralisme dan kondisi multikultural bangsa.

Visi dan konsepsi kebangsaan Indonesia yang berdasarkan Pancasila mulai ditinggalkan dan digantikan dengan arah yang tidak jelas, bahkan cenderung mengagung-agungkan liberalisme, materialisme, individualisme, dan kapitalisme tanpa diikuti tanggung jawab yang jelas. Karena itu, para pemuda saat ini berperan untuk “mengerem” arus globalisasi. Demikian dikemukakan Ketua Pusat Studi Hukum dan Pembangunan, Ade komarudin di jakarta, Selasa (23/10/2007).

Menurut penulis, kenyataan yang ditunjukkan oleh Ade komarudin itu bahkan sudah menggejala sejak Orde baru sehingga dibtuhkan pembaruan (reformasi) dalam segala bidang. Kini para pemuda kita masih tidak berdaya untuk mengubah realitas tersebut. Meskipun globalisasi memiliki sisi positifnya, baik secara langsung atau tak langsung, mereka pada umumnya telah terkena dampak negatif globalisasi. Kondisi yang mengkhawatirkan haruslah dicarikan solusinya, agar arah pembangunan bangsa dan negara kita tetap sesuai dengan cita-cita founding fathers yang telah mencetuskan amanat suci Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928.

Mengapa para pemuda dan mahasiswa Indonesia pada masa penjajahan secara aktif ikut berpolitik? Menurut Bung Hatta, jika para mahasiswa Belanda, Prancis, dan Inggris bisa menikmati sepenuhnya usia muda, pada masa itu para pemuda kita justru harus mempersiapkan diri untuk berani berkorban agar mampu mengubah nasib bangsa Indonesia ke arah kemerdekaan. Jika Max Weber mengaitkan perubahan nasib suatu bangsa pada “aliran kultural”, Ortega Y.Gasset memercayai fungsi kaum muda sebagai agen perubahan.

Kaum muda masa kini kurang berpotensi sebagai agen perubahan atau pembaruan sebab mereka berjuang penuh pamrih. Akibatnya, saat target obsesi pragmatisme tak tercapai, yang muncul menyumpah-serapahi para pemimpin. Semakin lama, Sumpah Pemuda seolah-olah berubah menjadi “sampah”. Itu terefleksi dari pudarnya nilai-nilai dan kareakter kebangsaan serta lunturnya idealisme, moralitas, bahkan spiritualitas.

Padahal, nilai-nilai itulah yang terbukti telah melahirkan sumpah bertuah pada 28 Oktober 1928. spirit perjuangan yang menyemangati Sumpah pemuda adalah kesadaran yang tinggi tanpa pamrih, bertemunya kecendekiaan dengan peran nyata dari kaum muda, dan peran kontekstual pemuda yang menentukan kepeloporan arah perjuangan bangsa saat itu.

Pertanyaannya, di manakah pengertian dan kesadaran pemuda masa kini untuk bersatu; di manakah keterpanggilan sosial dan kemanusiaannya di tengah kondisi rakyat kecil yang sangat memprihatinkan dengan angka kemiskinan dan pengangguran yang kian meningkat? Juga di manakah peran kepeloporan pemuda kita yang disertai ketulusan berkorban demi cita-cita kebangsaan dan kenegaraan yang lebih adil, sejahtera, dan beradab dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia?

Langkah-langkah strategis yang bisa dilakukan para pemuda untuk menjaga keutuhan NKRI, pertama adalah merekatkan kembali kohesi nasional. Caranya dengan memperkukuh persatuan dan kesatuan yang tidak bisa dilakukan secara parsial dan harus melibatkan semua komponen bangsa. Kedua, melakukan reorientasi dan revitalisasi wawasan kebangsaan, persatuan dan kesatuan bangsa serta integritas nasional. Kita menyadari terjadinya berbagai stagnasi dan distorsi dalam kehidupan kebangsaan ini menuntut peran pemuda dengan serius untuk kritis dan selektif terhadap berbagai aliran politik yang masuk.

Saat ini cita-cita kebangsaan sejak proklamasi 17 Agustus 1945 belum terwujud. Bahkan, bila kita runut sejak Sumpah pemuda 1928, terlalu lama menunggu sebuah perubahan atau pembaruan yang benar-benar bisa menjanjikan masa depan bangsa, yaitu bangsa yang terus-menerus mengalami perbaikan fundamentaluntuk mewujudkan cita-cita bersama (common sense) yang menjadi tonggak lahirnya sebuah bangsa Indonesia.

Pada kenyataanya, kebanyakan pemimpin negeri kita saat ini gagal dalam mengelola para pemuda untuk menjadi sebuah generasi bangsa yang utuh dan memiliki kepastian masa kini dan masa depan. Berbagai kegagalan seperti salah urus salah kelola, dan paradigma pembangunan yang tak berpihak pada pemberdayaan pemuda, telah melahirkan generasi yang terbelah, generasi koruptor, generasi narkoba, generasi borjuis baru, generasi konsumtivisme, dan generasi budaya santai. Akibatnya, tingkat kemajuan, kesiapan, dan daya saing generqasi muda bangsa ini tertinggal dengan generasi muda bangsa-bangsa lain.

Gerakan pemuda Indonesia, termasuk gerakan mahasiswa, mesti ditafsirkan ulang secarfa lebih aktual dan kontekstual sesuai perkembangan sosiokultural kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara dewasa ini. Sementara visi dan misi gerakan pemuda Indonesia harus diarahkan pada fragmentasi proses perubahan sosial-politik dan ekonomi yang lebih berpihak pada kepentingan hidup masyarakat luas atau rakyat di negeri ini. Termasuk yang penting didalamnya adalah pemberantasan perilaku korupsi yang sangat membahayakan masa depan kehidupan bangsa dan negara Indonesia.

Gerakan pemuda saat ini terlihat sangat ideologis dan pragmatis, bahkan hedonis dan materialistis. Gerakannya tidak fokus, tidak progresif, tidak memiliki visi bersama, bahkan terkotak-tokat sebab tidak memiliki arah yang jelas dengan artikulasi politik yang bisa ditafsirkan sebagai media proses pencerahan bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. Karena itu, gerakan pemuda perlu segera direvitalisasi agar bisa menjawab berbagai permasalahan kerakyatan dan kebangsaan.

Perlu adanya revitalisasi etos dan visi gerakan pemuda kekinian. Caranya, menguatkan kembali etos gerakan kepemudaan atas dasar spirit kepedulian, keprihatinan, dan kompetisi sehat dengan berlandaskan pluralisme dan kondisi multikulturitas bangsa. Selain itu, perlu menciptakan gerakan pemuda yang berpijak pada rasionalitas dan berorientasi kemandirian, serta kemampuan analisis sosial terhadap realita empiris yang menjadi fenomena kontemporer agar aktivitas kepemudaan selalu up to date.

Kiprah dari banyak organisasi kepemudaan sebagai tempat berhimpunnya kaum muda, kini harus dievaluasi kembali. Yang jelas, banyak organisasi kepemudaan yang belum dapat melahirkan satu model pemikiran yang mampu menunjang arah perubahan perpolitikan nasioanal yang lebih berpihak pada kepentingan rakyat kecil. Demikian halnya organisasi kepemudaan dan atau kemahasiswaan lainnya, dewasa ini tampak kurang memiliki artikulasi pemikiran politik perjuangan yang jelas dan memadai untuk konteks anak zamannya.

Subtansi pemikiran dan pesan moral di dalam gerakan pemuda kita saat ini begitu sempit, bahkan hampa dari makna moralitas pergerakan yang semestinya. Padahal, sebuah peradaban yang unggul dimulai dari munculnya pemikiran-pemikiran besar. Karena itu, gerakan intelektual khususnya dari para pemuda, pelajar, dan mahasiswa harus segera dibagkitkan agar mampu melahirkan pemikiran-pemikiran besar untuk menciptakan perubahan dan pembaruan dalam berbagai bidang sesuai dengan tuntutan reformasi.

Oleh karena itu, gerakan pemuda Indonesia dalam konteks perkembangan sejarah kehidupan berbangsa dan bernegara saat ini perlu melakukan kajian intensif menyangkut berbagai hal, yakni di bidang sosial, politik, hukum, ekonomi, budaya, dan lain-lain sebagai suatu referensi yang kuat dan berkualitas dalam proses-proses pengambilan kebijakan publik dan politik di sentra-sentra pemerintahan………..#OP021007A#

M. Fauzi, pemerhati masalah sosial-politik, alumnus Universitas Negeri jakarta. (PR)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

  • Arkeologi

  • Trader

  • Energi Alternatif

  • Bencana Global 2050

  • Flying

  • Kereta Api

  • Konstruksi – Arsitektur

%d blogger menyukai ini: