Nobel Ekonomi dan Kita

Teori Desain Mekanisme menekankan pentingnya insentif serta mengingatkan bahwa imbauan moral (moral suasion) dalam sistem ekonomi pasar akan sulit berjalan sesuai dengan tujuan. Di Indonesia, banyak kasus di mana pentingnya sistem insentif dalam berbagai kebijakan diabaikan. Kebijakan penghematan energi yang dicanangkan pemerintah tahun lalu, misalnya yang hanya berupa imbaua, tidak akan efektif.

Beberapa waktu lalu. The Royal Swedish Academy of Science menganugerahkan hadiah Nobel dalam bidang ilmu ekonomi kepada Leonid Hurwich, Eric Maskin, dan Roger Myerson-ketiganya dari Amerika Serikat-untuk kontribusi mereka dalam apa yang dikenal sebagai Teori Desain Makanisme. Artikel ini mencoba untuk mengulas kontribusi tersebut serta sedikit mengaitkannya dalam konteks ekonomi Indonesia.

Dalam berbagai debat publik, terutama yang terekam dalam berita atau artikel di media massa, ilmu ekonomi sering dikritisi karena dianggap, dalam formulasi kebijakannya, terlalu kapitalistik. Berbagai kalangan mencoba mengusung alternatif, diantaranya ekonomi berbasis sosialisme, ekonomi Pancasila, atau bahkan ekonomi Islam.

Memang, dalam sejarah panjang perkembangannya, ekonomi konvensional serta pengejawantahannya dalam bentuk sistem ekonomi pasar sudah biasa dihantam kanan-kiri. Namun, sistem ekonomi pasar ternyata tetap mendominasi sistem perekonomian di hampir semua negara di dunia. Mengapa? Salah satunya adalah karena ilmu ekonomi sebagai sebuah science, terbuka terhadap berbagai kritikan bukan hanya dari, tetapi juga dari dalam disiplin itu sendiri. Proses kritik (self-criticism) dan swakoreksi (self-correction) membuat ilmu ekonomi tetap bertahan, berkembang, dan bahkan mengubah wajahnya sendiri dalam bentuk berbagai teori baru yang mampu menjelaskan dan memberikan solusi terhadap mandeknya teori-teori lama dalam memecahkan berbagai permasalahan dunia nyata.

Nobel Ekonomi tahun ini kembali menjadi cerminan nyata bagaimana proses swakritik dann swakoreksi dalam ilmu ekonomi modern tersebut berjalan dengan baik. Bahkan tahun ini, Nobel Ekonomi terasa sangat istimewa karena kontribusinya dalam menyentuh akar yang sangat mendasar dari ilmu ekonomi itu sendiri yaitu konsep invisible hand yang digagas, Bapak Ekonomi Modern, Adam Smith, pada abad ke-18.

Konsep invisible hand menyatakan bahwa tindakan seorang individu yang didorong oleh kepentingan dirinya sendiri pada akhirnya akan menghasilkan solusi yang paling optimum untuk kepentingan bersama. Seakan-akan mereka dituntun oleh “tangan tak terlihat” untuk mencapai efisiensi, suatu kondisi yang menjamin kesejahteraan masyarakat secara umum tercapai maksimal. Konsep ini menjadi fondasi yang membangun sistem ekonomi pasar yang menjadi landasan ekonomi di hampir semua negara termasuk Indonesia. Jargon terpenting ekonomi pasar yaitu efisiensi misalnya, bahkan sudah tertera eksplisit dalam konstitusi kita (UUD’45, Amandemen ke-4, ayat 4).

Pasar kemudian menjadi standar solusi dari berbagai permasalahan karena dianggap sistem yang paling pas untuk bisa mencapai efisinsi tersebut. Seseorang yang baru belajar ilmu ekonomi akan disodori konsep seperti ini dalam berbagai buku teksnya dan akan sangat mudah terpengaruh untuk menyatakan bahwa pasar dapat memecahkan segalanya.

Sayangnya, generalisasi seperti itu salah besar karena konsep pasar yang dimaksud banyak disangga oleh asumsi-asumsi yang sering tidak realistis. Contohnya, pasar harus berbentuk “pasar persaingan sempurna” di mana akses terhadap segala informasi yang terkait transaksi terbuka untuk siapapun. Pasar yang seperti itu hampir tidak ada.

Banyak potensi-potensi transaksi yang saling menguntungkan kedua belah pihak, atau yang menyangkut kepentingan umum, tidak dapat terjadi. Ini disebabkan nilai subjektif transaksi tersebut bagi setiap pihak tidak ada yang mengetahui kecuali dirinya sendiri. Masyarakat, misalnya, akan cenderung tidak jujur ketika ditanya berapa nilai sebuah tempat penampungan sampah di lingkungan sekitar mereka serta kesanggupan kontribusi yang diberikan untuk pembangunannya. Kalau projeknya jadi, toh semua orang bisa menggunakannya (free-riding).

Walhasil, nilai sebuah projek pengadaan barang publik akan tampak rendah dan realisasi pengadaannya terhambat. Dorongan kepentingan  pribadi tidak selalu terealisasi menjadi kepentingan umum. Adam Smith ternyata tidak selalu benar.

Di sinilah Teori Desain Mekanisme yang fondasainya diletakkan oleh tiga pemegang hadiah Nobel Ekonomi tahun ini memberikan swakritik yang membangun untuk ilmu ekonomi modern. Teori ini menyatakan bahwa pasar, seperti yang ada dalam benak Adam Smith, tidak datang dari langit tetapi harus dibuat institusinya, harus didesain mekanismenya. Sumbangan terbesar pertama adalah menunjukkan bahwa untuk kasus-kasus di mana informasi itu bersifat pribadi, misalnya nilai sebuah lukisan di mata seorang kolektor, bentuk-bentuk pasar standar tidak mungkin menjamin adanya efisiensi, bahkan transaksipun bisa saja tidak terjadi. Ini sebuah swakritik.

Sumbangan yang kedua berupa swakoreksi, dengan memberikan landasan berupa prinsip-prinsip apa saja yang harus dipenuhi oleh sebuah institusi, atau mekanisme transaksi agar dapat berfungsi dengan baik. Prinsip yang penting misalnya disebut dengan prinsip incentive compatibility. Prinsip ini menyatakan bahwa sebuah “mekanisme” yang baik harus menjamin bahwa semua pelaku transaksi memang punya insentif rasional untuk “jujur” dalam menyatakan nilai sebuah barang yang sebenarnya. Teori ini memberi arahan atau bimbingan untuk mendesain mekanisme tersebut.

Disinilah sumbangan terbesar Teori Desain Mekanisme bagi ilmu ekonomi modern. Teori ini tidak mengkritik konsep invisible hand dan kemudian menghancurkannya, tetapi memperbaikinya. Dorongan kepentingan individu akan tetap pada akhirnya menciptakan kepentingan bersama, seperti digagas Adam Smith lebih dari dua abad yang lalu, dan teori desain mekanisme memberikan jalan untuk mewujudkannya.

Teori Desain Mekanisme tidak hanya diaplikasikan di berbagai permasalahan ekonomi, seperti mekanisme lelang, tetapi dalam mendesain institusi secara umum. Teori ini digunakan untuk mendesain tender barang-barang publik seperti gelombang radio, jalan raya, dan barang-barang publik lain yang menyangkut hajat hidup orang banyak. Aplikasi penting lainnya adalah dalam mendesain regulasi, hubungan industrial, bahkan mendesain kebijakan-kebijakan pengelolaan lingkungan dan sistem pemilihan umum.

Teori Desain Mekanisme menekankan pentingnya insentif serta mengingatkan bahwa imbauan moral (moral suasion) dalam sistem ekonomi pasar akan sulit berjalan sesuai dengan tujuan. Di Indonesia , banyak kasus di mana pentingnya sistem insentif dalam berbagai kebijakan diabaikan. Kebijakan penghematan energi yang dicanangkan pemerintah tahun lalu (2006), misalnya yang hanya berupa imbauan, tidak akan efektif dalam berbagai kebijakan diabaikan. Kebijakan penghematan energi yang dicanangkan pemerintah lahun lalu, misalnya yang hanya berupa imbauan, tidak akan efektif. Memang AC di berbagai mal, misalnya sempat dimatikan dan dihemat, tetapi program tersebut terbukti hanya tahan beberapa bulan.

Sistem perbankan atau keuangan syariah yang semakin marak di Indonesia juga tidak ada salahnya mengaplikasikan konsep-konsep desain mekanisme. Bisa saja pihak bank tidak memiliki informasi lengkap akan profitabilitas nasabah sehingga prinsip profit sharing menjadi cukup rentan. Agama atau moral tentu saja bisa membuat orang berkata jujur, tetapi alangkah lebih baik jika memang institusinya didesain sedemikian rupa sehingga mengungkap informasi sebenarnya juga memang pilihan yang rasional.

Banyak sekali sebenarnya permasalahan ekonomi Indonesia yang bisa didekati dengan mekanisme insentif. Penegakan hukum untuk memerangi korupsi memang tetap harus ditingkatkan, tetapi sistem insentif dalam birokrasi juga harus diperbaiki. Apakah mekanisme tender-tender barang publik kita sudah memenuhi prinsip-prinsip efisiensi? Jika tidak kita perlu memperbaikinya. Bagaimana persisnya perbankan tersebut, kita bisa belajar dari konsep-konsep Teori Desain Mekanisme. Tidak salahnya untuk selalu belajar……………………#OP311007A#

Arief Anshory Yusuf, Dosen Fakultas Ekonomi Unpad. (PR)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

  • Arkeologi

  • Trader

  • Energi Alternatif

  • Bencana Global 2050

  • Flying

  • Kereta Api

  • Konstruksi – Arsitektur

%d blogger menyukai ini: