Kemiskinan dan Pemiskinan Petani Hortikultura

Komoditas hortikultura seperti sayuran, buah-buahan, bunga-bungaan, dan tanaman penyegar secara teoritis merupakan komoditas bernilai ekonomi tinggi (high added value crops). Logikanya, petani yang mengusahakan komiditas hortikultura semestinya kehidupannya jauh lebih sejahtera dibandingkan dengan petani yang mengusahakan komoditas lainnya. Selain karena harganya di pasar tradisional maupun supermarket tinggi, komoditas hortikultura juga dapat dipanen beberapa kali. Pertanyaan fundamentalnya, mengapa sebagian besar petani hortikultura miskin atau mengalami pemiskinan? Lalu adakah solusi mendasar yang harus dilakukan pemerintah bersama petani?

Hasil pemantauan ke beberapa sentra produksi sayuran di garut dan Sumedang, Jawa barat menunjukkan, meski logikanya menjelang hari raya semua komoditas sayuran naik, faktanya justru anjlok sampai ke titik nadir. Tomat buah hanya di hargai Rp 150,00/kg, kubis Rp 100,00/kg, daun bawang dan wortel anjlok 50%.

Memburuknya harga sayuran menjelang hari raya itu mengakibatkan petani membiarkan komoditasnya busuk dan hancur ditelan tanah. Ironisnya, instansi terkait tidak melakukan tindakan penyelamatan. Meski sulit dibuktikan, terkesan bahwa pemerintah kabupaten/kota dan provinsi hanya melakukan apa yang dapat dikerjakan (what they can do) dan bukan melakukan apa yang seharusnya mereka kerjakan (what they must do).

Apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa pemerintah dan masyarakat tidak mengambil pelajaran dari kerugian serupa agar tidak terjerumus ke dalam jurang yang lebih dalam? Fakta yang paling menyedihkan, komoditas hortikultura menjadi barang yang tidak bernilai, seperti sampah saja.

Apa yang harus dikerjakan? Paling tidak ada tiga hal mendasar yang harus secepatnya dilakukan secara simultan. Pertama, Dinas Pertanian Kabupaten bersama Dinas Perdagangan harus menyampaikan informasi luas, jenis komoditas yang diusahakan, dan harganya paling tidak sebulan sebelum panen secara near real time ke Dinas Pertanian Provinsi dan Departemen Pertanian.

Kedua, Dinas Pertanian dan Dinas Perdagangan Provinsi memantau volume pasokan dan sebaran yang ada di wilayahnya serta melaporkan statusnya ke Departemen Pertanian dan Departemen Perdagangan. Ketiga, Departemen Pertanian melakukan relokasi kelebihan produksi berdasarkan arus informasi dari provinsi ( perdagangan antar pulau ) serta menjajaki kemungkinannya untuk mengembangkan pasar melalui ekspor. Dalam kondisi memaksa, pemerintah pusat dan atau pemprov dapat melakukan pembelian di sentra produksi yang harga komoditasnya sedang anjlok.

Pembuktian dan pengujian kebenaran hipotesis bahwa anjloknya harga komoditas hortikultura akibat permainan spekulan telah dibuktikan melalui pembelian tomat di sentra produksi Garut sebanyak 7 ton dengan menaikkan harga per kilogram dari Rp 150,00 franco sentra produksi menjadi Rp 750,00 franco Jakarta. Dalam waktu seminggu, harga langsung naik menjadi Rp 1.000,00/kg franco Jakarta.

Reaksi cepat ini merupakan aksi panik spekulan. Dengan kata lain, terbentuknya harga di sentra produksi bukan karena mekanisme pasar bebas, sebagai resultante pasokan dan permintaan, melainkan akibat pasar monopoli. Disparitas harga di sentra produksi dan di pasar umum yang sangat tinggi dan tifdak wajar mengindikasikan bahwa ada rantai strategis yang dikuasai tangan kuat tidak terlihat (invisible strong hand).

Pemerintah harus memutus rantai membahayakan negara mengingat hidup-matinya suatu bangsa akan ditentukan oleh kemampuan bangsa itu memenuhi sebagian besar keperluan hidupnya.

Pengambil kebijakan sektor perdagangan harus membuka kecamata kudanya dan menyadari kelemahan fundamental pasar bebas yang selama ini dibanggakan sebagai alat pembentuk harga yang adil dan transparan. Hampir dipastikan, tidak ada pasar bebas di muka bumi ini.

Sangat sulit dipahami jika pemerintah memaksa petani dan membiarkan mereka untuk melakukan kompetisi bebas melawan pemodal raksasa maupun produsen sejenis yang jauh lebih kuat. Itu sama saja dengan membiarkan petani tergilas roda kapitalisme. Perubahan filosofi tentang cara pandang pembentukan harga komoditas hortikultura ini sangat penting karena di situlah muncul simpati dan empati atas pengorbanan tenaga, waktu, dan biaya yang diinvestasikan petani.

Penguatan kemampuan industri primer pertanian, utamanya hortikultura, harus mendapat perhatian yang memadai agar petani mendapatkan ruang gerak yang lebih luas dan terbuka untuk melakukan diversifikasi pendapatan……….#OP131107C#

Gatot Irianto, Direktur Pengelolaan Air, Direktorat Jenderal PLA, Deptan. (PR)

Comments
6 Responses to “Kemiskinan dan Pemiskinan Petani Hortikultura”
  1. Saung Tani mengatakan:

    Dimana-mana petani perlu dilindungi, sebab petani masih belum bisa berkompetisi jika dibiarkan bertarung sendirian melawan para pemodal kuat. Berikan subsidi, akses pasar dan kemudahan memperoleh pembiayaan, saya yakin petani Indonesia mampu kok.
    Salam kenal dan sukses selalu.

  2. willy mengatakan:

    terimakasih ya,,dari artikel ini saya jadi lebih memahami akan hortikultura

  3. willy mengatakan:

    terimakasih ya,,dari artikel ini saya jadi lebih memahami akan hortikultura
    okeoke

  4. ilsa salsabilla mengatakan:

    sangat miris skali setelah melihat posting ini😦

  5. resti mengatakan:

    terima kasih ^^ blog anda sangat mmbntu tgs saya ..
    http://restip09.student.ipb.ac.id/

Trackbacks
Check out what others are saying...
  1. […] penyuluhan pertanian yang sedang dilakukan, menambah wawasan saya akan dunia pertanian.  Sedangkan Hortikultura mempelajari tentang buah-buahan dan sayur-sayuran. saya sangat tertarik dengan hal-hal mengenai buah […]



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

  • Arkeologi

  • Trader

  • Energi Alternatif

  • Bencana Global 2050

  • Flying

  • Kereta Api

  • Konstruksi – Arsitektur

%d blogger menyukai ini: