Mencari pengawal Gunung Halimun

Mengejutkan! Rabu (7/11/07) pagi itu SMS dan telefon dengan deras masuk ke penulis. Yang dibicarakan adalah “berita duka’ yang mengabarkan Abah Encup telah tiada, Selasa (6/11/07) pukul dua dini hari di Cipta gelar Banten selatan. Innalillahi wa innalillahi rojiun.

Abah Encup. Dikenal dengan sebutan Abah Anom, adalah seorang sahabat yang penulis kenal sejak anak-anak sekitar 30 tahun yang lalu. Dia juga nara sumber bagi mereka yang mencoba memahami kesinambungan dinamika komunitas adat saat ini di Kawasan Gunung halimun. Aabah Encup adalah seorang pimpinan adat yang kharismatik. Dia dikenal tekum mendengarkan berbagai keluhan incu-putunya-sebutan bagi para pengikut setianya. Selama ini. Abah Encup tidak pernah mengeluhkan kesehatannya. Dia tampak segar bugar dan sehat-sehat saja. Saya mengenalnya dalam sosok berperawakan tegap agak gemuk, sorot mata tajam, postur tubuh tidak terlalu tinggi, dan selalu mengenakan ikat kepala. Ikat kepala, iket, adalah simbol kepemimpinannya.

Sebagai pimpinan adat, Abah Encup senantiasa menjadi tumpuan harapan hidup incu-putu yang jumlahnya tidak sedikit. Mereka tersebar di puluhan kampung di sekitar Sukabumi selatan, Bogor selatan, dan Banten selatan.

Dari pengamatan selama ini, Abah Encup hingga akhir hayatnya, telah menunjukkan kemampuannya memelihara, melindungi, dan mengembangkan “budaya tani” yang berfokus pada memelihara hubungan harmonis antara manusia-hutan di kawasan Gunung Halimun. Selama memelihara, melindungi, dan mengembangkan amanat karuhun-nya itu, Abah Encup boleh dikatakan berhasil. Tampak dari luasnya hubungan jaringan kerja yang dibangunnya, baik dengan peneliti maupun LSM yang melakukan berbagai program aksi dalam pengembangan kawasan agrowisata Halimun. Kemudian juga dari usahanya mendidik kesadaran lingkungan untuk anak-anak sekolah dasar dan pengembangan budaya tanaman pangan, seperti tersimpannya sekitar puluhan jenis padi tradisional yang biasa mereka gunakan di ladang dan sawah. Varietas padi ini digunakan untuk ketinggian lahan yang berbeda.

Komunitas adat dan potensi sumber daya alam kawasan Gunung halimun dengan demikian terdokumentasi dengan baik melalui berbagai kajian yang dilakukan para peneliti dalam dan luar negeri. Sebutlah kajian dan telitian INRIK Unpad, KEHATI Jakarta, RMI Bogor, JICA-LIPI, dan sebagainya.

Sikap Abah Encup yang terbuka tentang tatanan adat, komunitas serta lingkungan alamnya sebagai unsur pendukung keberadaannya itu, kemudian dijadikan ajang kajian berbagai bidang ilmu. Antara lain antropologi, sosiologi, seni rupa, dan arsitektur serta pengetahuan alam, seperti biologi, kesehatan, dan lingkungan. Abah Encup senantiasa dipilih para peneliti menjadi informan kunci yang andal dalam menjelaskan berbagai fenomena sosiobudaya dan alam di kawasan Gunung Halimun.

Banyak sudah lulusan program S-1, S-2, dan S-3 dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia dan mancanegara, di antaranya dari Amerika Serikat, Prancis, Norwegia, Belanda, Jepang, Malaysia yang melakukan kajian di kawasan Gunung Halimun. Abah Encup juga telah berhasil menjalin pengertian dan kerja sama yang baik dengan para petugas Taman Nasional Gunung Halimun (TNGH), walaupun kadang-kadang sering juga terjadi ketegangan di antara mereka.

Bagi kalangan komunitas adat, hancurnya lingkungan alam Halimun sama saja dengan “bunuh diri”. Karena kehancuran itu akan menghancurkan mereka sebagai satu komunitas.

Agaknya, Abah Ardjo, orang tuanya Abah Encup, tidak salah pilih dalam menentukan penggantinya. Sebagai seorang pemimpin sentral yang baru kala itu, Abah Encup masih bersekolah di Pelabuhanratu. Dia dipanggil pulang orangtuanya untuk meneruskan kepemimpinan adat. Ternyata Abah Encup bisa memelihara dan menjaga kelestarian adat dan lingkungan alamnya yang mereka sebut sebagai tatali paranti karuhun. Agaknya, Abah Encup ssampai akhir hayatnya telah menunjukkan kemampuannya memelihara kondisi yang selaras, tertib aman, dan tentram bagi warga kasepuhan dan masyarakat dalam sebuah lingkungan kehidupan adat di kawasan hutan yang relatif masih tersisa keutuhan flora dan faunanya di wilayah sebelah barat Jawa ini.

Hamparan Gunung Halimun yang tegak menjulang ke langit, yang begitu luas, hijau, dan selalu diselimuti kabut, kini tentu “gelisah”. Yang bikin “gelisah” adalah pertanyaan, siapakah pengganti Abah Encup nanti, orang yang mampu meneruskan tatali paranti karuhun itu?

Kegelisahan itu wajar dan agaknya merupakan pula kegelisahan incu-putu dan orang-orang yang memiliki perhatian akan kelestarian Gunung halimun itu. Dulu, pada saat terjadi suksesi kepemimpinan adat dari Abah Ardjo ke Abah Encup, semuanya  berjalan lancar-lancar saja. Walau sempat ada reaksi dari saudara-saudaranya yang lebih tua dalam bentuk pemisahan diri dari kasepuhan Ciptagelar. Agaknya pilihan orangtuanya dan baris kolot, “jajaran yang dipertua”. Tidak keliru menentukan Abah Encup sebagai sesepuh girang.

Aktivitasnya itu memang tidak selalu dipahami banyak pihak, baik oleh para petugas TNGH, pemerintah daerah maupun para pihak yang ada di sekitar Gunung Halimun. Pembangunan jalan, misalnya, yang membelah TNGH dari arah Ciptarasa ke Ciptagelar yang digunakan untuk mengangkut hasil bumi incu putu ke palabuhanratu, mengundang reaksi para petugas TNGH yang dinilainya menyalahi aturan.

Sekarang, harapan tertumpu pada kearifan baris kolot dan keluarga, siapa yang akan menggantikannya sebagai pimpinan sentral yang baru karena wafatnya Abah Encup. Menurut berita terakhir baris kolot baru akan menentukannya setelah 40 hari wafatnya Abah Encup, walaupun dia telah “berujar” agar anak laki-lakinya yang pertamalah yang akan menggantikannya (“PR”, 12/11/07:3).

Dalam menentukan sesepuh girang baru, apakah baris kolot akan menunjuk anak laki-laki tertua atau saudaranya yang lain, atau kedudukan sesepuh girang dibiarkan sementara kosong sambil menunggu wangsit?

Penentuan figur sentral bagi warga kasepuhan dan para pihak di daerah merupakan hal penting, karena menyangkut kehidupan umat yang tidak sedikit jumlahnya. Di mana mereka tidak kehilangan orientasi pikukuh karuhun dalam memelihara ketertiban sosial yang dapat menyebabkan terjadinya degradasi lingkungan, karena hilangnya figur yang kuat dan dihormati. Agar mereka tidak menjadi kelompok sosial yang tercerai berai, bertindak berdasarkan naluri individualnya dalam mempertahankan hidup yang dapat menimbulkan “kekacauan sosial”. Di sinilah arti pentingnya seorang pimpinan………….#OP151107B#

Kusnaka Adimihardja, Guru Besar FISIP Unpad. (PR)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

  • Arkeologi

  • Trader

  • Energi Alternatif

  • Bencana Global 2050

  • Flying

  • Kereta Api

  • Konstruksi – Arsitektur

%d blogger menyukai ini: