Perjuangan Surabaya Bagai Revolusi Prancis

Akhir September 1945 pasukan Inggris membuka jalan bagi kembalinya para pembesar Belanda. Soekarno memutuskan tanggal 5 Oktober membentuk tentara Republik dari bekas perwira KNIL dan mantan kader tentara Peta. Di Surabaya pasukan pendarat Inggris di bulan November menderita kerugian-kerugian besar melawan “scholier-soldaten” (pelajar-prajurit) yang tidak teratur. Demikian gambaran mengenai pertempuran di Surabaya oleh antropolog-wartawan Dirk Vlasblom dalam bukunya Indonesia (2005).

Ketika menjadi wartawan harian Merdeka dan meliput front Surabaya November 1945, saya sempat bertemu dengan “scholier-soldaten” tadi, yang kita sebut Tentara Pelajar (TP). Mereka terdiri atas pelajar SMP dan SMA berusia antara 17-20 tahun. Mereka duduk mengaso di sebuah rumah di Jalan Darmo. Semangat juang mereka sangat tinggi. Ketika pamit dengan mereka hendak balik ke Jkarat mereka memekikkan salam “merdeka” yang saya sambut dengan pekik serupa “Merdeka Bung”.

Surabaya telah menjelma menjadi tempat pertempuran paling berat dari revolusi dan dengan begitu menjadi simbol perlawanan nasional. Sejarawan AustraliaM.C. Ricklefs dalam bukunya A History of Modern Indonesia menceritakan bagaimana Komando Jepang Laksamana Muda Shibata Yaichiro yang pro-Republik Indonesia menyerahkan senjata tentara Nippon kepada orang-orang Indonesia.

Pada akhir Oktober dan awal November 1945, pimpinan Masyumi dan Nahdlatul Ulama mendeklarasikan bahwa perang untuk membela tanah air Indonesia adalah perang suci. Para kiai dan santri dari pesantren-pesantren mengalir masuk ke Surabaya. Wartawan Bung Tomo mengucapkan pidato berapi-api melalui radio Badan Pemberontakan melawan penjajahan Belanda. Ke dalam kota tegang itu sekitar 6.000 pasukan Inggris (British India) datang tanggal 25 Oktober untuk mengekuasi kaum interniran di kamp-kamp Jepang.

Kira-kira 20.000 orang Tentara Keamanan Rakyat (TKR) yang baru dibentuk dan sekitar 120.000 pasukan tidak reguler yang persenjataannya minim tampaknya akan membantai pasukan India.

Pimpinan tentara Inggris di Jakarta meminta bantuan Presiden Soekarno yang bersama Wapres Hatta dan Menpen Amir Syarifuddin terbang ke Surabaya untuk melaksanakan gencatan senjata tanggal 30 Oktober. Tapi pertempuran pecah lagi dan Brigjen Mallaby, komandan pasukan Inggris tewas.

Mayjen Mansergh mendatangkan pasukan tambahan dan tanggal 10 November meletus lagi pertempuran. Tentara Inggris dengan bantuan angkatan udara dan laut menjalankan aksi pembersihan, tapi menghadapi perlawanan fanatik dari pihak pemuda. Dalam waktu tiga hari kurang lebih separuh kota Surabaya diduduki oleh tentara Inggris, tapi baru selewat tiga minggu pertempuran berhenti. Diperkirakan, 6.000 orang Indonesia tewas. Ribuan lainnya Mengungsi ke luar kota.

Kaum Republikein kehilangan banyak tenaga manusia dan senjata dalam pertempuran Surabaya. Tapi pengorbanan mereka telah menciptakan suatu simbol dan pekik imbauan persatuan bagi revolusi. Ia meyakinkan Inggris bahwa kearifan (wisdom) berada di pihak kenetralan dalam revolusi.

Pertempuran Surabaya juga menjadi titik perkisaran bagi Belanda. Banyak orang Belanda terkejut menghadapi realitas. Sebelumnya tidak sedikit orang Belanda percaya bahwa Republik Indonesia mewakili hanya suatu kelompok kolaborator jepang tanpa banyak dukungan, dan tiada lagi pengamat serius dapat mempertahankan pandangan tadi.

Kendati sebagai wartawan tidak pernah pergi ke front pertempuran terdepan selama meliput di Surabaya bulan November 1945, saya memperoleh cukup kesan betapa hebatnya semangat perjuangan dan pengorbanan arek Suroboyo.

Ketika tahun 1960 saya sebagai Pemred harian Pedoman mengikuti kunjungan kenegaraan PM Uni Soviet Nikita Khrushev ke Surabaya, saya dengar Khruschev dalam pidatonya di rapat umum menyatakan bahwa “Surabaya dalam perang kemerdekaan sama dengan front Soviet di Leningrad melawan tentara Nazi Jerman”.

Tapi dalam perkembangan sejarah jauh lebih penting mencatat pendapat Letnan Gubernur Jenderal Dr. H.J. Van Mook, yang sangat terkesan oleh perlawanan rakyat Surabaya. Apa yang terjadi di Surabaya, katanya, mirip dengan levee-en masse, kebangkitan secara massal rakyat dalam Revolusi Prancis tahun 1789. rakyat yang berjuang seperti itu bukanlah lagi Inlander atau bumiputra yang inggih ndoro sikapnya terhadap Belanda. Ini adalah rakyat yang merdeka. Van Mook menarik kesimpulan bagi dirinya. Ia lalu terbuka dan bersedia berunding dengan pihak Republik untuk menyelesaikan sengketa. Dan, memang langkah itulah yang diambilnya.

Sayangnya, pemerintah Belanda di Den Haag masih terbelenggu dalam ingatan masa lampau dan tetap menolak berunding dengan Soekarno. Akibatnya, sengketa berjalan terus beberapa tahun lagi, melalui dua kali aksi militer Belanda, barulah tercapai persetujuan penyerahan kedaulatan. Inilah yang patut kita ingat pada Hari Pahlawan 10 November yaitu pertempuran Surabaya yang dianggap Van Mook mirip dengan Revolusi Prancis………..#OP191107B#

H. Rosihan Anwar, wartawan senior. (PR)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

  • Arkeologi

  • Trader

  • Energi Alternatif

  • Bencana Global 2050

  • Flying

  • Kereta Api

  • Konstruksi – Arsitektur

%d blogger menyukai ini: