Dimensi Budaya Remaja Perkotaan

Remaja adalah individu yang dalam kategori sosial paling mudah menerima pembaruan, positif maupun negatif. Fenomena geng motor menjadi contoh negatif bagaimana mudahnya remaja terlibat dalam aksi-aksi kekerasan.

Oleh masyarakat, terutama orang dewasa, remaja sering dianggap berbeda. Bahkan, bertentangan dengan kaidah-kaidah atau nilai-nilai yang dianut oleh orang dewasa atau orang tuanya (Soekanto, 1989). Menurut O’Sullivan (1974), salah satu hal yang membedakan orang dewasa dengan remaja adalah, orang dewasa biasanya akan menunda kesenangan sampai masa depan nanti (deffered gratification), sedangkan remaja menginginkan kesenangan saat ini juga (spontaneous gratification).

Apa yang dilakukan remaja yang tampak tak memikirkan masa depan menjadi sumber konflik di antar mereka dan orang dewasa atau orangtuanya.

Siapa remaja? Masa remaja berada dalam tahapan masa muda yaitu masa sebelum tua yang biasanya dicirikan oleh perkawinan. Di Indonesia, batasanusia remaja yang umum digunakan adalah 12-24 tahun dan belum menikah (Sarwono, 1994). Sedangkan WHO membagi kurun usia remaja ke dalam dua bagian, yaitu remaja awal (10-14 tahun) atau teenager dan remaja akhir (15-24 tahun) yang dikenal sebagai youth.

John Clarke dkk. (1976) dalam tulisannya yang berjudul Subcultures, Cultures, and Class menjelaskan bahwa remaja merasa dan mengalami dirinya berbeda. Perbedaan ini biasanya diperlihatkan dalam kegiatan dan kepentingan-kepentingan seumurnya.

Remaja juga biasanya ditandai oleh sifat yang mudah menyesuaikan diri dengan apa yang menjadi cita-citanya atau yang diinginkan terjadi pada dirinya (Soepardi, 1990). Oleh karena itu, lingkungan sosial cukup besar peranannya dalam proses pembentukan jati diri remaja.

Setidaknya ada tiga cara dalam melihat remaja. Pertama, masa remaja sebagai masa sosialisasi sikap dan pengetahuan yang sesuai untuk peran-peran dewasa tertentu. Kedua, masa remaja sebagai masa peralihan kedudukan dan peranan. Ketiga, masa remaja sebagai pemilik “kebudayaan remaja” yang besar sekali pengaruhnya dan dapat bertentangan dengan nilai-nilai yang dianut orang dewasa (parker, 1976).

Remaja sadar akan pentingnya sebuah kebudayaan sebagai tolok ukur terhadap tingkah laku sendiri. Di satu sisi, kebudayaan utama memberikan pedoman, arah, dukungan, perasaan aman kepada remaja, dsb. di sisi lain, remaja juga memiliki keinginan untuk mandiri. Hal ini yang mendorong kebudayaan sendiri yang berbeda dengan kebudayaan pada umumnya.

Istilah kebudayaan remaja menunjukkan aspek cara hidup yang khas remaja. Persaingan dan protes (alienation and protest) adalah salah satu arahan yang dimunculkan oleh remaja sebagai bagian dari kebudayaan remaja. Arahan ini biasanya dimunculkan oleh remaja yang merasa dikecewakan oleh kondisi sosial yang sedang terjadi. Mereka mengekspresikan ketidakpuasan dengan menarik diri dari masyarakat atau secara aktif berusaha mengubah kebijakan dan kebiasaan. Pengasingan biasanya ditunjukkan dalam berbagai bentuk protes, seperti berbuat onar dan bertingkah apatis (Grinder, 1973).

Lebih jauh Fischer (1976) menjelaskan bahwa pembentukan kebudayaan remaja merupakan hasil dari urbanisme. Pemusatan pada area perkotaan yang jumlah populasinya cukup besar dan heterogen akan melemahkan ikatan antarindividu, struktur-struktur sosial, dan consensus normatif yang dapat mengakibatkan pengasingan, disorganisasi sosial, dan anomi.

Menurut Clarke, subkultur remaja dapat diidentifikasikan dari sistem simboliknya, yaitu pakaian, musik, bahasa, dan penggunaan waktu luang. Bandung merupakan kota yang dikenal akan keberadaan komunitas-komunitas remajanya.

Biasanya komunitas ini dikembangkan atas dasar kegemaran pada hal yang sama, seperti otomotif, musik, dan fashion. Mereka menghabiskan waktu luang bersama kelompoknya dan mengembangkan bahasanya sendiri yang kerap sulit dimengerti orang dewasa.

Dalam sebuah subkultur, beberapa petunjuk penting dimunculkan melalui gaya. Gaya mengekspresikan tingkat komitmen dan menunjukkan keanggotaan pada suatu subkultur. Hebdige (1976) menyatakan bahwa gaya merupakan bentuk komunikasi yang sengaja dan bermaksud mencoba berkomunikasi melalui penampilannya. Gaya juga merupakan tanggapan manusia terhadap lingkungan soailnya.

Pada awal 2000-an, rambut Mohawk berwarna mencolok lengkap dengan sepatu boot dan jaket kulit sempat menjadi gaya penanda para penyuka musik punk rock. Perkembangan fashion di kota Bandung didukung dengan berdirinya distro.

Fischer juga menjelaskan bahwa pembentukan subkultur yang aktif harus didasari oleh jumlah penduduk yang cukup memadai. Jumlah yang memadai memungkinkan terbentuk dan terdukungnya berbagai macam pranata, perkumpulan, dan toko-toko khusus (seperti distro) yang melayani komunitasnya. Hal itu juga memungkinkan mereka memiliki identitas yang terlihat jelas dan diakui untuk bertindak bersama demi diri mereka sendiri dan berinteraksi secara intensif satu sama lainnya.

Kajian mengenai kelompok-kelompok remaja di perkotaan merupakan sesuatu yang penting untuk dikaji secara menyeluruh dan sistematis, mengingat mereka dianggap sebagai agen perubahan, penerus bangsa………..……#OP211107C#

Resmi Setia M., alumnus S-2 jurusan Antropologi, Ateneo de Manila University, Filipina. (PR)

Comments
2 Responses to “Dimensi Budaya Remaja Perkotaan”
Trackbacks
Check out what others are saying...
  1. […] Menurut Parker ada tiga cara dalam melihat remaja. Pertama, masa remaja sebagai masa sosialisasi sikap dan pengetahuan yang sesuai untuk peran-peran dewasa tertentu. Kedua, masa remaja sebagai masa peralihan kedudukan dan peranan. Ketiga, masa remaja sebagai pemilik “kebudayaan remaja” yang besar sekali pengaruhnya dan dapat bertentangan dengan nilai-nilai yang dianut orang dewasa. (https://klipingcliping.wordpress.com/2010/03/12/dimensi-budaya-remaja-perkotaan/) […]



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

  • Arkeologi

  • Trader

  • Energi Alternatif

  • Bencana Global 2050

  • Flying

  • Kereta Api

  • Konstruksi – Arsitektur

%d blogger menyukai ini: