Tayangan kekerasan dan Kisah

Adegan kekerasan sepertinya lebih mudah bisa diterima ketimbang adegan percintaan, yang dalam skala ekstrem dianggap pornografi di negeri ini. Apakah kekerasan tidak lebih berbahaya dibanding pornografi?

Oleh karena itu, hari ini kita dengan sangat mudah bisa menyaksikan berbagai adegan kekerasan. Alasan “agar jangan ditiru” ketika menampilkan berbagai video rekaman kekerasan, seperti yang pernah terjadi di IPDN dan sekarang terjadi di bandung terkait geng motor, membuatnya leluasa beredar di televisi.

Dalam sejarahnya, kekerasan tak pernah lenyap. Akan tetapi bukankah sakit bila adegan kekerasan diperbolehkan ditayangkan dengan alasan “agar jangan ditiru?”. Tengoklah peristiwa yang terjadi beberapa waktu lalu ketika kekerasan di IPDN sedang marak diberitakan. Sekelompok siswa taman kanak-kanak memeragakan adegan kekerasan yang terjadi pada para mahasiswa IPDN. Ada yang berperan sebagai korban, ditendang oleh “seniornya”, dan tentu saja ada yang berperan sebagai “seniornya”. Adegannya persis seperti yang diperlihatkan dalam video rekaman kekerasan di IPDN.

Setelah selesai mendramatisasi, para guru bertepuk tangan lalu mengeluarkan slogan-slogan bahwa mereka mengutuk kekerasan yang terjadi di IPDN. Adegan dramatisasi kekerasan di IPDN tersebut sangat tidak pada tempatnya. Bagaimanapun, kalau terjadi banyak kekerasan di dunia pendidikan, bukan anak didik yang harus dijadikan alat protes. Kinerja para pendidik dan orang tualah yang seharusnya diteliti kembali. Plus pihak-pihak penting yang terkait, yaitu stasiun televisi.

Absurditas yang ada dalam adegan dramatisasi tersebut mencakup dua hal. Pertama, apakah para guru tidak mempertimbangkan kondisi psikis anak didiknya ketika mereka menjadikan anak-anak sebagai media protes mereka terhadap kekerasan di IPDN? Kedua, apakah tidak ada kisah lain yang jauh lebih bermutu untuk didramatisasi oleh anak didiknya?

Kedua pertanyaan tersebut diajukan karena ada indikasi kuat bahwa peran kisah, dalam hal ini untuk anak-anak, tidak dipahami dengan baik. Demikian pula yang terjadi pada peran kisah orang dewasa.

Alexander Agung adalah seorang ke satria legendaries yang memperoleh akses pembentukan karakter heroismenya dari kisah-kisah yang ditulis oleh Homer. Achilles adalah tokoh yang membuatnya menjadi kesatria pemberani.

Sebelum beridentifikasi terthadap Achilles, Alexander hanyalah seorang anak seringkali dikritik ibunya karena tidak pandai bermain pedang. Setelah beridentifikasi terhadap Achilles, Alexander memperoleh keberanian untuk mau belajar bermain pedang dan lebih berani lagi. Tentunya apa yang diserap oleh Alexander bukan semata-mata agar jago main pedang. Homer mengesahkan karakter Achilles bukan hanya sebagai jagoan yang sukar dicari tandingannya. Terdapat nilai-nilai budi pekerti yang ada di dalam diri Achilles sehingga karakternya tidak rapuh atau bagai preman.

Pengenalan kisah-kisah yang baik terhadap anak didik sebenarnya sudah sangat dikenal, baik oleh orang tua maupun kalangan pendidik. Akan tetapi dalam kenyataannya, masih saja ada bolong=bolong atau bahkan keteledoran.

Padahal, bagaimanapun pembentukan karakter melalui tokoh-tokoh yang baik sangatlah penting. Dalam hal ini peran pendidikan sastra – yang masih harus terus ditingkatkan di sekolah – tak bisa ditinggalkan. Penawaran bacaan oleh pendidikan sastra di sekolah seharusnya bisa mengimbangi kekurangan dan keteledoran yang terdapat di dalam tayangan-tayangan televisi.

Kalau televisi belum bisa diandalkan untuk membantu mendidik masyarakat, pendidikan sastra sudah seharusnya menjadi penyeimbang. Pendidikan sastra yang mengedepankan bacaan yang baik harus tetap digalakkan, bukan semata penghafalan ciri-ciri karya sastra. Siswa harus diperkenalkan dengan membacanya langsung- bukan rangkuman- kemudian guru mengajarkan cara berpendapat terhadap kisah di dalamnya. Dengan demikian, saat anak dibiasakan membaca kisah, beridentifikasi, lalu mengkritisinya.

Kisah, bagaimanapun lebih mudah untuk dipahami dibandingkan dengan wacana yang seringkali kaku dan keras untuk dicerna. Proses identifikasi antara seseorang dan tokoh tertentu sebenarnya bersifat alamiah karena setiap orang butuh untuk dituntundalam mengarungi kehidupan dan menjalani diri sendiri. Oleh karena itulah, kisah selalu ada, diciptakan dan dinikmati. Akan tetapi tentu saja sangat mengenaskan ketika di negeri ini kisah-kisah yang layak konsumsi tidak terlalu diperhatikan dengan baik.

Bahkan, orang dewasa masih membutuhkan proses untuk bercermin. Akan tetapi apabila kisah yang dinikmatinya tidak bermutu dan tidak mampu membangkitkan hal-hal baik di dalam dirinya, tentu sangat disayangkan. Apalagi, sinetron-sinetron di televisi itu sebagian besar ceritanya berpusat pada anak-anak ABG sehingga yang kekurangan kisah untuk bercermin bukan saja anak-anak, tetapi juga orang-orang dewasa.

Kisah bukan sekadar hiburan. Kisah adalah “guru” yang bisa menjadi sahabat karib. Penikmat bisa dituntun tanpa merasa diajari. Akan tetapi, entah kenapa banyak pihak seperti sutradara ataupun penulis kisah yang merendahkan kemampuan penikmatnya dalam mengambil intisari kisah yang diciptakannya. Buku serita anak-anak yang diterbitkan dengan aksplisit menuliskan peasan moral yang ada di dalamnya pada bagian akhir. Orang dewasa menyaksikan cerita sinetron di mana para tokohnya sering bicara eksplisit perihal niat-niat jahatnya dan isi pikirannya. Ceritanya pun banyak yang menjiplak mentah-mentah sinetron Korea atau India, dengan kualitas sinematografi seadanya.

Para sutradara lokal memproduksi sinetronnya biasanya dengan dalih rating serta tingkat intelektualitas kebanyakan penonton Indonesia yang rendah. Sayang sekali, apa jadinya apabila kita sendiri telah memandang rendah kemampuan bangsa kita sendiri. Padahal untuk sekian abad, tanpa pendidikan yang kompleks seperti yang ada

di zaman sekarang, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa di berbagai pelosok desa di Tanah Jawa bisa menikmati, mengambil pelajaran, dan beridentifikasi dengan kisah-kisah wayang yang juga tidak sederhana.

Keterpurukan bangsa ini dalam banyak bidang semakin diperparah saja dengan hal-hal yang seharusnya menjadi parameter pendidikan dan kebudayaan bagi masyarakatnya. Sayang, masih banyak kisah yang hanya dijadikan sebagai camilan untuk membentuk karakter. Masalah ini pun diperparah dengan berbagai tayangan berita yang menggambarkan kekerasan secara vulgar- yang bukan tidak mungkin malah memberi inspirasi untuk ditiru……………#OP211107B#

Kurniasih, anggota FSK ITB, penulis kumpulan cerpen “Kembang Kertas”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

  • Arkeologi

  • Trader

  • Energi Alternatif

  • Bencana Global 2050

  • Flying

  • Kereta Api

  • Konstruksi – Arsitektur

%d blogger menyukai ini: