KAPPI, PKI, Dan Nilai Kejuangan

Perlukah KAPPI ( Kesatuan Aksi Pemuda Pelajar Indonesia ) di bangkitkan kembali? Pertanyaan itu bergema di ruang pertemuan Sawala, jalan Indramayu Bandung awal Oktober lalu. Pertemuan itu sendiri semula sekadar temu kangen, semacam reuni mantan aktivis KAPPI Jawa Barat yang sekarang terserak di berbagai lembaga negara maupun swasta, ormas maupun partai politik.

Pertemuan itu akhirnya melahirkan kesepakatan perlu dibangkitkannya kembali nilai-nilai juang KAPPI sebagai salah satu eksponen Angkatan 6, untuk kemudian dilanjutkan generasi muda. Maka, bergulirlah hasrat menggelar Temu Daerah (Terah) KAPPI II (Terah pertama berlangsung Oktober 1991 di linggarjati, Kuningan, jawa barat). Tempatnya di Indramayu 21-23 november 2007. kenapa Indramayu? Karena di kabupaten ini pernah terjadi aksi sepihak pertama PKI mengawali prolog pemberontakan Gestapu/PKI.

Peristiwa itu memakan korban seorang anggota Kepolisian RI. Selang beberapa bulan kemudian terjadi peristiwa kedua di Bandar Betsy, Medan. Korbannya seorang anggota TNI-AD. Tak lama kemudian meledak pemberontakan G30S/PKI. Meski sudah dibubarkan, kini tampak fenomena bangkitnya kembali ideologi atheisme ini di tanah air. Mereka memanfaatkan momentum reformasi, HAM, dan demokratisasi.

Reformasi telah membersitkan secercah optimisme bagi bangsa Indonesia, memang. Dua kali pemilu melambungkan nama Indonesia ke dunia internasional sebagai negara demokrasi ketiga setelah Amerika Serikat dan India. Keberhasilan ini membawa Presiden RI Susilo Bambang Yudhotono menerima sebuah medali demokrasi dari sebuah lembaga internasional (IAPC). Toh, demokrasi belum menghasilkan kehidupan yang lebih baik bagi bangsa Indonesia.

Ketergantungan kepada  negara-negara kaya dan lembaga-lembaga keuangan dunia menjadikan Indonesia malah semakin terpuruk. Utang mengakibatkan bangsa ini terjerat dalam jebakan berkepanjangan. Dalam tataran makro angka-angka pertumbuhan ekonomi memang tampak meningkat, tetapi dalam tataran mikro, ”keberhasilan” itu belum mampu mengangkat taraf hidup bangsa, terutama lapisan kaum duafa.

Angka kemiskinan semakin membengkak mendekati 40 juta. Hutan habis dijual, berdampak bencana alam. Petani masih dicengkeram tengkulak. Harga-harga semakin membumbung. Pelayanan publik seperti kesehatan dan pendidikan  semakin tak terjangkau. Sementara korupsi, kolusi, dan nepotisme bukannya berkurang.

Walhasil, cita-cita reformasi masih jauh panggang dari api. Kita menjadi bangsa yang kehilangan arah. Utang dan ketergantungan menyebabkan kita tidak mampu lagi berjalan tegak di hadapan negara-negara kapitalis. Di dunia internasional, kita jadi objek pelecehan sebagai negara terkorup. Kita juga tak mampu lagi membela warga negaranya yang dizalimi di negara lain.

Karut-marut ini ternyata menjadi lahan subur tumbuhnya ideologi komunisme. Wajudnya dalam bentuk separatisme pertentangan antar kelompok, suku, dan agama semakin tidak terkendali. Fitnah dan stigmasi negatif terhadap Islam sebagai agama yang dianut mayoritas semakin menjadi-jadi. Teror sabotase terutama pencurian alat-alat vital sarana transportasi kereta api semakin menjadi-jadi. Keadaan ini mengingatkan kita pada watak komunisme.

Paham komunisme di Indonesia pertama kali dibawa oleh seorang tokoh Komunis Belanda bernama Sneevlet. PKI sendiri pernah melakukan pemberontakan beberapa kali di Indonesia. Pertama, melawan pemerintah kolonial Belanda tahun 1926. kemudian pemberontakan di madiun tahun 1948. PKI yang dipimpin D.N. Aidit kembali melancarkan kudeta pada tanggal 30 September 1965 (Gestapu/PKI). Semua pemberontakan ini berhasil digagalkan.

Kini gerakan kaum Komunis melakukan metamorfosis sedemikian rupa dari bergerak di bawah tanah tiba-tiba muncul ke permukaan. Tokoh-tokoh PKI yang baru dibebaskan dengan terang-terangan berusaha menjungkirbalikkan fakta sejarah seolah-olah mereka pahlawan tertindas lewat wawancara di media massa. Mereka juga telah membuka situs internet sebagai media propagandanya. Fenomena ini cocok dengan pernyataan Sudisman, Ketua Committee Central (CC) PKI dalam sidang Mahkamah Militer Luar Biasa (Mahmilub) 1967 di Jakarta.

Sesaat setelah palu vonis mati diketukkan hakim, Sudisman berwasiat kepada penerusnya. “Jika saya mati sudah tentu bukannya berarti PKI ikut mati bersama kematian saya. Tidak, sama sekali tidak. Walaupun PKI sekarang sudah rusak berkeping-keping, saya tetap yakin ini hanya bersifat sementara dan dalam proses sejarah, nanti PKI akan tumbuh kembali sebab PKI adalah anak zaman yang dilahirkan oleh zaman”, katanya bersemangat.

Sejak dibubarkannya PKI tanggal 12 maret 1966 melalui Tap MPRS No.XXV 1966 hingga satu dasawarsa era perkembangan gerakan kaum Komunis terbukti semakin mewujud, baik dari pola gerakan sampai pada aktivitas yang jelas-jelas mereka akui bahwa mereka adalah pelanjut dari upaya-upaya pemenangan kepentingan ideologi dan politik Komunis. (M. Alfian Tanjung, Indikasi dan Sistematika Kebangkitan PKI, 2006).

Terbukti, meskipun PKI telah dibubarkan, tidak berarti ajaran dan ideologi Komunis hilang. Menghapus sebuah ideologi dari alam pikiran tidak semudah membubarkan organisasinya.

Oleh karena itu, secara moral, eks aktivis KAPPI Jawa Barat merasa terpanggil kembali menjadi subjek dinamis dalam meluruskan sejarah dan arah perjalanan bangsa dengan menyumbangkan tenaga, pikiran, gagasan, dan kritik konstruktif demi masa depan yang lebih baik. Semoga……………..#OP201107C#

Hasan Syukur, wartawan senior, mantan Sekretaris umum DPHD KAPPI Jawa Barat. (PR)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

  • Arkeologi

  • Trader

  • Energi Alternatif

  • Bencana Global 2050

  • Flying

  • Kereta Api

  • Konstruksi – Arsitektur

%d blogger menyukai ini: