Perubahan Iklim dan kita

Tiga Kelompok Kerja Panel Antar pemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC) telah melaporkan hasil kajian mereka berturut-turut pada bulan Februari, April, dan mei 2007. beberapa minggu lalu, sintesis dari ketiga laporan tersebut pun diluncurkan dengan dihadiri Sekjen PBB. Kajian keempat IPCC yang dikenal dengan nama “IPCC Fourth Assessment Report” (IPCC 4AR) ini muncul menjelang konferensi PBB tentang Perubahan Iklim ke-13 (COP13) di Bali. Adakah relevansi laporan ini dengan COP Bali? Bagaimana para pemangku kepentingan menyikapinya? Yang jelas, laporan ilmiah ini makin memastikan, perubahan iklim sudah terjadi saat ini.

IPCC dibentuk melalui kerja sama dua lembaga PBB (WMO dan UNEP) dengan tujuan antara lain untuk mendukung Konvesi Kerangka PBB tentang Perubahan Iklim (UNFCCC). IPCC adalah sebuah panel yang anggotanya terdiri dari para ilmuwan yang ditunjuk oleh pemerintah. Tugasnya melakukan kajian (assessment) secara berkala tentang aspek ilmiah dan dampak perubahan iklim serta cara mengatasinya. Dalam kondisi tertentu, UNFCCC bisa meminta IPCC melakukan kajian terhadap masalah khusus yang berhubungan dengan perubahan iklim.

Dalam melaksanakan tugasnya, IPCC memiliki tiga kelompok kerja (pokja). Masing-masing Pokja Kajian Ilmiah Perubahan Iklim, Pokja Dampak, Adaptasi, dan Kerentanan terhadap Perubahan Iklim, dan Pokja Mitigasi Perubahan iklim. Hasil kajian akan dipaparkan dan diluncurkan IPCC pada 17 November 2007, menjelang Konferensi Para Pihak UNFCCC di Bali.

IPCC tidak melakukan penelitian langsung, namun melakukan kajian terhadap publikasi ilmiah yang mutakhir. Tidak heran jika tim penyusunnya terdiri dari lebih 2000 ilmuwan. Laporan IPCC tidak dimaksudkan untuk memberikan resep kebijakan meski isinya sangat relevan dengan kebijakan itu sendiri. Oleh karena itu laporan IPCC yang memberikan pilihan kebijakan untuk mengatasi perubahan iklim harus disikapi secara bijak.

Perlu dicatat bahwa Laporan Pertama (First Assessment Report, FAR:1990) telah banyak membantu proses perudingan internasional hingga terbentuk UNFCCC pada tahun 1992. Laporan Kedua (Second Assessment Report, SAR :1995) membantu proses adopsi Protokol Kyoto dengan target penurunan emisinya. Laporan Ketiga (Third Assessment Report, TAR : 2001) banyak mengungkap bukti baru tentang kerentanan negara berkembang terhadap perubahan iklim. Laporan Keempat, AR4 : 2007) mengupas lebih tajam dampak dan kerentanan secara regional.

IPCC 4AR mencatat, wilayah yang paling rentan dan sekaligus paling parah mengalami dampak perubahan iklim adalah negara-negara pulau kecil di Samudra Pasifik. Tanpa peningkatan kemampuan beradaptasi, mereka akan menderita lebih parah lagi karena berkurangnya produksi pangan dan pasokan air bersih. Akibatnya, kejadian berbagai macam penyakit, termasuk malaria, demam berdarah, filariasis, dan kaki gajah akan meningkat.

Dalam waktu kurang dari 50 tahun, sebagian besar daratan Asia hampir dipastikan akan mengalami dampak yang hebat dari banjir, kekeringan, dan kelaparan. Dampak ini melibatkan lebih dari satu miliar penduduk Asia. Angka ini sangat fantastis karena dalam 10 tahun mendatang jumlah penduduk yang akan terpengaruh baru sepersepuluhnya.

Hal ini terjadi karena peningkatan tinggi muka air laut yang akan menggenangi kawasan yang dihuni jutaan manusia di Delta sungai besar seperti Gangga-Brahmaputra, Yangtze, Sungai Merah, dan Mekong. Juga diperparah oleh mencairnya gletser di Himalaya karena peningkatan suhu udara.

Meski negara maju seperti Australia juga mengalami dampak yang hebat, mereka memiliki kemampuan yang memadai untuk mengatasi dampak tersebut. Ketersediaan air bersih di bagian tenggara Benua kanguru, tempat konsentrasi penduduknya, akan menyusut 25% dalam kurun waktu kurang dari 50 tahun. Akibatnya, ekosistem hutan akan sangat rentan terhadap kebakaran, terumbu karang akan mengalami pengelantangan (bleaching) yang hebat. Pada gilirannya, pendapatan dari sektor pariwisata akan merosot. Pemadaman listrik akan lebih sering karena menurunnya catu daya. Para manulanya akan lebih rentan terhadap penyakit yang berhubungan dengan peningkatan suhu.

Kajian IPCC 4AR menyinggung Indonesia secara spesifik. Pertama, meningkatnya hujan di kawasan utara dan menurunnya hujan di selatan (khatulistiwa). Kedua, kebakaran hutan dan lahan yang peluangnya akan makin besar dengan meningkatnya frekuensi dan intensitas El-Nino. Ketiga, delta Sungai Mahakam masuk ke dalam peta kawasan pantai yang rentan. Karena terbatasnya publikasi ilmiah tentang Indonesia, kejadian-kejadian ekstrem yang banyak kita jumpai tidak terekam kajian ini.

Tidak dapat dimungkiri lagi bahwa perubahan dan variabilitas iklim sudah terjadi dan dampaknya akan semakin buruk jika kita tidak melakukan sesuatu yang berarti. Negara yang tergolong miskin adalah yang paling menderita terkena dampaknya karena dua alasan.

Pertama, karena letak geografisnya yang di sekitar khatulistiwa. Di daerah ini, perubahan dan variabilitas suhu dan curah hujan relatif lebih besar di banding negara-negara di lintang yang lebih tinggi yang notabene adalah negara-negara maju. Kedua, rendahnya kemampuan ekonomi dan teknologi negara-negara miskin membuat kemampuan beradaptasinya juga rendah.

Negara maju yang telah terlebih dahulu mengenyam kemajuan ekonomi telah mengemisikan GRK dalam jumlah yang sangat besar. Sangatlah wajar kalau mereka memiliki tanggungjawab yang lebih besar. Tidak hanya dalam hal mitigasi perubahan iklim dengan menurunkan laju emisi, tetapi juga dalam meningkatkan kemampuan negara-negara miskin dan berkembang dalam beradaptasi dengan kondisi iklim yang sudah berubah.

Perubahan dan variabilitas iklim juga terjadi di Indonesia. dampaknya sering kita alami meski tak banyak didokumentasikan secara ilmiah. Indonesia sebagai pihak UNFCCC juga perlu mengambil sikap sebagai negara berkembang dalam bentuk kepulauan. Kerentanannya yang tinggi dan kapasitas adaptasinya yang rendah memerlukan aliansi bersama negara senasib dalam memperjuangkan posisi dan desakannya kepada negara maju yang memiliki kemampuan lebih baik.

COP13 perlu mengangkat masalah adaptasi dengan langkah-langkah yang lebih konkrit dibanding keputusan di Nairobi tahun lalu. perundingan perlu lebih spesifik mengacu pada kajian IPCC 4AR. Karena itu, peranan Indonesia sebagai Presiden COP 13, khususnya dalam menyuarakan kepentingan negara berkembang, sangat penting.

Kepemimpinan Indonesia dalam hal adaptasi perlu didemontrasikan karena adaptasi bagaikan agenda yang terlupakan. Di bali ini kita harap komitmen konkret adaptasi terhadap perubahan iklim terjadi…………………….#OP301107A#

Daniel Murdiyarso, peneliti senior CIFOR dan Review Editor IPCC Fourth Assessment Report. (PR)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

  • Arkeologi

  • Trader

  • Energi Alternatif

  • Bencana Global 2050

  • Flying

  • Kereta Api

  • Konstruksi – Arsitektur

%d blogger menyukai ini: