Visi Ekonomi ASEAN 2015

Di tengah mencuatnya gelombang keraguan tidak berlanjutnya pencapaian stabilitas kinerja ekonomi jangka pendek, sejumlah pemimpin negara ASEAN justru hanya menandatangani satu platform kebijakan ekonomi jangka panjang. Sayang, pertemuan pemimpin ASEAN itu tidak membahas satu pun solusi dini dari potensi melemahnya kondisi perekonomian regional dalam jangka pendek, terutama hingga tahun depan.

Sebatas hasil, tercapainya kesepakatan jangka panjang itu mungkin tergolong cukup dramatis. Paling tidak jika dilihat dari kacamata minus beragam prediksi kondisi ekonomi kita akhir-akhir ini. Semangat ASEAN untuk menjadi kawasan termaju memang layak didukung. Sayangnya, kesepakatankesepakatan yang daimbil lebih bersifat jangka panjang, tidak membumi, dan masih mengawang-awang, kalau tidak mau disebut baru sebatas mimpi.

Kecuali soal jangka panjang, banyak persoalan krusial jangka pendek yang harus diselesaikan. Sebutlah upaya penanganan hukum dan pengembalian kekayaan koruptor yang banyak bermukim di beberapa negara-ASEAN. Terutama di Singapura. Kemudian masalah perlindungan TKI di malaysia dan Singapura serta penanganan penyelundupan sumber daya alam Indonesia ke sejumlah negara ASEAN.

Persoalan lain dari kurang efektifnya ASEAN Charter adalah kurang didukung oleh kerangka kebijakan ekonomi yang lebih teknis. Misalnya kemungkinan pemberian insentif dari negara ASEAN yang ekonominya sudah lebih maju kepada negara ASEAN lainnya yang perekonomiannya masih banyak dirundung masalah.

Kalau saja bisa sejak awal diasumsikan bahwa lanjutan kesepakatan ekonomi ini bisa berjalan mulus, tahun 2015 nanti sejatinya memang akan ada harapan bagi terjadinya transformasi ekonomi di kawasan ASEAN. Visi luhur ASEAN economic community blueprint sebatas itu sampai hari ini sejujurnya baru bisa diartikan sebagai motivasi. Menariknya, dekomposisi kesepakatan yang dibuat bersamaan dengan “ASEAN Summit ke-13” juga diembel-embeli pencapaian visi kawasan ekonomi berdaya saing tinggi, pembangunan ekonomi pantas, dan kawasan yang terintegrasi penuh dengan perekonomian global.

Semangat bersama untuk menjadikan kawasan ASEAN sebagai cluster ekonomi pasar berbasis produksi di prediksi perjalanannya tidak akan semulus jalan tol. Itu terjadi karena adanya perbedaan mencolok kondisi aktual ekonomi domestik masing-masing negara ASEAN. Kalau titik berangkatnya saja sudah jauh beda, bagaimana kita bisa sampai tujuan bersama-sama?

Untuk menjawab keraguan itu, mari kita lihat kondisi ekonomi negara-negara ASEAN beberapa tahun terakhir ini. Pertama, dilihat dari komposisi foreign direct investment (FDI) atau nilai investasi asing langsung ke tiap-tiap negara ASEAN. Sejak krisis, dilihat dari data World Investment Report, rata-rata share total FDI ke Indonesia lebih banyak anjloknya. Total investasi asing langsung dunia ke sejumlah negara Asia Pasifik padahal lebih tinggi, termasuk ke nagara-negara ASEAN, dengan rata-rata 55% ke Asia Pasifik.

Aliran FDI ke kawasan Asia pasifik ini jauh mengalahkan share FDI ke kawasan Afrika (7,0%) dan Amerika latin (38%). Dari 55% total FDI yang masuk ke kawasan Asia pasifik, sebagian besar masuk ke Cina (rata-rata 23%) dan Honkong (11%). Dibandingkan dengan sesama negara ASEAN, share FDI ke Indonesia tergolong rendah (kurang dari 1%), selevel dengan Vietnam dan Filipina. Distribusi FDI ke Singapura misalnya mencapai 5,8% dan ke Malaysia 1,4% serta ke Thailand 1,9%.

Kedua, perkembangan indeks Global Competitiveness Report. Publikasi “World Economic Forum 2006-2007” menempatkan Indonesia pada peringkat 50 dalam hal competitiveness. Jauh di bawah Singapura (5), Malaysia (26), dan Thailand (35). Posisi itu menunjukkan kalau pekerjaan rumah perekonomian kita masih sangat berat dibanding dengan negara ASEAN lainnya.

Ketiga, tingkat inflasi domestik tiap-tiap negara. Publikasi “ASEAN Trade Statistics Database” menunjukkan bahwa tingkat inflasi di indonesia relatif lebih tinggi dibanding tingkat inflasi negara ASEAN lainnya. Senasib dengan Indonesia adalah Myanmar dan Laos. Di luar itu, tingkat inflasi negara ASEAN lainlebih rendah. Dalam lima tahun terakhir (2002-2006), inflasi di Singapura selalu di bawah 1,5% (yoy). Di malaysia, inflasi tertinggi 3,5% (2005). Dalam 5 tahun terakhir, tingkat inflasi di indonesia tergolong tinggi. Tahun 2005 bahkan sempat mencapai 17,1%.

Keempat, dilihat dari total perdagangan intra ASEAN. Total perdagangan intra ASEAN lebih banyak dinikmati Singapura, Malaysia, dan Thailand. Nilai total perdagangan Indonesia dengan sesama negara ASEAN hanya sedikit lebih baik dibandingkan dengan Filipina, Vietnam, Myanmar, dan laos.

Persoalannya, kalau kita tidak bisa cepat memperbaiki daya saing produk dalam negeri, kemungkinan paling buruk yang bisa terjadi tidak lain adalah kita hanya dijadikan pasar produk negara ASEAN lainnya. Pertumbuhan total perdagangan Indonesia dengan sesama negara ASEAN belakangan ini sudah jauh lebih baik (diatas 12%), tetapi masih jauh dibandingkan dengan prestasi Vietnam (26%), Singapura (18%), dan Myanmar (18%).

Oleh karena itu, mulai sekarang kita harus mulai serius mengkalkulasi persoalan ekonomi agar efektivitas visi jangka panjang ASEAN 2015 benar-benar bisa dirasakan hasilnya. Komitmen ini perlu dibangun serius, terutama mengingat banyaknya kesepakatan serupa yang sebelumnya sudah dideklarasikan, dalam prosesnya kurang terimplementasikan. Sebut saja masalah AFTA. Sampai sekarang kerangka teknis dan efektivitasnya belum terefleksi optimal.

Belum lagi persoalan perbedaan kapasitas infrastruktur, institusi, stabilitas makroekonomi, dan faktor-faktor penentu daya saing ekonomi lainnya, seperti efisiensi usaha dan inovasi serta perubahan teknologi yang perbedaan mencolok antar sesama negara ASEAN.

Di sisi lain, hingga saat ini sejumlah negara ASEAN juga membangun banyak kesepakatan kerja sama ekonomi dan perdagangan dengan negara-negara lain di luar kawasan ASEAN. Sampai saat ini diperkirakan tidak kurang dari 40-an kesepakatan sejenis ASEAN Charter dibangun oleh sejumlah negara ASEAN dengan wilayah lain di luar ASEAN. Bagaimana mengaturnya agar tiap-tiap keputusan tidak saling bertabrakan, ini persoalan yang tidak mudah.

Kondisi perdagangan luar negeri tiap-tiap negara ASEAN dengan mitra dagangnya di luar ASEAN juga patut dipikirkan. Tingginya ketergantungan ekspor Indonesia ke Amerika Serikat, Jepang, dan Eropa, misalnya, sangat berpotensi memengaruhi kinerja perdagangan Indonesia dengan negara-negara ASEAN lainnya……..#OP301107B#

Acuviarta, dosen tetap Jurusan ilmu Ekonomi Unpas dan Peneliti Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Bandung Koordinator Jawa Barat. (PR)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

  • Arkeologi

  • Trader

  • Energi Alternatif

  • Bencana Global 2050

  • Flying

  • Kereta Api

  • Konstruksi – Arsitektur

%d blogger menyukai ini: