Yang Ekstra untuk HIV-AIDS

Selama enam tahun terakhir, jumlah penderita HIV-AIDS meningkat secara dramatis di indonesia. penyakit ini unik karena berkaitan erat dengan perilaku tertentu yang berbahaya seperti penggunaan jarum bersama oleh para pengguna narkoba suntik dan perilaku seks bebas. Seorang yang mengidap HIV-AIDS juga dapat menularkan penyakitnya kepada istri atau anak yang dilahirkannya.

Di luar perilaku berisiko dan penularan dalam keluarga ini, sebenarnya penyakit AIDS tidak mudah menular di masyarakat. Namun, karena adanya stigma atau karena buruknya persepsi masyarakat dalam menghadapi penyakit ini, terdapat kekhawatiran yang berlebihan  saat kita perlu terbuka untuk memutus rantai penularannya. Terlebih lagi, petugas medis banyak yang masih belum siap untuk menghadapi dan menangani penderita HIV-AIDS secara terbuka.

Dibandingkan penyakit lain seperti tuberkulosis atau hepatitis, angka kejadian penyakit AIDS di masyarakat masih tergolong rendah yaitu 0,08% atau sekitar 1 dari 1000 penduduk. Namun di komunitas tertentu dengan resiko tinggi, seperti pengguna narkoba suntik (penasun), angka kejadiannya bisa mencapai 500 kali lipat atau sekitar 50%.

Hal yang sama juga terlihat dari kenyataan bahwa 80% dari penderita AIDS yang baru dideteksi atau dikelola di rumah-rumah sakit, tertular penyakit ini melalui penggunaan narkoba suntik. Penularan melalui perilaku seks yang tidak aman juga sudah tinggi di beberapa daerah tertentu seperti di Papua.

Terfokusnya kejadian HIV-AIDS pada kelompok-kelompok tersebut ini sebenarnya disatu pihak masih memberikan kesempatan pada kita untuk mengarahkan upaya kita untuk mencegahnya. Namun di sisi lain, kelompok masyarakat ini adalah kelompok yang paling sulit di jangkau, sering mengisolasi diri dan sering melakukan aktivitasnya secara pribadi dan rahasia sehingga sering keluarganya pun tidak tahu.

Pertanyaan yang mengganjal kemudian adalah bagaimana cara terbaik untuk mencegah bertambahnya jumlah pengguna Napza suntik? Bagaimana cara mencegah penularan HIV-AIDS di kalangan mereka? Apakah slogan-slogan yang terpampang di jalanan, TV, maupun radio cukup efektif untuk mengubah perilaku penasun sehingga mereka bisa berhenti melakukannya?

Pertanyaan-pertanyaan ini sangat relevan karena sebenarnya kalangan medis dan LSM yang peduli saat ini masih menghadapi tantangan besar untuk mengubah perilaku mereka. Terlebih lagi, pemahaman masyarakat mengenai HIV-AIDS masih sangat kurang sehingga sering menimbulkan kesan negatif, bahkan terkesan berusaha menghindar dari masalah ini.

Bila dilihat dan diidentikkan dengan penyakit lain, sebenarnya penyakit HIV-AIDS ini dapat mirip dengan penyakit menahun lain seperti diabetes. Seperti halnya HIV-AIDS, penyakit ini juga merupakan penyakit yang belum ada vaksinnya, bisa diobati, tetapi tidak bisa sembuh sempurna. Obat HIV-AIDS atau yang dikenal dengan sebagai antiretroviral (ARV) yang ada saat ini sudah bisa memberikan perbaikan kondisi sehingga penderita dapat melakukan aktivitasnya dengan normal. Obat ini disiapkan secara gratis oleh pemerintah, efektif untuk membunuh virus, tapi tidak membuang bibitnya sehingga penderita harus mengonsumsi obat tersebut seumur hidup.

Bila vaksin untuk suatu penyakit sudah dimiliki tidak terlalu sulit untuk mendistribusikan vaksin ini agar semua orang bisa kebal. Dalam hal HIV-AIDS, saat ini belum ada titik terang mengenai keberadaan vaksin yang efektif. Dalam keadaan seperti ini, untuk mencegah penularan HIV-AIDS, hal terbaik yang bisa dilakukan oleh pekerja kesehatan adalah memberikan pengobatan pada penderita sedini mungkin. Untuk tujuan ini, upaya mendapatkan kontak dengan kelompok risiko tinggi, memeriksa, mengobati, serta memberikan dukungan menyeluruh agar penderita tidak mangkir atau melarikan diri dari program pengobatannya menjadi sangat penting.

Kondisi-kondisi yang telah dipaparkan di atas adalah kunci permasalahan yang harus diatasi oleh sistem kesehatan di Indonesia, termasuk sistem kesehatan di Jawa Barat. Selain pekerja sosial dari LSM yang telah banyak membantu mendukung program pencegahan HIV-AIDS, para pekerja kesehatan perlu pula membina kontak dengan kelompok yang berisiko tinggi, baik itu pengguna narkoba, penasun maupun orang-orang yang secara aktif berperilaku seks tidak aman.

Nah, apakah kita sudah siap untuk ini? Melihat besarnya masalah kesehatan yang ada di Indonesia dan HIV-AIDS bukan merupakan satu-satunya masalah kesehatan yang ada, maka beban yang harus dipikul amat besar. Namun semakin ditunda, akan semakin banyak korban berjatuhan, dan semakin banyak pula penderita HIV-AIDS yang harus ditangani oleh petugas kesehatan.

Kelompok program kerja sama pengendalian HIV-AIDS Unpad-RSHS yang disebut dengan Impact (Integrated Management for Prevention, control, and Treatment of HIV/AIDS) berupaya melaksanakan program percontohan mengenai ini. Berbekal pengetahuan mengenai pola penularan HIV-AIDS di kelompok/remaja berisiko tinggi, Impact memberikan bimbingan teknis pada lima lini. Pertama, promosi kesehatan bagi remaja. Kedua, meningkatkan cakupan VCT (Voluntary, Counseling, and Testing) atau konseling dan pemeriksaan HIV-AIDS sukarela bagi orang yang berisiko tinggi.

Kemudian ketiga, mendekati dan memberikan pelayananan kesehatan bagi kelompok penasun. Keempat, memberikan pelayanan kesehatan bagi penderita HIV-AIDS. Terakhir, kelima, meningkatkan kapabilitas pekerja kesehatan agar dapat melaksanakan beban lini 1-4 diatas.

Pertanyaan paling penting yang harus dijawab oleh bidang promosi kesehatan remaja adalah apa cara yang tepat untuk mendistribusikan informasi mengenai bahaya HIV-AIDS dan cara mencegah merebaknya infeksi HIV-AIDS di kalangan remaja. Program Impact akan berupaya melakukan survei mengenai masalah ini dan dalam beberapa tahun ke depan diharapkan akan terdapat terobosan dan usulan baru mengenai cara memberikan pendidikan yang tepat bagi remaja.

Bidang pemeriksaan HIV-AIDS mendapatkan tugas untuk meningkatkan cakupan program VCT. Program ini penting untuk mebina hubungan baik dengan penasun sebanyak-banyaknya dan melakukan testing HIV-AIDS. Bila seorang penasun dinyatakan HIV positif, maka ia bisa menularkan penyakitnya ini selama bertahun-tahun sebelum ada gejala penyakit yang dirasakannya.

Upaya pemeriksaan status HIV-AIDS sedini mungkin akan meberikan kemungkinan untuk memberikan dukungan dan pendidikan baginya sehingga memperkecil kemungkinan baginya untuk menularkan penyakit tersebut kepada istri, suami, anak, atau teman-temannya melalui perilaku yang berbahaya.

Upaya VCT ini bukanlah program baru karena sudah dilakukan sejak lebih dari 10 tahun yang lalu. namun sejauh ini, skla pelaksanaannya masih terbatas yaitu hanya mencakup sekitar 1-3% dari penasun yang diduga ada di masyarakat Indonesia.

Penasun adalah kelompok masyarakat yang terisolasi, kurang percaya diri, dan sering menjauhkan diri dari masyarakat umum. Mereka juga kelompok yang sering terpaksa berhubungan dengan pihak berwajib karena perilakunya yang melanggar hukum. Upaya memberikan pelayanan kesehatan pada penasun diharapkan dapat membawa mereka mendekat pada petugas kesehatan sehingga dapat dibantu untuk mengendalikan penggunaan obatnya. Diharapkan selama perilakunya dapat dikendalikan akan semakin jarang ia harus berurusan dengan pihak berwajib.

Dalam sistem pelayaran seperti ini, diharapkan ia juga akan bisa menjalani pemeriksaan HIV-AIDS lebih dini dan mendapatkan pengetahuan yang diperlukan mengenai cara mencegah penularan penyakit ini. Sebaliknya, pelayanan kesehantan yang diberikan bersifat menyeluruh, mulai dari penyakit biasa, seperti ganguan kulit, batuk, pilek, hingga yang lebih khusus seperti upaya untuk mengendalikan kebutuhannya pada narkoba suntik seperti yang dilaksanakan melalui program Metadon.

Penderita HIV-AIDS adalah kelompok pasien yang membutuhkan perhatian ekstra. Penyakit HIV-AIDS mengakibatkan seseorang rentan pada penyakit sampingan (oportunistik) seperti tuberkulosis, infeksi jamur, virus, atau bakteri yang mematikan. Penyakit-penyakit ini muncul pada keadaan stadium penyakit HIV-AIDS yang sudah berat. Bila penderita segera diobati, penyakit ini akan lebih mudah dikendalikan dan penderita kemudian dapat hidup selayaknya orang biasa.

Pengobatan dan pelayanan kesehatan bagi penderita HIV-AIDS penting karena dengan kontak yang baik dengan petugas yang memiliki pengetahuan yang sesuai, ia akan dapat diobati serta mendapatkan pengetahuan yang diperlukan untuk dapat hidup sehat dekat dengan keluarga dan teman-termannya. Kepatuhan yang mantap dalam menggunakan obat ARV akan menurunkan jumlah virus yang diidapnya sehingga memperkecil kemungkinan penularan kepada orang disekitarnya.

Petugas kesehatan mendapatkan perhatian ekstra dalam program Impact karena bila semua program HIV-AIDS ini dilaksanakan kelompok pekerja kesehatan akan menjadi salah satu pihak yang paling merasakan penambahan beban kerja, di samping risiko tertular akibat pekerjaannya yang mengharuskan ia  berkontak dengan penderita HIV-AIDS. Dengan pengetahuan yang cukup dan mematuhi prosedur yang benar, petugas kesehatan dapat mencegah dirinya menjadi korban dan dapat menolong penderita dengan aman. Kemampuan ini perlu dimiliki oleh para petugas kesehatan karena hanya dengan inilah ia dapat memberikan pelayanan tanpa rasa takut atau khawatir.

Program Impact akan berjalan selama 5 tahun, dimulai sejak awal 2007. cakupan program di Bandung melibatkan Rumah Sakit Hasan Sadikin dan Lembaga Pemasyarakatan Banceuy sebagai pusat pengobatan HIV-AIDS dan implementasi awal pengendalian penggunaan Napza suntik. Pada tahun kedua dan ketiga, diharapkan program ini dapat membina beberapa klinik adiksi dan sarana pelayanan kesehatan bagi kelompok berisiko tinggi lainnya di Bandung. Program ini diharapkan menjadi contoh untuk progrma serupa yang dapat dilakukan di kota manapun di Indonesia.

Kerja sama dengan pihak terkait sangat diperlukan bagi keberhasilan program ini. Pihak kepolisian dan Departemen Hukum dan HAM merupakan institusi yang memiliki kewenangan dalam pengendalian narkoba dan penggunaan Napza suntik. Pengertian yang sama mengenai strategi dan upaya pencegahan HIV-AIDS sangat diperlukan. Dengan tulidsan ini diharapkan mulai akan terbangun pengertian di masyarakat dan institusi terkait sehingga dialog yang lebih intensif dan aktivitas yang produktif dapat dilaksanakan…………………#OP011207A#

Bachti Alisjahbana, spesialis penyakit dalam, pengajar di Fakultas Kedokteran Unpad, dan bertugas di bagian Ilmu Penyakit Dalam, RS Hasan Sadikin, bandung. (PR)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

  • Arkeologi

  • Trader

  • Energi Alternatif

  • Bencana Global 2050

  • Flying

  • Kereta Api

  • Konstruksi – Arsitektur

%d blogger menyukai ini: