Membangun Masyarakat Madani yang Religius

Pada lima tahun terakhir, Bandung telah mencanangkan tujuh program prioritas. Salah satunya adalah ikhitiar menuju “Bandung Kota Agamis” pada 2008. dalam konteks sosiologis, agenda ini sekaligus mencerminkan proses transformasi masyarakat menuju “civil society” seperti pernah diisyaratkan sejarah.

Sedangkan secara faktual, agenda ini akan menjadi identitas tersendiri sejalan dengan kenyataan warga Kota Bandung yang seluruhnya beragama. Jadi, kota agamis dengan watak plural seperti iniakan mendorong sikap toleran dan mandiri sesuai dengan watak civil society.

Civil society sering diidentifikasi sebagai masyarakat madani. Masyarakat madani adalah masyarakat yang ditandai oleh kehidupan yang berperadaban, yaitu adanya kesadaran sekaligus pengakuan manusia atas sesama manusia lainnya. Atau adanya kesadaran kemanusiaan sebagai komunitas yang saling membutuhkan melalui mekanisme yang berkebudayaan.

Ciri-ciri penting masyarakat seperti itu, salah satunya dapat dilihat pada konstitusi Madinah. Konstitusi Madinah adalah produk politik yang terumuskan melalui kesepakatan bersama antar berbagai unsur dalam masyarakat. Beberapa prinsip yang mendasari terwujudnya masyarakat seperti itu, antara lain, pertama, mulai dikembangkannya prinsip tasamuh, yakni etika yang melandasi sikap toleran dalam kehidupan masyarakat plural. Etika ini telah mengilhami pentingnya kebersamaan dalam suasana masyarakat yang beragam.

Kedua, akibat dari munculnya perubahan yang berlangsung sejalan dengan proses urbanisasi, terbentuklah tatanan masyarakat yang ditandai pluralisme kultural. Berkaitan dengan itu, masyarakat madani adalah fenomena masyarakat yang ditandai oleh adanya tingkat penghayatan yang tinggi terhadap pluralisme kultural yang menjadi kenyataan sosial yang dihadapinya. Mereka pada umumnya memiliki sikap yang tercerahkan, yang cenderung lebih mengedepankan pertimbangan rasional ketimbang emosional.

Oleh karena itu, jika agama merupakan tata nilai yang memberikan kebebasan kepada para pemeluknya untuk memainkan peran-peran sosial yang lebih rasional, agama otomatis akan menjadi salah satu identitas yang dianutnya sekaligus sumber inspirasi dalam mengantisipasi perubahan-perubahan yang mungkin terjadi.

Pergeseran nilai dari tradisionalisme menuju masyarakat industri modern, umumnya hampir selalu melahirkan dinamika baru masyarakat kota. Problema sosial yang baru itu pada gilirannya akan berpengaruh secara signifikan terhadap perubahan-perubahan sikap mental individu ataupun kelompok di dalam masyarakat. Dalam tatanan perubahan seperti itu, nilai-nilai universalisme agama akan berfungsi sebagai pengikat perbedaan-perbedaan itu kedalam satu kesatuan sosial yang tetap progresif dan berorientasi ke depan.

Ketiga, secara sosiologis, masyarakat kota adalah masyarakat yang ditandai oleh adanya sikap dan perilaku yang kosmopolit. Pada saat yang sama, semakin menipiskan aspek primordialisme dalam berbagai peran sosial yang dimainannya. Ikatan-ikatan sosial yang terjadi pada masyarakat seperti ini lebih didasarkan pada hubungan-hubungan fungsional-raasional.

Konsekuensinya, ia akan menjadi masyarakat yang lebih terbuka dan demokratis. Karena itu, jika muncul keinginan demokratisasi, sesungguhnya yang harus dilakukan adalah terlebih dulu mengupayakan tumbuhnya sikap kosmopolit. Sikap inilah yang akan menjadi kekuatan pendorong terbentuknya masyarakat terbuka dan demokratis.

Sebagai agama universal, Islam sengaja menghadirkan dirinya untuk menjadi kekuatan pembebas yang akan memerdekakan manusia dari ikatan-ikatan primordialisme yang hanya akan mempersempit gerakan-gerakan yang diperankannya. Universalisme Islam ini, menurut Nurcholis Madjid (1992), berakar pada pengertian dasar tentang Islam, yaitu sikap pasrah kepada Tuhan.

Sikap pasrah kepada Tuhan, menurut dia, tidak saja merupakan ajaran Tuhan kepada hamba-Nya, tetapi diajarkan oleh-Nya dengan disangkutkan kepada alam manusia itu sendiri. Karena itu, ia tumbuh secara alamiah mengikuti arus kebudayaan yang menjadi panutan masyarakat manusia. Sikap keagamaan, pasrah kepada Tuhan, yng dihasilkan dari proses pemaksaan dari luar adalah tidak autentik, karena kehilangan dimensinya yang paling mendasar dan mendalam, yaitu kemurnian atau keikhlasan itu sendiri,

Pembinaan nilai-nilai keagamaan yangmerupakan pasyarat menuju masyarakat madani yang religius, perlu didudukan pada posisi sentral agenda Kota Bandung. Ia akan menjadi muatan utama dalam membangun karakter religus masyarakatnya. Sepintas, tema pembinaan religiusitas ini tampak begitu kompleks, tapi sejarah pernah membuktikan proses mewujudkannya secara sistematis melalui pendidikan civil society yang merupakan wujud dari perjalanan pembinaan masyarakat sejak usianya yang paling awal. Karena itu, pendidikan agama merupakan kunci penting menuju civil society yang religius.

Buku Religious Education : A Comprehensive Survey (1960), yang merupakan kumpulan tulisan dari sejumlah pakar pendidikan dan agama, menggambarkan kompleksitas pendidikan agama bagi anak-anak usia sekolah. Marvin J. Taylor, editor buku tersebut, dalam pengantarnya mengilustrasikan begitu rumitnya proses memperkenalkan agama dalam dunia pendidikan. Diawali dengan pembahasan beberapa prinsip pendidikan agama, Taylor merangkai suatu sistematika hingga pembahasan di seputar kelembagaan yang mengajarkan agama dengan segala karakter yang mengikat para pemeluknya. Kesimpulan saya, usaha memperkenalkan agama berikut ajarannya bukanlah sesuatu yang sederhana.

Secara implisit, ada kesepakatan mengenai pentingnya mengajarkan prinsip-prinsip iman dari suatu agama. Agama tetap harus diperkenalkan sejak usia dini. Melalui pengajaran agama, anak-anak dapat menghayati sisi-sisi moral yang hampir tidak tersentuh oleh pelajaran lainnya. Bahkan ketika terjadi kasus tawuran di kalangan pelajar pun, ada sebagian pihak yang menghubung-hubungkannya dengan pelajaran agama.

Senada dengan pemikiran seperti itu, terhadap rendahnya sikap toleran di kalangan masyarakat pun ada yang menilainya sebagai akibat dari ekslusivisme pola pengajaran agama. Artinya, untuk menumbuhkan sikap toleran, agama harus diperkenalkan secara terbuka, sehingga diperoleh pengetahuan tentang nilai-nilai universal dari agma-agama yang dipeluk umat manusia.

Mengajarkan nilai-nilai kehidupan yang berakar pada agma memang bukan merupakan hal yang mudah. Ia akan melibatkan sekurang-kurangnya dua hal penting. Pertama, berkaitan dengan subtansi yang diajarkan. Pokok-pokok ajaran sesuatu agama merupakan rumusan keyakinan yang meliputi nilai-nilai serta etika ritual yang dianutnya.

Kedua, berkaitan dengan aspek metodologi, bagaimana sesuatu keyakinan itu diajarkan. Pada aspek yang terakhir ini, pengajaran agama pada gilirannya akan melahirkan efek pengetahuan, sikap, dan bahkan perilaku yang bersumber pada sesuatu ajaran.

Untuk memupuk karakter toleran dalam komunitas yang plural, misalnya, ada banyak bahannya. Satu di antaranya adalah buku Mengenal Ajaran Agama di Dunia karya Sari Pusparini Soleh.

Buku ini berkisah tentang identitas agama-agama besar dunia. Ia tidak bermaksud mengaburkan pengetahuan atau bahkan keyakinan seseorang. Ia hanya memberi pengetahuan sifatnya elementer tentang suatu agama. Ia justru akan membawa para pembacanya memasuki dunia agama yang lebih luas, sehingga ditemukan pintu-pintu pengetahuan yang dapat menumbuhkan sikap toleran di antara para pemeluk agma. Pada tingkat penghayatan tertentu, mungkin juga buku ini akan semakin memperkokoh keyakinan seseorang tentang agama yang dianutnya setelah mengetahui sistem ajaran agama lainnya.

Pendidikan harus dibedakan dari bentuk-bentuk fasilitas fisik lainnya. Barang bekas yang telah out of date pada suatu masyarakat, masih mungkin digunakan oleh masyarakat lain. Tetapi konsep pendidikan, termasuk pola-pola kebudayaan pada umumnya, tidak bisa secara simplistik dialihgunakan pada sistem sosial lain yang berbeda. Konsep pendidikan hanya mungkin digunakan jika konsep itu dirumuskan dari hasil temuan sendiri atas dasar masalah-masalah dan kebutuhan yang berkembang pada sesuatu zaman dan kebudayaan.

Karena itu, sesederhana apa pun, pola implementasi pendidikan yang diberlakukan pada sesuatu masyarakat yang memiliki tingkat pluralitas yang tinggi seperti halnya Indonesia, tidak bisa “dipaksa” disamakan dengan lainnya. Dengan alasan apa pun, pendekatan struktural yang melihat bahwa kebudayaan masyarakat itu dianggap sama, tidak bisa digunakan dalam konteks pendidikan. Sebab pendidikan adalah kekayaan masyarakat yang tumbuh dan berkembang sesuai dengan masalah dan kebutuhan yang dimilikinya sendiri.

Proses pembelajaran agama di lembaga-lembaga pendidikan, termasuk upaya untuk membentuk karakter umat dalam ruang pembelajaran sosial yang lebih kompleks, dilakukan dengan mempertimbangkan faktor-faktor subtansi yang akan diajarkan, konteks makro pengembangan keahlian pada suatu program studi, serta kondisi individual para mahasiswa yang terlibat dalam proses tersebut, baik menyangkut kesiapan intelektualnya maupun latar belakang kulturalnya. Faktor-faktor tersebut berkaitan satu sama lain sehingga perlu dipertimbangkan oleh para pengajarnya.

Untuk mempelajarai suatu ajaran agama, khususnya tentang dasar-dasar keimanan, akidah, dan lain sebagainya, mungkin saja ada yang masih dikategorikan mualaf, meskipun yang bersangkutan telah menganut agama sejak lahir. Karena itu, pada tahap awal belajar agama, anak didik perlu memperoleh pencerahan umum tentang apa itu agama dan bagaimana mempelajarinya. Bahkan, jika mungkin, mereka juga perlu memiliki kesiapan mental untuk menerima perbedaan-perbedaan.

Mereka mulai dibawa memasuki alam objektif dan terbuka yang mungkin masih dianggap baru, seperti mendiskusikan tema-tema keagamaan yang menarik dan aktual, tetapi jarang tersentuh oleh pemikiran keagamaan yang cenderung figh-oriented seperti banyak berkembang pada lembaga-lembaga pendidikan Islam tradisional. Untuk membangun wawasan baru serta menumbuhkan sikap ilmiah para pelajar dan mahasiswa dalam mempelajari agama, dapat digunakan berbagai referensi aktual…………..#OP061207A#

Miftah Faridl,Ketua Umum MUI Kota Bandung. (PR)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

  • Arkeologi

  • Trader

  • Energi Alternatif

  • Bencana Global 2050

  • Flying

  • Kereta Api

  • Konstruksi – Arsitektur

%d blogger menyukai ini: