Bila Pendidik tidak Puas

Pendidikan itu tidak pernah memuaskan orang. Pengguna tidak puas, pembuat kebijakan juga selalu merasakan ada yang kurang beres tentang pendidikan yang didesainnya. Lantas semua orang ikut berbicara tentang pendidikan. Hasil pendidikan selalu kurang memuaskan.

Salah satu instansi yang juga sangat sering tidak puas terhadap pendidikan ialah orang tua murid. Padahal, mereka juga pendidik. Ya, semua pendidik juga termasuk orang yang tidak puas terhadap pendidikan. Siapa sebenarnya pendidik itu? Secara umum, tetapi benar, pendidik ialah semua orang atau instansi yang tidak puas terhadap pendidikan.

Di dalam ilmu pendidikan, yang dimaksud pendidik ialah semua yang mempengaruhi perkembangan seseorang, yaitu manusia, alam, dan kebudayaan. Manusia, alam, dan kebudayaan inilah yang sering disebut dalam ilmu pendidikan sebagai lingkungan pendidikan. Yang paling penting diantara ketiganya ialah orang. Alam itu tidak melakukan pendidikan secara sadar, kebudayaan juga. Orang, ada yang melakukan pendidikan secara sadar dan ada yang tidak dengan kesadaran, dan ada yang kadang-kadang sadar kadang-kadang tidak.

Orang sebagai kelompok pendidik banyak macamnya, tetapi pada dasarnya adalah semua orang. Yang paling dikenal dalam ilmu pendidikan ialah orang tua murid, guru-guru di sekolah, teman sepermainan, dan tokoh-tokoh atau figur masyarakat. Jika tujuan pendidikan kita fokuskan pada menjadi manusia, siapakah di antara pendidik itu yang paling bertanggung jawab? Jawabnya ialah orang tuanya.

Dalam perspektif Islam, orang tua (ayah dan ibu) adalah pendidik yang paling bertanggung jawab. Mengapa? Karena anak itu adalah anak mereka. Artinya, Tuhan menitipkan anak itu kepada kedua orang tua itu. Di dalam Alquran, Tuhan mengatakan (artinya), ‘Jagalah dirimu dan ahli familimu dari ancaman neraka.’ “Mu” pada kalimat “Jagalah dirimu” adalah kedua orang tua, yaitu ayah dan ibu.

Bagaimana kedua orang tua menjaganya? Ya, dididik agar menjadi orang saleh dan tidak akan masuk neraka. Artinya, anak itu menjadi saleh, orang saleh tidak akan masuk neraka. “saleh”di sini ialah saleh menurut Yang punya Neraka, bukan menurut orang tua itu.

Di dalam Islam, pedoman orang tua mendidik anaknya sudah cukup banyak (misalnya karya Nasih Ulwan). Orang tua sudah dianjurkan mendidik anaknya sejak anak itu di dalam rahim ibunya, bahkan hadis menerangkan itu dimulai sejak memilih jodoh, yaitu jauh sebelum anak itu berupa janin. Begitu lahir, ada tuntunan mendidiknya misalnya member nama yang bagus, akikah, dan selanjutnya peneladanan dan pembiasaan yang sesuai dengan ajaran Islam.

Dengan pendidikan seperti itu, kira-kira 90% anak itu dijamin akan menjadi manusia. Untuk kesempurnaan perkembangan, anak itu perlu ditambah pendidikan jasmani, pendidikan pengetahuan, dan pendidikan ketrampilan kerja.

Pendidikan jasmani dapat sebagiannya dilakukan oleh orang tua di rumah, misalnya menjaga kebersihan, mengatur makanan, mengatur tidur, dan istirahat. Berbagai jenis permainan fisik dan pengetahuan menjaga kesehatan mungkin harus diajarkan di sekolah. Pendidikan pengetahuan (berbagai macam pengetahuan) dan ketrampilan kerja, agaknya lebih baik diserahkan ke sekolah.

Uraian di atas memberitahukan dan mengingatkan kedua orang tua di rumah bahwa masalah menjadikan anak itu manusia sebagian besar adalah tugas orang tua murid. Misalnya, apakah anak itu menjadi orang yang hidupnya patuh pada Tuhan atau tidak, itu sebagian terbesar adalah tugas orang tua murid. Namun kenyataannya sekarang, banyak orang beragama menyerahkan hamper 100% tugas ini ke sekolah. Itu keliru.

Sebenarnya, jika anak itu nakal, sekolahlah yang kecewa terhadap orang tua di rumah, bukan sebaliknya malah orang tua mengklaim sekolah sebagai lembaga yang tidak becus mendidik anaknya sehingga berakhlak tidak baik.

Dalam hal pendidikan keagamaan, yaitu agar anak itu menjalani hidupnya sehari-hari sesuai ajaran agama, sekolah itu hanya berfungsi membantu. Tanggung jawab utama terletak di tangan kedua orang tua anak itu  timbul persoalan, disebabkan oleh berubahnya jenis pekerjaan, orang tua sering sekali tidak berada di rumah. Dalam bentuk ekstrem, ada orang tua yang pergi subuh, pulang bakda magrib; pergi hari Senin pulang hari Sabtu, bahkan ada orang tua yang meninggalkan rumah (karena pekerjaan) awal bulan dan muncul lagi di rumah pada akhir bulan, bahkan ada yang lebih dari itu. Keadaan ini akan menjadi salah satu penyebab orang tua tidak dapat melakukan tugasnya sebagai pendidik. Untuk mengatasi ini mungkin ada baiknya salah satu saja (suami atau istri saja) yang bekerja di luar rumah.

Persoalannya, orang tua zaman sekarang sering tidak berada di rumah. Keadaan itupun diperparah oleh kekurangmampuan menggunakan waktu tatkala sedang berada di rumah. Ada berbagai macam orang tua dalam hal ini. Pertama, ada orang tua yang banyak di rumah dan ia mampu memanfaatkan waktu yang banyak itu untuk mendidik anaknya. Kedua, ada orang tua yang banyak di rumah tetapi ia kurang mampu memanfaatkan waktu yang banyak itu untuk mendidik anaknya. Ketiga, ada orang tua yang sedikit berada di rumah, tetapi ia pandai menggunakan waktu sedikit itu untuk mendidik anaknya. Keempat, ini yang paling buruk, orang tua yang hanya sedikit berada di rumah dan ia kurang mampu memanfaatkan waktu yang sedikit itu untuk mendidik anaknya.

Kekurangmampuan orang tua mendidik anaknya di rumah bertambah besar karena perkembangan kebudayaan global yang telah menerpa anaknya. Pengaruh luar seringkali lebih kuat daripada pengaruh kedua orangtuanya. Jika anak kita sudah mengelompok dengan teman-teman sepermainan, kelompok itu akan kuat sekali pengaruhnya kepada anak kita.

Guru di sekolah adalah pendidik yang kedua, secara teoritis. Mereka menghadapi hal yang sama dengan yang dihadapi orang tua di rumah, yaitu masalah kekurangan waktu, juga masalah gempuran kebudayaan global. Sementara itu, tangung jawab sekolah sekarang lebih besar daripada zaman dahulu karena guru di sekolah harus mengambil alih sebagian tugas mendidik yang tadinya dilakukan oleh orang tua di rumah.

Pada tingkat ekstrem, tatkala rumah tidak lagi menjalankan fungsinya sebagai tempat pendidikan, seluruh tugas rumah tangga itu harus diambil alih sekolah. Ini tidak boleh tidak, bila sekolah tetap berfungsi sebagai lembaga memanusiakan manusia.

Instansi kepolisian adalah salah satu kelompok orang yang besar pengaruhnya terhadap anak. Kepolisian, menurut teori, adalah lembaga pendidikan. Artinya, dalam proses memanusiakan manusia, kepolisian itu harus ikut bertanggung jawab. Fungsi ini sekarang kurang optimal. Ada segelintir polisi melakukan tindakan tidak mendidik. Pada tingkat ekstrem, kita malah bertanya, masihkah lembaga kepolisian sebagai salah satu tempat pendidikan?

Penjara disebut lembaga pemasyarakatan. Disitu terkandung pengertian bahwa Penjara adalah salah satu tempat pendidikan. Fungsi itu agaknya dipertanyakan sekarang. Mengapa ada orang bicara “Masuk mencuri ayam, keluar mampu mencuri kambing.” Ada sedikit alas an untuk meragukan fungsi Penjara sekarang sebagai salah satu tempat pendidikan.

Pengadilan, pada awalnya, juga adalah salah satu tempat pendidikan. Akan tetapi, pengadilan sekarang apa masih menempati posisi itu? Bagaimana jika pengadilan mendemonstrasikan ketidakadilan? Ia berfungsi sebaliknya.

Partai politik, organisasi massa, LSM, masing-masing adalah juga kelompok orang yang dihitung sebagai pendidik. Terserah anda, apakah lembaga-lembaga itu masih berfungsi sebagai tempat pendidikan atau tidak?

Dengan merenungkan ungkapan-ungkapan pesimistis di atas, tahulah kita mengapa hasil pendidikan sekarang selalu jauh dari yang diharapkan. Mungkin saja sih banyak lulusan sekolah sangat menguasai salah satu bidang pengetahuan, atau sangat ahli dalam salah vokasi, tetapi bagaimana kualitas kemanusiaannya sebagai manusia? Tujuan utama pendidikan ialah manusia yang telah menjadi manusia. Tugas utama pendidikan ialah membantu manusia menjadi manusia………..#OP061207A#

Ahmad Tafsir, guru besar bidang pendidikan Islam Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

  • Arkeologi

  • Trader

  • Energi Alternatif

  • Bencana Global 2050

  • Flying

  • Kereta Api

  • Konstruksi – Arsitektur

%d blogger menyukai ini: