RAN Dalam Menghadapi Perubahan Iklim

Indonesia yang terdiri dari 17.500 pulau terletak di garis khatulistiwa yang terpengaruh oleh iklim global dan bergaris pantai nomor dua terpanjang di Dunia (81.000 KM), merupakan wilayah yang rawan bencana bila dikaitkan dengan perubahan iklim ekstrem. Letaknya yang berada di atas Paparan Sunda dan Paparan Sahul menjadikan sebagian besar daerah di Indonesia rawan gempa vulkanik dan tektonik serta gelombang pasang tsunami.

Daerah ekosistem Indonesia yang rentan meliputi dari pegunungan hingga pantai, termasuk kawasan gambut di dalamnya. Saat ini pendapatan negara yang utama berasal dari sector migas dan Kehutanan.

Beberapa sumber daya air mengalami ancaman akibat terjadinya degradasi di 62 DAS. Ketersediaan air baku memang sangat bergantung pada kondisi iklim sehingga mengganggu kegiatan pertanian, infrastruktur, perikanan, dan ekosistem di rawa, lahan gambut, dan pantai.

Sekarang bayangkan. Pada tahun 2000, jumlah penduduk Indonesia sebesar 205,1 juta jiwa dengan laju pertumbuhan sebesar 1.33%. Kalau setiap orang menghasilkan 2,75 liter sampah per hari, total emisi sampah yang dihasilkan pada tahun 2006 setara dengan 40 ton CH4 per hari atau setara dengan 841 ton CO2 per hari. Emisi dari penggunaan energy adalah 25% dari total emisi Indonesia (1994) dan menyumbang sekitar 0,81% terhadap emisi Dunia.

Sekitar 60% emisi gas rumah kaca (GRK) berasal dari sektor LULUCF (land use, land use change and forestry). Pada tahun 1997, kebakaran hutan dan lahan gambut di Indonesia menyumbang 13-40% emisi karbon Dunia, tetapi data ini hanya pada perhitungan tahun tersebut, Padahal hotspot akibat kebakaran hutan berfluktuasi sesuai dengan kondisi iklim El-Nino dan La Nina.

Bagaimana dengan komitmen Indonesia dalam melaksanakan konvensi perubahan iklim? Indonesia meratifikasi Konvensi Kerangka Kerja PBB mengenai perubahan iklim melalui UU No. 6 Tahun 1994 dan sepuluh tahun kemudian Indonesia meratifikasi Protokol Kyoto melalui UU No. 17 tahun 2004.

Indonesia sendiri sudah melakukan berbagai upaya, mitigasi maupun adaptasi. Upaya mitigasi meliputi, diantaranya, melalui, program menuju Indonesia Hijau (MIH) dan gerakan rehabilitasi lahan nasional (Gerhan). Kemudian, konservasi air (Pengelolaan DAS, sumur resapan, penampungan air), master plan pengendalian kebakaran hutan dan pemberantasan kemiskinan, dan Pengelolaan banjir. Lalu, rekonstruksi irigasi, mendorong projek CDM (Clean Development Mechanism) melalui pendekatan sektoral, dan kebijakan energy mix nasional. Selain itu melalui kebijakan konservasi energi; kebijakan bebas pajak bagi impor peralatan teknologi bersih, monitoring pencemaran udara untuk sektor transportasi dan industri, serta program Adipura (Pengelolaan sampah kota) dan program desa energi mandiri.

Sedangkan upaya adaptasi antara lain lewat sistem peringatan dini bencana iklim ekstrem (early earning system), sistem pemantauan Kenaikan muka air laut, draf strategi nasional adaptasi perubahan iklim, penghijauan daerah pesisir pantai sekaligus untuk meningkatkan pendapatan masyarakat dan melaksanakan pengelolaan pesisir pantai secara terpadu serta gerakan nasional kemitraan penyelamatan air.

Strategi pembangunan nasionalnya sendiri dalam antisipasi perubahan iklim menggunakan tiga jalur ( triple track strategy). Yakni pro-poor, pro-job, dan pro-growth ditambah pro-environment, sehingga terlaksananya pembangunan berkelanjutan sebagai dasar dalam strategi nasional menghadapi masalah perubahan iklim.

Berikut adalah tujuan dan prinsip yang hendak dicapai lewat strategi pembangunan nasional berkelanjutan. Tujuannya, yaitu, rencana aksi nasional (RAN) merespons perubahan iklim lewat pengendalian emisi GRK, memperkuat kapasitas adaptasi terhadap perubahan iklim, mempromosikan pengembangan pengetahuan ilmiah dan teknologi yang berkaitan dengan perubahan iklim. Selanjutnya, meningkatkan kesadaran public dan memperkuat kapasitas kerja kelembagaan serta mekanisme Pengelolaan informasi dan data yang menyangkut perubahan iklim.

Prinsip Pengelolaan pembangunan nasional adalah dengan secara terus-menerus memantau dan memperbaiki ketaatannya pada asas kebijakan/ketentuan public pembangunan nasional. Caranya, Pertama, melakukan penyelarasan semua instrument kebijakan dan hukum pada ketiga tonggak pembangunan berkelanjutan (pertumbuhan ekonomi, sosial, dan perlindungan lingkungan).

Kedua, instrument utama dari kepatuhan tersebut adalah integrasi dan penyelarasan ruang beserta penggunaan sumber-sumber daya public untuk mengatasi status quo ego sektoral yang menjadi penghambat cita-cita pembangunan berkelanjutan di Indonesia.

Ketiga, pencapaian sasaran-sasaran mitigasi perubahan iklim beserta sasaran-sasaran sosial ekologis yang menyertainya, harus dilakukan lewat adaptasi pola konsumsi dan produksi dari segenap pelaku perubahan.

Upaya mitigasi bertujuan untuk menurunkan laju emisi GRK global sehingga masih berada dalam tingkatan yang dapat ditoleransi, dengan komposisi emisi global saat ini paling besar adalah emisi gas karbondioksida. Walaupun Indonesia belum berkewajiban menurunkan emisi GRK, tetapi karena sangat rentan terhadap perubahan iklim, dirasa perlu untuk melakukan mitigasi pada sector energy dan LULUCF.

Untuk sektor energi dengan skenario bauran energi optimal sesuai Perpres No. 5 Tahun 2005, emisi CO2 pada tahun 2005 bisa lebih tinggi sekitar 17%.

Bila skenario bauran energi dioptimalkan dengan energi panas bumi dikombinasikan dengan usaha konservasi energi dan penerapan teknologi CCS (Carbon Capture Storage), emisi CO2 pada tahun 2025 diharapkan bisa diturunkan hingga 37% (terhadap business as usual).

Dengan target penurunan emisi gas rumah kaca tersebut, penggunaan sumber energy diarahkan secara desentralisasi dan disesuaikan dengan sumber daya alam yang tersedia, meningkatkan penggunaan energy terbarukan, dan teknologi bersih serta konservasi/energi efisiensi.

Untuk itu juga, kebijakan dan program untuk transportasi diarahkan untuk transportasi massa, penggunaan energi terbarukan, sepeda, jalan kaki, dan untuk industry dilaksanakan konservasi energi dan penggunaan energi terbarukan. Pada rumah tangga dan perkantoran dilaksanakan konservasi energi dan lain-lainnya.

Hal yang sangat perlu segera di kampanyekan serta dilaksanakan adalah konservasi / energi efisiensi. Sebagai contoh, Yogyakarta mengganti lampu jalan dengan lampu yang hemat energi sehingga dapat melakukan penghematan sebesar Rp 500 juta/bulan.

Pada tahun 1970, luas kawasan hutan di Indonesia adalah 144 juta ha, berkurang 23,45 juta ha sehingga sekarang menjadi 120,55 juta ha dengan diantaranya terdegradasi 53,9 juta ha. Target untuk menghijaukan kembali melalui pengembangan hutan tanaman dan rehabilitasi hutan dan lahan, pemberantasan penebangan liar (illegal logging), pencegahan kebakaran hutan, dan pengelolaan hutan lindung. Pengelolaan hutan konservasi ditargetkan 36,31 juta ha sampai tahun 2025 dan sisanya sampai 2050.

Untuk mencegah terjadinya kebakaran hutan dilaksanakanlah rencana aksi nasional pengendalian kebakaran hutan yang mengutamakan aspek preventif dan melaksanakan pengelolaan gambut secara berkelanjutan. Target penurunan titik api dibandingkan titik api tahun 2006 adalah 50% pada tahun 2009, 75% pada tahun 2012, dan 95% pada tahun 2025.

Dengan adanya program CDM untuk aforestrasi dan reforestrasi dan rencana pemberian positif insentif terhadap REDD (Reduction Emmision from Deforestration in Developing Countries), kebijakan eksploitasi hutan untuk mendapatkan devisa negara diarahkan untuk melakukan pengelolaan hutan berkelanjutan dan atau penanaman kembali sehingga mendapatkan dana CDM (Clean Development Mechanism) dan REDD dan atau dilakukan pembangunan ekowisata.

Selain itu, sektor pertanian diarahkan untuk melakukan diversifikasi pangan untuk mencari bibit-bibit yang tahan kekeringan dan tahan terhadap intensitas hujan yang tinggi.

Rencana aksi nasional lainnya adalah melalui upaya adaptasi. Pembangunan nasional dengan agenda adaptasi terhadap dampak perubahan iklim memiliki tujuan untuk menciptakan sistem pembangunan yang tahan (resilience) terhadap dampak perubahan iklim (anomali iklim) yang terjadi saat ini. Selain itu melaksanakan pola pembangunan ekonomi yang ramah lingkungan sehingga dapat menghambat laju kerusakan lingkungan.

Perlu dilakukan upaya adaptasi untuk kegiatan pertanian, perikanan, penyediaan air, pemulihan DAS, pengelolaan lahan gambut, kesehatan, dan infrastruktur (pemukiman dan akses jalan). Dan sebagai dasar untuk mengantisipasi perubahan iklim harus diupayakan pengembangan peralatan dan kapasitas Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) sehingga sektor-sektor yang terkait dengan cuaca dapat beradaptasi.

Pasti daerah pesisir, perlu dilakukan penanaman mangrove dan mendata bangunan strategis di wilayah yang antisipasi terjadi peningkatan muka air laut. Oleh karena itu, secara bertahap dapat dipindahkan dan atau dibangunnya perlindungan terhadap Kenaikan muka air laut.

Untuk mendukung kegiatan mitigasi dan adaptasi diperlukan antara lain penegakan hukum yang tegas, tata kepemerintahan yang baik ( good governance), sosialisasi, dan peningkatan kapasitas. Pendidikan seperti sekolah lapang iklim bagi petani di Indramayu adalah salah satu kegiatan pendukung adaptasi dan pengembangan energi terbarukan seperti “desa energi mandiri” menunjang usaha mitigasi.

Pelaksanaan aksi nasional juga perlu mendapat bantuan berupa investasi, transfer teknologi, dan insentif positif yang dilakukan secara bilateral maupun multilateral. Bantuan tersebut adalah untuk pembangunan kapasitas, REDD, transfer teknologi, dan pendanaan adaptasi (adaptation fund) serta dalam pelaksanaan CDM.

Sejauh ini, pendanaan kawasan konservasi di Indonesia untuk deklarasi “Heart of Borneo” adalah USD 53,37 juta, Sedangkan kebutuhan dana optimal adalah sebesar USD 135,51 juta. Untuk menutupi kekurangan dana sebesar USD 81,94 juta tersebut diperlukan bantuan pendanaan dari kerjasama bilateral dan multilateral………………..#OP081207B#

Masnellyarti Hilman, Deputi III Men LH Bidang Peningkatan Konservasi Sumber Daya Alam dan Pengendalian Kerusakan Lingkungan. (PR)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

  • Arkeologi

  • Trader

  • Energi Alternatif

  • Bencana Global 2050

  • Flying

  • Kereta Api

  • Konstruksi – Arsitektur

%d blogger menyukai ini: