Radio Siaran, UU, dan Teknologi

Proses demokratisasi penyiaran telah dihadang oleh berbagai persoalan. Padahal, jika amanat UU No. 32 itu dijalankan utuh, banyak manfaatnya. Langkah industry penyiaran yang bersikukuh dan enggan melaksanakan amanat UU karena khawatir akan tertimpa inefisiensi, sebenarnya bisa dibatasi dengan terobosan konvergensi teknologi informasi.

Sesuai isi UU Penyiaran, mulai akhir tahun ini (2007) seharusnya rakyat tidak lagi hanya “dicekoki” informasi dari pusat. Dalam pasal 31 ayat 1 UU Penyiaran disebutkan, lembaga penyiaran yang menyelenggarakan jasa penyiaran radio atau jasa penyiaran televise terdiri atas stasiun penyiaran jaringan dan/atau stasiun penyiaran lokal. Jadi, dalam UU itu tidak dikenal siaran swasta yang mengudara secara nasional. Yang ada hanyalah stasiun penyiaran jaringan dan/atau stasiun penyiaran lokal.

Apa yang dimaksud dengan stasiun penyiaran berjaringan? Menurut, pasal 31 UU Penyiaran, lembaga penyiaran publik dapat menyelenggarakan siaran dengan sistem stasiun jaringan yang menjangkau seluruh wilayah Indonesia. Sedangkan lembaga penyiaran swasta jangkauannya terbatas. Dijelaskan, stasiun penyiaran lokal dapat didirikan di lokasi tertentu dengan wilayah jangkauan siaran terbatas.

Ada beberapa model sistem berjaringan industri penyiaran radio yang kita kenal saat ini. Antara lain konsep model jaringan yang dipakai oleh Radio Trijaya, yaitu konsep berjaringan kepemilikan. Selain Trijaya, Radio TPI Dangdut juga melakukan konsep berjaringan dalam manajemen dan program. Ada lagi konsep berjaringan dalam program saja seperti yang dilakukan oleh Radio 68H atau Radio Elshinta yang beberapa programnya bisa didengar di daerah karena direlai oleh radio yang berjaringan dengan Radio 68H atau Elshinta.

Pada prinsipnya, berbagai model di atas memerlukan sistem pendukungnya. Kemajuan teknologi informasi memungkinkan dibangunnya suatu sistem operasional stasiun radio yang dapat mengelola secara terintegrasi mulai dari pengelolaan acara, lagu, berita, iklan, hingga penyiarannya.

Kemajuan teknologi telekomunikasi juga memungkinkan kontrol operasi secara remote, pertukaran data dan informasi yang efisien antar stasiun radio. Kerja sama yang efektif antara stasiun radio dan mitra kerjanya. Bahkan memungkinkan perluasan jangkauan siaran hingga keseluruh Dunia.

Survey yang dilakukan Zogby International menunjukkan, rakyat AS sangat menyenangi dan menghargai stasiun penyiaran publik lokal di daerahnya. Lebih dari tiga perempat penduduk AS menyenangi acara berita, informasi, dan hiburan. Sembilan dari sepuluh orang AS menyatakan, radio merupakan sumber informasi yang sangat penting dalam Keadaan darurat. Bahkan orang-orang yang mengaku tidak pernah mendengarkan radio, mengandalkan informasi radio bila situasinya darurat.

Siaran radio lokal juga memenuhi keinginan subkelompok demografis masyarakat. Bila terjadi kemacetan lalu lintas, pendengar mencari informasinya lewat radio yang bisa memberi informasi paling banyak.

Meskipun perkembangan media massa lain Begitu pesat, jurnalisme radio masih memiliki keunggulan. Sebutlah perubahan set up dan program siaran yang bisa dilakukan secara cepat. Itu cocok menyokong selera pendengar yang begitu dinamis dan sedang bergeser kepada hal-hal yang lebih interaktif dan menu berita dengan kecepatan tinggi.

Untuk mengembangkan sistem berjaringan industry penyiaran radio yang adaptif dan profitable, dibutuhkan segitiga aliansi antara pengelola radio, lembaga survei,dan innovator teknologi radio dari dalam negeri. Di era konvergensi multimedia, para pengelola stasiun radio, hendaknya tidak lagi meraba di ruang gelap dalam mengelola dan mengembangkan usahanya.

Tantangan utama bisnis radio adalah tantangan konvergensi teknologi yang diikuti oleh melemahnya segmentasi pendengar. Validasi data dan segmentasi pendengar radio sangat penting untuk kepentingan komersial dan akuntabilitas kinerja lembaga penyiaran publik.

Sebagai contoh BBC Service membentuk departemen riset khayalaknya secara resmi pada tahun 1936. Riset khayalak dipercaya sebagai sumber informasi untuk melayani pendengar yang terus berkembang. Informasi itu juga membantu pihak pengelola dalam mengalokasikan sumber dayanya dengan lebih baik lagi dalam melayani publik.

Sejarah perkembangan stasiun radio di tanah air pada awalnya didirikan tidak berbasis riset. RRI, misalnya, pada awalnya didirikan sebagai alat perjuangan bangsa yang prasarananya sangat terbatas. Sedang embrio radio komersial pada mulanya mengedepankan hobi lalu menjadi stasiun radio sungguhan. Seiring Kemajuan teknologi telematika, banyak stasiun radio yang menemukan kesadaran profesionalnya sehingga industri radio perlu dikelola lebih ilmiah.

Sayangnya, kesadaran tersebut masih dihadang oleh mahalnya perangkat impor dan kebijakan pemerintah yang belum berpihak kepada produksi dalam negeri. Dengan banyaknya populasi stasiun radio di tanah air, dibutuhkan industry dalam negeri yang mampu mengembangkan perangkat keras, maupun pengembang perangkat lunak RISE (Radio Broadcasting Integrated System).

Dengan RISE, kegairahan stasiun radio untuk mengembangkan format jurnalisme interaktif yang banyak diminati khayalak pendengar akan semakin optimal. Ujungnya, kepuasan pendengar dan pemasang iklan.

Kekuatan dan pesona stasiun radio pada saat ini terletak pada program interaktif yang dapat dilakukan pendengar sewaktu-waktu, Begitu juga bagi reporter. Implikasinya adalah seringnya pengelola stasiun radio menghapus blocking program setelah mempelajari hasil riset preferensi pendengar terhadap berita. Ternyata, pendengar sangat membutuhkan aktualitas dan kecepatan berita.

Kecenderungan di atas bisa dibatasi dengan arsitektur RISE Core Radio yang merupakan kumpulan aplikasi untuk mendukung operasional stasiun radio, mulai dari modul program director, traffic management, on air, interactive messaging, logger, hingga audio streaming. Solusi RISE memiliki kemampuan penyediaan informasi berbasiskan internet. Dengan arsitektur Core Radio yang baik, pengelola radio akan dengan mudah menentukan prime timenya mengingat saat ini banyak stasiun radio yang kurang tepat dalam menentukan prime timenya……….#OP151207B#

Hemat Dwi Nuryanto, penggerak IGOS Center Bandung, alumnus UPS Toulouse, Prancis. (PR)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

  • Arkeologi

  • Trader

  • Energi Alternatif

  • Bencana Global 2050

  • Flying

  • Kereta Api

  • Konstruksi – Arsitektur

%d blogger menyukai ini: